LOGIN“Zel …!” Teriakan itu menghentak Grizelle yang saat ini sedang menunggu bus yang akan ia tumpangi menuju sekolah. Grizelle menoleh. Sebuah motor retro yang ditumpangi oleh seorang anak muda tampan berpakaian seragam SMA tampak gagah berjalan ke arahnya. Motor klasik berteknologi modern itu semakin lama semakin mendekat ke arah Grizelle yang berdiri di halte bis. “Tian?” “Hai, Zel! Bareng aku, yuk!” Septian, pria berwajah manis berkulit kuning langsat itu membuka kaca helm yang ia kenakan setelah menepikan motornya. Laki-laki yang usianya tiga tahun lebih tua dari usia Grizelle itu merupakan teman satu sekolah Grizelle. Ia merupakan kakak kelas Grizelle. Lelaki itu menawarkan tumpangan kepada Grizelle untuk ikut bersamanya. “Hmmm … boleh!” ucap Grizelle menyetujui—disertai dengan senyum manisnya. Mendengar jawaban Grizelle, Tian tersenyum lebar. Ia kemudian memberi Grizelle sebuah helm yang biasa tergantung di bagian sisi kiri motornya. Helm itu memang ia sediakan untuk
Pagi yang hangat menyapa dengan lembut, membawa sinar matahari keemasan yang menelusup melalui celah tirai dan memantul manis di setiap sudut ruangan. Udara terasa segar, dipenuhi aroma embun yang masih setia menempel di dedaunan, sementara angin pagi berhembus pelan seolah membisikkan ketenangan. Langit biru muda membentang bersih dengan semburat jingga tipis di ufuk timur, menciptakan suasana yang damai dan menenangkan hati. Di luar, suara burung-burung kecil saling bersahutan, menambah keindahan pagi yang terasa begitu hidup. Sinar matahari yang tidak terlalu terik memberi kehangatan nyaman di kulit, membuat siapa pun ingin berlama-lama menikmati momen sebelum kesibukan hari dimulai. Pagi itu, kamar luas milik Tristan sama seperti hari-hari biasanya, terasa sunyi dan tenang. Tirai jendela berwarna hitam pekat yang setengah terbuka membiarkan cahaya matahari menyusup tipis, jatuh di wajah pria tampan itu—menonjolkan garis rahangnya yang tegas dan raut wajahnya yang selalu tampak
Cahaya keemasan pada lampu di bagian koridor hotel sangat kontras menyirami raga dua insan yang tubuhnya saling berdesakan. Sinar kekuningan itu seakan menjadi saksi bisu atas perlakuan semena-mena Tristan terhadap Grizelle. Disaat seperti itu yang terdengar hanyalah sayub-sayub suara musik klasik yang tentunya mengiringi rasa suka cita para tamu undangan di bagian ballroom hotel. Kedua tubuh itu tak lagi berjarak. Tristan tak lagi memberi ruang pada raga gadis belia yang menjadi teman kencannya malam ini. Sepertinya ia benar-benar ingin menuntaskan hasratnya— pada gadis remaja yang berada dalam kendalinya saat ini. Dan ia sendiri menyadari kalau Grizelle telah pasrah dalam kungkungannya. Apakah ini yang dinamakan kesempatan kedua untuk Tristan? Grizelle yang merasa tubuhnya semakin terdesak ke dinding, tidak mampu melawan wujud Tristan yang sudah pasti menang jauh dari dirinya. Tubuh kokoh milik lelaki itu tidak bergerak, hanya menindih lembut. Namun, mampu membuat Grizelle mema
Grizelle memahami apa yang ada dipikiran Tristan. Pria itu berubah gusar pasti karena mendengar bantahan yang keluar dari mulutnya terhadap ucapan Deby. Grizelle menepis ucapan Deby karena memang di antara dia dan Tristan tidak terjalin hubungan apa-apa. Bahkan untuk menganggap hubungan itu sekedar pertemanan pun, Grizelle sangat meragukannya. Betapa keruhnya air muka Tristan saat ini. Wanita yang sudah dianggapnya paling spesial, dengan berani berkata kalau ia dan dirinya tidak mempunyai hubungan apa-apa. Hatinya terluka. Sebab ia merasa seperti tidak dianggap oleh Grizelle. Meskipun Tristan tidak menepis apa yang keluar dari mulut Grizelle, namun dari raut wajah yang ia tampilkan cukup membuat siapapun yang melihatnya sadar, kalau pria itu sedang tidak dalam kondisi baik. Tristan mencoba menahan diri agar tidak larut dalam emosi meski ia merasa sikap itu sungguh sangat menyiksa batinnya. Ingin meluapkan amarah, namun ia sadar kalau gadis yang ia kagumi memang belum resmi menjadi
Malam semakin larut. Waktu yang berangsur naik sama sekali tidak berdampak apa-apa pada jalanan yang masih saja terlihat ramai. Langit yang menggelap karena ditinggal hangatnya sinar mentari, membuat cuaca menjadi dingin. Sebab angin malam datang berhembus semilir membuat malam kian terasa syahdu. Ada bulan di atas sana yang tengah menampakkan diri. Seakan tidak sungkan berdampingan bersama gelapnya suasana malam. Memancarkan sinar emas yang begitu elok menyirami bumi. Begitu indah memantul di tiap-tiap jendela pada gedung-gedung yang menjulang. Ketika sinarnya berpadu bersama kelap kelip lampu jalanan, ketika itu pula sudut kota terlihat cantik dan begitu estetik. Suasana di golden ballroom hotel bintang lima yang Tristan dan Grizelle hadiri berubah kian harmonis. Irama musik yang tadinya bergenre balada, kini berganti dengan alunan musik klasik. Musik bernuansa klasik hadir untuk memanjakan telinga para tamu undangan. Instrumen musik yang tidak diiringi penyanyi itu membuat para
Desiran angin malam menyapa lembut wajah dan rambut Grizelle. Hingga rambut lurus sebahu itu terhembus melayang ke belakang karenanya. Kedua kelopak mata Grizelle urung berkedip, memaksa dua bola mata indah itu agar tetap membulat. Grizelle tercengang. Di hadapannya muncul sosok pria yang begitu mempesona. Tristan Satria Adinata, turun dari mobil mewahnya. Berjalan dengan gagah mendekati Grizelle yang tergemap melihat penampilannya. Tristan terlihat begitu jantan dengan setelan jas berwarna hitam. Dua kancing kemeja putih yang berada di balik jas hitamnya sengaja ia buka. Menampilkan dada bidangnya yang begitu menggairahkan. Rambutnya disisir begitu rapi. Wajahnya begitu tampan dengan senyum yang mengembang. Meski senyum itu bukanlah senyum yang mempunyai maksud buruk, namun senyum itu tetap saja terlihat menyeramkan. Sepertinya, garis keras wajah Tristan memang sudah bawaan lahir. Tristan mengamati Grizelle dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tak menyangka penampilan Grizelle ter
Ceklek!"Tristan, malam i—"'Ya, Tuhan—'Miko tercegang. Membeku di tempat. Bagaimana tidak, retinanya menangkap jelas adegan Tristan dan Grizelle. Adegan romantis seperti yang terjadi di drama-drama di televisi.&nb
Tik! Tik! Tik!Dentingan jarum jam terdengar begitu nyaring. Dalam ruangan yang sejuk itu, dua anak manusia yang berlawanan jenis saling beradu pandang dengan ekspresi yang sangat bertolak belakang.
"Zel?"Stella turun dari sepeda motor matic berwarna putih miliknya. Celingak-celinguk memandang ke sekeliling. Mencari sosok Grizelle yang tidak ada di tempat."Zel ...," panggil Stella sedikit lebih keras. Berharap Grizelle menyahut pangg
Kegelisahan yang luar biasa menyerang Grizelle. Ia benar-benar sedang merasa terancam. Bagaimana tidak, saat ini ia sedang bersama Tristan dalam satu mobil. Berdua dengan pria yang terkenal sangat arrogan dan dingin. Gadis itupun meronta-ronta bermohon pada Tristan agar ia menghentikan mobilnya.







