MasukMobil yang ditumpangi Aurora meluncur cepat, menembus kegelapan malam yang semakin pekat.
Mesin mobil mengeluarkan asap, seiring dengan kecepatan yang semakin bertambah.Sementara itu, ketegangan di dalam kabin terasa mencekam, udara terasa berat, setiap detik seperti penuh ancaman.Aurora meremas tangan Alan Sky, putranya, yang kini duduk dalam pelukannya. Matanya menatap lurus ke depan, merasakan setiap getaran dari kendaraan yang melaju kencang, berusaha menghindari kejaran dua mobil yang terus membuntuti mereka dari belakang."Pegangan." Suara pengemudi mobil terdengar tenang namun tegas, seakan menegaskan bahaya yang akan mereka hadapi. "Saya akan mengebut.""Oke." Aurora hanya mengangguk cepat, meski dadanya sesak karena kecemasan yang mendera.Dengan reflek, ia mendekap anaknya lebih erat, memeluknya seolah dunia sedang mengancam.Mobil itu melesat, melaju deras memasuki jalan tol, seakan menghindari pintu mau"Apa? Adam mau membunuhku? Dia sudah gila?! Aku ini adiknya sendiri—""Tuan Muda menganggap perbuatan Anda sudah sangat berbahaya," potong salah satu anak buah itu dengan suara datar, menghentikan histeria Elina. "Beliau tidak punya pilihan lain. Jangan anggap remeh peringatan ini, Nona. Kalau sampai Anda melakukan hal fatal seperti kemarin lagi, maka... jangan salahkan kakak Anda kalau beliau bertindak jauh lebih tegas dari sekadar mengikat Anda di sini."Elina terpaku, napasnya tertahan mendengar ancaman yang begitu nyata dari orang-orang kepercayaan kakaknya. Ia bisa merasakan bahwa kali ini, Adam benar-benar tidak main-main dengan ucapannya.Tanpa memedulikan tatapan penuh dendam dari Elina, ketiga orang itu berbalik dan melangkah keluar. Suara pintu yang dikunci dari luar terdengar begitu mengerikan, meninggalkan Elina sendirian dalam kesunyian kamarnya yang kini terasa seperti sel penjara.Sementara itu, di tengah kemeriahan pesta, sosok Evelyn tiba-tiba muncul di hadapan penga
Di sudut aula yang remang, jauh dari jangkauan lampu kristal yang berkilauan, seorang wanita berdiri mematung dengan tatapan yang menghunus benci. Dia adalah Elina. Dia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, kuku-kukunya seolah ingin menembus telapak tangan sendiri.Setiap tawa yang keluar dari bibir Aurora adalah racun bagi pendengarannya, dan setiap tatapan pemujaan yang diberikan Adam pada wanita "miskin" itu adalah penghinaan bagi harga dirinya. Kemegahan pesta ini, yang seharusnya menjadi haknya atau wanita yang setara dengan kelas mereka, kini justru menjadi panggung kemenangan bagi Aurora."Tersenyumlah selagi kalian bisa," desisnya rendah, suaranya tenggelam di balik hiruk-pikuk musik orkestra yang elegan.Wajahnya tampak kaku menahan amarah yang meledak-ledak di dalam dada. Ia melihat bagaimana Adam mengecup kening Aurora dengan lembut, sebuah pemandangan yang membuatnya semakin mual. Dengan satu sentakan napas yang penuh dendam, ia berbalik, tak sudi lagi
Hari istimewa yang dinanti akhirnya tiba. Aula megah di mansion Walker telah disulap menjadi ruang sakral yang memukau, di mana setiap sudutnya memancarkan kemewahan yang elegan. Dekorasi serba putih mendominasi ruangan. Ribuan bunga lili dan mawar putih segar menebarkan aroma harum yang menenangkan, berpadu sempurna dengan juntaian kristal yang memantulkan cahaya lampu gantung dengan indah.Di tengah aula, sebuah meja akad kayu jati berukir halus telah siap, menjadi titik sentral bagi janji suci yang akan diucapkan. Karpet beludru putih membentang panjang menuju pelaminan yang dihias bak singgasana di taman surgawi. Atmosfer di dalam mansion itu terasa begitu magis dan khidmat, menandakan bahwa pernikahan ini bukan sekadar pesta besar, melainkan pernyataan kemenangan atas segala badai yang sempat menghantam hubungan Adam dan Aurora.Semua mata tamu undangan terpaku pada kemegahan tersebut, menanti momen saat Adam akan secara
“Dam ….”“Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik dan jangan bertindak curang lagi. Aku yakin, tanpa aku dan Alan Sky, kamu akan bahagia.”Perlahan, raga tinggi tegap Adam menjauh, meninggalkan jejak otoritas yang mencekam di ruangan yang mendadak terasa hampa itu. Evelyn hanya bisa mematung, menyaksikan bagaimana pria yang pernah menjadi bagian dari hidupnya itu melangkah pergi tanpa ragu sedikit pun.Punggung lebar Adam tampak begitu kokoh, seolah telah membuang seluruh beban masa lalu yang pernah mereka bagi. Setiap langkah Adam adalah paku yang mengunci pintu hatinya rapat-rapat bagi Evelyn. Tidak ada tolehan, tidak ada keraguan, dan tidak ada lagi ruang untuk negosiasi.Evelyn menatap bayangan Adam yang kian mengabur di ambang pintu, menyadari bahwa pria itu benar-benar telah memutus sisa-sisa benang yang menghubungkan mereka. Adam pergi membawa sisa harga diri Evelyn yang hancur, membiarkan wanita itu tenggelam dalam keheningan dan penyesalan yang menyesakkan, ditemani oleh kenyata
Saat Adam melepaskan pelukannya dengan sentakan kasar, Evelyn jatuh dalam isak tangis yang tertahan. Bahunya terguncang hebat, hatinya terasa seperti diiris sembilu. Penolakan Adam yang begitu dingin merajam jiwanya, meninggalkan luka yang menusuk hingga ke dasar kalbu. "Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, ‘kan, Dam?" ratapnya di sela tangis yang kian memilu. "Kenapa kamu begitu menutup diri? Kenapa kamu gak bisa memberiku satu saja kesempatan kedua?" Adam menatapnya tanpa secercah simpati pun, matanya tetap sedingin es. "Karena kamu terlalu kejam, Ev," desis Adam, suaranya terdengar sangat tajam dan melukai. "Kamu hanya memuja egomu sendiri, tanpa pernah peduli bagaimana rasanya menjadi aku saat kamu buang. Kamu tidak mengerti, Ev. Sampai kapan pun, kamu tidak akan pernah bisa mengerti rasanya hancur karena orang yang paling kamu percayai." "Dam ... aku hanya meminta sedikit waktu. Setidaknya, beri kita kesempatan satu atau dua bulan saja. Aku benar-benar menyesa
"Sayang sekali... Padahal malam ini ada 'kiriman' baru dari seseorang yang sangat ingin menjatuhkanmu. Dia menyusup di antara gadis-gadisku. Kupikir kau mungkin ingin bermain-main sedikit dengan mangsamu sebelum kau menghabisinya benar-benar," bisik Mommy dengan nada menggoda yang berbahaya.Adam terdiam seketika. Gelas whisky yang kosong di tangannya membeku di udara, tepat di depan bibirnya. Suasana klub yang tadinya terasa santai mendadak berubah mencekam di sekitar meja Adam. Sorot matanya yang semula tenang dan malas, dalam sekejap berubah menjadi setajam silet yang siap menguliti siapa pun."Siapa yang Mom maksud?" tanya Adam pendek. Suaranya rendah, namun mengandung getaran otoritas yang mematikan.Mommy menyeringai tipis, ia mendekatkan wajahnya ke bahu Adam agar suaranya tidak bocor ke telinga orang lain. "Evelyn. Dia ada di sini, bersikeras ingin Anda yang memilihnya malam ini.""Dia lagi!" desis Adam. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol.Nama Evelyn s







