Beranda / Male Adult / Gairah Liar Sang Presdir / Bab 7. Wanita 500 Ribuan

Share

Bab 7. Wanita 500 Ribuan

Penulis: Andy Lorenza
last update Tanggal publikasi: 2026-10-16 00:02:35

Sekitar jam 10 malam sebuah mobil mewah jenis Alphard memasuki halaman sebuah hotel di kawasan Kota Jakarta, sosok pria tampan bertubuh atletis turun kemudian mobil mewah itupun memutar balik meninggalkan kawasan hotel itu.

Pria tampan itu melangkah ke lobi lalu masuk menghampiri resepsionis memesan sebuah kamar, setelah menerima key card ia pun menuju kamar yang dipesan. Langkah kakinya sedikit sempoyongan dan sesekali pria itu nampak meraba kepalanya sendiri yang terasa agak berat.

Sepertinya pria itu sebelum menuju hotel meneguk minuman beralkohol di sebuah bar, atau tempat yang juga menyediakan minuman-minuman mengandung alkohol lainnya. Begitu masuk ke kamar ia langsung merebahkan diri di ranjang, entah sadar atau memang sengaja sepatu yang ia kenakan tak dibukanya terlebih dahulu.

Tak berselang lama ponsel di saku celananya berbunyi, pria yang berbaring di ranjang kamar hotel itupun mengangkatnya.

“Hallo Dina, kamu udah nyampai di hotel ini ya?”

“Udah Om, nih aku di depan pintu kamar yang Om pesan.”

“Oh, ya udah. Sebentar aku bukain pintunya,” pria tampan yang berbaring di ranjang itu akhiri panggilan di ponselnya, ia bangkit dari pembaringan melangkah ke arah pintu kamar.

Setelah key card digesek pintu kamar hotel itu terbuka, di depan pintu tampak sosok wanita cantik berdiri tersenyum genit lalu melangkah masuk.

“Udah lama Om Bobby datang dan nunggu aku di sini ya?” tanya wanita cantik yang dipanggil Dina saat bicara melalui sambungan telpon tadi.

“Nggak juga, paling setengah jamanlah. Kamu naik apa tadi ke sini? Maaf aku nggak bisa jemput kamu ke kos-kosan,” ujar pria tampan berbadan atletis yang dipanggil Om Bobby oleh wanita muda dan cantik itu.

“Nggak apa-apa Om, aku ngerti kok. Aku ke sini tadi dengan taksi,” jawab Dina kembali diiringi senyum genitnya.

Entah karena pengaruh alkohol ataupun gejolak gairah yang muncul di tubuhnya, Bobby langsung memeluk Dina dari belakang. Bukan saja memeluk tapi Bobby juga langsung melancarkan cumbuan-cumbuan yang membuat Dina mengelinjang, saat Bobby ingin berlaku lebih jauh lagi dengan lembut Dina mencegahnya.

“Hemmm, kok buru-buru amat sih Om? Apa nggak sebaiknya Om Bobby aku pijit dulu seperti yang pernah Om minta sewaktu kita nginap di puncak,” meskipun Dina telah terangsang hebat, namun dia berusaha untuk mengendalikannya agar Bobby tak terlalu mengebu-ngebu yang dapat membuat dirinya nanti tidak begitu menikmati percintaan karena akan terkesan kasar.

Bobby mengangguk setuju dengan usulan Dina, ia membiarkan wanita muda cantik itu membuka sepatu dan pakaiannya. Kemudian Dina menyuruh Bobby tengkurep di ranjang, lalu dengan lembut wanita cantik itu memijit-mijit mulai dari bahu hingga betis pria tampan bertubuh atletis itu.

Sepertinya Dina memang cukup lihai dalam memberi layanan pada pria yang telah dua kali memakai jasanya untuk memuaskan hasrat semalam, dia tak meminta lebih atas service yang diberikannya itu. Tarifnya tetap Rp. 500.000,- semalam, kalaupun ada yang memberinya lebih itu bukan karena permintaannya melainkan pemberian pria yang dilayaninya itu.

Sama halnya dengan Bobby karena pelayanan Dina yang memuaskan itulah, dia pun tak segan-segan memberi lebih dari tarif yang telah wanita muda itu tetapkan. Dina sendiri adalah seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta, dan kini dia berada di semester 4.

Dina memutuskan untuk menjadi wanita pemuas melayani pria-pria hidung belang yang istilah kerennya saat ini ayam kampus, sejak dia naik ke semester 2 di bangku kuliahnya.

Alasan awal dia melakukan itu karena keterbatasan ekonomi orang tua yang kesulitan membiayai kuliah dan kebutuhan sehari-harinya tinggal di Ibu Kota, akan tetapi akhir-akhir ini melihat gaya hidupnya yang terkesan suka berfoya-foya alasan untuk menutupi kekurangan biaya kuliahnya sudah tak dapat lagi dijadikan alasan baginya terus bergelut di dunia hitam itu.

Setelah beberapa menit memijit-mijit tubuh Bobby dari bahu hingga betisnya, pijitan yang dilakukan Dina pun berubah dengan sentuhan-sentuhan erotis yang membangkitkan gairah. Bobby membalikan tubuhnya yang tadi di posisi menelungkup menjadi telentang, sentuhan-sentuhan yang kian gencar dari Dina kini dibalas Bobby.

Sekarang posisi tubuh mereka bergantian Dina yang berada di bawah dan Bobby yang berada di atas, sisa pakaian yang dikenakan Dina yang hanya menutup area sensitif tubuhnya pun dilepas di sela-sela sentuhan-sentuhan yang bergairah itu.

Bak orang kesurupan Bobby menggagahi tubuh wanita cantik itu, Dina pun merespon setiap sentuhan dan gerakan-gerakan yang dilakukan pria pelanggannya malam itu.

Semakin lama gerakan dan sentuhan keduanya semakin intens, seprei di ranjang kamar hotel itupun kusut dan selimut yang tadi terlipat rapi di atas ranjang terlempar jatuh ke bawah berserakan bersama pakaian-pakaian mereka yang tengah berpacu untuk mengapai puncak tujuan mereka bergumul di ranjang itu.

Tak berselang lama setelah tubuh Dina mengejang dan lemas, tubuh Bobby pun mengejang lalu tersungkur lemas menimpa tubuh mahasiswi cantik itu. Untuk beberapa saat lamanya tak ada kata-kata terucap, selain senyum yang tersimpul di bibir mereka berdua yang menyiratkan kepuasan.

Sekitar jam 5 subuh Bobby yang terbangun lebih dulu langsung melakukan sentuhan-sentuhan ke tubuh Dina hingga wanita cantik itu ikut terbangun, dan kembali terulang pergumulan yang mereka lakukan seperti awal mereka datang dan menginap di kamar hotel itu.

Pergumulan kali ini lebih singkat dari sebelumnya, mungkin karena mereka tidak melakukan sentuhan-sentuhan lebih lama untuk membangkitkan gairah. Mereka langsung saja melakukan, namun meskipun lebih cepat dari sebelumnya tapi mereka tetap merasa puas.

“Om Bobby memang luar biasa, aku sampai nggak bisa bernapas dibuatnya,” puji Dina sembari memberikan kecupan di pipi pria tampan itu.

“Kamu juga luar biasa Dina, servicemu benar-benar spesial. Buat nagih,” Bobby juga memuji diiringi senyum kepuasaannya.

Setelah membersihkan diri di kamar mandi, Dina mohon diri untuk lebih dulu chek out. Sementara Bobby melanjutkan tidurnya yang sempat jeda ketika mengulangi pergumulan di ranjang kamar hotel itu, sebelum tidur Bobby menaruh sekitar 7 lembar uang pecahan seratus ribu di meja tepi ranjang dan Dina faham uang itu adalah uang jasa pelayanannya.

Dina memasukan lembaran uang itu ke dalam saku celananya tanpa menghitungnya terlebih dahulu karena dia percaya jika pria yang baru saja ia layani di ranjang itu cukup loyal dan selalu memberi lebih dari tarif yang telah ia tetapkan, Dina lalu ke luar dari kamar dan meninggalkan hotel itu menuju kos-kosan dengan menggunakan taksi.

Untuk diketahui Bobby merupakan pria yang telah beristri dan saat ini memiliki jabatan sebagai presdir di sebuah perusahaan besar dan terkemuka di kota itu, perusahaan itu sendiri milik mertuanya bernama Haris.

Istri Bobby sendiri adalah sosok wanita yang sangat jelita bernama Aulia Permasuari, sejak Bobby menikah dengan Aulia itulah Haris menunjuknya sebagai presdir di salah satu perusahaan miliknya itu.

Harusnya seorang Bobby Biandra yang menjabat sebagai presdir di sebuah perusahaan besar dan juga memiliki istri yang sangat cantik tidak perlu lagi mencari kepuasaan dengan wanita lain di luar, akan tetapi kenapa ia melakukan hal itu? Apakah dia tak pernah merasa terpuaskan oleh istrinya di rumah? Atau ada penyebab lain yang mendasari hasrat liarnya itu dengan wanita lain?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gairah Liar Sang Presdir   Bab 9. Rasa Sakit Diselingkuhi

    Bobby merasa sedikit lega saat henyakan pantatnya di sofa empuk di ruangan yang terhubung langsung dengan teras di lantai atas rumah mewah milik sahabatnya itu, hatinya sejak di mall tadi seakan terbakar karena melihat sosok wanita yang dia anggap telah menghancurkan hidupnya.Tak beberapa lama Bobby duduk, wanita setengah baya yang tadi mengantarnya ke ruangan itu datang kembali membawa dua gelas kopi hangat dan beberapa potong jenis kue basah di piring lalu menaruhnya di atas meja depan sofa di mana Bobby duduk dengan sahabatnya itu.“Silahkan diminum dan dicicipi Tuan,” tawar wanita setengah baya itu.“Makasih Bi Asih,” ucap Bobby diiringi senyum ramahnya, wanita setengah baya yang dipanggil Bi Asih itu balas tersenyum kemudian pamitan untuk kembali ke lantai bawah untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai pembantu di rumah mewah itu.“Emangnya tadi dari rumah kamu rencananya mau ke mana Bob?” tanya pria yang duduk di samping Bobby itu.“Aku nggak dari rumah Ray melainkan dari hotel,

  • Gairah Liar Sang Presdir   Bab 8. Wanita Muda Di Mall

    Sekitar jam 8 pagi Bobby terbangun dari tidurnya di ranjang di kamar hotel tempat ia menginap dan bercinta dengan Dina tadi malam, dengan hanya mengenakan celana pendek ia berjalan menuju kamar mandi. Setelah menyalakan air hangat ke dalam bathtup yang tersedia di kamar mandi itu, Bobby pun merendam tubuhnya berbaring di bathtup itu dengan sesekali memejamkan mata.Air hangat di bathtup itu benar-benar membuat tubuhnya nyaman dan terasa segar kembali, cukup lama ia berada di sana hingga akhirnya menyudahi mandinya dan mengenakan pakaian ganti yang telah ia persiapkan dari rumah kemarin sebelum ke kantor dan menginap di hotel itu.Bobby meraih ponselnya yang ada di meja di sisi ranjang lalu melakukan panggilan, seseorang yang dihubungi itu langsung mengangkatnya.“Hallo, selamat pagi Pak.”“Pagi, jemput aku sekarang ya?” pinta Bobby.“Baik Pak, saya akan segera ke sana,” ujar sosok yang dihubungi itu lalu Bobby mengakhiri panggilan di ponselnya.Tak beberapa lama setelah chek out dan be

  • Gairah Liar Sang Presdir   Bab 7. Wanita 500 Ribuan

    Sekitar jam 10 malam sebuah mobil mewah jenis Alphard memasuki halaman sebuah hotel di kawasan Kota Jakarta, sosok pria tampan bertubuh atletis turun kemudian mobil mewah itupun memutar balik meninggalkan kawasan hotel itu.Pria tampan itu melangkah ke lobi lalu masuk menghampiri resepsionis memesan sebuah kamar, setelah menerima key card ia pun menuju kamar yang dipesan. Langkah kakinya sedikit sempoyongan dan sesekali pria itu nampak meraba kepalanya sendiri yang terasa agak berat.Sepertinya pria itu sebelum menuju hotel meneguk minuman beralkohol di sebuah bar, atau tempat yang juga menyediakan minuman-minuman mengandung alkohol lainnya. Begitu masuk ke kamar ia langsung merebahkan diri di ranjang, entah sadar atau memang sengaja sepatu yang ia kenakan tak dibukanya terlebih dahulu.Tak berselang lama ponsel di saku celananya berbunyi, pria yang berbaring di ranjang kamar hotel itupun mengangkatnya.“Hallo Dina, kamu udah nyampai di hotel ini ya?”“Udah Om, nih aku di depan pintu

  • Gairah Liar Sang Presdir   Bab 6. Muncul Keraguan

    “Tapi usiaku dan Mas Bobby terpaut sangat jauh, apakah nanti tak jadi masalah bagi Papi dan Mami? Karena siapa tahu saja akan dipandang tidak baik oleh para tamu undangan, di hari pernikahan kami nanti.”Pak Haris dan Bu Widya sama-sama tersenyum mendengar perkataan Aulia itu, Pak Haris memberi isyarat pada istrinya agar dia saja yang menanggapi.“Aulia, Mami dan Papimu sudah tahu sebelumnya bahwa Bobby saat ini telah berusia 38 tahun sementara kamu tahun ini genap 23 tahun. Akan tetapi menurut pandangan kami Bobby masih kelihatan muda, orang-orang pasti takan menyangka usianya hampir 40 tahun. Bukankah begitu Mas?”Pak Haris mengangguk saat diminta tanggapan oleh Bu Widya.“Benar Aulia, kalaupun nanti ada yang kurang setuju atas perbedaan usia kalian takan berparuh bagi Papi. Justru kami berpandangan sosok Bobby yang jauh lebih dewasa akan dapat membimbingmu dalam berumah tangga nantinya, sekarang yang ingin kami dengar keputusan dari kamu bersedia tidaknya dijodohkan dengannya?”Pak

  • Gairah Liar Sang Presdir   Bab 5. Perjodohan

    “Untuk mempererat hubungan keluarga besar kita, maka kami memutuskan akan menjodohkan Bobby dengan Aulia.”Terperanjatlah Bobby begitu pula Aulia mendengar penuturan dari Pak Haris itu, mereka berdua tentu saja tak menyangka jika kedua orang tua mereka telah memiliki rencana sebelumnya untuk menjodohkan mereka.Baik Bobby maupun Aulia tak berani bersuara meskipun mereka sama-sama ingin menyampaikan sesuatu atas pernyataan dari Pak Haris itu, karena tak satupun di antara mereka menanggapi Pak Azhar kemudian bicara.“Benar apa yang dikatakan Haris, dengan dijodohkannya Bobby dengan Aulia maka hubungan kekeluargaan kita semakin erat. Bagaimana menurutmu Bobby?”Ditanya seperti itu Bobby pun tersentak dan tak tahu harus menjawab bagaimana, ia kemudian berucap sekenanya saja.“Terserah Papa dan Om Haris, aku ngikut aja.”Pak Azhar pun tersenyum mendengar jawaban dari putranya, lalu ia alihkan pandangan seraya bertanya pada Aulia.“Bagaimana dengan kamu, Aulia?”Aulia tak menjawab, ia arahk

  • Gairah Liar Sang Presdir   Bab 4. Tak Bisa Move On

    Setelah dirasa cukup tenang dengan menarik napasnya, Bobby pun bersuara.“Aku memang sedang ada masalah Ma, tapi masalah yang terjadi itu bukan di tempat kerja melainkan dengan Friska..”Bobby hentikan bicaranya, hal itu tentu membuat Bu Andini makin penasaran.“Masalah dengan Friska?!”Bobby mengangguk lemah, tatapannya jauh mengarah ke depan teras penuh kehampaan.“Coba ceritakan sama Mama, ada masalah apa kamu dengan Friska?”Pinta Bu Andini, kembali Bobby menarik napasnya dalam-dalam.“Aku dikhianati Friska Ma, dia kabur menikah dengan pria lain..”Bu Andini sangat terkejut tak percaya lalu memotong bicaranya Bobby.“Apa..? Friska menikah dengan pria lain?! Nggak mungkin, bukankah selama ini hubungan kalian baik-baik saja?”Bobby terdengar mendengus napasnya yang terasa berat, ia melanjutkan bicaranya dengan tatapan masih ke arah depan.“Kenyataan yang terjadi memang begitu Ma, tadi siang saat aku ingin mengajaknya makan siang bareng dan menelponnya nomornya nggak aktif. Lalu aku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status