LOGINWaktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Clarissa duduk di atas ranjang besi dengan selimut tipis yang bahkan tidak cukup untuk menghangatkan tubuhnya yang menggigil sejak siang. Tangannya sudah tidak lagi terikat, tapi dia tetap merasa seperti tawanan. Tawanan seorang mafia berdarah dingin.
Leonardo De Luca duduk di seberang ruangan, di kursi kulit yang terlihat seperti tidak pantas berada di gudang kumuh seperti ini. Kemeja hitamnya terbuka tiga kancing atas, memperlihatkan garis dada yang kokoh. Jemarinya yang panjang memutar gelas berisi scotch, sementara pandangannya tidak lepas dari Clarissa. "Kau tahu, biasanya siapa pun yang menyaksikan anak buahku membunuh… tidak pernah sempat melihat malam berikutnya," katanya pelan, seolah sedang berbicara soal cuaca. Namun ucapannya terdengar sangat menakutkan di telinga Clarissa. Clarissa memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya, ia menatap pria itu."Lalu kenapa aku masih hidup?" tanyanya sedikit takut. Leonardo menyipitkan matanya, lalu bangkit. Ia melangkahkan kedua kakinya menghampiri gadis cantik tersebut. Ia berdiri tepat di depan Clarissa, menunduk, lalu duduk perlahan di pinggir ranjang. Jarak mereka kini terlalu dekat. Nafas mereka bercampur dalam ruang yang sempit dan panas. "Karena ada dua kemungkinan," ucapnya sambil menatap mata Clarissa tanpa berkedip. "Satu, aku tertarik padamu. Dua, aku ingin membuatmu bicara… dengan cara yang tidak biasa." Lanjutnya lagi terdengar serak dan berat. "Aku sudah bilang… aku tidak tahu apa-apa. Aku cuma sekretaris! Aku tidak sengaja lewat di tempat kejadian!" seru Clarissa dengan suara bergetar. Leonardo tersenyum tipis, sangat tipis, bahkan gadis itu pun tidak bisa melihatnya. "Justru itu masalahnya. Orang yang tidak sengaja seperti kamu… biasanya menyimpan kejutan, dan aku sangat menyukai sebuah kejutan itu." Ucapnya, membuat Clarissa bingung tidak mengerti. Leo menyentuh rambut Clarissa, mengusapnya dengan perlahan, lalu menyelipkan nya ke belakang telinga gadis itu. Gerakan kecil itu membuat jantung Clarissa berdegup tak menentu. Ia benci pria itu. Tapi, mengapa jantungnya berdebar-debar? Perlahan tapi pasti, pria itu mendekatkan wajahnya dengan gadis cantik itu, hembusan nafasnya yang hangat, begitu jelas Clarissa rasakan di permukaan wajahnya. Tangan pria itu mulai menelusuri leher jenjang milik Clarissa, membuat gadis itu langsung tersadar dan menepis kasar tangan Leo. "Singkirkan tanganmu! Aku bukan mainanmu, Tuan Mafia," seru Clarissa, menahan emosi dan rasa takut yang campur aduk. Leonardo terkekeh. "Benar. Kau bukan mainanku, tetapi... " sebelum ucapan Leo selesai, tiba-tiba saja terdengar suara tembakan dari luar. "Ada apa ini? Kenapa ada suara tembakan di luar?" tanya Clarissa terlihat panik sekaligus takut. Belum selesai menghadapi Leo, Clarissa harus di hadapkan dengan suara suara tembakan di luar sana. Gadis cantik yang selama ini hidupnya selalu aman dan tenang, tiba-tiba saja di hadapkan dengan kengerian ini. Sungguh, Clarissa benar-benar merasa hidupnya telah berubah seribu derajat celsius. Dor... Dorr... Dor.... Suara tembakan itu kembali terdengar sangat jelas di luar gudang. Leonardo langsung berdiri, dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan gadis tawanannya tersebut. Wajah Leo mulai berubah menjadi dingin dan menakutkan. Aura membunuh langsung menyelimuti seluruh ruangan itu, membuat Clarissa tidak berani untuk mengeluarkan suara nya lagi. Leo menoleh pada anak buahnya yang muncul dari pintu samping. "Orang-orang Bos Lin datang. Mereka mengejar si saksi juga. Mereka tahu dia ada di sini," lapor pria itu cepat. Clarissa langsung menatap Leonardo dengan panik. "Siapa Bos Lin? Apa maksudnya mereka juga mengejarku?" tanya Clarissa memberanikan diri untuk bertanya lagi. Raut wajahnya terlihat khawatir, sekaligus takut. Clarissa benar-benar sangat sial, ia belum selesai berurusan dengan Leo, malah muncul lagi orang yang mengejarnya. Leo menarik pistol dari balik jaket kulitnya, lalu menoleh sebentar ke arah Clarissa. "Itu artinya... hidupmu sekarang lebih bergantung padaku daripada yang kau kira." Ucapnya sekilas memperlihatkan seringai kecil dari sudut bibirnya. Tanpa berpikir panjang, Leo menarik tangan Clarissa. "Ikut aku. Sekarang." Pintanya. Clarissa tidak menolak, karena ucapan Leo memang ada benarnya juga. Mungkin saat ini, dia harus bergantung pada pria menyeramkan ini, daripada dia harus di tangkap oleh orang yang bernama bos Lin itu. Mereka mulai menyelinap keluar melalui jalur belakang gudang. Hujan masih turun dengan deras. Leo memayungi tubuh Clarissa dengan tubuhnya sendiri, menembus gang sempit yang basah dan licin. Anak buahnya berjaga di setiap sisi. Clarissa berlari sambil terengah, napasnya berat, kakinya terasa sangat lelah, namun ia tidak boleh berhenti. Ia harus terus berlari demi hidupnya sendiri. Clarissa benar-benar sadar, saat ini dunianya sudah berubah. Dunianya tidak lagi aman seperti dulu. "Tuhan... Aku ingin hidupku seperti dulu lagi. Tolong, matikan aku, lalu buat aku hidup kembali, sebelum aku pulang melewati jalanan itu. Aku mohon, Tuhan.... " teriak Clarissa dalam hati. Sebuah permintaan, yang hanya bisa terkabul jika Clarissa sedang berada di dalam drama pendek China. Astaga... Gadis ini masih sempatnya ia meminta permintaan konyol itu di saat dia sedang dalam bahaya seperti ini? Benar-benar gadis langka. Dor... Dor... Dor.... Suara tembakan itu terdengar semakin mendekat, membuat Clarissa semakin di landa oleh rasa takut yang luar biasa.Malam turun perlahan. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, menciptakan bayangan lembut di dinding.Clarissa duduk di lantai kamar, bersandar di sisi ranjang, selimut melingkari bahunya. Rambutnya masih setengah basah. Ia belum benar-benar tenang sejak sore tadi.Leo berdiri di ambang pintu, mengamati tanpa suara.Ada sesuatu yang aneh pada Clarissa malam ini.Lebih banyak diam, dan juga terlihat rapuh."Sayang, kamu kenapa?" tanya Leo pada akhirnya. Clarissa mengangkat wajahnya. Menatap Leo, dengan helaan nafas yang terdengar kasar. "Aku lagi memikirkan sesuatu.""Memikirkan sesuatu? Ulang Leo. " itu berbahaya," lanjut Leo setengah bercanda, lalu melangkah masuk.Clarissa tersenyum tipis. "Kamu takut aku memikirkan hal lain selain kamu?"Leo berlutut di depan Clarissa. Tatapan keduanya langsung bertemu. "Aku takut kamu memikirkan dunia ini bisa lebih baik tanpaku," jawabnya jujur.Clarissa terdiam beberapa saat, kemudian ia berkata pelan. "Aku takut… aku mulai butuh kamu."Leo m
Clarissa baru benar-benar merasa sendirian setelah pintu itu tertutup cukup lama.Rumah ini besar. Terlalu besar untuk cuma satu orang.Dan anehnya… baru sekarang ia sadar, selama ini Leo selalu jadi pengisi ruang kosong itu. Suara langkahnya, tatapan matanya, bahkan caranya berdiri diam pun terasa seperti kehadiran yang nyata.Clarissa berjalan ke arah jendela. Tirai sedikit terbuka. Langit siang kelabu.Ia memeluk lengannya sendiri. "Kamu keterlaluan," gumamnya lirih, entah pada Leo… atau justru pada dirinya sendiri.Clarissa kembali melangkahkan kedua kakinya menuju kursi sofa. Ia duduk di sofa itu, menatap ponselnya. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Leo benar-benar pergi tanpa meninggalkan jejak selain kalimat terakhirnya.'Kamu selalu menuruti permintaanku.'Clarissa mendesah kesal.Namun detik berikutnya, dadanya justru terasa… kosong.Ia menutup matanya, dan bersandar pada kepala kursi sofa itu.Dan tanpa sadar, pikirannya dipenuhi oleh Leo.Caranya menatap.Caranya memega
Leo menggeram pelan, menarik Clarissa ke tubuhnya. Pelukan itu erat. Terlalu erat untuk sekadar nyaman."Aku bisa hancur kalau kehilanganmu," bisiknya di telinga Clarissa. "Maka dari itu aku tidak akan mengambil risiko." Clarissa berbisik balik, suaranya terdengar sedikit gemetar. "Kamu membuatku takut… tapi aku juga tenang."Leo tersenyum tipis. "Cinta memang harusnya begitu."Ia menggendong Clarissa, membawanya menuju kursi sofa. Bukan tergesa. Tapi penuh kendali. Ia duduk, Clarissa di pangkuannya, dipeluk dari belakang."Dunia di luar sana tidak tahu caranya memelukmu," katanya pelan. "Aku tahu."Clarissa menyandarkan kepalanya pada bahu Leo. Jantungnya berdetak keras.Dan di dalam dadanya, ia sadar, Ia mulai berhenti bertanya, apakah ini benar atau salah.Yang ia tahu…ia tidak ingin dilepaskan.***"Sepertinya ada yang menginginkan gadis itu, selain kita. Hanya saja keinginan orang itu berbeda dengan keinginan kita," Amelia menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya, matanya
"Bagaimana? Apa kau berhasil?" tanya Bastian sambil menatap Arsen yang saat ini sedang berdiri di dekat jendela apartemennya. "Apa kau melihat keberadaan Assaku disini?" Arsen berbalik nanya, tanpa menoleh. Bastian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia melangkah mendekati Arsen. "Tidak, dan itu artinya kau gagal?" katanya membuat Arsen kesal mendengarnya. "Bukan gagal, belum waktunya saja," ralat Arsen seraya berbalik dan melangkah melewati Bastian. "Tapi, aku akan berusaha untuk membawanya pergi. Aku yakin, aku pasti bisa membawanya pergi dari rumah itu." Lanjut Arsen lagi seraya menjatuhkan tubuhnya di atas kursi sofa. Bastian menghela nafasnya kasar, dia pun ikut melangkah, membawa kakinya menuju kursi sofa. Duduk, lalu berkata dengan pelan. "Seandainya kau membawanya ketika Assa masih berada di rumah sakit, mungkin saat ini Assa sudah benar-benar mengingatmu dan berada di sini, bersamamu." "Kau pikir itu mudah?" Arsen menatap Bastian kesal. "Leo... Dia memberik
Clarissa baru sadar ada yang berubah…bukan dari Leo tapi dari dirinya sendiri.Ia berdiri di depan jendela kamar, menatap halaman rumah yang sepi. Ponselnya di tangan, layar menyala. Sebuah nomor tidak di kenal muncul menghubunginya. Clarissa mengernyitkan kening, menatap lama nomor asing itu. Di dorong oleh rasa penasaran, akhirnya Clarissa pun memutuskan untuk menjawab panggilan dari nomor asing tersebut. Namun belum sempat ia mengangkatnya, layar ponsel meredup. Sinyal di ponselnya menghilang.Clarissa kembali mengerutkan keningnya."Wi-Fi mati?" gumamnya."Tidak."Suara itu datang dari belakang. Tenang. Rendah. Terlalu dekat.Clarissa menoleh. Leo berdiri di ambang pintu, tangan berada di dalam saku celana, wajahnya terlihat datar. Tatapan matanya jatuh pada ponsel yang berada di tangan Clarissa, lalu naik ke wajah cantik gadis itu. "Aku yang matikan akses nomor itu," katanya santai.Clarissa terdiam beberapa saat, kemudian ia bertanya penasaran. "Kamu kenal nomor asing yang
"Bagaimana, pah? Apakah sudah ada kabar tentang Raya? Perasaan mama kok gak enak, ya?" Merry melangkah mendekati suaminya. Wajahnya terlihat khawatir, karena anak angkatnya tidak ada kabar sampai detik ini juga. Bagaimana pun juga, Mery tidak tahu jika Raya adalah penyebab putrinya kecelakaan dan kehilangan ingatannya. Merry hanya tahu, jika Raya adalah gadis kecil yang menyelamatkan putrinya dulu, saat kebakaran. Ronald terlihat menghela nafasnya kasar, dia meraih secangkir kopi yang terlihat masih mengepulkan asapnya. "Belum, mah. Kita berdoa saja, semoga Raya baik-baik saja di sana," jawab Ronald, lalu menyesap kopi hitamnya perlahan. "Tapi, pah. Mama khawatir banget sama keadaan Raya. Mama takut Raya kenapa-kenapa," lirih Merry sembari memainkan jari jemarinya, berusaha untuk menghilangkan pikiran negatifnya tentang sang anak angkat. "Papa juga khawatir, mah. Tapi mau bagaimana lagi, anak buah papa belum bisa menemukan keberadaannya," kata Ronald seraya menatap istrinya. "Ja







