Home / Urban / Godaan Ibu Kos Cantik / 101. Pertemuan tak terduga

Share

101. Pertemuan tak terduga

Author: Harucchi
last update Huling Na-update: 2025-11-01 19:12:22

“Dim ….” Karina meringis kecil. Tangannya menjangkau area perut. Sebuah pemandangan yang membuat dada Dimas terasa ngilu bagai terhunus duri. Dia tahu, ada sesuatu yang mengancam nyawa calon bayinya.

“Aku takut ….” Karina tampak menahan napas, sebelah tangannya mencengkeram kaos di pundak Dimas.

Dimas menggeleng. Berusaha mengenyahkan beragam skenario buruk yang bermunculan di kepala. Kepanikan menyergap. Jantungnya berdetak cepat. “Sakit banget?” ucapnya terbata.

Karina mengerjap sesaat. “Nggak … nggak terlalu intens. Tapi aku takut ….” Karina memindahkan pandangannya ke arah Dimas. “Takut kalau ini tanda bahaya.”

Detik itu, waktu seolah berhenti. Hanya denging panjang dan suara detak jantung Dimas sendiri yang mengisi pendengaran. “Kita ke rumah sakit sekarang.” Dimas bangkit. Dadanya bergemuruh, batinnya dipenuhi rasa takut.

Takut kehilangan darah dagingnya, yang bahkan belum dia sapa sama sekali.

“Kamu bisa turun tangga?”

Belum sempat Karina menjawab, Dimas lekas memotong. “Ngga
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Godaan Ibu Kos Cantik   263. Masih pengantin baru ya Mas?

    Dimas membeku. Matanya melirik kaku ke sekitar. Benaknya berperang. Apa tidak apa-apa bila Karina tahu soal Reno dan Martha yang selama ini sebenarnya bersekongkol? Martha adalah teman Karina saat SMA. Apa Karina tidak akan terguncang?Tetapi, dia sudah berjanji untuk terbuka.Hembusan napas Dimas menjadi satu awalan sebelum dia menatap Karina lekat, “Kar.” ucapnya rendah. Dia lalu mengambil jeda sejenak, membasahi bibirnya, mencoba meredakan cemas yang membuat tenggorokannya tercekat. “Akhir-akhir ini, aku minta kamu jangan menghubungi Martha, atau menerima panggilan dari diam bukan tanpa alasan.” Dimas menarik napas panjang.“Martha terus-terusan mengulur status perceraian kamu, bukan karena Reno melakukan seuatu supaya berkas cerai kamu nggak diproses pengadilan. Tapi, kita sejak awal mempercayakan proses cerai ke orang yang salah.” Karina menatap Dimas tajam, “Maksud kamu … Martha memihak Reno?”Dimas mengangguk. “Lebih tepatnya, hubungan saling menguntungkan. Aku sempat lihat se

  • Godaan Ibu Kos Cantik   262. Malam panas di kontrakan

    “Ahh Dim … terus!” Karina mencengkeram rambut Dimas yang berkeringat. Tangannya gemetar, seakan sensasi yang menghujam tubuhnya mengalirkan sengatan nikmat yang tak sanggup ditahan.Waktu terus berlalu. Ruangan pengap itu membuat peluh di tubuh mereka semakin meleleh. Suara deru napas yang tersengal mengisi suasana. Keduanya lantas berakhir dalam posisi tidur menyamping dengan Karina memunggungi Dimas—masih dengan tubuh yang menyatu. Di antara hembusan napasnya yang memburu, Dimas menarik punggung Karina mendekat, berbisik rendah. “Sayang … Aku hampir ….”Karina mengangguk, langsung menyela. “Aku juga.” ucapnya dengan suara yang sama serak. Tangan wanita itu meraih pergelangan tangan Dimas, mencengkeram semakin erat seiring gerakan Dimas kembali menghujam, mendorong dengan sentakan yang membuat Karina meninggalkan bekas cakaran di lengan Dimas yang ototnya menegang. Tangannya menangkup gundukan kembar Karina, memberikan rangsangan ganda yang membuat wanita itu lekas sampai puncak.“A

  • Godaan Ibu Kos Cantik   261. Godaan di kontrakan

    Dimas tak mampu berkata-kata ketika jemari lentik Karina melayang perlahan di atas kancing kemejanya, melepas satu demi satu. Waktu seakan berjalan melambat. Setiap kali sentuhan itu bergerak turun, sengatan dalam tubuhnya terasa semakin membakar. Ketika Karina menyentuh kancing terakhir paling bawah, Dimas mengangkat sisi wajah wanita itu. Membuatnya mendongak menatapnya.“Kamu nggak capek Kar?” Dimas bertanya dengan suara rendah. Namun ruangan yang minim perabotan itu membuat suaranya memantul tegas ke seluruh penjuru ruangan. “Sebentar aja Dim.” Karina merapatkan sisi wajahnya di dada Dimas yang kemejanya telah tersingkap, menyisakan selapis kaos dalam tipis yang entah setipis apa, sampai kecupan bibir Karina sanggup menyentak tubuhnya. Tak berhenti sampai di sana, jemari wanita itu kini perlahan menyelusup masuk ke baliknya, mengusap area kulitnya yang kini terasa jauh lebih sensitif.Dimas menahan erangan. Gegas ditariknya tangan Karina dari sana, khawatir wanita itu makin membu

  • Godaan Ibu Kos Cantik   260. Kamu 'mau'?

    Dimas hampir menahan napas ketika Karina menurunkan wajahnya ke bawah, ke bagian pribadinya yang sudah mendesak tegak. Jakunnya naik turun merasakan kecanggungan.Waktu seolah berhenti. Menciptakan hening yang hanya diisi suara tetesan air dari kran. Bunyinya pelan, namun entah mengapa seperti dentuman raksasa di telinga Dimas. Kehangatan kulit Karina yang kontras dengan dinginnya keramik lantai kamar mandi, kini mengacak-acak kesadarannya. Karina terpaku, matanya yang masih basah dengan sisa tangis menatap dada Dimas yang naik turun dengan ritme cepat. Lalu beralih pada wajah Dimas yang kini memerah hebat hingga ke telinga.“Dim ….” Karina berbisik pelan. Suaranya serak, nyaris tak terdengar.Dimas menarik tangannya, melepas sentuhan dari area berbahaya itu. “Maaf.” ucapnya, dengan suara yang diselingi napas cepat, sebuah wujud nyata dari hadirnya desakan kebutuhan.“Kecoaknya udah nggak ada. Aku keluar.” Dimas berbalik cepat. Namun tangan Karina menariknya. “Tunggu.”Dimas kembali

  • Godaan Ibu Kos Cantik   259. Hal fatal di kamar mandi

    “Kar. Sementara, kita pulang ke kontrakanmu dulu.” Dimas menatap kosong pada layar ponselnya. Sementara itu, Karina membeku. Alisnya lantas bertaut, seolah bisa menebak apa yang sedang terjadi.“Ada masalah lagi … di apartemen?”Dimas mengangguk, lalu menjawab sambil mengusap wajahnya. “Iya. Aku lupa untuk diskusi dengan manajemen soal saran keamanan dari mereka.” Napasnya lalu dihembuskan berat. Diliriknya jam tangan. Sudah lewat dari tengah malam. “Sekarang sudah selarut ini.”“Mau diantar sekalian ndak Mas?” Suara itu memecah fokus Dimas. Membuatnya tersadar bahwa Agus masih berada di antara mereka. Pria itu sedang merapikan tensimeter dan melepas sarung tangan karet dari tangannya.“Tak antar sekalian naik ambulans. Sampeyan kaca mobilnya pecah, toh?” Agus bertanya tanpa mengalihkan fokus dari kotak peralatan medis yang dipeluknya.Dimas melirik Karina, bertanya tanpa suara. Wanita itu mengangkat bahunya sejenak, sepenuhnya melepas keputusan pada Dimas.“Nggak perlu. Gue pesen ta

  • Godaan Ibu Kos Cantik   258. Pulang ke kontrakanmu dulu

    Dimas melirik Agus tajam. “Dalam pengawasan gue.”“Siap Mas.” Agus mengangguk cepat. “Ngomong-ngomong, anu … karena ndak ada kursi, kita ke kabin belakang ambulans gimana Mas?” Agus mengarahkan satu jempolnya ke arah ambulans. Dimas beralih ke arah Karina, wanita itu mengangguk setuju. Maka, keduanya mengikuti Agus menuju pintu belakang ambulans. Di dalam, Karina duduk dengan Dimas mendampingi di sebelahnya.“Mbak Karina, permisi ya. Saya tensi dulu.” ucap Agus dengan nada bicara profesional. Dia memasang alat pengukur tensi di lengan Karina. Gerakannya penuh hati-hati, sadar bahwa Dimas mengawasinya.“Tensinya agak tinggi ya, Mbak. Wajar karena syok.”Dimas mengepalkan tangan. Ucapan Agus mengalirkan sesuatu yang membuat napasnya tercekat. Ketika Agus merapikan perangkat pengecek tensi itu, tatapan Karina pindah pada Dimas, seperti mencari rasa aman. Dimas meraih tangan wanita itu, menggenggamnya. Sesuatu yang dulu tak akan pernah dia lakukan di depan Agus maupun Jimmy.Namun sekar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status