Share

Godaan Siang Hari

Author: NomNom69
last update Last Updated: 2025-11-24 12:06:04

Siang hari, suasana kosan terasa lebih tenang dibanding pagi tadi. Raga sedang mengecek area dapur lantai dua—mulai dari selang gas sampai regulator. Ia jongkok di bawah kompor, mengetuk tabung perlahan sambil memastikan isinya masih cukup.

Langkah sendal terdengar dari arah koridor. Tak lama kemudian, Wulan muncul dari kamar. Rambutnya diikat asal, wajah tanpa make up, tapi tetap ada kesan sengaja dibuat manis. Ia berjalan santai menuju dapur.

Wulan menyapa, suaranya ringan namun terdengar penuh maksud.

“Lagi ngapain, Mas?”

Raga menoleh sebentar.

“Eh, Wulan. Ini cuma ngecek gas, masih ada atau enggak.”

Wulan tidak langsung merespon. Ia duduk di sofa kecil dekat meja makan, lalu menyilangkan kaki dengan santai. Tangannya dilipat di dada, dan tatapannya langsung tertuju ke Raga.

“Hmm… ngecek gas doang? Mas gak mau sekalian ngecek aku masih haid atau enggak?” kalimat itu keluar dengan nada menggoda yang jelas-jelas disengaja.

Raga berhenti sebentar. Lalu ia berdiri pel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Mimpi Masalalu x Keterlibatan Paula

    Gang sempit di belakang restoran itu becek dan berbau sisa makanan. Dinding kusam mengelupas, genangan air hitam memantulkan cahaya lampu jalan yang redup. Di sana, seorang bocah kecil meringkuk, lututnya tertekuk, punggungnya menempel pada tembok dingin. Langkah sepatu berhenti tak jauh darinya. Seorang wanita muda berdiri di ujung gang, gaun elegannya terlihat sangat kontras dengan gang kumuh itu. Di belakangnya, seorang ajudan berdiri tegak, tubuhnya sedikit membungkuk penuh hormat. Wanita itu mencondongkan tubuh, tatapannya tertuju pada bocah di hadapannya. “Siapa namamu?” Julian mengangkat kepala perlahan. Matanya menyipit, wajahnya kotor, rambutnya kusut tak terurus. Ia menelan ludah, ragu untuk menjawab. “Sa-saya Julian…” Suaranya terdengar pelan dan ragu sekali. Wanita itu mengulurkan tangannya. Jari-jarinya bersih, kuku-kukunya terawat. Julian menatap tangan itu lama, terdiam, seolah takut mengotori tangan putih bersih itu. Julian mengulurkan tangannya denga

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Kebenaran di balik Foto

    Malam di kediaman Nyonya Besar. Lampu gantung di ruang makan memancarkan cahaya hangat, memantul di permukaan meja panjang yang tertata rapi. Aroma hidangan mewah masih mengepul tipis, bercampur dengan wangi anggur. Nyonya Besar duduk di ujung meja, punggungnya tegak, satu tangan memegang sendok perak. Gerakannya tenang, dan santai menikmati hidangan makan malam itu. Langkah sepatu terdengar mendekat. Lucy muncul di ambang ruang makan, jaketnya masih dikenakan, rambutnya sedikit berantakan seolah baru turun dari perjalanan panjang. Begitu melihat Lucy, Nyonya Besar menghentikan gerakan tangannya, lalu menoleh perlahan. “Sudah pulang kamu?” Nada suaranya lembut, hampir keibuan. “Sini duduk. Temani saya makan malam.” Lucy berjalan mendekat tanpa ragu. Ia menarik kursi di hadapan Nyonya Besar, lalu duduk. Tangannya langsung meraih piring yang terletak terbalik, membukanya, dan mulai menyendok nasi. Beberapa lauk mahal ikut ia ambil tanpa sungkan. “Saya lapar kali, Nyonya…

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Paula x Carmella si Nyonya Besar

    Sore itu saung terasa lebih hidup dari biasanya. Raga duduk santai di bangku kayu, satu kaki dinaikkan, rokok menyala di antara jarinya. Ningsih dan Cahya duduk berseberangan, sesekali tertawa kecil menanggapi obrolan ringan yang mengalir tanpa arah. Tiba-tiba dari sana muncul Elistia dan Marni. Marni melambaikan tangan lebih dulu, langkahnya ringan dan santai berjalan menuju saung. “Halo Mas Raga.. halo semua..” Raga, Cahya, dan Ningsih serempak menoleh. Raga menggeser duduknya, menepuk-nepuk abu rokok ke asbak kecil di lantai. “Eh Mbak.. Udah siap barangnya?” Sementara itu Elistia tidak langsung mendekat. Ia membelok ke samping saung, membuka pintu kamarnya, masuk sebentar hanya untuk meletakkan tas kerja dan melepas jaket. “Udah, Mas.. tapi masih di mobil elis..” jawab Marni sambil menunjuk ke arah gerbang. Raga langsung bangkit. Ia mematikan rokoknya, menekan puntungnya hingga padam, lalu berdiri tegak. “Yaudah aku bantuu.. bentar aku ambil kunci kamarnya

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Sebuah File, Paula

    Keesokan paginya, rumah megah milik Nyonya Besar. Meja makan panjang dari kayu gelap tertata rapi. Piring porselen, gelas kristal, dan serbet kain terlipat simetris. Nyonya Besar duduk tegak di ujung meja. Ia mengenakan pakaian rumah yang sederhana tapi jelas mahal. Rambutnya disanggul rapi. Sebuah koran pagi terbuka di samping piringnya. Ia menggigit roti lapis dengan gerakan tenang, mengunyah perlahan, menikmati sarapannya seperti biasa. Seorang ajudan melangkah mendekat dengan sikap hormat. Ia sedikit membungkuk, menyerahkan sebuah ponsel. “Ada telepon dari Vanya, Nyonya.” Nyonya Besar tidak langsung meraih ponsel itu. Ia tetap mengunyah, menyesap teh hangat, lalu tersenyum tipis, dan menoleh sedikit ke arah telepon itu. “Lucy.. sudah ku blg untuk tidak berkomunikasi dgn vanya..” gumamnya pelan. Baru setelah itu tangannya terulur. Jemarinya ramping, kuku terawat sempurna. Ia mengambil ponsel tersebut, menempelkannya ke telinga. “halo van, ada apa?” Dar

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Satria, Kepanikan Vanya

    Malam itu kamar Raga terasa tenang. Lampu menyala temaram, tirai jendela tertutup rapat. Raga baru saja keluar dari kamar mandi, handuk masih melingkar di pinggangnya. tetesan air masih menempel di kulit dan rambutnya yang sedikit basah. Ia melangkah masuk ke kamar, langsung menuju cermin besar di lemari. Tangannya meraih sisir, mulai merapikan rambut sambil berdiri tegak menghadap bayangannya sendiri. Di belakangnya, di atas ranjang, Wulan duduk bersandar. Daster pendeknya tampak kusut ringan karena ia sudah cukup lama di sana. Ponsel ada di tangannya, tapi sejak Raga masuk, pandangannya lebih sering terangkat dari layar. Raga menoleh lewat pantulan cermin ke arah Wulan. “Kamu laper gak, Lan?” tanya Raga. Wulan mengangkat wajahnya, mata mereka bertemu lewat cermin. “Hmmm.. dikit sih, tapi nanti aja deh..” Raga kembali menatap bayangannya sendiri. Sisir masih bergerak pelan di rambutnya yang lembap. “Tumben banget kamu nunda makan, Lan..” Wulan terkekeh kecil. Ia m

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Lucy, Vanya, Masa lalu Raga.

    “Nyonyaaa!” Suara itu memecah keheningan ruang tamu rumah megah yang dipenuhi aroma tembakau dan kayu tua. Seorang gadis berambut sebahu melangkah cepat masuk, sepatu ketsnya berhenti tepat di atas karpet Persia. Celana jeans pendek dan sweater krem yang ia kenakan tampak kontras dengan suasana ruangan yang tenang dan berkelas. Di sofa besar berlapis beludru, Nyonya Besar duduk santai. Daster anggun berwarna gelap membalut tubuhnya. Satu tangan memegang koran yang sudah terlipat setengah, tangan lainnya menjepit rokok yang asapnya naik perlahan ke langit-langit. Begitu mendengar panggilan itu, ia menurunkan koran, menoleh, lalu meletakkan rokoknya di asbak kristal. Wajahnya langsung berubah hangat. “Lucy!” katanya sambil membuka kedua tangan. “Sini, sayang… sini.” Lucy mendekat, tubuhnya sedikit membungkuk penuh hormat. Ia mencium pipi kiri dan kanan Nyonya dengan gerakan cepat namun akrab, lalu duduk di sisi sofa, cukup dekat hingga lutut mereka hampir bersentuhan. Nyon

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status