Share

bab 2

Author: Jagad
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-01 23:52:44

Cerita bermula sekitar dua tahun lalu, waktu itu Safitri baru menginjak sembilan belas tahun. Wajahnya yang cantik, putih, berambut panjang, memiliki tinggi sekitar seratus enam puluh centimeter dengan berat badan empat puluh delapan kilogram menjadikan perawakan Safitri ideal. Tutur katanya lembut dan senantiasa memperhatikan lawan bicaranya, hal tersebut menjadi nilai tambah tersendiri bagi putri semata Mbok Yem kala itu.

Gadis seusianya sudah beberapa kali keluar masuk pabrik untuk bekerja di perusahaan tekstil, namun semuanya tak bertahan lama karena jarak tempuh dari desa ke tempat kerja lumayan jauh terlebih kondisi ibunya yang menua membuat Safitri lebih memilih berhenti bekerja di tempat yang terikat dan disiplin kerja yang tinggi.

Suatu hari seorang tetangga merekomendasikan Safitri untuk bekerja di sebuah warung sembako yang juga berada di desa tersebut, warungnya lumayan lengkap dan murah sehingga setiap harinya selalu ramai pembeli. Setelah berpikir cukup lama, dia akhirnya menemui pemilik warung untuk menyatakan kesediaannya.

"Jadi apa kamu bersedia bekerja di sana?" tanya seorang pria berusia tiga puluhan tahun yang datang ke rumahnya.

"Mau, Mas ... saya juga perlu bantu-bantu ibu memenuhi kebutuhan, apalagi sekarang dia sering mengeluh sakit jadi tenaganya tak kuat berlama-lama di sawah," balas Safitri.

"Ya, toko milikku kan baru buka. Jadi kamu harus sabar, belum terlalu ramai pembeli. Aku dan istri jarang di rumah karena harus mengurus toko di cabang yang lain, paling ada di rumah cuma beberapa hari dalam sebulan," pria bernama Yogi Bramasta kembali meyakinkan Safitri untuk bekerja di toko kelontong miliknya.

"Soal gaji bagaimana, Mas?"

"Itu urusan belakangan, yang penting kamu mau kerja dulu. Gaji pokok delapan ratus ribu sebulan, kerja dari jam delapan sampai jam lima. Kalau pas hari libur dibutuhkan untuk masuk ya dapat tambahan empat puluh ribu sehari," terang Yogi.

Uang sebesar itu tahun di tahun 2000 sudah termasuk besar, apalagi untuk pekerjaan menjaga warung saja.

"Bagaimana, jika kamu bersedia aku enggak cari orang lagi?"

"Ma-mau, Mas, jadi mulai kapan bekerja?" sedikit ragu Safitri menjawab permintaan tersebut.

"Mulai Senin besok, kebetulan masih tiga hari lagi,"

"Emangnya penjaga warung yang lama kenapa, Mas? Kok pada enggak betah?"

"Hmm, mereka kurang disiplin dalam mengatur keuangan jadi kadang ada transaksi yang tidak dicatat. Bahkan ada yang pergi kabur membawa uang dagangan. Kalau karyawannya tetangga sendiri kan lebih bisa bisa dipercaya," pungkas Yogi Bramasta.

"Kalau begitu aku pulang dulu, Mas. Terimakasih,"

"Iya, ini bawa pulang buat ibu kamu," Yogi menyerahkan sebuah bingkisan berupa beras lima kilogram, minyak satu liter, telur dan mi instan.

"Bu--buat aku, Mas? Kan belum mulai kerja,"

"Enggak apa-apa. Terimakasih saja," paksa Yogi sekali lagi. Mau tak mau Safitri menerima bingkisan tersebut, lagipula ini bukan pertama kalinya dia memperoleh bingkisan dari keluarga Yogi Bramasta sebab keluarga itu setiap tahunnya sering bersedekah pada warga sekitarnya, apalagi Mbok Yem tergolong warga miskin sehingga hal seperti itu sudah sering mereka terima.

Dengan sepeda kayuh Safitri pulang menyusuri jalanan desa, jarak ke rumahnya berjarak sekitar dua kilometer dari warung tersebut.

"Lho, bawa apa itu kok banyak banget?" sapa Mbok Yem.

"Ini, Mbok ... tadi aku menemui Mas Yogi untuk memperjelas soal pekerjaan itu, pas pulang dia kasih ini buat simbok," Safitri meletakkan bingkisan itu ke meja kayu di ruang tamu.

"Jadi kamu terima pekerjaan itu? Ya persen simbok kalau bekerja hati-hati, manut sama majikan. Harus bisa bawa diri,"

"Hehe ... iya, Mbok," Safitri lalu masuk ke dalam rumah sementara Mbok Yem membereskan barang-barang bawaan tadi ke dapur. Dia merasa senang sebab Safitri diterima bekerja di dekat desanya, jadi tidak perlu menginap kalau bekerja. Sebagai seorang ibu tentu dia memiliki pikiran kuatir pada anak gadis semata wayangnya itu, terlebih jaman sekarang kejahatan dan pelecehan sering terjadi pada gadis seusianya.

"Assalamualaikum, Mbok ... kulo nuwun,"

Beberapa menit kemudian seorang pria muda datang mengetuk pintu rumah Mbok Yem. Dengan tertatih perempuan paruh baya itu menengok ke arah pintu.

"Eh, Nak Handoko. Dari mana? Ayo masuk,"

"Safitri udah pulang, Mbok?" pemuda itu tidak menjawab malah balik bertanya, dia langsung masuk dan duduk di kursi kayu ruang tamu.

"Baru saja. Tunggu sebentar, biar Mbok panggilkan," ucap Mbok Yem, dia kemudian masuk memanggil Safitri.

"Mas Handoko, ada apa?" Safitri tampak bingung, dia lalu duduk di samping pemuda itu.

"Enggak apa-apa, cuma mampir. Oh iya, kata Endang (tetangga Safitri) kamu tadi ke rumah Juragan Yogi Bramasta to? Ada perlu apa ke sana?"

"Nyari kerja, Mas. Alhamdulillah diterima, mulai Senin sudah bekerja,"

"Kok kamu mau sih kerja di sana? Kabarnya Juragan Yogi itu punya pesugihan lho. Buktinya tak ada yang betah bekerja di sana," imbuh Handoko.

"Pesugihan? Ah kamu bercanda, Mas. Jangan percaya ucapan orang, dia itu kan terkenal baik dan dermawan di desa kita. Masa iya punya pesugihan," Safitri cuma bergidik sambil tersenyum.

"Ya sudah, mas pulang dulu. Assalamualaikum," Handoko kemudian beranjak berdiri dan keluar dari rumah tersebut.

"Nak Handoko, mau ke mana? Ini aku buatkan minum kok malah pergi," seru Mbok Yem yang keluar dari dapur dengan nampan berisi segelas air teh.

"Enggak usah, Mbok. Lain kali saja, aku buru-buru," Handoko tetap pergi, dia mengayuh sepeda dengan tergesa-ges Mbok Yem cuma tersenyum melihat kelakuan pemuda tadi, dia lalu duduk di dekat Safitri yang masih berada di tempatnya semula.

"Kamu ada perasaan sama dia? Handoko itu anak baik, rajin bekerja," ucap Mbok Yem sembari menghela napas panjang.

"Kami cuma teman, Mbok ... enggak lebih," bantah Safitri.

Antara Safitri dan Handoko memang mempunyai hubungan dekat, bisa dibilang keduanya berpacaran namun Safitri masih menyembunyikan hal ini dari siapapun, termasuk ibunya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab 10

    Berita tentang kematian Thole anaknya Mas Wandi membuat Safitri terkejut, entah mengapa gadis cantik itu merasa bersalah atas peristiwa tersebut meskipun belum tentu kematian bocah itu akibat tumbal dari uang dari majikanku yang Safitri berikan padanya. Apalagi saat tidur tadi Safitri juga mengalami peristiwa tak masuk akal seperti tindihan. Padahal jelas-jelas dia merasakan tangan kasar yang dingin dengan kuku panjang menyentuh pipinya.Safitri masuk kembali ke kamar, mengganti daster dengan kaos dan celana panjang lalu sweater lalu menyusul Mbok Yem mendatangi rumah Mas Wandi. Di halaman dan ruang tamu rumah Mas Wandi masih sepi, hanya ada beberapa orang warga desa terdekat yang datang untuk membantu proses pengurusan jenazah maklum belum ada jam tiga pagi jadi mungkin orang-orang masih tidur di rumah mereka masing-masing."Mbok, mana Thole?" tanya Safitri saat bertemu ibunya di ambang pintu. "Masih di kamar, kamu bantu di sini dulu ya. Simbok mau ambil kain kafan di rumah untuk s

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    Bab 9

    Hujan gerimis mulai turun lebih deras dari sebelumnya, Safitri mempercepat laju sepeda motornya hingga tiba di rumah sebelum hujannya turun lebih deras. Tok tok tok!"Mbok, Simbok," seru Safitri di depan pintu rumahnya, tak lama berselang pintu itu dibuka dari dalam."Lho ada apa kok pulang mendadak? Kamu dipecat?" tanya Mbok Yem kaget melihat kedatangan anaknya malam-malam. Safitri tidak menjawab, dia langsung masuk mengambil handuk dan mengusap wajah serta rambutnya yang basah akibat paparan hujan. "Enggak dipecat. Majikanku - Mbak Erna istrinya juragan Yogi menginap di sana dan meminta aku pulang malam ini, besok lagi ke sana sekitar jam sepuluh," jelas Safitri."Beneran enggak dipecat kan? Atau kamu buat kesalahan sehingga majikan kamu murka," cecar Mbok Yem sekali lagi."Tidak, Mbok. Kenapa mikir begitu? Majikanku baik kok, sebentar aku ganti daster dulu," Safitri masuk ke kamarnya, berganti pakaian basah dengan pakaian harian berupa daster motif batik berwarna biru. Gadis itu

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    8

    Ritual aneh Hari berlalu, Safitri mulai beradaptasi dengan baik di tempat itu. Tidak terasa kini dia sudah bekerja di sana selama enam bulan. Sejak Safitri bekerja di sana, kondisi warung itu semakin hari semakin ramai. Jika dulu omset harian di bawah lima ratus ribu sekarang sudah mencapai lima juta kotor perhari. Itu omset yang lumayan besar untuk ukuran warung kelontong di kampung. Safitri yang ramah dan pandai bergaul membuat pembeli nyaman berada di sana dengan pelayanan yang dia berikan. Pernah suatu hari ada pembeli yang kelebihan uang, Safitri yang jujur tetap mengatakan hal itu apa adanya meskipun pembeli tersebut tidak menyadari jika dalam uang yang dia lipat berlebih.Kerja sama antara dirinya dengan Mas Parjo selaku teman kerjanya juga bisa menyesuaikan diri dengan Safitri yang usianya jauh lebih muda. Mereka jarang berbincang, hanya seperlunya saja. Jika warung ramai mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing, ketika sudah selesai Mas Parjo langsung pulang ke rumahnya y

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    bab 7

    Dengan napas tersengal-sengal Safitri sampai juga di rumah Juragan Yogi sambil membawa payung, sebotol minyak goreng dan dua bungkus mi instan yang semalam Safitri berikan pada perempuan renta tersebut. Gadis berparas ayu itu langsung masuk ke kamar memeriksa kembali uang ratusan dan puluhan ribu yang dia berikan semalam, namun hal aneh lainnya kembali terjadi."A--apa ini?" Tak ada uang kertas seperti tadi, semua berubah menjadi dedaunan kering dan serpihan kembang setaman. Hal itu membuat keringat dingin mengucur deras dari dahi dan leher dalam cuaca pagi yang sedingin ini.Dak dak dak!"Whuaaah!" Safitri melonjak kaget kala pintu kamar kembali di gedor. Spontanitas gadis itu mundur menjauh dari pintu."Safitri, ini aku," sapa pria bersuara serak parau yang tak lain adalah Mas Parjo pembantu warung di sini."Mas Parjo, kamu bikin kaget saja," ucap Safitri sembari membuka pintu dan mengelus dada karena rasa kaget beruntun."Ada apa? Wajahmu pucat begitu, kalau sakit istirahat saja, t

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    bab 6

    Ada yang janggal di rumah Juragan Yogi Bramasta, rumah Jawa kuno yang mewah dan elegan itu seperti diselimuti hawa magis yang begitu kuat setiap sudut ruangan. Demi pekerjaan Safitri tetap berusaha untuk tenang. Gadis itu keluar dari rumah melihat kondisi di luar."Mendung banget," ucapnya memandang langit yang gelap tanpa bintang, dia masuk lagi dan duduk di ruang tamu. Di tangannya menggenggam teh hangat yang baru saja dia buat untuk diminum.Dari dalam ruang tamu yang pintunya masih terbuka Safitri melihat paparan cahaya petir dari kejauhan, dia hanya menghela nafas panjang. Sebenarnya jika dalam kondisi seperti ini dia telah terbiasa berada di rumah sendiri, namun karena ini malam pertama dia mulai menginap di juragan Yogi jadi terkesan menakutkan apalagi di rumah itu hanya ada dia sendiri dan bangunannya terpisah jauh dari pemukiman warga lainnya.Malam itu hujan deras, mendung gelap yang sedari tadi sore menaungi desa itu berganti guyuran hujan bak anak panah yang disertai angin

  • Gagal Menikah Akibat Guna-guna    bab 5

    Safitri sampai berdiri dan beranjak dari ranjang, matanya belum rabun jelas-jelas dia tadi mera_ba bercak darah yang bewarna merah kehitaman dengan aroma anyir yang menyengat tapi ketika dia perhatikan dengan seksama bercak darah itu raib tanpa jejak.Dak dak dak!Nyaris saja Safitri meloncat kaget ketika pintu kamar yang berada di belakangnya diketuk, jantung Safitri berdebar kencang dan akhirnya memberanikan diri untuk membuka pintu kamar."Mas Parjo? Bikin kaget saja," ucap Safitri sembari mengelus dada yang jantungnya masih berdegup kencang."Sudah jam delapan lewat, kamu enggak buka warung?" ucap pria berperawakan jangkung yang rambutnya beruban sebagian."I--iya, maaf," gadis itu merapikan rambut dan pakaian, Mas Parjo langsung membalikkan badan pergi ke warung depan. Cuma dia teman kerja Safitri di sini, Mas Parjo ini masih kerabat dari Yogi Bramasta. Dia bertugas bagian angka-angkat barang, berkemas dan mengatur belanja masuk warung. Dia membantu Safitri dalam banyak hal. Pri

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status