Short
Putri yang Dibuang, Bintang yang Bersinar

Putri yang Dibuang, Bintang yang Bersinar

By:  MomoCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
127views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pada hari ketika hasil ujian masuk perguruan tinggi diumumkan, aku refleks berteriak ke arah ruang tamu. "Ayah, Ibu, aku dapat tujuh ratus dua puluh poin!" "Aku bisa pergi ke Universitas di Sentara untuk bareng Kakak dan Ardi!" Namun yang menjawabku, tetap saja hanya keheningan. Di atas sofa, duduk empat boneka kecil. Ayah, ibu, kakak, dan, Ardi, sahabat masa kecilku. Mereka menatapku dengan mata bulat, sama seperti pada malam-malam tak terhitung sebelumnya, hanya menemaniku dalam diam. Baru saat itu aku teringat. Setahun lalu, adikku yang bernama Citra jatuh sakit. Mereka berkata, itu karena nilai akademisku yang terlalu bagus dan membuatnya tertekan hingga hampir bunuh diri. Akhirnya, aku menjadi orang yang paling harus disembunyikan dalam keluarga, dan diusir ke rumah sewa ini. Malam pertama setelah pindah, seorang pemabuk dari rumah sebelah salah menggedor pintu. Aku bersembunyi di balik selimut, merasa ketakutan hingga tak berani mengeluarkan suara saat menangis. Aku hanya bisa berulang kali menelepon ayah, ibu, kakak, dan Ardi. Di ujung telepon, yang terdengar hanyalah nada sibuk yang dingin. Menjelang fajar, ibu baru mengirim satu pesan singkat. [Jangan menelepon lagi, Citra akan sedih kalau melihat nomormu.] Sejak saat itu, aku membuat empat boneka kecil yang menyerupai mereka. Mereka menemaniku makan dan tidur. Mendengarkan setiap kemajuan yang kucapai, juga mendengarkan kesedihanku yang tak bisa kuceritakan pada siapa pun. Namun saat air mataku jatuh, aku tidak lagi memeluk boneka-boneka itu. Setelah terlalu lama berjalan sendirian dalam kegelapan, akhirnya aku memiliki keberanian untuk tidak lagi menoleh ke belakang.

View More

Chapter 1

Bab 1

Aku berdiri terpaku di tempat dan untuk pertama kalinya mengamati dengan saksama rumah sewaan yang telah kutempati selama setahun ini.

Cat dindingnya sudah terkelupas di sana-sini, memperlihatkan semen abu-abu pucat di baliknya.

Tirai sudah mengeras karena sering dicuci, sementara di bagian sudutnya masih terdapat noda jamur yang tak bisa dihilangkan.

Pendingin udara tua di atas kepalaku berdengung tanpa henti, tetapi yang diembuskannya hanyalah udara panas.

Selama beberapa bulan terpanas saat mempersiapkan ujian, aku duduk di depan meja belajar setiap hari mengerjakan latihan soal-soal.

Setiap kali menyelesaikan satu lembar soal, keringat yang keluar cukup untuk mandi dua kali.

Padahal, Keluarga Pradana sebenarnya tidak miskin.

Ayah, ibu, kakak, dan Citra tinggal di apartemen mewah seluas tiga ratus meter persegi di pusat kota.

Citra memiliki ruang belajar dan ruang musiknya sendiri.

Bahkan, boneka dan pernak-pernik koleksinya pun memiliki ruangan khusus.

Namun pada saat aku diusir, ibu hanya mengerutkan kening dan berkata datar.

"Paling lama setahun, jadi tidak perlu menyewa rumah yang terlalu bagus."

"Setelah ujian masuk perguruan tinggi selesai, kau akan dijemput pulang."

Namun, sejak ujian masuk perguruan tinggi berakhir hingga hari ini saat hasilnya diumumkan, sudah lebih dari setengah bulan berlalu.

Tidak ada seorang pun yang pernah menyinggung soal menjemputku pulang.

Aku menundukkan pandangan, baru saja hendak menyimpan keempat boneka kecil itu.

Tiba-tiba, aku menerima pesan dari ibu.

[Naya, pulang ke sini sebentar, kita bahas soal pilihan universitas.]

Aku menatap kosong pada kata "pulang" itu.

Hati yang semula sudah tenggelam kembali bergetar tanpa bisa kukendalikan.

Mungkin mereka masih mengingatku.

Aku buru-buru turun ke lantai bawah.

Karena merasa bus terlalu lambat, akhirnya untuk pertama kalinya aku memesan taksi, sesuatu yang terasa mewah bagiku.

Saat membuka pintu rumah, suasana di ruang tamu tampak ramai.

Ayah, ibu, kakakku, dan Ardi semuanya ada di sana.

Citra dikelilingi oleh mereka, dengan empat kotak kado yang dikemas indah di hadapannya.

Ibu mengusap kepalanya dengan suara yang sangat lembut.

"Sayang, kali ini kau hebat sekali, bisa dapat nilai lebih dari enam ratus lima puluh. Citra kita juga bisa kuliah di Sentara."

Kakakku menyahut sambil tersenyum,.

"Tentu saja kau juga harus masuk Universitas Teknara, matematikanya aku yang ajari."

"Selama setahun ini, sudah berapa banyak usaha yang kukeluarkan? Tidak masuk akal kalau dia tidak masuk ke universitas yang sama denganku."

Ardi mengerutkan kening.

"Tidak bisa."

"Bahasa Inggrisnya aku yang ajarkan. Kalau mau kuliah, seharusnya masuk ke Universitas Primora."

Keduanya seperti sedang memperebutkan harta paling berharga dan tak ada yang mau mengalah.

Sementara aku berdiri di ambang pintu, seperti pencuri yang tanpa sengaja menerobos masuk ke rumah orang lain.

Setelah cukup lama, ibu akhirnya melihatku. Senyuman di wajahnya sedikit memudar.

"Naya sudah pulang, ya."

Tawa di ruang tamu langsung terhenti.

Citra melirikku dengan sinis, lalu memeluk hadiah-hadiah itu dan berbalik kembali ke kamarnya.

Orang-orang yang tersisa menatapku dengan ekspresi yang agak canggung.

Akhirnya, kakak yang lebih dulu bicara.

"Kenapa masih berdiri di sana? Ayo ke sini duduk."

Aku berjalan mendekat dalam diam, lalu duduk di sofa tunggal di ujung ruangan.

Ayah berdehem. Lalu bertanya.

"Hasil ujiannya sudah keluar?"

Aku mengangguk, dan menjawab singkat.

"Iya."

"Berapa nilainya?"

Saat aku hendak menjawab, ibu malah memotong perkataanku.

"Soal nilainya nanti dulu, itu bukan yang terpenting."

"Kami memanggilmu pulang kali ini untuk membicarakan pilihan universitasmu."

Dia mengalihkan pandangannya dariku, seolah merasa sedikit bersalah, lalu melanjutkan. "Jangan mendaftar ke universitas di Sentara."

"Citra sudah ikut bimbingan belajar selama setahun penuh baru bisa mendapatkan nilai seperti sekarang. Kalau kau juga pergi ke Sentara, dia pasti akan membuat keributan lagi."

Ujung jariku perlahan menekan telapak tangan hingga rasa sakit pun menjalar dengan lambat.

Bukan berarti mereka tidak tahu bahwa universitas terbaik di seluruh negeri ada di Kota Sentara.

Namun, demi menghindari kemungkinan Citra akan merasa sedih.

Mereka dengan begitu mudahnya mengorbankan masa depanku.

Dengan enggan, aku menoleh pada ayah.

Wajahnya menunjukkan persetujuan.

"Ikuti saja kata Ibumu."

"Keluarga kita baru saja mulai tenang, jangan membuat keributan lagi."

Aku lalu menatap kakak.

Dia mengernyit, seolah perkataannya adalah sesuatu yang wajar.

"Di Meridia juga ada universitas bagus, kuliah di sana saja, jaraknya juga dekat dengan rumah."

Akhirnya, aku menatap Ardi.

Pemuda itu menundukkan pandangannya dan tidak berani menatapku.

Setelah lama, barulah dia berbicara dengan suara pelan.

"Naya, kau selalu pintar, kau pasti akan baik-baik saja di universitas mana pun."

"Tapi Citra berbeda, dia butuh orang yang menjaganya."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status