Masuk“Untuk mempererat hubungan keluarga besar kita, maka kami memutuskan akan menjodohkan Bobby dengan Aulia.”
Terperanjatlah Bobby begitu pula Aulia mendengar penuturan dari Pak Haris itu, mereka berdua tentu saja tak menyangka jika kedua orang tua mereka telah memiliki rencana sebelumnya untuk menjodohkan mereka.
Baik Bobby maupun Aulia tak berani bersuara meskipun mereka sama-sama ingin menyampaikan sesuatu atas pernyataan dari Pak Haris itu, karena tak satupun di antara mereka menanggapi Pak Azhar kemudian bicara.
“Benar apa yang dikatakan Haris, dengan dijodohkannya Bobby dengan Aulia maka hubungan kekeluargaan kita semakin erat. Bagaimana menurutmu Bobby?”
Ditanya seperti itu Bobby pun tersentak dan tak tahu harus menjawab bagaimana, ia kemudian berucap sekenanya saja.
“Terserah Papa dan Om Haris, aku ngikut aja.”
Pak Azhar pun tersenyum mendengar jawaban dari putranya, lalu ia alihkan pandangan seraya bertanya pada Aulia.
“Bagaimana dengan kamu, Aulia?”
Aulia tak menjawab, ia arahkan pandangannya pada Papinya sejenak lalu ia menunduk.
Giliran Pak Haris yang tersenyum, lalu menanggapi.
“Hemmm, mungkin Aulia malu untuk menjawab Bang Azhar. Biarlah kita beri dia waktu untuk berfikir, nanti aku akan kabari Bang Azhar sekeluarga.”
Pak Azhar mengangguk.
“Baik Haris, kita beri mereka waktu untuk memikirkan keinginan kita itu. Meskipun tadi Bobby mengatakan terserah kita, akan tetapi ada baiknya ia juga berfikir dulu sebelum mengambil keputusan. Bukan begitu Haris?”
Giliran Pak Haris yang menganggukan kepala, kemudian menjawab.
“Benar Bang karena ini bukanlah sesuatu hal yang remeh sebab menyangkut masa depan mereka, memang ada baiknya mereka mempertimbangkannya.”
Pertemuan antara dua keluarga besar itu berlangsung lebih dari 2 jam, sebelum Pak Azhar dan Bu Andini serta Bobby pulang ke kediaman mereka.
Setibanya di rumah tepatnya di ruangan tengah, Bobby kembali ditanya Pak Azhar.
“Benarkah dengan yang kamu jawab tadi di rumah Haris kalau kamu mengikut saja dengan yang kami rencanakan itu?”
Sebelum menjawab Bobby terdengar menarik napasnya.
“Kalau semua itu menurut Papa dan Mama hal yang terbaik, aku akan ikut saja. Tapi tadi Aulia kan belum menjawab, bisa jadi dia nggak setuju karena memang perbedaan usia kami cukup jauh aku udah 38 tahun sementara dia baru 23 tahun Pa.”
Pak Azhar dan Bu Andini sempat saling pandang sesaat, namun Pak Azhar segera menanggapi perkataan Bobby itu.
“Hemmm, Papa dan Haris memang sudah tahu usiamu dan Aulia memamg terpaut jauh tapi Papa yakin Aulia pun tak mempersalahkan itu. Papa juga yakin kali ini Haris pasti dapat meyakinkan putri bungsunya itu agar menuruti keinginannya menjodohkan dia dengan kamu, soalnya Haris sudah beberapa kali ditolak karena menjodohkan Aulia dengan para pria pilihan selama ini.”
Bobby terlihat tersenyum kecut mendengar penjelasan dari Papanya itu, ia lalu berkata.
“Papa jangan terlalu yakin dulu, bisa jadi Aulia juga menolak perjodohan aku dengannya. Karena memang keinginan itu nggak bisa dipaksakan Pa..”
Belum selesai Bobby berbicara, Pak Azhar memotong.
“Loh, bagaimana dengan diri kamu sendiri? Kenapa kamu nggak merasa terpaksa oleh perjodohan ini?”
Bobby kembali tersenyum kecut, dengan raut wajah yang memang tak bersemangat sedikitpun ia menjawab.
“Semua itu karena aku tak ingin mengecewakan Papa dan Mama, sebab baru kali ini Papa dan Mama mengajukan keinginan padaku.”
Mendengar kata-kata Bobby itu, kali ini Bu Andini yang menanggapi.
“Sejak kejadian kamu ditinggal nikah oleh Friska belasan tahun yang dulu, sampai saat ini Mama dan Papa nggak pernah melihat kamu menggandeng wanita untuk diperkenalkan pada kami sebagai calon istrimu. Jangankan calon istri, wanita yang kamu pacari saja tidak ada. Makanya Mama dan Papa berkeinginan menjodohkan kamu dengan Aulia, tentu terlebih dahulu minta persetujuan dari mereka.”
Bobby hanya diam tak menjawab sepatah katapun, semua yang dikatakan Mamanya itu memang benar adanya. Sejak ia dihianati Friska rasa percayanya seperti hilang pada para wanita, selama belasan tahun ia hanya menyibukan diri dengan pekerjaannya tanpa memikirkan sosok wanita yang tentunya akan dijadikan istri sebab usianya boleh dikatakan melebihi dari yang semestinya seorang pria berumah tangga.
******
Siang itu di sebuah ruangan yang terkesan mewah, di sana ada meja makan dengan menu-menu hidangan lengkap. Di meja makan itu terlihat Pak Haris dan Bu Widya duduk bersebelahan, sementara Aulia putri bungsu mereka duduk berhadap-hadapan di antara meja makan itu.
Di sela-sela makan siang itu, Pak Haris mengawali obrolan mereka.
“Sudah tak terhitung kalinya Papi memperkenalkan dan menjodohkan pria pilihan Papi denganmu, akan tetapi selalu kamu tolak. Alasanmu tidak ingin dijodohkan karena ingin mencari pria pilihanmu sendiri, tapi sampai sekarang Papi lihat tak satupun pria yang kamu jadikan pacar apalagi memperkenalkannya pada kami sebagai calon suami. Makanya tadi Papi kembali ingin menjodohkan kamu, kali ini dengan Bobby putra sahabat karib Papi. Apakah kamu juga menolak dengan alasan yang sama?”
Pak Haris bertutur cukup panjang lebar, Aulia tak langsung menanggapi ia arahkan pandangan pada Papi dan Maminya secara bergantian. Karena tak kunjung menjawab, Bu Widya kali ini yang bertanya.
“Kenapa kamu diam saja, Aulia? Papimu ingin kejelasan dari kamu mengenai keinginan kami menjodohkan kamu dengan Bobby?”
Aulia meraih gelas berisi air putih lalu meneguknya, setelah itu baru ia bersuara.
“Kali ini aku serahkan pada Papi dan Mami saja jika memang keinginan Papi dan Mami untuk bersegera menikahkan aku, aku nggak bisa menolak lagi.”
Pak Haris saling pandang dengan Bu Widya, lalu menanggapi.
“Loh, kok terserah kami saja? Harusnya kamu juga punya keinginan dan setuju dijodohkan serta menikah dengan Bobby, biar nanti tak ada kesan dipaksakan atau terpaksa.”
Aulia nampak tersenyum belum diketahui apa arti dari senyumannya itu, yang jelas setelah tersenyum ia kemudian menjawab...
Bobby merasa sedikit lega saat henyakan pantatnya di sofa empuk di ruangan yang terhubung langsung dengan teras di lantai atas rumah mewah milik sahabatnya itu, hatinya sejak di mall tadi seakan terbakar karena melihat sosok wanita yang dia anggap telah menghancurkan hidupnya.Tak beberapa lama Bobby duduk, wanita setengah baya yang tadi mengantarnya ke ruangan itu datang kembali membawa dua gelas kopi hangat dan beberapa potong jenis kue basah di piring lalu menaruhnya di atas meja depan sofa di mana Bobby duduk dengan sahabatnya itu.“Silahkan diminum dan dicicipi Tuan,” tawar wanita setengah baya itu.“Makasih Bi Asih,” ucap Bobby diiringi senyum ramahnya, wanita setengah baya yang dipanggil Bi Asih itu balas tersenyum kemudian pamitan untuk kembali ke lantai bawah untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai pembantu di rumah mewah itu.“Emangnya tadi dari rumah kamu rencananya mau ke mana Bob?” tanya pria yang duduk di samping Bobby itu.“Aku nggak dari rumah Ray melainkan dari hotel,
Sekitar jam 8 pagi Bobby terbangun dari tidurnya di ranjang di kamar hotel tempat ia menginap dan bercinta dengan Dina tadi malam, dengan hanya mengenakan celana pendek ia berjalan menuju kamar mandi. Setelah menyalakan air hangat ke dalam bathtup yang tersedia di kamar mandi itu, Bobby pun merendam tubuhnya berbaring di bathtup itu dengan sesekali memejamkan mata.Air hangat di bathtup itu benar-benar membuat tubuhnya nyaman dan terasa segar kembali, cukup lama ia berada di sana hingga akhirnya menyudahi mandinya dan mengenakan pakaian ganti yang telah ia persiapkan dari rumah kemarin sebelum ke kantor dan menginap di hotel itu.Bobby meraih ponselnya yang ada di meja di sisi ranjang lalu melakukan panggilan, seseorang yang dihubungi itu langsung mengangkatnya.“Hallo, selamat pagi Pak.”“Pagi, jemput aku sekarang ya?” pinta Bobby.“Baik Pak, saya akan segera ke sana,” ujar sosok yang dihubungi itu lalu Bobby mengakhiri panggilan di ponselnya.Tak beberapa lama setelah chek out dan be
Sekitar jam 10 malam sebuah mobil mewah jenis Alphard memasuki halaman sebuah hotel di kawasan Kota Jakarta, sosok pria tampan bertubuh atletis turun kemudian mobil mewah itupun memutar balik meninggalkan kawasan hotel itu.Pria tampan itu melangkah ke lobi lalu masuk menghampiri resepsionis memesan sebuah kamar, setelah menerima key card ia pun menuju kamar yang dipesan. Langkah kakinya sedikit sempoyongan dan sesekali pria itu nampak meraba kepalanya sendiri yang terasa agak berat.Sepertinya pria itu sebelum menuju hotel meneguk minuman beralkohol di sebuah bar, atau tempat yang juga menyediakan minuman-minuman mengandung alkohol lainnya. Begitu masuk ke kamar ia langsung merebahkan diri di ranjang, entah sadar atau memang sengaja sepatu yang ia kenakan tak dibukanya terlebih dahulu.Tak berselang lama ponsel di saku celananya berbunyi, pria yang berbaring di ranjang kamar hotel itupun mengangkatnya.“Hallo Dina, kamu udah nyampai di hotel ini ya?”“Udah Om, nih aku di depan pintu
“Tapi usiaku dan Mas Bobby terpaut sangat jauh, apakah nanti tak jadi masalah bagi Papi dan Mami? Karena siapa tahu saja akan dipandang tidak baik oleh para tamu undangan, di hari pernikahan kami nanti.”Pak Haris dan Bu Widya sama-sama tersenyum mendengar perkataan Aulia itu, Pak Haris memberi isyarat pada istrinya agar dia saja yang menanggapi.“Aulia, Mami dan Papimu sudah tahu sebelumnya bahwa Bobby saat ini telah berusia 38 tahun sementara kamu tahun ini genap 23 tahun. Akan tetapi menurut pandangan kami Bobby masih kelihatan muda, orang-orang pasti takan menyangka usianya hampir 40 tahun. Bukankah begitu Mas?”Pak Haris mengangguk saat diminta tanggapan oleh Bu Widya.“Benar Aulia, kalaupun nanti ada yang kurang setuju atas perbedaan usia kalian takan berparuh bagi Papi. Justru kami berpandangan sosok Bobby yang jauh lebih dewasa akan dapat membimbingmu dalam berumah tangga nantinya, sekarang yang ingin kami dengar keputusan dari kamu bersedia tidaknya dijodohkan dengannya?”Pak
“Untuk mempererat hubungan keluarga besar kita, maka kami memutuskan akan menjodohkan Bobby dengan Aulia.”Terperanjatlah Bobby begitu pula Aulia mendengar penuturan dari Pak Haris itu, mereka berdua tentu saja tak menyangka jika kedua orang tua mereka telah memiliki rencana sebelumnya untuk menjodohkan mereka.Baik Bobby maupun Aulia tak berani bersuara meskipun mereka sama-sama ingin menyampaikan sesuatu atas pernyataan dari Pak Haris itu, karena tak satupun di antara mereka menanggapi Pak Azhar kemudian bicara.“Benar apa yang dikatakan Haris, dengan dijodohkannya Bobby dengan Aulia maka hubungan kekeluargaan kita semakin erat. Bagaimana menurutmu Bobby?”Ditanya seperti itu Bobby pun tersentak dan tak tahu harus menjawab bagaimana, ia kemudian berucap sekenanya saja.“Terserah Papa dan Om Haris, aku ngikut aja.”Pak Azhar pun tersenyum mendengar jawaban dari putranya, lalu ia alihkan pandangan seraya bertanya pada Aulia.“Bagaimana dengan kamu, Aulia?”Aulia tak menjawab, ia arahk
Setelah dirasa cukup tenang dengan menarik napasnya, Bobby pun bersuara.“Aku memang sedang ada masalah Ma, tapi masalah yang terjadi itu bukan di tempat kerja melainkan dengan Friska..”Bobby hentikan bicaranya, hal itu tentu membuat Bu Andini makin penasaran.“Masalah dengan Friska?!”Bobby mengangguk lemah, tatapannya jauh mengarah ke depan teras penuh kehampaan.“Coba ceritakan sama Mama, ada masalah apa kamu dengan Friska?”Pinta Bu Andini, kembali Bobby menarik napasnya dalam-dalam.“Aku dikhianati Friska Ma, dia kabur menikah dengan pria lain..”Bu Andini sangat terkejut tak percaya lalu memotong bicaranya Bobby.“Apa..? Friska menikah dengan pria lain?! Nggak mungkin, bukankah selama ini hubungan kalian baik-baik saja?”Bobby terdengar mendengus napasnya yang terasa berat, ia melanjutkan bicaranya dengan tatapan masih ke arah depan.“Kenyataan yang terjadi memang begitu Ma, tadi siang saat aku ingin mengajaknya makan siang bareng dan menelponnya nomornya nggak aktif. Lalu aku







