MasukSetelah dirasa cukup tenang dengan menarik napasnya, Bobby pun bersuara.
“Aku memang sedang ada masalah Ma, tapi masalah yang terjadi itu bukan di tempat kerja melainkan dengan Friska..”
Bobby hentikan bicaranya, hal itu tentu membuat Bu Andini makin penasaran.
“Masalah dengan Friska?!”
Bobby mengangguk lemah, tatapannya jauh mengarah ke depan teras penuh kehampaan.
“Coba ceritakan sama Mama, ada masalah apa kamu dengan Friska?”
Pinta Bu Andini, kembali Bobby menarik napasnya dalam-dalam.
“Aku dikhianati Friska Ma, dia kabur menikah dengan pria lain..”
Bu Andini sangat terkejut tak percaya lalu memotong bicaranya Bobby.
“Apa..? Friska menikah dengan pria lain?! Nggak mungkin, bukankah selama ini hubungan kalian baik-baik saja?”
Bobby terdengar mendengus napasnya yang terasa berat, ia melanjutkan bicaranya dengan tatapan masih ke arah depan.
“Kenyataan yang terjadi memang begitu Ma, tadi siang saat aku ingin mengajaknya makan siang bareng dan menelponnya nomornya nggak aktif. Lalu aku ke tempat kerjanya, satpam di sana bilang Friska udah resign dari kantor itu tiga hari yang lalu. Aku tentu saja penasaran ingin tahu kenapa ia resign dari sana, lalu aku ke rumah kontrakannya. Akan tetapi...”
Kembali Bobby hentikan bicaranya.
“Akan tetapi apa Bob?”
Desak Bu Andini.
“Friska nggak ada di sana dan pamit juga pada Tante Merry tiga hari yang lalu, dari Tante Merry lah aku mengetahui semuanya kalau Friska pergi karena ingin menikah dengan pria lain.”
Jawab Bobby sembari menahan emosinya yang mulai hadir seperti saat di rumah Tante Merry tadi siang, Bu Andini geleng-geleng kepala dan di hatinya juga hadir rasa kesal.
“Keterlaluan dia, selama ini kamu udah mati-matian korbankan segalanya mulai dari membantu biaya kuliah hingga membayar rumah kontrakannya. Ini balasan yang kamu terima, dasar wanita tak tahu diri!”
Bobby tundukan kepalanya mendengar kata-kata Bu Andini yang tersulut amarah, Mamanya itu tak berhenti sampai di situ dia terus mengumpat.
“Ternyata selama ini kamu hanya dimanfaatkan oleh wanita jalang itu Bob, setelah semuanya ia dapatkan kamu ditinggalkannya begitu saja. Siapa pria yang membawa pergi dari kontrakan dan ingin menikahi Friska itu, Bob?”
Bobby menggelengkan kepala lalu menjawab.
“Aku nggak tahu Ma, begitu pula dengan Tante Merry. Tante Merry hanya mengatakan kalau pria itu telah berumur, dia orang yang sangat kaya-raya dan Tante menebak Friska tergiur dengan kekayaannya hingga Friska rela menikah dengannya.”
Bu Andini terlihat sangat geram, dia bukan saja kasihan melihat putranya tapi juga tak terima Bobby diperlakukan seperti itu. Bobby tahu pasti jika saat itu Mamanya tersulut amarah, makanya ia lekas-lekas menenangkannya.
“Sudahlah Ma, semua itu telah terjadi. Nggak ada gunanya Mama terbawa emosi, aku iklas kok menerima semua itu. Aku harap Mama rahasiakan hal ini pada Papa, aku kuatir dia juga akan marah besar karena sejak awal dia sama sekali tak setuju hubunganku dengan Friska.”
Harap Bobby, Bu Andini tak segera menanggapi. Dia sepertinya masih dikuasai amarah yang meledak-ledak dalam hatinya, sama sekali Bu Andini tak menyangka Friska yang ia pandang selama ini baik dan santun rupanya berbanding terbalik dengan sifat aslinya.
********
13 Tahun Kemudian...
Rupanya apa yang terucap dari bibir Bobby selama ini jauh dari kenyataan, dia pernah berkata bahkan berjanji pada Mamanya dan dirinya sendiri akan iklas serta melupakan Friska. Akan tetapi buktinya sampai saat ini Bobby belum bisa move on dari masa lalunya, saking sulitnya ia melupakan hal yang menyakitkan dilakukan Friska itu membuat dirinya hilang kepercayaan terhadap para wanita.
Makanya sampai saat ini 13 tahun sudah waktu berlalu sejak Friska mencampakan dirinya bak sampah dan memutuskan menikah dengan pria kaya-raya, Bobby belum membuka hatinya pada wanita lain.
Rasa sakit dan patah hatinya justru menimbulkan dendam, bukan saja pada Friska tapi juga wanita lain terlebih itu wanita yang ia anggap memiliki kesamaan sifat dengan mantan kekasihnya itu yaitu matre.
Melihat Bobby tak kunjung mendapatkan pengganti Friska atau seorang wanita yang akan ia jadikan calon istri, Pak Azhar yang telah mengetahui permasalahan putranya itu dengan Friska berniat untuk menjodohkan Bobby dengan putri bungsu sahabat karibnya.
Setelah membicarakan keinginannya itu dengan sabahatnya beberapa hari yang lalu, pagi itu tepatnya hari minggu di mana Pak Azhar dan juga keluarga besar sahabatnya libur ia mengajak Bobby berkunjung ke rumah sahabatnya itu.
Kedatangan Pak Azhar sekeluarga disambut hangat oleh Pak Haris dan keluarganya, karena memang di samping antara keduanya adalah sahabat karib merekapun sudah sering saling kunjung mengunjung.
Pak Azhar dan keluarga yang diterima di ruangan tamu rumah megah milik Pak Haris, segera memulai pembicaraan.
“Seperti yang telah kita bicarakan beberapa hari yang lalu Haris, hari ini aku sekeluarga datang ke sini untuk memastikan keinginan kita itu.”
Pak Haris tersenyum mendengarnya, ia kemudian memandang ke arah Bobby lalu kepada putri bungsunya.
“Hemmm, meskipun kita sudah lama akrab akan tetapi putra-putri kita belum pernah bertemu dan saling kenal Bang Azhar.”
Pak Azhar tersenyum lalu mengangguk.
“Nah, untuk itu silahkan kalian saling berkenalan!”
Sambung Pak Haris meminta Bobby untuk berkenalan dengan putri bungsunya, Bobby pun berdiri dari duduknya begitu pula dengan putri bungsu Pak Haris itu.
“Bobby.”
“Aulia.”
Ucap mereka sembari berjabat tangan, kemudian mereka duduk kembali di tempat duduk mereka semula.
Baik Bobby maupun Aulia sama sekali tak mengetahui jika Pak Azhar dan Pak Haris berkeinginan untuk menjodohkan mereka, makanya saat itu sikap Bobby dan juga Aulia terlihat santai saja.
Pak Haris selaku Tuan rumah dipersilahkan Pak Azhar untuk menyampaikan inti dari pertemuan keluarga besar mereka di ruangan itu, Pak Haris pun berbicara.
“Seperti yang tadi dikatakan Bang Azhar bahwa kami beberapa hari lalu bertemu dan membicarakan sesuatu hal penting, dari pertemuan itu kami pun sepakat untuk mewujudkannya.”
Pak Haris hentikan bicaranya, ia tersenyum lalu memandang ke arah Bobby kemudian pada Aulia. Bobby dan Aulia seketika saling pandang tak mengerti, lalu Pak Haris melanjutkan bicaranya...
Bobby merasa sedikit lega saat henyakan pantatnya di sofa empuk di ruangan yang terhubung langsung dengan teras di lantai atas rumah mewah milik sahabatnya itu, hatinya sejak di mall tadi seakan terbakar karena melihat sosok wanita yang dia anggap telah menghancurkan hidupnya.Tak beberapa lama Bobby duduk, wanita setengah baya yang tadi mengantarnya ke ruangan itu datang kembali membawa dua gelas kopi hangat dan beberapa potong jenis kue basah di piring lalu menaruhnya di atas meja depan sofa di mana Bobby duduk dengan sahabatnya itu.“Silahkan diminum dan dicicipi Tuan,” tawar wanita setengah baya itu.“Makasih Bi Asih,” ucap Bobby diiringi senyum ramahnya, wanita setengah baya yang dipanggil Bi Asih itu balas tersenyum kemudian pamitan untuk kembali ke lantai bawah untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai pembantu di rumah mewah itu.“Emangnya tadi dari rumah kamu rencananya mau ke mana Bob?” tanya pria yang duduk di samping Bobby itu.“Aku nggak dari rumah Ray melainkan dari hotel,
Sekitar jam 8 pagi Bobby terbangun dari tidurnya di ranjang di kamar hotel tempat ia menginap dan bercinta dengan Dina tadi malam, dengan hanya mengenakan celana pendek ia berjalan menuju kamar mandi. Setelah menyalakan air hangat ke dalam bathtup yang tersedia di kamar mandi itu, Bobby pun merendam tubuhnya berbaring di bathtup itu dengan sesekali memejamkan mata.Air hangat di bathtup itu benar-benar membuat tubuhnya nyaman dan terasa segar kembali, cukup lama ia berada di sana hingga akhirnya menyudahi mandinya dan mengenakan pakaian ganti yang telah ia persiapkan dari rumah kemarin sebelum ke kantor dan menginap di hotel itu.Bobby meraih ponselnya yang ada di meja di sisi ranjang lalu melakukan panggilan, seseorang yang dihubungi itu langsung mengangkatnya.“Hallo, selamat pagi Pak.”“Pagi, jemput aku sekarang ya?” pinta Bobby.“Baik Pak, saya akan segera ke sana,” ujar sosok yang dihubungi itu lalu Bobby mengakhiri panggilan di ponselnya.Tak beberapa lama setelah chek out dan be
Sekitar jam 10 malam sebuah mobil mewah jenis Alphard memasuki halaman sebuah hotel di kawasan Kota Jakarta, sosok pria tampan bertubuh atletis turun kemudian mobil mewah itupun memutar balik meninggalkan kawasan hotel itu.Pria tampan itu melangkah ke lobi lalu masuk menghampiri resepsionis memesan sebuah kamar, setelah menerima key card ia pun menuju kamar yang dipesan. Langkah kakinya sedikit sempoyongan dan sesekali pria itu nampak meraba kepalanya sendiri yang terasa agak berat.Sepertinya pria itu sebelum menuju hotel meneguk minuman beralkohol di sebuah bar, atau tempat yang juga menyediakan minuman-minuman mengandung alkohol lainnya. Begitu masuk ke kamar ia langsung merebahkan diri di ranjang, entah sadar atau memang sengaja sepatu yang ia kenakan tak dibukanya terlebih dahulu.Tak berselang lama ponsel di saku celananya berbunyi, pria yang berbaring di ranjang kamar hotel itupun mengangkatnya.“Hallo Dina, kamu udah nyampai di hotel ini ya?”“Udah Om, nih aku di depan pintu
“Tapi usiaku dan Mas Bobby terpaut sangat jauh, apakah nanti tak jadi masalah bagi Papi dan Mami? Karena siapa tahu saja akan dipandang tidak baik oleh para tamu undangan, di hari pernikahan kami nanti.”Pak Haris dan Bu Widya sama-sama tersenyum mendengar perkataan Aulia itu, Pak Haris memberi isyarat pada istrinya agar dia saja yang menanggapi.“Aulia, Mami dan Papimu sudah tahu sebelumnya bahwa Bobby saat ini telah berusia 38 tahun sementara kamu tahun ini genap 23 tahun. Akan tetapi menurut pandangan kami Bobby masih kelihatan muda, orang-orang pasti takan menyangka usianya hampir 40 tahun. Bukankah begitu Mas?”Pak Haris mengangguk saat diminta tanggapan oleh Bu Widya.“Benar Aulia, kalaupun nanti ada yang kurang setuju atas perbedaan usia kalian takan berparuh bagi Papi. Justru kami berpandangan sosok Bobby yang jauh lebih dewasa akan dapat membimbingmu dalam berumah tangga nantinya, sekarang yang ingin kami dengar keputusan dari kamu bersedia tidaknya dijodohkan dengannya?”Pak
“Untuk mempererat hubungan keluarga besar kita, maka kami memutuskan akan menjodohkan Bobby dengan Aulia.”Terperanjatlah Bobby begitu pula Aulia mendengar penuturan dari Pak Haris itu, mereka berdua tentu saja tak menyangka jika kedua orang tua mereka telah memiliki rencana sebelumnya untuk menjodohkan mereka.Baik Bobby maupun Aulia tak berani bersuara meskipun mereka sama-sama ingin menyampaikan sesuatu atas pernyataan dari Pak Haris itu, karena tak satupun di antara mereka menanggapi Pak Azhar kemudian bicara.“Benar apa yang dikatakan Haris, dengan dijodohkannya Bobby dengan Aulia maka hubungan kekeluargaan kita semakin erat. Bagaimana menurutmu Bobby?”Ditanya seperti itu Bobby pun tersentak dan tak tahu harus menjawab bagaimana, ia kemudian berucap sekenanya saja.“Terserah Papa dan Om Haris, aku ngikut aja.”Pak Azhar pun tersenyum mendengar jawaban dari putranya, lalu ia alihkan pandangan seraya bertanya pada Aulia.“Bagaimana dengan kamu, Aulia?”Aulia tak menjawab, ia arahk
Setelah dirasa cukup tenang dengan menarik napasnya, Bobby pun bersuara.“Aku memang sedang ada masalah Ma, tapi masalah yang terjadi itu bukan di tempat kerja melainkan dengan Friska..”Bobby hentikan bicaranya, hal itu tentu membuat Bu Andini makin penasaran.“Masalah dengan Friska?!”Bobby mengangguk lemah, tatapannya jauh mengarah ke depan teras penuh kehampaan.“Coba ceritakan sama Mama, ada masalah apa kamu dengan Friska?”Pinta Bu Andini, kembali Bobby menarik napasnya dalam-dalam.“Aku dikhianati Friska Ma, dia kabur menikah dengan pria lain..”Bu Andini sangat terkejut tak percaya lalu memotong bicaranya Bobby.“Apa..? Friska menikah dengan pria lain?! Nggak mungkin, bukankah selama ini hubungan kalian baik-baik saja?”Bobby terdengar mendengus napasnya yang terasa berat, ia melanjutkan bicaranya dengan tatapan masih ke arah depan.“Kenyataan yang terjadi memang begitu Ma, tadi siang saat aku ingin mengajaknya makan siang bareng dan menelponnya nomornya nggak aktif. Lalu aku







