Mag-log inSang Jian melihat kearah Alexa yang sudah siap menemani dirinya, dia memberikan barang-barangnya pada Alexa.
"Mulai sekarang kamu menjadi asistenku, pegang barang-barangku. Awas jangan sampai hilang." "Hari ini ada pemotretan di studio 5," jelas Junay yang datang sambil membawa kunci mobil. "Okeh kita berangkat." Junay hanya mengangguk saja, sambil melirik ke Alexa sekilas. "Kamu jangan lupa bawa barang-barangnya." "Iya," jawab Alexa. Dia malah diperlakukan sebagai pembantu di sini, awas saja kalau sampai dia menemukan orang yang benar-benar menjebak dirinya. Dia akan memberikan pelajaran pada Sang Jian. Mereka naik ke dalam mobil dengan kecepatan sedang menuju ke arah studio tempat pemotretan di mana Sang Jian akan melakukan itu. Sampai di sana semua kru sudah siap, tetapi mereka tampak kebingungan. "Kenapa?" tanya Sang Jian yang baru saja datang. "Luna tidak bisa hadir karena ibunya mendadak sakit," kata orang tersebut. "Terus gimana? Bukannya kita butuh model iklan cewenya?" tanya Jian. "Rian, kita sudah tidak punya waktu untuk mencarinya," jelas Junay kepada Rian yang memang seorang manajer di sana. Salah seorang kameramen melihat kearah Alexa sekarang. "Bagaimana kalau dia saja?" Alexa melotot sambil menggelengkan kepalanya, jelas dia tidak mau menjadi model iklan. Bagaimana kalau nanti kedua orangtuanya bisa menemukan keberadaan dirinya. Rian menoleh kearah Alexa dari atas ke bawah. "Sepertinya memang cocok." "Eh, aku tidak mau," tolak Alexa yang tidak mau menjadi model seperti ini. "Ayolah, kita tidak punya pilihan lain sekarang, kamu mau kan Jian. Jika Alexa jadi pasangan iklanmu?" tanya Junay. Jian hanya mengangguk, "tidak punya pilihan lain sekarang." "Tuh kan, Alexa. Kami mohon kamu mau yah," bujuk Junay. "Saya akan memberikan kamu honor sedikit besar jika kamu menjadi model iklan kami. Lagian kalian bukannya pasangan, jadi ini bisa menaikan kamu nanti," jelas Rian. Alexa hendak akan menolak, tetapi Sang Jian lebih dulu memotong pembicaraan. "Dia mau melakukan itu, dia akan melakukan perintahku. Iya kan sayang?" Alexa melotot tajam dan menginjak kaki Sang Jian. Bisa-bisanya laki-laki itu malah berkata seperti itu. "Menyebalkan." "Ayo," kata Sang Jian sambil merangkul Alexa dengan sedikit mesra dan membisikkan sesuatu pada telinga wanita itu. "Kamu tidak ingin membuat orang lain curiga bukan dengan hubungan kita. Maka lakukan itu dengan baik," ancam Sang Jian. Alexa mendengus karena dia punya pilihan lain. "Kamu mengancamku." "Sudah ganti costum dan dandani dia," kata Jian pada tukang make up di sana. **** Sang Jian sudah bersiap dengan penampilan andalan ciri khas dirinya. Sambil melihat kearah kamera dan berfoto sendiri. Setelah mengambil beberapa foto, lalu dia menanyakan lagi pada yang lain. "Di mana Alexa? Apa dia sudah siap?" tanya Jian. "Sebentar, aku panggil dulu," kata Junay. Sang Jian menunggu kedatangan dari Alexa, sampai matanya tidak bisa berkedip ketika melihat Alexa yang begitu sangat cantik setelah didandani seperti ini. "Dia terlihat cantik," batin Sang Jian dalam hati. "Hei, malah melamun lagi," kata Junay menyadarkan Sang Jian yang tengah melamun tadi. Jian langsung menggelengkan kepalanya ketika pikiran liarnya yang berpikiran tentang Alexa. Dia harus ingat kalau Alexa adalah orang yang jahat yang ingin menghancurkan karirnya. Sampai sekarang Jian belum menemukan orang yang berusaha untuk menjebak dirinya. Setelah dia menemukan semuanya, dia akan menghancurkan Alexa. "Ayo cepat tidak usah buang waktu," kata Rian. Alexa berjalan menuju kearah Jian yang kini ada dihadapannya. Dia menatap kearah pria tersebut. Untuk pertama kalinya dia bisa dekat dengan Sang Jian. Tetapi Alexa tidak suka dengan sifat asli pria itu. "Okeh, Sang Jian tanganmu ada di pinggang Alexa. Lalu menatap kearah depan," saran seorang kameramen tersebut. Sang Jian melakukan hal yang diperintahkan oleh kameramen tersebut. Dia memang sudah terkenal biasa profesional dalam melakukan ini. Berbeda dengan Alexa yang masih terlihat canggung. Dia sedikit menjauhkan posisi dirinya dari Sang Jian. Tetapi Sang Jian sudah lebih dulu menarik tangan Sang Alexa agar lebih dekat dan terlihat mesra. "Kenapa aku gugup? Ada apa dengan jantungku," batin Alexa yang tidak bisa mengendalikan dirinya. Sang Jian tiba-tiba membuka kancing baju atasnya dan itu sukses membuat Alexa semakin membulatkan matanya. "Biasa saja kali mantapnya, kaya singa betina mau nerkam saja," sindir Sang Jian membuat Alexa kesal. "Siapa juga yang tertarik dengan kamu," kata Alexa. Sang Jian tidak terima dengan perkataan dari Alexa barusan. Tidak pernah ada yang menolak pesona dirinya selama ini. Dia langsung menarik pinggang Alexa dan tiba-tiba mencium bibir wanita itu dengan lembut. Alexa terkejut ketika merasakan sebuah ciuman yang menurut dirinya secara tiba-tiba dari Sang Jian. Dia berusaha untuk melepaskan dirinya, tetapi Sang Jian malah mencekal tengkuk milik Alexa sudah memperdalam ciuman tersebut. Seorang fotografer sengaja langsung mengabadikan momen tersebut yang menurut dirinya sangat menarik. Sang Jian menyadari kalau ada silent kamera, dia langsung melepaskan ciuman tersebut. "Bagus-bagus, kalian terlihat sangat mesra. Hasil fotonya juga," kata orang-orang di sana. Alexa menyadari hal tersebut dan merasa kesal, "kamu memanfaatkan aku Sang Jian!" Sang Jian tersenyum miring kearah Alexa kembali. "Bukannya kamu yang sudah lebih dulu merendahkan dirimu naik ke ranjangku," balas Sang Jian. "Aku tidak melakukan itu, berapa kali aku bilang, dasar bajingan!" umpat Alexa yang langsung pergi ke ruangan ganti custom sekarang. Sang Jian menghela napasnya, dia sendiri pun tidak tahu kenapa bisa lepas kendali seperti itu. Biasanya ketika berfoto dan beradegan mesra dengan lawan mainnya yang lain, dia akan nampak bias saja. Tetapi entah ketika dia bersama dengan Alexa, tiba-tiba saja gairahnya mengalir begitu saja. Dia bahkan bisa lepas kendali seperti ini. "Sialan," umpat Sang Jian yang terjebak sendiri dengan pesona Alexa tadi. Apalagi dengan dress seksi yang digunakan wanita itu. Ingin sekali dia sobek dan bawa ke ranjang. "Seorang Sang Jian bisa liar juga yang ternyata," sindir Rian. "Diam!" "Aku bercanda, skandal kamu sudah aku urus. Tidak ada yang membicarakan kamu lagi sekarang. Aku juga akan memastikan wanita itu aman, apalagi setelah adengan mesra lain, bisnis ini akan tetap berjalan." "Sialan otak bisnis!" Sang Jian lalu memutuskan untuk pergi ke tempat ganti baju sekarang. Sedangkan Rian tersenyum dengan penuh arti setelah Sang Jian pergi. Sang Jian berganti baju dan setelah itu tiba-tiba Junay datang menghampiri dirinya. "Tidak menyangka kamu akan mencium Alexa tadi secara brutal di depan umum." "Apa kamu akan meledekku lagi sekarang?" umpat Sang Jian. "Hei, tidak begitu. Melihat kamu yang lepas kendali tadi bersama dengan Alexa, sepertinya aku jadi yakin kalau kamu yang duluan menggoda wanita itu. Jamban bilang kalau suka dengan dia?" goda Junay. Sang Jian melotot tajam ketika mendengar hal tersebut. "Kamu gila yah, bagaimana mungkin aku suka dengan wanita seperti itu. Kamu tahu kalau dia yang sudah menjebakku dan hampir saja menghancurkan karirku." "Pada kenyataannya kamu malah memberikan dia panggung sekarang. Dia akan terkenal nanti," kata Junay. Sang Jian menoleh kearah Junay. "Bukannya bagus yah kalau dia terkenal, pasti nanti akan banyak media yang mengusut tentang wanita itu dan kita akan lebih mudah untuk menemukan identitas aslinya." Junay tersenyum senang, rupanya Sang Jian sudah merencanakan semuanya dengan baik. "Jadi itu rencana kamu sebenarnya. Ingin tahu identitas wanita itu." "Tentu saja." "Kamu pinter Sang Jian." "Bagaimana dengan Nico? Apa kamu sudah menyelidikinya?" tanya Jian. "Aku menemukan sesuatu yang menarik. Ini adalah adiknya Nico, wanita itu datang ke acara yang sama dengan Alexa." Sang Jian tersenyum dengan penuh arti, sekarang dia paham akan situasi tersebut. Bukannya sekarang dia sudah menemukan jawabannya langsung. "Jadi pelakunya adalah adiknya Nico?" "Kita tidak bisa berasumsi seperti itu, karena kita tidak punya bukti kalau Nico terlihat di sini." "Kalau begitu, pertemukan aku dengan adiknya Nico." "Itu sedikit bahaya, akan muncul beberapa skandal lagi kalau kamu sering bertemu dengan wanita," kata Junay. Sang Jian mengepelkan tangannya, dia harus merencanakan sesuatu dengan rapih. "Kalau begitu, undang dia datang ke tempatku. Katakan kalau aku akan segara menikah dengan Alexa." "Hah, kamu serius?" kata Junay terkejut ketika mendengar hal itu. "Sudah jangan banyak tanya!" umpat Jian. Tanpa mereka sadari, seseorang tengah menguping pembicaraan tersebut. Dia adalah pelaku yang sebenarnya. Dia tersenyum dengan licik. "Bukannya sudah benar rencanaku, mereka semuanya hanya kambing hitam dan tidak akan menyangka kalau aku pelakunya." BERSAMBUNGAcara Penghargaan Sang Jian datang ditemani oleh Alexa dan menjadi pusat perhatian banyak orang. Apalagi dengan penampilan mereka di depan publik membuat semua orang tahu kalau Sang Jian orang yang cinta dengan istrinya. Membuat semua para fansnya menerima Alexa dengan lapang dada karena sebelumnya Sang Jian sudah mengirim hal-hal romantis di akun sosial miliknya. "Wah itu Sang Jian dengan istrinya.""Ayo potret mereka."Sang Jian dan Alexa hanya tersenyum dan memberikan beberapa ruang pada mereka untuk mengabadikan momen tersenyum. Setelah sesi foto tersebut, Sang Jian dengan mesra langsung menggandeng tangan Alexa. "Ayo sayang kita ke sana," ajak Sang Jian dengan mesra. Mereka sudah disiapkan tempat duduk berdampingan khusus oleh membuat acara. "Baiklah."Alexa dengan anggun baju yang dia gunakan sekarang. Berjalan menuju kearah tempat duduk bersama dengan para tamu undangan lagi. Pada saat yang bersamaan, Nico juga datang bersama dengan Amira. Tentu saja sebagai pasangannya
Rian sudah ditangkap oleh pihak kepolisian sekarang. Arjuna merasa lega karena semuanya sudah berjalan dengan baik. "Akhirnya tertangkap juga," kata Sang Jian. Alexa memeluk Sang Jian dengan erat, dia sudah melalui banyak hal yang dilakukan oleh pria itu. Dia sungguh dia mengetahui semuanya. "Kalian malah bermesraan," kata Arjuna. "Iya kamu juga bisa kali kalau ingin," kata Sang Jian. Alexa tertawa setelah mendengar hal itu. Lalu dia melirik kearah Amira dan Nico yang nampak berdua. "Kita pulang sekarang," kata Nico. "Bagaimana dengan kondisi ibuku?" tanya Amira dengan khawatir. Alexa yang tadi diam akhirnya kembali berbicara. Apalagi dia sudah melakukan hal yang baik. Semuanya sudah dia rencanakan. "Dia bersama dengan Luna," kata Alexa. "Kalau begitu kita sebaiknya cepat pulang karena aku juga ingin bertemu dengan ibuku," ujar Amira dengan jujur. "Iya kita pulang sekarang. Nico dan Amira masuk ke dalam mobilku saja, kita sekalian ke rumah sakit," ajak Arjuna. Nico setuju
Amira senang karena orang-orang jahat itu sudah diamankan. Hanya saja Rian yang menjadi dalang dibalik semuanya tidak terlihat. Apa laki-laki itu sudah memilih pergi? Dia tidak tahu tentang hal ini, tetapi dia berusaha untuk melakukan semuanya dengan baik. "Bagaimana kamu bisa diculik dan di mana Nico dan Sang Jian?" tanya orang yang menolong Amira. "Mohon maaf, soal itu saya kurang tahu.""Kamu yakin tidak sedang berbohong?" tanya orang itu.Amira menggelengkan kepalanya, dia berkata jujur kepada orang-orang yang menolong dirinya. Setidaknya semuanya demi keselamatan dirinya. "Iya, aku juga ini diculik, mungkin Nico akan ke sini dan menyelamatkan aku," jelas Amira. Semua orang sudah mulai paham, dan tak lama kemudian semua orang jadi heboh ketika mengetahui kalau ada mobil milik Sang Jian datang ke sini. Mereka semuanya tersenyum bahagia menyambut kedatangannya dari pria itu. "Itu Sang Jian dengan istrinya.""Iya kamu benar, ayo kita ke sana."Semua orang kini mulai berjalan me
Rian tengah tenang sambil menyesap kopinya, dia menunggu keputusan dari Arjuna. Tentu saja dia ingin ayahnya menandatangani surat wasiat miliknya. Dia tidak akan mudah untuk melakukan sesuatu, apalagi dengan tangan yang kosong. "Belum ada kabar dari mereka," gumam Rian. Sampai tak lama kemudian, ada seseorang yang kini datang menghampiri Rian dan dia hendak akan mengatakan sesuatu sekarang. "Permisi Tuan.""Ada apa?" tanya Rian pada orang yang kini menghampiri dirinya. "Di bawa terlihat banyak sekali warga yang berfoto. Mereka terlihat ramai-ramai datang ke sini," kata orang tersebut memberitahu Rian. "Untuk apa mereka ke sini?" tanya Rian yang sedikit panik. "Kami juga tidak tahu, mereka semuanya katanya ingin bertemu dengan Sang Jian dan Nico.""Apa? Kamu tidak mencegahnya. Memangnya mereka akan ke sini?" tanya Rian langsung panik. Dia khawatir kalau sampai persembunyian dirinya ketahuan. "Mereka semuanya memaksa ingin bertemu," kata orang itu pada Rian. "Kamu tidak becus,
Nico sudah berada di tempat tersebut dan mencari keberadaan dari Rian, tetapi dia tidak menemukan jejak dari laki-laki itu. Alexa berkeliling rumah itu untuk memastikan sesuatu, tetapi dia juga tidak menemukan apapun. "Sepertinya memang tidak ada," kata Alexa. "Padahal aku yakin disekitar sini," ujar Nico memastikan semuanya. "Kita cari ke tempat lain saja," kata Sang Jian yang sudah menyerah. Dia tidak menemukan kebenaran Rian. Kalau pun ada, pasti tempat ini sudah dijaga dengan ketat karena tidak ingin ada yang menerobosnya."Yaudah kalau begitu kita ke mobil lagi saja," kata Nico.Alexa dan Sang Jian setuju, sampai akhirnya mereka berdua kembali masuk ke dalam mobil. Sang Jian menyalakan mesin mobilnya, sedang-kan Alexa berusaha untuk melacak keberadaan Amira sekarang. Sampai ponsel milik Nico tiba-tiba berdering tanda ada yang menghubunginya. "Siapa?" tanya Sang Jian. "Arjuna, dia menelepon," kata Nico. "Kalau begitu angkat saja, siapa tahu memang penting," kata Sang Jia
Sang Jian sudah menghubungi Nico dan mereka akan bertemu di tengah jalan. Kebetulan Nico tadi masih berada di rumah sakit. "Nico lama sekali," umpat Alexa. "Kamu tidak usah khawatir, kita pasti akan menemukan dia," kata Sang Jian. Alexa hanya mengangguk saja sambil memandangi tablet miliknya. Dia berusaha untuk melacak keberadaan seseorang. "Kita tidak menemukan jejaknya," kata Alexa sambil melihat layar. Sang Jian menoleh kearah Alexa kembali, dia tahu apa yang ada dalam pikiran wanita itu sekarang. "Rian tidak mungkin membawa Amira ke dalam rumahnya bukan?""Harusnya seperti itu, kita harus tanya ke anak buahnya yang sudah kita tangkap, mungkin saja dia tahu markas Rian."Sang Jian setuju dengan usulan yang diberikan oleh Alexa padanya. "Kamu benar sayang. Aku akan mengirim pesan pada Arjuna untuk mengintrogasi dia."Alexa hanya mengangguk saja, sampai tak lama kemudian, ada mobil yang menghampiri mereka berdua sekarang.Orang dalam mobil itu langsung turun dan menghampiri Ale







