MasukCerita bermula sekitar dua tahun lalu, waktu itu Safitri baru menginjak sembilan belas tahun. Wajahnya yang cantik, putih, berambut panjang, memiliki tinggi sekitar seratus enam puluh centimeter dengan berat badan empat puluh delapan kilogram menjadikan perawakan Safitri ideal. Tutur katanya lembut dan senantiasa memperhatikan lawan bicaranya, hal tersebut menjadi nilai tambah tersendiri bagi putri semata Mbok Yem kala itu.
Gadis seusianya sudah beberapa kali keluar masuk pabrik untuk bekerja di perusahaan tekstil, namun semuanya tak bertahan lama karena jarak tempuh dari desa ke tempat kerja lumayan jauh terlebih kondisi ibunya yang menua membuat Safitri lebih memilih berhenti bekerja di tempat yang terikat dan disiplin kerja yang tinggi. Suatu hari seorang tetangga merekomendasikan Safitri untuk bekerja di sebuah warung sembako yang juga berada di desa tersebut, warungnya lumayan lengkap dan murah sehingga setiap harinya selalu ramai pembeli. Setelah berpikir cukup lama, dia akhirnya menemui pemilik warung untuk menyatakan kesediaannya. "Jadi apa kamu bersedia bekerja di sana?" tanya seorang pria berusia tiga puluhan tahun yang datang ke rumahnya. "Mau, Mas ... saya juga perlu bantu-bantu ibu memenuhi kebutuhan, apalagi sekarang dia sering mengeluh sakit jadi tenaganya tak kuat berlama-lama di sawah," balas Safitri. "Ya, toko milikku kan baru buka. Jadi kamu harus sabar, belum terlalu ramai pembeli. Aku dan istri jarang di rumah karena harus mengurus toko di cabang yang lain, paling ada di rumah cuma beberapa hari dalam sebulan," pria bernama Yogi Bramasta kembali meyakinkan Safitri untuk bekerja di toko kelontong miliknya. "Soal gaji bagaimana, Mas?" "Itu urusan belakangan, yang penting kamu mau kerja dulu. Gaji pokok delapan ratus ribu sebulan, kerja dari jam delapan sampai jam lima. Kalau pas hari libur dibutuhkan untuk masuk ya dapat tambahan empat puluh ribu sehari," terang Yogi. Uang sebesar itu tahun di tahun 2000 sudah termasuk besar, apalagi untuk pekerjaan menjaga warung saja. "Bagaimana, jika kamu bersedia aku enggak cari orang lagi?" "Ma-mau, Mas, jadi mulai kapan bekerja?" sedikit ragu Safitri menjawab permintaan tersebut. "Mulai Senin besok, kebetulan masih tiga hari lagi," "Emangnya penjaga warung yang lama kenapa, Mas? Kok pada enggak betah?" "Hmm, mereka kurang disiplin dalam mengatur keuangan jadi kadang ada transaksi yang tidak dicatat. Bahkan ada yang pergi kabur membawa uang dagangan. Kalau karyawannya tetangga sendiri kan lebih bisa bisa dipercaya," pungkas Yogi Bramasta. "Kalau begitu aku pulang dulu, Mas. Terimakasih," "Iya, ini bawa pulang buat ibu kamu," Yogi menyerahkan sebuah bingkisan berupa beras lima kilogram, minyak satu liter, telur dan mi instan. "Bu--buat aku, Mas? Kan belum mulai kerja," "Enggak apa-apa. Terimakasih saja," paksa Yogi sekali lagi. Mau tak mau Safitri menerima bingkisan tersebut, lagipula ini bukan pertama kalinya dia memperoleh bingkisan dari keluarga Yogi Bramasta sebab keluarga itu setiap tahunnya sering bersedekah pada warga sekitarnya, apalagi Mbok Yem tergolong warga miskin sehingga hal seperti itu sudah sering mereka terima. Dengan sepeda kayuh Safitri pulang menyusuri jalanan desa, jarak ke rumahnya berjarak sekitar dua kilometer dari warung tersebut. "Lho, bawa apa itu kok banyak banget?" sapa Mbok Yem. "Ini, Mbok ... tadi aku menemui Mas Yogi untuk memperjelas soal pekerjaan itu, pas pulang dia kasih ini buat simbok," Safitri meletakkan bingkisan itu ke meja kayu di ruang tamu. "Jadi kamu terima pekerjaan itu? Ya persen simbok kalau bekerja hati-hati, manut sama majikan. Harus bisa bawa diri," "Hehe ... iya, Mbok," Safitri lalu masuk ke dalam rumah sementara Mbok Yem membereskan barang-barang bawaan tadi ke dapur. Dia merasa senang sebab Safitri diterima bekerja di dekat desanya, jadi tidak perlu menginap kalau bekerja. Sebagai seorang ibu tentu dia memiliki pikiran kuatir pada anak gadis semata wayangnya itu, terlebih jaman sekarang kejahatan dan pelecehan sering terjadi pada gadis seusianya. "Assalamualaikum, Mbok ... kulo nuwun," Beberapa menit kemudian seorang pria muda datang mengetuk pintu rumah Mbok Yem. Dengan tertatih perempuan paruh baya itu menengok ke arah pintu. "Eh, Nak Handoko. Dari mana? Ayo masuk," "Safitri udah pulang, Mbok?" pemuda itu tidak menjawab malah balik bertanya, dia langsung masuk dan duduk di kursi kayu ruang tamu. "Baru saja. Tunggu sebentar, biar Mbok panggilkan," ucap Mbok Yem, dia kemudian masuk memanggil Safitri. "Mas Handoko, ada apa?" Safitri tampak bingung, dia lalu duduk di samping pemuda itu. "Enggak apa-apa, cuma mampir. Oh iya, kata Endang (tetangga Safitri) kamu tadi ke rumah Juragan Yogi Bramasta to? Ada perlu apa ke sana?" "Nyari kerja, Mas. Alhamdulillah diterima, mulai Senin sudah bekerja," "Kok kamu mau sih kerja di sana? Kabarnya Juragan Yogi itu punya pesugihan lho. Buktinya tak ada yang betah bekerja di sana," imbuh Handoko. "Pesugihan? Ah kamu bercanda, Mas. Jangan percaya ucapan orang, dia itu kan terkenal baik dan dermawan di desa kita. Masa iya punya pesugihan," Safitri cuma bergidik sambil tersenyum. "Ya sudah, mas pulang dulu. Assalamualaikum," Handoko kemudian beranjak berdiri dan keluar dari rumah tersebut. "Nak Handoko, mau ke mana? Ini aku buatkan minum kok malah pergi," seru Mbok Yem yang keluar dari dapur dengan nampan berisi segelas air teh. "Enggak usah, Mbok. Lain kali saja, aku buru-buru," Handoko tetap pergi, dia mengayuh sepeda dengan tergesa-ges Mbok Yem cuma tersenyum melihat kelakuan pemuda tadi, dia lalu duduk di dekat Safitri yang masih berada di tempatnya semula. "Kamu ada perasaan sama dia? Handoko itu anak baik, rajin bekerja," ucap Mbok Yem sembari menghela napas panjang. "Kami cuma teman, Mbok ... enggak lebih," bantah Safitri. Antara Safitri dan Handoko memang mempunyai hubungan dekat, bisa dibilang keduanya berpacaran namun Safitri masih menyembunyikan hal ini dari siapapun, termasuk ibunya.Mbok Yem menatap kepergian Safitri dengan mata berkaca-kaca, dia membayangkan perasaan Handoko ketika nanti tahu apa yang akan terjadi pada hubungan mereka (Safitri dan Handoko) yang kandas karena Safitri lebih memilih Tejo daripada Handoko."Apa yang harus aku lakukan? Aku merasa gagal sebagai orang tua, Handoko pasti akan sangat hancur hatinya," ucap Mbok Yem lirih, perempuan paruh baya itu membalikkan badannya menuju ke dalam dengan langkah gemetar."Mbok Yem," sapa seseorang dari luar, Mbok Yem sangat hafal dengan suara tersebut. Dia duduk terlebih dahulu dan menatap pria tampan yang mengikutinya masuk sampai ke ruang tamu."Aku bawakan bubur, beras dan telur, Mbok. Persiapan untuk sahur nanti, kan sepuluh hari lagi sudah mulai puasa," Handoko menaruh barang-barang ke meja sementara Mbok Yem masih terdiam dengan hati yang porak-poranda."Tadi ada mobil ke sini, mobil siapa, Mbok? Pasti mobil Mbak Erna Wulandari (majikan Safitri) ya?" susul Handoko.Tak ada jawaban, Handoko merasa
Niat untuk mengembalikan uang warung yang dipinjam dari Cahyani pun dia urungkan, Safitri bingung mau ke mana dan akhirnya menggunakan uang tersebut untuk perpanjang sewa kamar penginapan langganannya."Aku akan menunggu dia tiga hari di sini, jika tidak aku akan bertindak lebih berani lagi," cetus Safitri saat membuka pintu kamar penginapan."Tapi ... aku kehabisan pakaian bersih. Sebaiknya aku pulang ke rumah Mbak Erna Wulandari saja sebentar lalu ke sini lagi," Safitri yang baru masuk dan duduk di tempat tidur kembali berdiri. Dia ambil tasnya lalu berjalan menuju tangga lke lantai satu untuk mengambil sepeda motor yang dia parkir di bawah."Fit, ngapain kamu di sini?" sapa seseorang yang keluar dari sebuah kamar, Safitri grogi dia kaget tak menyangka bertemu seseorang yang dia kenal di sini."Mas Kus, a--aku ... aku baru jenguk teman kerjaku di jakarta dulu. Dia menginap di kamar atas," ujar Safitri."Benarkah? Aku sama istriku, kebetulan sedang bulan madu. Maklum pengantin baru,"
"Maaf, Bu ... saya ke sini untuk mencari Mas Tejo, ada yang ingin saya sampaikan," ucap Safitri setelah dipersilahkan duduk."Hmmm, heran aku anak jaman sekarang. Dulu pria mencari dan berkunjung ke rumah wanita, sekarang sudah berbalik ... wanita yang datang ke rumah pria. Hampir setiap beberapa hari sekali banyak perempuan mencari anakku, entah mau apa. Ya sudah kamu pulang dulu, nanti ibu sampaikan kalau dia pulang," ucap ibunya Tejo dengan sambil geleng-geleng kepala."Bu, mohon maaf jika lancang. Saya dan Tejo punya hubungan dekat, dan ...," Safitri sebenarnya hendak menyampaikan bahwa dirinya hamil, tapi melihat situasi yang tak memungkinkan dan belum cukup bukti kedekatan dirinya dan Tejo untuk ditunjukkan pada ibunya maka Safitri mengurungkan niatnya dan akhirnya pergi dari sana dengan tangan hampa.Pikiran Safitri tertuju pada uang satu juta yang dia pinjam dari Cahyani, uang itu telah berkurang beberapa ratus ribu. Kini langkahnya gontai menuju warung, entah alasan apa yang
Safitri tersinggung, niatnya untuk membeli alat tes kehamilan pun dia urungkan. Buru-buru dia kembali ke warung tempat dia bekerja, seperti biasanya Safitri datang terlambat di saat pembeli ramai dan dua temannya kerepotan. Bukannya membantu dia justru masuk ke kamar, mengunci pintu dan berbaring. Badannya terasa amat letih, dia tak bersemangat untuk bekerja.Dak dak dak!Pintu digedor kuat dari luar, Safitri yang baru saja terpejam langsung bangkit siap menumpahkan kemarahannya."Yani, kamu tau aku capek!" ujarnya sambil menarik tuas pintu, namun yang berdiri di sana bukan Cahyani ataupun Mas Parjo melainkan Mbak Erna Wulandari."Apa yang kamu lakukan di dalam sini? Kamu enak-enakan sementara yang lain sedang kerja, hah?! Kalau sudah tak mau bekerja di sini, sebaiknya berhenti saja," ujar juragan warung kelontong memasang muka marah. Seketika emosi di hati Safitri meredup, dia tak mungkin akan melawan Erna tanya sebab posisinya yang salah."Mbak, Safitri sedang sakit," bela Mas Parjo
"Hoeeek!" Safitri merasa mual, keringat dingin mengucur deras di kening dan lehernya. Gadis itu lekas mengunci pintu kamar kuatir ibunya masuk ke dalam.Perlahan dia lepaskan semua pakaian, berdiri di cermin kusam lemari usang memandang tubuhnya dari atas sampai bawah. "Aku kok tambah gemuk dan tubuhku tak indah lagi," keluhnya sambil meraba pa-yu dara yang mulai turun mengendur, perutnya juga terlihat berbeda meski jika itu sebuah kehamilan baru berjalan lima bulan. Dia lupa kapan terakhir membeli pembalut saat menstimulasi, rasanya sudah cukup lama sekali."Nduk Fitri, kamu kenapa?" tanya Mbok Yem yang berdiri di balik pintu, dia mencoba mendorong tapi pintu itu terkunci, di dalam sana Safitri terdiam. Dia takut bukan main dan lekas memakai bajunya kembali."Safitri, buka ... biar Mbok kerokin kamu," desak sang ibu."Aku enggak apa-apa, sudah aku mau balik kerja dulu," setelah membuka pintu Safitri langsung pergi, dia tak hiraukan sang ibu yang coba menahannya.Gadis itu bergegas m
Cahyani masih mengalami peristiwa buruk di tempat Erna Wulandari, dia tidak sekedar mimpi buruk tapi mahluk pesugihan itu sudah sering menampakkan diri dan berisi mencelakakan dirinya. Cahyani takut dan cemas akan nasibnya. Pagi itu dia sudah berkemas, siap meninggalkan tempat tersebut untuk berhenti bekerja namun baru hendak menutup pintu Safitri datang dari arah berbeda turun dari mobil yang dikemudikan Tejo. Mobil itu langsung pergi setelah menurunkan Safitri di sana."Eeeh, kamu mau ke mana? Kok berkemas begitu," tegur Safitri."Dia beberapa hari sakit, sudah tak tahan bekerja di sini. Hari ini dia mau pamitan ke rumah Mbak Erna Wulandari," kata Mas Parjo membantu menaruh ransel besar untuk ditaruh di bagian depan sepeda motornya."Kamu itu masih muda, jangan mudah mengeluh dan menyerah. Apalagi cuma berasal dari keluarga pas-pasan, sebaiknya bertahan di sini paling tidak satu tahun biar punya pengalaman," imbuh Safitri berkata nyinyir pada Retno Cahyani."Mbak, sepertinya rumah i
Hari yang dijanjikan tiba, Safitri sudah bersiap untuk berangkat kerja. Dengan berdandan sederhana hanya memakai bedak tanpa gincu, rok panjang dan kaos oblong berwarna krem Safitri mengayuh sepedanya menuju warung kelontong milik Yogi Bramasta, jarak yang jauh tetap membuatnya bersemangat untuk le
Berita tentang kematian Thole anaknya Mas Wandi membuat Safitri terkejut, entah mengapa gadis cantik itu merasa bersalah atas peristiwa tersebut meskipun belum tentu kematian bocah itu akibat tumbal dari uang dari majikanku yang Safitri berikan padanya. Apalagi saat tidur tadi Safitri juga mengalam
Dengan napas tersengal-sengal Safitri sampai juga di rumah Juragan Yogi sambil membawa payung, sebotol minyak goreng dan dua bungkus mi instan yang semalam Safitri berikan pada perempuan renta tersebut. Gadis berparas ayu itu langsung masuk ke kamar memeriksa kembali uang ratusan dan puluhan ribu y
Safitri menggeliat, ia merasakan sensasi geli luar biasa di sekujur tubuhnya. Belaian lembut pada bagian paling sensitif itu membuatnya tersengal-sengal dengan mata sesekali terpejam. Keringat mengucur dari dahi dan leher, gerakan lincah pria perkasa yang memompa secara perlahan membuatnya benar-ben







