Home / Romansa / Gairah Cinta Tuan Mafia / 77. satu-satunya tempat

Share

77. satu-satunya tempat

Author: Rentya Karin
last update Last Updated: 2026-01-12 19:11:37

"Seseorang ingin bertemu denganmu," kata Bastian membuat kening Arsen langsung berkerut.

"Siapa?" tanya Arsen penasaran.

"Arnold." Jawab Bastian cepat.

"Arnold?" ulang Arsen yang mendapat angguk kan kepala dari Bastian. "Untuk apa dia ingin menemui ku? Apakah aku mengenalnya?"

Bastian menggeleng pelan. "Dia tidak mengenalmu, tapi dia tahu kamu menginginkan Assa," ucap Bastian membuat rahang Arsen langsung mengeras.

"Biarkan dia masuk!" titah Arsen terdengar mulai dingin, pertanda jika laki-laki itu sedang menahan amarahnya.

Bastian mengangguk patuh, kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Arsen yang terlihat mulai mengepalkan satu tangannya kuat.

Beberapa menit kemudian, Bastian pun masuk dengan Arnold di belakangnya.

Mata Arsen menatap tajam Arnold yang kini berdiri di hadapannya dengan wajah santai, dan tenang.

"Ada urusan apa kau ingin menemuiku?" tanya Arsen tanpa basa basi.

"Apa aku tidak di persilahkan untuk duduk dulu tuan Arsen?" tanya Arnold, tidak berniat untuk men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Cinta Tuan Mafia   79. cinta yang dalam

    Pagi itu terasa terlalu tenang.Clarissa masih berada dalam dekapan Leo, napas mereka perlahan mulai selaras. Namun ketenangan itu tidak benar-benar masuk ke dalam diri Leo. Matanya sudah terbuka sejak beberapa menit lalu. Tatapannya kosong, tapi pikirannya bekerja cepat.Ia mendengar suara langkah di luar kamar.Pelan. Teratur. Terlalu terkontrol.Leo langsung tahu itu bukan penjaga biasa.Tangannya mengencang sedikit di pinggang Clarissa. Bukan untuk membangunkannya, tapi memastikan ia masih di sana.Clarissa bergerak kecil, mengerang pelan. "Kamu kenapa?" gumamnya setengah sadar.Leo menunduk, mengecup keningnya. "Tidur lagi, baby.""Tapi kamu terasa tegang…""Aku cuma nggak suka pagi terlalu sunyi," jawab Leo ringan, meski rahangnya mengeras.Clarissa membuka mata sepenuhnya, menatap Leo dengan alis berkerut. "Ada yang salah?"Leo menatapnya lama. Terlalu lama. Seolah ia sedang menimbang sesuatu."Ada dunia di luar sana," katanya pada akhirnya. "Dan aku nggak suka dunia terlalu de

  • Gairah Cinta Tuan Mafia   77. satu-satunya tempat

    "Seseorang ingin bertemu denganmu," kata Bastian membuat kening Arsen langsung berkerut. "Siapa?" tanya Arsen penasaran. "Arnold." Jawab Bastian cepat. "Arnold?" ulang Arsen yang mendapat angguk kan kepala dari Bastian. "Untuk apa dia ingin menemui ku? Apakah aku mengenalnya?"Bastian menggeleng pelan. "Dia tidak mengenalmu, tapi dia tahu kamu menginginkan Assa," ucap Bastian membuat rahang Arsen langsung mengeras. "Biarkan dia masuk!" titah Arsen terdengar mulai dingin, pertanda jika laki-laki itu sedang menahan amarahnya. Bastian mengangguk patuh, kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Arsen yang terlihat mulai mengepalkan satu tangannya kuat. Beberapa menit kemudian, Bastian pun masuk dengan Arnold di belakangnya. Mata Arsen menatap tajam Arnold yang kini berdiri di hadapannya dengan wajah santai, dan tenang. "Ada urusan apa kau ingin menemuiku?" tanya Arsen tanpa basa basi. "Apa aku tidak di persilahkan untuk duduk dulu tuan Arsen?" tanya Arnold, tidak berniat untuk men

  • Gairah Cinta Tuan Mafia   77. Pertanyaan yang sama

    Malam turun perlahan. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, menciptakan bayangan lembut di dinding.Clarissa duduk di lantai kamar, bersandar di sisi ranjang, selimut melingkari bahunya. Rambutnya masih setengah basah. Ia belum benar-benar tenang sejak sore tadi.Leo berdiri di ambang pintu, mengamati tanpa suara.Ada sesuatu yang aneh pada Clarissa malam ini.Lebih banyak diam, dan juga terlihat rapuh."Sayang, kamu kenapa?" tanya Leo pada akhirnya. Clarissa mengangkat wajahnya. Menatap Leo, dengan helaan nafas yang terdengar kasar. "Aku lagi memikirkan sesuatu.""Memikirkan sesuatu? Ulang Leo. " itu berbahaya," lanjut Leo setengah bercanda, lalu melangkah masuk.Clarissa tersenyum tipis. "Kamu takut aku memikirkan hal lain selain kamu?"Leo berlutut di depan Clarissa. Tatapan keduanya langsung bertemu. "Aku takut kamu memikirkan dunia ini bisa lebih baik tanpaku," jawabnya jujur.Clarissa terdiam beberapa saat, kemudian ia berkata pelan. "Aku takut… aku mulai butuh kamu."Leo m

  • Gairah Cinta Tuan Mafia   76. Tetap harus tinggal bersamaku

    Clarissa baru benar-benar merasa sendirian setelah pintu itu tertutup cukup lama.Rumah ini besar. Terlalu besar untuk cuma satu orang.Dan anehnya… baru sekarang ia sadar, selama ini Leo selalu jadi pengisi ruang kosong itu. Suara langkahnya, tatapan matanya, bahkan caranya berdiri diam pun terasa seperti kehadiran yang nyata.Clarissa berjalan ke arah jendela. Tirai sedikit terbuka. Langit siang kelabu.Ia memeluk lengannya sendiri. "Kamu keterlaluan," gumamnya lirih, entah pada Leo… atau justru pada dirinya sendiri.Clarissa kembali melangkahkan kedua kakinya menuju kursi sofa. Ia duduk di sofa itu, menatap ponselnya. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Leo benar-benar pergi tanpa meninggalkan jejak selain kalimat terakhirnya.'Kamu selalu menuruti permintaanku.'Clarissa mendesah kesal.Namun detik berikutnya, dadanya justru terasa… kosong.Ia menutup matanya, dan bersandar pada kepala kursi sofa itu.Dan tanpa sadar, pikirannya dipenuhi oleh Leo.Caranya menatap.Caranya memega

  • Gairah Cinta Tuan Mafia   75. Belum, aku masih menahan diri

    Leo menggeram pelan, menarik Clarissa ke tubuhnya. Pelukan itu erat. Terlalu erat untuk sekadar nyaman."Aku bisa hancur kalau kehilanganmu," bisiknya di telinga Clarissa. "Maka dari itu aku tidak akan mengambil risiko." Clarissa berbisik balik, suaranya terdengar sedikit gemetar. "Kamu membuatku takut… tapi aku juga tenang."Leo tersenyum tipis. "Cinta memang harusnya begitu."Ia menggendong Clarissa, membawanya menuju kursi sofa. Bukan tergesa. Tapi penuh kendali. Ia duduk, Clarissa di pangkuannya, dipeluk dari belakang."Dunia di luar sana tidak tahu caranya memelukmu," katanya pelan. "Aku tahu."Clarissa menyandarkan kepalanya pada bahu Leo. Jantungnya berdetak keras.Dan di dalam dadanya, ia sadar, Ia mulai berhenti bertanya, apakah ini benar atau salah.Yang ia tahu…ia tidak ingin dilepaskan.***"Sepertinya ada yang menginginkan gadis itu, selain kita. Hanya saja keinginan orang itu berbeda dengan keinginan kita," Amelia menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya, matanya

  • Gairah Cinta Tuan Mafia   74.Semakin mengurungku

    "Bagaimana? Apa kau berhasil?" tanya Bastian sambil menatap Arsen yang saat ini sedang berdiri di dekat jendela apartemennya. "Apa kau melihat keberadaan Assaku disini?" Arsen berbalik nanya, tanpa menoleh. Bastian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia melangkah mendekati Arsen. "Tidak, dan itu artinya kau gagal?" katanya membuat Arsen kesal mendengarnya. "Bukan gagal, belum waktunya saja," ralat Arsen seraya berbalik dan melangkah melewati Bastian. "Tapi, aku akan berusaha untuk membawanya pergi. Aku yakin, aku pasti bisa membawanya pergi dari rumah itu." Lanjut Arsen lagi seraya menjatuhkan tubuhnya di atas kursi sofa. Bastian menghela nafasnya kasar, dia pun ikut melangkah, membawa kakinya menuju kursi sofa. Duduk, lalu berkata dengan pelan. "Seandainya kau membawanya ketika Assa masih berada di rumah sakit, mungkin saat ini Assa sudah benar-benar mengingatmu dan berada di sini, bersamamu." "Kau pikir itu mudah?" Arsen menatap Bastian kesal. "Leo... Dia memberik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status