LOGINSore itu saung terasa lebih hidup dari biasanya. Raga duduk santai di bangku kayu, satu kaki dinaikkan, rokok menyala di antara jarinya. Ningsih dan Cahya duduk berseberangan, sesekali tertawa kecil menanggapi obrolan ringan yang mengalir tanpa arah. Tiba-tiba dari sana muncul Elistia dan Marni. Marni melambaikan tangan lebih dulu, langkahnya ringan dan santai berjalan menuju saung. “Halo Mas Raga.. halo semua..” Raga, Cahya, dan Ningsih serempak menoleh. Raga menggeser duduknya, menepuk-nepuk abu rokok ke asbak kecil di lantai. “Eh Mbak.. Udah siap barangnya?” Sementara itu Elistia tidak langsung mendekat. Ia membelok ke samping saung, membuka pintu kamarnya, masuk sebentar hanya untuk meletakkan tas kerja dan melepas jaket. “Udah, Mas.. tapi masih di mobil elis..” jawab Marni sambil menunjuk ke arah gerbang. Raga langsung bangkit. Ia mematikan rokoknya, menekan puntungnya hingga padam, lalu berdiri tegak. “Yaudah aku bantuu.. bentar aku ambil kunci kamarnya
Keesokan paginya, rumah megah milik Nyonya Besar. Meja makan panjang dari kayu gelap tertata rapi. Piring porselen, gelas kristal, dan serbet kain terlipat simetris. Nyonya Besar duduk tegak di ujung meja. Ia mengenakan pakaian rumah yang sederhana tapi jelas mahal. Rambutnya disanggul rapi. Sebuah koran pagi terbuka di samping piringnya. Ia menggigit roti lapis dengan gerakan tenang, mengunyah perlahan, menikmati sarapannya seperti biasa. Seorang ajudan melangkah mendekat dengan sikap hormat. Ia sedikit membungkuk, menyerahkan sebuah ponsel. “Ada telepon dari Vanya, Nyonya.” Nyonya Besar tidak langsung meraih ponsel itu. Ia tetap mengunyah, menyesap teh hangat, lalu tersenyum tipis, dan menoleh sedikit ke arah telepon itu. “Lucy.. sudah ku blg untuk tidak berkomunikasi dgn vanya..” gumamnya pelan. Baru setelah itu tangannya terulur. Jemarinya ramping, kuku terawat sempurna. Ia mengambil ponsel tersebut, menempelkannya ke telinga. “halo van, ada apa?” Dar
Malam itu kamar Raga terasa tenang. Lampu menyala temaram, tirai jendela tertutup rapat. Raga baru saja keluar dari kamar mandi, handuk masih melingkar di pinggangnya. tetesan air masih menempel di kulit dan rambutnya yang sedikit basah. Ia melangkah masuk ke kamar, langsung menuju cermin besar di lemari. Tangannya meraih sisir, mulai merapikan rambut sambil berdiri tegak menghadap bayangannya sendiri. Di belakangnya, di atas ranjang, Wulan duduk bersandar. Daster pendeknya tampak kusut ringan karena ia sudah cukup lama di sana. Ponsel ada di tangannya, tapi sejak Raga masuk, pandangannya lebih sering terangkat dari layar. Raga menoleh lewat pantulan cermin ke arah Wulan. “Kamu laper gak, Lan?” tanya Raga. Wulan mengangkat wajahnya, mata mereka bertemu lewat cermin. “Hmmm.. dikit sih, tapi nanti aja deh..” Raga kembali menatap bayangannya sendiri. Sisir masih bergerak pelan di rambutnya yang lembap. “Tumben banget kamu nunda makan, Lan..” Wulan terkekeh kecil. Ia m
“Nyonyaaa!” Suara itu memecah keheningan ruang tamu rumah megah yang dipenuhi aroma tembakau dan kayu tua. Seorang gadis berambut sebahu melangkah cepat masuk, sepatu ketsnya berhenti tepat di atas karpet Persia. Celana jeans pendek dan sweater krem yang ia kenakan tampak kontras dengan suasana ruangan yang tenang dan berkelas. Di sofa besar berlapis beludru, Nyonya Besar duduk santai. Daster anggun berwarna gelap membalut tubuhnya. Satu tangan memegang koran yang sudah terlipat setengah, tangan lainnya menjepit rokok yang asapnya naik perlahan ke langit-langit. Begitu mendengar panggilan itu, ia menurunkan koran, menoleh, lalu meletakkan rokoknya di asbak kristal. Wajahnya langsung berubah hangat. “Lucy!” katanya sambil membuka kedua tangan. “Sini, sayang… sini.” Lucy mendekat, tubuhnya sedikit membungkuk penuh hormat. Ia mencium pipi kiri dan kanan Nyonya dengan gerakan cepat namun akrab, lalu duduk di sisi sofa, cukup dekat hingga lutut mereka hampir bersentuhan. Nyon
Keesokan harinya, Raga dan Wulan duduk berhadapan di sebuah kedai lontong sayur kecil tak jauh dari kosan. Meja kayunya sudah agak kusam, dilapisi taplak plastik bening yang sedikit lengket di beberapa sudut. Asap tipis mengepul dari mangkuk lontong sayur di depan mereka, bercampur aroma santan dan bawang goreng. Raga duduk santai, satu tangannya memegang sendok, tangan satunya menopang mangkuk. Ia meniup pelan sebelum menyuap, matanya sesekali melirik ke jalanan kecil di depan kedai. Wulan duduk di seberangnya, mengaduk kuah perlahan. Beberapa detik berlalu dalam diam. Wulan akhirnya mengangkat wajah. Tatapannya berhenti sebentar di wajah Raga, lalu turun lagi ke mangkuknya. “Mas…” Nada suaranya ringan, seperti obrolan biasa. “Yang kemarin datang itu, temennya Mas ya?” Sendok Raga berhenti bergerak. Ia menoleh ke arah Wulan, alisnya sedikit terangkat. Ekspresi bingung langsung muncul di wajahnya, seolah pertanyaan itu datang tiba-tiba. “Temen?” Raga memiringkan ke
Malam turun pelan di rumah Tante Maya. Lampu ruang makan menyala terang. Raga baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah, handuk melingkar di leher, kaos tipis menempel di dada yang belum benar-benar kering. Ia duduk di kursi meja makan tanpa benar-benar berniat makan apa pun. Pikirannya masih memikirkan soal Vanya siang tadi. Wajah Vanya. Nada bicaranya. Cara dia menyebut nama yang sudah lama Raga kubur. Raga menghembuskan napas panjang, menunduk, kedua siku bertumpu di meja. Kehidupan barunya yang pelan-pelan terasa aman, rutinitasnya, wajah-wajah di kosan—tiba-tiba terasa rapuh. Kehadiran Vanya bukan sekadar penghuni baru, melainkan seseorang yang datang membawa masa lalu raga. Dan yang paling mengganggu, Vanya nekat mau ngekos… tepat di tempat Raga bekerja. Saat pikirannya makin kusut, terdengar bunyi pintu depan terbuka. Raga refleks menoleh. Laura masuk. Ia masih mengenakan jaket tipis. Begitu melihat Raga duduk di meja makan dengan handuk di leher, l







