Home / Mafia / Dalam Kuasa Tuan Mafia / bab2 ingin memilikimu

Share

bab2 ingin memilikimu

Author: Rentya Karin
last update Last Updated: 2025-07-17 10:12:29

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Clarissa duduk di atas ranjang besi dengan selimut tipis yang bahkan tidak cukup untuk menghangatkan tubuhnya yang menggigil sejak siang. Tangannya sudah tidak lagi terikat, tapi dia tetap merasa seperti tawanan. Tawanan seorang mafia berdarah dingin.

Leonardo De Luca duduk di seberang ruangan, di kursi kulit yang terlihat seperti tidak pantas berada di gudang kumuh seperti ini. Kemeja hitamnya terbuka tiga kancing atas, memperlihatkan garis dada yang kokoh. Jemarinya yang panjang memutar gelas berisi scotch, sementara pandangannya tidak lepas dari Clarissa.

"Kau tahu, biasanya siapa pun yang menyaksikan anak buahku membunuh… tidak pernah sempat melihat malam berikutnya," katanya pelan, seolah sedang berbicara soal cuaca. Namun ucapannya terdengar sangat menakutkan di telinga Clarissa.

Clarissa memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya, ia menatap pria itu."Lalu kenapa aku masih hidup?" tanyanya sedikit takut.

Leonardo menyipitkan matanya, lalu bangkit. Ia melangkahkan kedua kakinya menghampiri gadis cantik tersebut. Ia berdiri tepat di depan Clarissa, menunduk, lalu duduk perlahan di pinggir ranjang. Jarak mereka kini terlalu dekat. Nafas mereka bercampur dalam ruang yang sempit dan panas.

"Karena ada dua kemungkinan," ucapnya sambil menatap mata Clarissa tanpa berkedip. "Satu, aku tertarik padamu. Dua, aku ingin membuatmu bicara… dengan cara yang tidak biasa." Lanjutnya lagi terdengar serak dan berat.

"Aku sudah bilang… aku tidak tahu apa-apa. Aku cuma sekretaris! Aku tidak sengaja lewat di tempat kejadian!" seru Clarissa dengan suara bergetar.

Leonardo tersenyum tipis, sangat tipis, bahkan gadis itu pun tidak bisa melihatnya. "Justru itu masalahnya. Orang yang tidak sengaja seperti kamu… biasanya menyimpan kejutan, dan aku sangat menyukai sebuah kejutan itu." Ucapnya, membuat Clarissa bingung tidak mengerti.

Leo menyentuh rambut Clarissa, mengusapnya dengan perlahan, lalu menyelipkan nya ke belakang telinga gadis itu. Gerakan kecil itu membuat jantung Clarissa berdegup tak menentu. Ia benci pria itu. Tapi, mengapa jantungnya berdebar-debar?

Perlahan tapi pasti, pria itu mendekatkan wajahnya dengan gadis cantik itu, hembusan nafasnya yang hangat, begitu jelas Clarissa rasakan di permukaan wajahnya.

Tangan pria itu mulai menelusuri leher jenjang milik Clarissa, membuat gadis itu langsung tersadar dan menepis kasar tangan Leo.

"Singkirkan tanganmu! Aku bukan mainanmu, Tuan Mafia," seru Clarissa, menahan emosi dan rasa takut yang campur aduk.

Leonardo terkekeh. "Benar. Kau bukan mainanku, tetapi... " sebelum ucapan Leo selesai, tiba-tiba saja terdengar suara tembakan dari luar.

"Ada apa ini? Kenapa ada suara tembakan di luar?" tanya Clarissa terlihat panik sekaligus takut. Belum selesai menghadapi Leo, Clarissa harus di hadapkan dengan suara suara tembakan di luar sana.

Gadis cantik yang selama ini hidupnya selalu aman dan tenang, tiba-tiba saja di hadapkan dengan kengerian ini. Sungguh, Clarissa benar-benar merasa hidupnya telah berubah seribu derajat celsius.

Dor... Dorr... Dor....

Suara tembakan itu kembali terdengar sangat jelas di luar gudang. Leonardo langsung berdiri, dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan gadis tawanannya tersebut. Wajah Leo mulai berubah menjadi dingin dan menakutkan. Aura membunuh langsung menyelimuti seluruh ruangan itu, membuat Clarissa tidak berani untuk mengeluarkan suara nya lagi.

Leo menoleh pada anak buahnya yang muncul dari pintu samping.

"Orang-orang Bos Lin datang. Mereka mengejar si saksi juga. Mereka tahu dia ada di sini," lapor pria itu cepat.

Clarissa langsung menatap Leonardo dengan panik. "Siapa Bos Lin? Apa maksudnya mereka juga mengejarku?" tanya Clarissa memberanikan diri untuk bertanya lagi. Raut wajahnya terlihat khawatir, sekaligus takut.

Clarissa benar-benar sangat sial, ia belum selesai berurusan dengan Leo, malah muncul lagi orang yang mengejarnya.

Leo menarik pistol dari balik jaket kulitnya, lalu menoleh sebentar ke arah Clarissa. "Itu artinya... hidupmu sekarang lebih bergantung padaku daripada yang kau kira." Ucapnya sekilas memperlihatkan seringai kecil dari sudut bibirnya.

Tanpa berpikir panjang, Leo menarik tangan Clarissa. "Ikut aku. Sekarang." Pintanya.

Clarissa tidak menolak, karena ucapan Leo memang ada benarnya juga. Mungkin saat ini, dia harus bergantung pada pria menyeramkan ini, daripada dia harus di tangkap oleh orang yang bernama bos Lin itu.

Mereka mulai menyelinap keluar melalui jalur belakang gudang. Hujan masih turun dengan deras. Leo memayungi tubuh Clarissa dengan tubuhnya sendiri, menembus gang sempit yang basah dan licin. Anak buahnya berjaga di setiap sisi.

Clarissa berlari sambil terengah, napasnya berat, kakinya terasa sangat lelah, namun ia tidak boleh berhenti. Ia harus terus berlari demi hidupnya sendiri.

Clarissa benar-benar sadar, saat ini dunianya sudah berubah. Dunianya tidak lagi aman seperti dulu. "Tuhan... Aku ingin hidupku seperti dulu lagi. Tolong, matikan aku, lalu buat aku hidup kembali, sebelum aku pulang melewati jalanan itu. Aku mohon, Tuhan.... " teriak Clarissa dalam hati.

Sebuah permintaan, yang hanya bisa terkabul jika Clarissa sedang berada di dalam drama pendek China.

Astaga... Gadis ini masih sempatnya ia meminta permintaan konyol itu di saat dia sedang dalam bahaya seperti ini? Benar-benar gadis langka.

Dor... Dor... Dor....

Suara tembakan itu terdengar semakin mendekat, membuat Clarissa semakin di landa oleh rasa takut yang luar biasa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   137 selama aku ada

    Pagi datang dengan suara langkah kecil di koridor rumah.Clarissa terbangun bukan karena mimpi buruk, melainkan karena aroma roti panggang yang samar masuk ke kamarnya.Ia membuka mata perlahan.Tidak ada Leo di kursi dekat jendela.Jantungnya langsung berdebar.“Leo…?” panggilnya pelan.Tidak ada jawaban.Clarissa bangkit dari ranjang dan membuka pintu kamar, kemudian ia melangkah keluar dan menuruni anak tangga. Di dapur, Leo berdiri dengan celemek sederhana yang jelas tidak cocok dengan tubuh tinggi dan wajah dinginnya. Tangannya sibuk membalik roti di atas wajan.Clarissa terpaku beberapa detik.Ketua De Lucas Syndicate… memasak sarapan.“Kamu sudah bangun, sayang," kata Leo tanpa menoleh. “Aku hampir selesai.”Clarissa mendekat pelan.“Kamu… masak?”Leo mengangkat bahu.“Aku mencoba.”Clarissa tersenyum kecil.“Ini pertama kalinya

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   136 apakah kita bergerak

    Pagi datang dengan langkah pelan.Tidak membawa suara sirene. Tidak membawa pesan ancaman. Tidak membawa darah atau jeritan.Hanya cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai dan aroma kopi dari dapur.Clarissa membuka mata perlahan.Hal pertama yang ia lihat adalah punggung Leo di kursi dekat jendela. Seperti biasa, laki-laki itu terjaga lebih dulu. Jaket hitamnya tergantung di sandaran kursi, kemejanya sedikit kusut karena semalaman tidak benar-benar tidur.“Leo…” panggil Clarissa lirih.Leo langsung menoleh.“Kamu sudah bangun?” tanyanya lembut. Clarissa mengangguk sambil duduk di ranjang. “Kamu lagi-lagi tidak tidur.”Leo berjalan mendekat.“Aku tidur sedikit, sayang. Itu sudah cukup."Clarissa menyentuh wajahnya.“Kamu bohong. Matamu lelah.”Leo menangkap tangan Clarissa dan menempelkannya ke dadanya.“Aku baik-baik saja selama kamu di sini.”Clarissa terd

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   135 kau tidak cocok di dunia normal

    Malam turun dengan cepat, membawa udara yang terasa lebih berat dari biasanya.Clarissa duduk di sofa rumahnya, kedua tangannya saling menggenggam erat. Matanya menatap pintu depan, seolah berharap Gio masuk kapan saja sambil tersenyum dan berkata semuanya hanya salah paham.Namun pintu itu tidak pernah terbuka.Leo berdiri di dekat jendela, ponsel di telinganya, suaranya dingin dan terkontrol.“Cari semua kamera di sekitar kampus. Jangan ada satu sudut pun yang terlewat.”Ia memutus sambungan, lalu menoleh ke arah Clarissa.“Kita akan menemukan Gio.”Clarissa berdiri.“Jangan dengan cara lama, Leo.”Leo menatapnya.“Aku belum melakukan apa pun.”“Tapi aku tahu matamu,” ucap Clarissa lirih. “Kalau kamu marah seperti itu… dunia di sekitarmu bisa hancur.”Leo berjalan mendekat.“Mereka menyentuh orangku.”Clarissa mengangkat wajah.“Dan aku takut mereka ingin kamu kembali jadi seperti dulu.”Leo terdiam.“Aku tidak mau kamu kehilangan dirimu karena aku,” lanjut Clarissa.Leo memegang ba

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   134 benar-benar di mulai

    Pagi itu terasa berbeda.Bukan karena hujan, bukan karena langit, tapi karena udara di sekitar Clarissa terasa… waspada.Ia berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya, sementara Leo duduk di kursi dekat pintu kamar. Sejak kejadian di kampus kemarin, Leo tidak lagi menyembunyikan kegelisahannya."Kamu benar-benar mau kembali ke kampus hari ini?" tanya Leo untuk ketiga kalinya.Clarissa menghela napas kecil."Leo… kalau aku berhenti sekarang, mereka menang."Leo menatapnya lama."Aku tidak peduli siapa yang menang. Aku hanya peduli kamu pulang hidup-hidup."Clarissa berjalan mendekat dan berdiri di antara kedua lutut Leo."Kamu tidak bisa melindungiku dengan cara mengurungku lagi."Leo mengangkat wajahnya."Aku tidak mengurungmu lagi.""Kamu menjagaku seperti dunia ini hanya milikmu."Leo terdiam sesaat."Karena memang begitu."Clarissa tersenyum tipis."Itu manis… tapi juga menakutkan."Leo menarik Clarissa ke dalam pelukan."Dengarkan aku. Mulai hari ini, kamu belajar menjaga dirimu

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   133 bab baru sudah di mulai

    Hujan turun sejak subuh.Langit abu-abu menggantung rendah di atas rumah Clarissa, seolah ikut menyimpan sesuatu yang tidak diucapkan.Clarissa berdiri di depan cermin, mengenakan jaket tipis dan merapikan rambutnya. Hari ini ia tidak merasa setenang kemarin. Ada perasaan aneh di dadanya… seperti sedang diawasi.Ia melirik ke jendela.Kosong.Namun perasaan itu tidak hilang.Pintu kamar diketuk."Clarissa," suara Leo terdengar dari luar. "Sarapan sudah siap."Clarissa membuka pintu.Leo berdiri dengan kemeja hitam dan mantel panjang. Wajahnya terlihat serius, jauh lebih dingin dari biasanya."Kamu mimpi buruk?" tanya Clarissa.Leo menggeleng pelan. "Tidak. Aku cuma tidak suka hujan."Clarissa tersenyum kecil. "Mafia takut hujan?""Hujan membuat semua jejak jadi samar," jawab Leo datar. "Dan aku tidak suka hal yang tidak bisa kulihat."Clarissa mena

  • Dalam Kuasa Tuan Mafia   132 tidak berjalan mulus

    Pagi berikutnya datang dengan udara yang lebih sibuk dari biasanya.Clarissa berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya dengan sedikit gugup. Seragam kampusnya kembali melekat di tubuhnya setelah sekian lama hanya mengenakan pakaian rumah.Ia menarik napas panjang."Hari pertama lagi…" gumamnya.Pintu kamar diketuk pelan."Masuk," ucap Clarissa.Leo muncul di ambang pintu. Ia mengenakan kemeja hitam sederhana, tanpa jas mafia, tanpa aura mengintimidasi seperti biasanya. Tapi tatapannya tetap tajam… hanya saja lembut saat melihat Clarissa."Kamu cantik," katanya datar tapi jujur.Clarissa tersenyum kecil. "Aku cuma mau ke kampus.""Justru itu," jawab Leo. "Dunia luar tidak pantas melihatmu sembarangan."Clarissa memutar bola mata. "Tuan mafia posesif banget."Leo mendekat, berdiri tepat di belakangnya, menatap pantulan mereka di cermin."Kau tahu apa yang paling kutakutkan?"Clarissa menoleh. "Apa?""Kau menemukan dunia yang tidak membutuhkanku lagi."Clarissa terdiam sesaat, lalu me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status