Home / Romansa / Gairah Cinta Tuan Mafia / 55. bagaimana jika

Share

55. bagaimana jika

Author: Rentya Karin
last update Last Updated: 2025-12-30 17:14:57

Clarissa terbangun dari tidurnya dengan jantung berdebar. Ia bangkit, lalu berjalan keluar kamar.

Leo berdiri di ruang kerja, memegang ponsel.

"Kamu belum tidur," tanya Clarissa.

Leo menoleh cepat. Wajahnya langsung melembut. "Aku akan segera menyusul, baby."

Clarissa melangkah mendekat, menatap kedua bola mata Leo. "Apa yang kamu lakukan malam ini?" tanya Clarissa sangat penasaran. Karena tidak biasanya Leo berada di ruang kerja malam-malam seperti ini. Pasti sesuatu sedang Leo rencanakan. Begitulah pikir Clarissa.

Leo menaruh ponsel, lalu meraih wajah Clarissa dengan kedua tangan. "Aku membersihkan dunia dari sesuatu yang berbahaya."

"Untukku?"

"Untukmu," tegas Leo.

Clarissa menutup matanya, dadanya terasa sesak. "Aku tidak ingin ada darah di tanganku."

Leo memeluknya erat. "Tidak ada darah. Hanya ada kebenaran."

Hening...

Clarissa tidak lagi mengeluarkan suaranya, sementara Leo, dia masih tetap di posisinya, memeluk Clarissa dengan erat dan hangat.

Sementara di kejau
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Cinta Tuan Mafia   80. Aku milikmu

    Clarissa terbangun saat fajar belum benar-benar masuk ke dalam kamar.Cahaya tipis menyelinap di balik tirai, membelah ruangan menjadi dua, terang dan gelap. Seperti perasaannya sekarang.Ia tidak sendiri.Leo masih di sana.Tubuh laki-laki itu setengah bersandar di kepala ranjang, satu lengannya melingkari pinggang Clarissa, mengunci bukan keras, tapi pasti. Seolah tubuh Clarissa adalah sesuatu yang tidak boleh terlepas bahkan saat tidur.Clarissa bergerak sedikit.Refleks Leo langsung bereaksi.Tangannya mengencang sepersekian detik, napasnya berubah, sebelum akhirnya ia membuka mata."Kamu mau ke mana, sayang?" suaranya serak, baru bangun, namun penuh kewaspadaan.Clarissa tersenyum kecil. "Ke kamar mandi," jawabnya pelan.Leo menatapnya beberapa detik, seolah menimbang apakah ia percaya atau tidak, lalu akhirnya melepas… tapi tidak sepenuhnya. Tangannya masih menyentuh pergelangan Clarissa."Aku tunggu," katanya singkat.Clarissa mengangguk, kemudian ia bangkit dan berdiri. Namun

  • Gairah Cinta Tuan Mafia   79. Aku ingin kau tidak menahan diri

    Leo tidak langsung melepas Clarissa setelah ciuman itu berakhir.Ia tetap di sana. Terlalu dekat. Terlalu sadar akan napas Clarissa yang mulai tidak teratur. Tangannya masih bertumpu di pinggang gadis itu, seolah jika ia lengah sedetik saja, Clarissa bisa ditarik dunia lain."Kamu gemetar, baby?" ucap Leo pelan.Clarissa menghela napasnya, dan berkata dengan jujur. "Karena kamu menatapku seperti itu." Sedikit mengerucut kan bibirnya membuat Leo gemas melihatnya. "Seperti apa?" tanya Leo sembari mencubit hidung mancung sang kekasih. "Seperti aku satu-satunya hal yang kamu punya."Leo tersenyum tipis. Senyuman yang tidak main-main."Karena itu benar." Kata laki-laki itu pelan namun pasti. Clarissa menelan ludah. Dadanya terasa hangat, jantungnya berdebar terlalu cepat. Ia mengangkat tangannya, menyentuh rahang Leo. Kasar. Terasa hangat dan juga nyata."Kamu bikin aku lupa bagaimana caranya bernapas normal," katanya lirih.Leo menunduk sedikit, hidung mereka hampir bersentuhan. "Aku t

  • Gairah Cinta Tuan Mafia   79. cinta yang dalam

    Pagi itu terasa terlalu tenang.Clarissa masih berada dalam dekapan Leo, napas mereka perlahan mulai selaras. Namun ketenangan itu tidak benar-benar masuk ke dalam diri Leo. Matanya sudah terbuka sejak beberapa menit lalu. Tatapannya kosong, tapi pikirannya bekerja cepat.Ia mendengar suara langkah di luar kamar.Pelan. Teratur. Terlalu terkontrol.Leo langsung tahu itu bukan penjaga biasa.Tangannya mengencang sedikit di pinggang Clarissa. Bukan untuk membangunkannya, tapi memastikan ia masih di sana.Clarissa bergerak kecil, mengerang pelan. "Kamu kenapa?" gumamnya setengah sadar.Leo menunduk, mengecup keningnya. "Tidur lagi, baby.""Tapi kamu terasa tegang…""Aku cuma nggak suka pagi terlalu sunyi," jawab Leo ringan, meski rahangnya mengeras.Clarissa membuka mata sepenuhnya, menatap Leo dengan alis berkerut. "Ada yang salah?"Leo menatapnya lama. Terlalu lama. Seolah ia sedang menimbang sesuatu."Ada dunia di luar sana," katanya pada akhirnya. "Dan aku nggak suka dunia terlalu de

  • Gairah Cinta Tuan Mafia   78. satu-satunya tempat

    "Seseorang ingin bertemu denganmu," kata Bastian membuat kening Arsen langsung berkerut. "Siapa?" tanya Arsen penasaran. "Arnold." Jawab Bastian cepat. "Arnold?" ulang Arsen yang mendapat angguk kan kepala dari Bastian. "Untuk apa dia ingin menemui ku? Apakah aku mengenalnya?" Bastian menggeleng pelan. "Dia tidak mengenalmu, tapi dia tahu kamu menginginkan Assa," ucap Bastian membuat rahang Arsen langsung mengeras. "Biarkan dia masuk!" titah Arsen terdengar mulai dingin, pertanda jika laki-laki itu sedang menahan amarahnya. Bastian mengangguk patuh, kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Arsen yang terlihat mulai mengepalkan satu tangannya kuat. Beberapa menit kemudian, Bastian pun masuk dengan Arnold di belakangnya. Mata Arsen menatap tajam Arnold yang kini berdiri di hadapannya dengan wajah santai, dan tenang. "Ada urusan apa kau ingin menemuiku?" tanya Arsen tanpa basa basi. "Apa aku tidak di persilahkan untuk duduk dulu tuan Arsen?" tanya Arnold, tida

  • Gairah Cinta Tuan Mafia   77. Pertanyaan yang sama

    Malam turun perlahan. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, menciptakan bayangan lembut di dinding.Clarissa duduk di lantai kamar, bersandar di sisi ranjang, selimut melingkari bahunya. Rambutnya masih setengah basah. Ia belum benar-benar tenang sejak sore tadi.Leo berdiri di ambang pintu, mengamati tanpa suara.Ada sesuatu yang aneh pada Clarissa malam ini.Lebih banyak diam, dan juga terlihat rapuh."Sayang, kamu kenapa?" tanya Leo pada akhirnya. Clarissa mengangkat wajahnya. Menatap Leo, dengan helaan nafas yang terdengar kasar. "Aku lagi memikirkan sesuatu.""Memikirkan sesuatu? Ulang Leo. " itu berbahaya," lanjut Leo setengah bercanda, lalu melangkah masuk.Clarissa tersenyum tipis. "Kamu takut aku memikirkan hal lain selain kamu?"Leo berlutut di depan Clarissa. Tatapan keduanya langsung bertemu. "Aku takut kamu memikirkan dunia ini bisa lebih baik tanpaku," jawabnya jujur.Clarissa terdiam beberapa saat, kemudian ia berkata pelan. "Aku takut… aku mulai butuh kamu."Leo m

  • Gairah Cinta Tuan Mafia   76. Tetap harus tinggal bersamaku

    Clarissa baru benar-benar merasa sendirian setelah pintu itu tertutup cukup lama.Rumah ini besar. Terlalu besar untuk cuma satu orang.Dan anehnya… baru sekarang ia sadar, selama ini Leo selalu jadi pengisi ruang kosong itu. Suara langkahnya, tatapan matanya, bahkan caranya berdiri diam pun terasa seperti kehadiran yang nyata.Clarissa berjalan ke arah jendela. Tirai sedikit terbuka. Langit siang kelabu.Ia memeluk lengannya sendiri. "Kamu keterlaluan," gumamnya lirih, entah pada Leo… atau justru pada dirinya sendiri.Clarissa kembali melangkahkan kedua kakinya menuju kursi sofa. Ia duduk di sofa itu, menatap ponselnya. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Leo benar-benar pergi tanpa meninggalkan jejak selain kalimat terakhirnya.'Kamu selalu menuruti permintaanku.'Clarissa mendesah kesal.Namun detik berikutnya, dadanya justru terasa… kosong.Ia menutup matanya, dan bersandar pada kepala kursi sofa itu.Dan tanpa sadar, pikirannya dipenuhi oleh Leo.Caranya menatap.Caranya memega

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status