LOGINAlexa setelah ganti baju, dia merasa kesal karena ketika pemotretan tadi, Jian malah sengaja mencium dirinya. Harusnya dia seneng karena aktor idolanya itu mencium dirinya. Tetapi yang menjadi masalah di sini adalah Jian masih salah paham padanya. Lebih parah lagi laki-laki itu malah menuduhnya.
"Sialan, aku seperti tidak punya harga diri sekali," umpat Alexa. Sampai seseorang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu. Alexa menoleh kearah orang tersebut. "Anda menager Jian yah?" "Iya, panggil saja Rian. Ini honor untuk kamu. Terimakasih karena sudah membantu kami," kata Rian dengan ramah. Alexa hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Benar-benar berbeda dengan kesannya. Katanya Rian orang yang sangat dingin dan ditakuti oleh orang-orang. Tetapi dia melihat sendiri kalau orang itu sangat ramah. "Terimakasih juga," jawab Alexa menerimanya. Rian kembali menatap kearah Alexa sekarang. "Akan lebih baik jika kamu menikah juga dengan Sang Jian. Kamu pasti akan terkenal juga nanti," jelas Rian. "Maaf yah, aku belum tertarik dengan semuanya." Rian yang mendengar itu pun hanya tersenyum saja. "Pikirkan baik-baik, Alexa. Jika kamu menikah dengan dia segara mungkin. Nama kamu akan naik nanti." "Maaf tapi aku..." Belum sempat Alexa mengatakan kelanjutannya. Tiba-tiba Jian masuk ke dalam ruangan tersebut dan menatap Alexa yang tengah bersama dengan Rian. "Ayo kita pulang!" "Eh tunggu dulu, aku belum selesai mengobrol dengan Pak Rian." Jian menatap kearah Rian sekilas. Seolah merasa curiga karena mengobrol dengan Rian. Sekarangkan Rian mengangkat kedua tangan. "Santai bro, kamu boleh bawa dia." Jian langsung menarik tangan Alexa dengan sedikit kasar agar wanita itu mengikuti dirinya. "Ayo ikut aku!" "Jangan kencang-kencang, sakit tahu!" dengus Alexa dengan kesal. "Bawel, masuk ke dalam!" kata Jian sambil mendorong Alexa masuk ke dalam mobilnya. Alexa tidak bisa berontak lagi, dia menuruti apa yang dikatakan oleh Jian. Dia masuk ke dalam mobil laki-laki tersebut. Jian mengendarai mobilnya melihat kearah depan. Lalu dia mulai berbicara dengan Alexa sekarang. "Kenapa tadi kamu bersama dengan Rian?" tanya Jian. "Memangnya kenapa? Dia memberikan honor untukku," jawab Alexa dengan santai. "Kamu berusaha untuk menggoda dia agar mendapatkan peran utama?" sindir Jian. Alexa melotot tajam ketika dituduh seperti itu. "Kamu gila yah. Aku tidak mungkin melakukan hal itu." "Kamu pikir aku percaya, kamu saja berani datang ke tempat tidurku, bukan tidak mungkin kalau kamu juga akan ke tempat tidurnya." "Berhenti!" teriak Alexa yang marah karena Jian malah menuduh dirinya. Jian menghentikan mobilnya dan menatap sinis pada Alexa. "Kenapa marah? Bukannya tebakan aku itu benar?" Plak Sebuah tamparan dilayangkan oleh Alexa dengan begitu saja. Hatinya sedikit sakit karena tuduhan dari Jian barusan. "Jaga ucapan kamu, aku bukan wanita seperti itu! Terserah kalau kamu tidak percaya, tetapi kejadian dulu itu murni kecelakaan!" "Kamu berani sekali menamparku!" marah Jian. Baru kali ini ada wanita yang berani sekali menampar dirinya seperti itu. Alexa menyadari kesalahannya, tetapi dia begitu kesal dengan Jian yang terus saja menuduh dirinya. Alexa berpikir bahwa untuk bertemu dengan teman-temannya yang waktu itu. Mungkin saja mereka bisa dijadikan saksi. "Terus karena kamu aktor, aku tidak berani begitulah menamparmu!" "Kamu terlalu sombong, Alexa. Setelah aku tahu siapa yang menjebak kita, kamu pasti akan menerima akibatnya juga." "Sudah aku bilang kalau aku juga korban!" balas Alexa. "Kamu tidak punya bukti sama sekali Alexa," balas Jian. "Aku akan membuktikannya," balas Alexa. Sampai Jian melihat siluet dari seseorang yang tidak jauh dari mobil mereka. Dia tahu kalau itu pasti wartawan. Jian tersenyum dengan penuh arti dan menarik pinggang Alexa agar dekat. "Kamu ngapain?" tanya Alexa terkejut. Tiba-tiba Jian malah mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu pada telinga Alexa. "Ikuti apa yang aku lakukan," bisiknya. "Hah, maksu...." Belum sempat Alexa mengatakan semuanya, bibirnya sudah lebih dulu dibungkam oleh bibir milik Jian. Laki-laki itu melumatnya dengan lembut. Alexa membulatkan matanya karena dia sedikit terkejut, belum lagi dengan ciuman dari Sang Jian yang begitu mendadak. Jian sudah melihat orang itu pasti mengambil gambar dirinya dengan Alexa. Dia tidak peduli untuk klarifikasi karena sebelumnya dia sudah mengatakan kalau dia pacaran dengan Alexa. Walaupun mereka hanya pura-pura saja. "Menyebalkan," umpat Alexa dan mendorong tubuh Jian agar menjauh dari dirinya. "Tapi tadi keliatannya kamu sangat menikmatinya." "Hei, siapa bilang," umpat Alexa sambil bersidekap. Rupanya laki-laki itu sedikit percaya diri sekali. Sang Jiang tidak berkata lagi, dia kembali menyalakan mesin mobilnya. Sepertinya besok akan ada sesuatu yang lebih rame seperti yang dia perkirakan. BERSAMBUNGAcara Penghargaan Sang Jian datang ditemani oleh Alexa dan menjadi pusat perhatian banyak orang. Apalagi dengan penampilan mereka di depan publik membuat semua orang tahu kalau Sang Jian orang yang cinta dengan istrinya. Membuat semua para fansnya menerima Alexa dengan lapang dada karena sebelumnya Sang Jian sudah mengirim hal-hal romantis di akun sosial miliknya. "Wah itu Sang Jian dengan istrinya.""Ayo potret mereka."Sang Jian dan Alexa hanya tersenyum dan memberikan beberapa ruang pada mereka untuk mengabadikan momen tersenyum. Setelah sesi foto tersebut, Sang Jian dengan mesra langsung menggandeng tangan Alexa. "Ayo sayang kita ke sana," ajak Sang Jian dengan mesra. Mereka sudah disiapkan tempat duduk berdampingan khusus oleh membuat acara. "Baiklah."Alexa dengan anggun baju yang dia gunakan sekarang. Berjalan menuju kearah tempat duduk bersama dengan para tamu undangan lagi. Pada saat yang bersamaan, Nico juga datang bersama dengan Amira. Tentu saja sebagai pasangannya
Rian sudah ditangkap oleh pihak kepolisian sekarang. Arjuna merasa lega karena semuanya sudah berjalan dengan baik. "Akhirnya tertangkap juga," kata Sang Jian. Alexa memeluk Sang Jian dengan erat, dia sudah melalui banyak hal yang dilakukan oleh pria itu. Dia sungguh dia mengetahui semuanya. "Kalian malah bermesraan," kata Arjuna. "Iya kamu juga bisa kali kalau ingin," kata Sang Jian. Alexa tertawa setelah mendengar hal itu. Lalu dia melirik kearah Amira dan Nico yang nampak berdua. "Kita pulang sekarang," kata Nico. "Bagaimana dengan kondisi ibuku?" tanya Amira dengan khawatir. Alexa yang tadi diam akhirnya kembali berbicara. Apalagi dia sudah melakukan hal yang baik. Semuanya sudah dia rencanakan. "Dia bersama dengan Luna," kata Alexa. "Kalau begitu kita sebaiknya cepat pulang karena aku juga ingin bertemu dengan ibuku," ujar Amira dengan jujur. "Iya kita pulang sekarang. Nico dan Amira masuk ke dalam mobilku saja, kita sekalian ke rumah sakit," ajak Arjuna. Nico setuju
Amira senang karena orang-orang jahat itu sudah diamankan. Hanya saja Rian yang menjadi dalang dibalik semuanya tidak terlihat. Apa laki-laki itu sudah memilih pergi? Dia tidak tahu tentang hal ini, tetapi dia berusaha untuk melakukan semuanya dengan baik. "Bagaimana kamu bisa diculik dan di mana Nico dan Sang Jian?" tanya orang yang menolong Amira. "Mohon maaf, soal itu saya kurang tahu.""Kamu yakin tidak sedang berbohong?" tanya orang itu.Amira menggelengkan kepalanya, dia berkata jujur kepada orang-orang yang menolong dirinya. Setidaknya semuanya demi keselamatan dirinya. "Iya, aku juga ini diculik, mungkin Nico akan ke sini dan menyelamatkan aku," jelas Amira. Semua orang sudah mulai paham, dan tak lama kemudian semua orang jadi heboh ketika mengetahui kalau ada mobil milik Sang Jian datang ke sini. Mereka semuanya tersenyum bahagia menyambut kedatangannya dari pria itu. "Itu Sang Jian dengan istrinya.""Iya kamu benar, ayo kita ke sana."Semua orang kini mulai berjalan me
Rian tengah tenang sambil menyesap kopinya, dia menunggu keputusan dari Arjuna. Tentu saja dia ingin ayahnya menandatangani surat wasiat miliknya. Dia tidak akan mudah untuk melakukan sesuatu, apalagi dengan tangan yang kosong. "Belum ada kabar dari mereka," gumam Rian. Sampai tak lama kemudian, ada seseorang yang kini datang menghampiri Rian dan dia hendak akan mengatakan sesuatu sekarang. "Permisi Tuan.""Ada apa?" tanya Rian pada orang yang kini menghampiri dirinya. "Di bawa terlihat banyak sekali warga yang berfoto. Mereka terlihat ramai-ramai datang ke sini," kata orang tersebut memberitahu Rian. "Untuk apa mereka ke sini?" tanya Rian yang sedikit panik. "Kami juga tidak tahu, mereka semuanya katanya ingin bertemu dengan Sang Jian dan Nico.""Apa? Kamu tidak mencegahnya. Memangnya mereka akan ke sini?" tanya Rian langsung panik. Dia khawatir kalau sampai persembunyian dirinya ketahuan. "Mereka semuanya memaksa ingin bertemu," kata orang itu pada Rian. "Kamu tidak becus,
Nico sudah berada di tempat tersebut dan mencari keberadaan dari Rian, tetapi dia tidak menemukan jejak dari laki-laki itu. Alexa berkeliling rumah itu untuk memastikan sesuatu, tetapi dia juga tidak menemukan apapun. "Sepertinya memang tidak ada," kata Alexa. "Padahal aku yakin disekitar sini," ujar Nico memastikan semuanya. "Kita cari ke tempat lain saja," kata Sang Jian yang sudah menyerah. Dia tidak menemukan kebenaran Rian. Kalau pun ada, pasti tempat ini sudah dijaga dengan ketat karena tidak ingin ada yang menerobosnya."Yaudah kalau begitu kita ke mobil lagi saja," kata Nico.Alexa dan Sang Jian setuju, sampai akhirnya mereka berdua kembali masuk ke dalam mobil. Sang Jian menyalakan mesin mobilnya, sedang-kan Alexa berusaha untuk melacak keberadaan Amira sekarang. Sampai ponsel milik Nico tiba-tiba berdering tanda ada yang menghubunginya. "Siapa?" tanya Sang Jian. "Arjuna, dia menelepon," kata Nico. "Kalau begitu angkat saja, siapa tahu memang penting," kata Sang Jia
Sang Jian sudah menghubungi Nico dan mereka akan bertemu di tengah jalan. Kebetulan Nico tadi masih berada di rumah sakit. "Nico lama sekali," umpat Alexa. "Kamu tidak usah khawatir, kita pasti akan menemukan dia," kata Sang Jian. Alexa hanya mengangguk saja sambil memandangi tablet miliknya. Dia berusaha untuk melacak keberadaan seseorang. "Kita tidak menemukan jejaknya," kata Alexa sambil melihat layar. Sang Jian menoleh kearah Alexa kembali, dia tahu apa yang ada dalam pikiran wanita itu sekarang. "Rian tidak mungkin membawa Amira ke dalam rumahnya bukan?""Harusnya seperti itu, kita harus tanya ke anak buahnya yang sudah kita tangkap, mungkin saja dia tahu markas Rian."Sang Jian setuju dengan usulan yang diberikan oleh Alexa padanya. "Kamu benar sayang. Aku akan mengirim pesan pada Arjuna untuk mengintrogasi dia."Alexa hanya mengangguk saja, sampai tak lama kemudian, ada mobil yang menghampiri mereka berdua sekarang.Orang dalam mobil itu langsung turun dan menghampiri Ale







