Masuk“Tapi usiaku dan Mas Bobby terpaut sangat jauh, apakah nanti tak jadi masalah bagi Papi dan Mami? Karena siapa tahu saja akan dipandang tidak baik oleh para tamu undangan, di hari pernikahan kami nanti.”
Pak Haris dan Bu Widya sama-sama tersenyum mendengar perkataan Aulia itu, Pak Haris memberi isyarat pada istrinya agar dia saja yang menanggapi.
“Aulia, Mami dan Papimu sudah tahu sebelumnya bahwa Bobby saat ini telah berusia 38 tahun sementara kamu tahun ini genap 23 tahun. Akan tetapi menurut pandangan kami Bobby masih kelihatan muda, orang-orang pasti takan menyangka usianya hampir 40 tahun. Bukankah begitu Mas?”
Pak Haris mengangguk saat diminta tanggapan oleh Bu Widya.
“Benar Aulia, kalaupun nanti ada yang kurang setuju atas perbedaan usia kalian takan berparuh bagi Papi. Justru kami berpandangan sosok Bobby yang jauh lebih dewasa akan dapat membimbingmu dalam berumah tangga nantinya, sekarang yang ingin kami dengar keputusan dari kamu bersedia tidaknya dijodohkan dengannya?”
Pak Haris menambahkan, seiring dengan Bu Widya tersenyum Aulia pun menjawab.
“Baik Pi, Mi. Aku bersedia menerima perjodohan ini, akan tetapi dengan satu syarat jika nanti terjadi sesuatu yang tidak mengenakan atas rumah tangga kami jangan salahkan aku dan juga Mas Bobby.”
Kali ini Bu Widya kembali tersenyum beriringan dengan Pak Haris mendengar jawaban dari putri bungsu mereka itu, Bu Widya pun menanggapi.
“Hemmm, kami tentu tidak akan menyalahkan siapa-siapa nantinya kalaupun ada riak-riak atau permasalahan dalam rumah tangga kalian. Dalam membina rumah tangga pasti akan ada masalah yang muncul, di situlah kalian dituntut untuk mencari penyelesaiannya secara dewasa dan Mami yakin Bobby akan dapat menyelesaikan segala permasalahan itu nantinya.”
Obrolan mereka hanya sampai di situ, setelah selesai makan siang Pak Haris dan Bu Widya menuju teras rumah duduk santai sembari menikmati udara segar sedangkan Aulia ke lantai atas di mana di sana terdapat kamar yang selama ini ia tempati di rumah mewah milik kedua orang tuanya itu.
******
Tak terasa seminggupun berlalu, pagi itu tepatnya hari minggu juga Bobby dan keluarga kembali diundang datang ke rumah Pak Haris. Hal yang dibahas dalam pertemuan dua keluarga itu terpusat pada perjodohan Bobby dan Aulia yang telah menemui kata sepakat antara kedua belah pihak, saat itu baik Bobby maupun Aulia sama-sama nyaris tak ikut bicara selain menanggapi dengan isyarat tubuh seperti mengangguk dan tersenyum.
Dalam pembicaraan antara dua keluarga besar itu, Pak Haris dan Pak Azhar lah yang mendominasi. Mulai dari menetapkan hari pertunangan hingga pernikahan putra-putri mereka, Bobby dan Aulia pun mengikut saja semua keputusan kedua orang tua mereka itu.
Sekembalinya dari rumah Pak Haris barulah Bobby seperti lebih leluasa berbicara saat diajak ngobrol oleh Papa dan Mamanya di ruangan depan, itu terlihat sekali dari sikapnya yang lebih santai dibandingkan ketika berada di ruangan tamu di rumah Pak Haris tadi tampak kaku dan seakan sungkan untuk ikut bersuara.
“Bobby, kamu dengar sendirikan tadi semua yang dikatakan calon Papi Mertuamu itu? Mama dan Papamu sangat senang, karena pastinya nanti kehidupanmu akan jauh lebih baik setelah menikah dengan Aulia.”
Bu Andini yang mengawali obrolan di ruangan depan rumah mereka itu Pak Haris terlihat menganggukan kepala diiringi senyumnya, iapun menyambung perkataan istrinya itu.
“Benar Bob, selain kamu akan diangkat menjadi Presdir di salah satu perusahaan milik Papi Aulia kamu juga akan menempati rumah baru dan megah yang dihadiahkan Haris kepada kalian nantinya setelah menikah.”
Raut wajah Bobby tak menampakan kegembiraan sedikitpun meskipun pada kenyataannya dia memang mendengar sendiri tadi Pak Haris mengatakan apa yang baru saja disampaikan Papanya itu, dengan tak begitu bersemangat iapun menanggapi.
“Lalu bagaimana dengan pekerjaanku di kantor perusahaan sepeda motor, Pa?”
Ditanya seperti itu Pak Azhar malah tertawa kecil dan geleng-geleng kepala, dengan masih tertawa merasa lucu iapun menanggapi pertanyaan Bobby itu.
“Bobby.. Bobby, pertanyaanmu itu aneh-aneh aja. Setelah menikah tentu saja kamu resign dari kantor tempat kamu bekerja sekarang, lalu menjadi Presdir sekaligus mengelola perusahaan yang dipercayakan Haris itu padamu.”
Meskipun Papanya berkata begitu diiringi tawa lucunya, Bobby masih saja tak mengerti dan merasa tidak enak.
“Tapi aku kan sudah lama bekerja di sana Pa, nggak enak juga tiba-tiba resign apalagi Pak Hutama memberi kepercayaan kepadaku untuk memimpin para karyawan teknisi.”
Pak Azhar tersenyum lalu berkata.
“Kalau masalah itu kamu tak perlu kuatir, Papa yang akan bicara pada Pak Hutama tentang alasanmu untuk resign dari kantor. Papa yakin beliau akan mengerti bahkan mendukungmu, karena memang menjadi seorang Presdir di salah satu perusahaan besar di kota ini tidaklah gampang. Kamu seharusnya bersyukur di samping Haris mempercayakan salah satu perusahaannya untuk kamu pimpin, kamu juga dapat memperistri putri bungsunya yang sangat cantik dan berprofesi sebagai seorang dokter.”
Entah apa yang ada dipikiran Bobby saat itu, dari raut wajahnya sama sekali tak menunjukan keceriaan padahal semua yang dijelaskan Papanya benar adanya jika Bobby sangat beruntung dijodohkan dengan putri bungsu Pak Haris itu.
Sampai malam tiba saat waktunya beristirahat, Bobby yang biasanya sudah memejamkan keduanya matanya malam itu nampak gelisah.
Berbagai hal berkecamuk dalam pikirannya, ada semacam keragu-raguan muncul di dirinya takan bisa membahagiakan Aulia nanti karena memang pernikahan atas dasar perjodohan tentu tak berlandaskan cinta.
Hal itu dapat dimaklumi siapapun orangnya yang dijodohkan tanpa saling kenal sebelumnya dalam waktu yang cukup lama, tentu akan merasa canggung dan tak percaya diri.
Terlebih bagi Bobby sejak mantan kekasihnya yang bernama Friska itu menghianatinya, sikapnya pada para wanita terkesan dingin dan sulit untuk membuka hati. Rasa percaya pada seorang wanita benar-benar telah hilang, bahkan akibat patah hati oleh Friska muncul rasa dendam pada para wanita terutama yang ia anggap sikap wanita itu sama dengan mantan kekasihnya itu.
Lantas bagaimana Bobby maupun Aulia mengarungi mahligai rumah tangga mereka tanpa dilandasi cinta karena pernikahan mereka atas dasar perjodohan itu? Apakah bertahan lama atau pernikahan mereka hanya seumur jagung?
Bobby merasa sedikit lega saat henyakan pantatnya di sofa empuk di ruangan yang terhubung langsung dengan teras di lantai atas rumah mewah milik sahabatnya itu, hatinya sejak di mall tadi seakan terbakar karena melihat sosok wanita yang dia anggap telah menghancurkan hidupnya.Tak beberapa lama Bobby duduk, wanita setengah baya yang tadi mengantarnya ke ruangan itu datang kembali membawa dua gelas kopi hangat dan beberapa potong jenis kue basah di piring lalu menaruhnya di atas meja depan sofa di mana Bobby duduk dengan sahabatnya itu.“Silahkan diminum dan dicicipi Tuan,” tawar wanita setengah baya itu.“Makasih Bi Asih,” ucap Bobby diiringi senyum ramahnya, wanita setengah baya yang dipanggil Bi Asih itu balas tersenyum kemudian pamitan untuk kembali ke lantai bawah untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai pembantu di rumah mewah itu.“Emangnya tadi dari rumah kamu rencananya mau ke mana Bob?” tanya pria yang duduk di samping Bobby itu.“Aku nggak dari rumah Ray melainkan dari hotel,
Sekitar jam 8 pagi Bobby terbangun dari tidurnya di ranjang di kamar hotel tempat ia menginap dan bercinta dengan Dina tadi malam, dengan hanya mengenakan celana pendek ia berjalan menuju kamar mandi. Setelah menyalakan air hangat ke dalam bathtup yang tersedia di kamar mandi itu, Bobby pun merendam tubuhnya berbaring di bathtup itu dengan sesekali memejamkan mata.Air hangat di bathtup itu benar-benar membuat tubuhnya nyaman dan terasa segar kembali, cukup lama ia berada di sana hingga akhirnya menyudahi mandinya dan mengenakan pakaian ganti yang telah ia persiapkan dari rumah kemarin sebelum ke kantor dan menginap di hotel itu.Bobby meraih ponselnya yang ada di meja di sisi ranjang lalu melakukan panggilan, seseorang yang dihubungi itu langsung mengangkatnya.“Hallo, selamat pagi Pak.”“Pagi, jemput aku sekarang ya?” pinta Bobby.“Baik Pak, saya akan segera ke sana,” ujar sosok yang dihubungi itu lalu Bobby mengakhiri panggilan di ponselnya.Tak beberapa lama setelah chek out dan be
Sekitar jam 10 malam sebuah mobil mewah jenis Alphard memasuki halaman sebuah hotel di kawasan Kota Jakarta, sosok pria tampan bertubuh atletis turun kemudian mobil mewah itupun memutar balik meninggalkan kawasan hotel itu.Pria tampan itu melangkah ke lobi lalu masuk menghampiri resepsionis memesan sebuah kamar, setelah menerima key card ia pun menuju kamar yang dipesan. Langkah kakinya sedikit sempoyongan dan sesekali pria itu nampak meraba kepalanya sendiri yang terasa agak berat.Sepertinya pria itu sebelum menuju hotel meneguk minuman beralkohol di sebuah bar, atau tempat yang juga menyediakan minuman-minuman mengandung alkohol lainnya. Begitu masuk ke kamar ia langsung merebahkan diri di ranjang, entah sadar atau memang sengaja sepatu yang ia kenakan tak dibukanya terlebih dahulu.Tak berselang lama ponsel di saku celananya berbunyi, pria yang berbaring di ranjang kamar hotel itupun mengangkatnya.“Hallo Dina, kamu udah nyampai di hotel ini ya?”“Udah Om, nih aku di depan pintu
“Tapi usiaku dan Mas Bobby terpaut sangat jauh, apakah nanti tak jadi masalah bagi Papi dan Mami? Karena siapa tahu saja akan dipandang tidak baik oleh para tamu undangan, di hari pernikahan kami nanti.”Pak Haris dan Bu Widya sama-sama tersenyum mendengar perkataan Aulia itu, Pak Haris memberi isyarat pada istrinya agar dia saja yang menanggapi.“Aulia, Mami dan Papimu sudah tahu sebelumnya bahwa Bobby saat ini telah berusia 38 tahun sementara kamu tahun ini genap 23 tahun. Akan tetapi menurut pandangan kami Bobby masih kelihatan muda, orang-orang pasti takan menyangka usianya hampir 40 tahun. Bukankah begitu Mas?”Pak Haris mengangguk saat diminta tanggapan oleh Bu Widya.“Benar Aulia, kalaupun nanti ada yang kurang setuju atas perbedaan usia kalian takan berparuh bagi Papi. Justru kami berpandangan sosok Bobby yang jauh lebih dewasa akan dapat membimbingmu dalam berumah tangga nantinya, sekarang yang ingin kami dengar keputusan dari kamu bersedia tidaknya dijodohkan dengannya?”Pak
“Untuk mempererat hubungan keluarga besar kita, maka kami memutuskan akan menjodohkan Bobby dengan Aulia.”Terperanjatlah Bobby begitu pula Aulia mendengar penuturan dari Pak Haris itu, mereka berdua tentu saja tak menyangka jika kedua orang tua mereka telah memiliki rencana sebelumnya untuk menjodohkan mereka.Baik Bobby maupun Aulia tak berani bersuara meskipun mereka sama-sama ingin menyampaikan sesuatu atas pernyataan dari Pak Haris itu, karena tak satupun di antara mereka menanggapi Pak Azhar kemudian bicara.“Benar apa yang dikatakan Haris, dengan dijodohkannya Bobby dengan Aulia maka hubungan kekeluargaan kita semakin erat. Bagaimana menurutmu Bobby?”Ditanya seperti itu Bobby pun tersentak dan tak tahu harus menjawab bagaimana, ia kemudian berucap sekenanya saja.“Terserah Papa dan Om Haris, aku ngikut aja.”Pak Azhar pun tersenyum mendengar jawaban dari putranya, lalu ia alihkan pandangan seraya bertanya pada Aulia.“Bagaimana dengan kamu, Aulia?”Aulia tak menjawab, ia arahk
Setelah dirasa cukup tenang dengan menarik napasnya, Bobby pun bersuara.“Aku memang sedang ada masalah Ma, tapi masalah yang terjadi itu bukan di tempat kerja melainkan dengan Friska..”Bobby hentikan bicaranya, hal itu tentu membuat Bu Andini makin penasaran.“Masalah dengan Friska?!”Bobby mengangguk lemah, tatapannya jauh mengarah ke depan teras penuh kehampaan.“Coba ceritakan sama Mama, ada masalah apa kamu dengan Friska?”Pinta Bu Andini, kembali Bobby menarik napasnya dalam-dalam.“Aku dikhianati Friska Ma, dia kabur menikah dengan pria lain..”Bu Andini sangat terkejut tak percaya lalu memotong bicaranya Bobby.“Apa..? Friska menikah dengan pria lain?! Nggak mungkin, bukankah selama ini hubungan kalian baik-baik saja?”Bobby terdengar mendengus napasnya yang terasa berat, ia melanjutkan bicaranya dengan tatapan masih ke arah depan.“Kenyataan yang terjadi memang begitu Ma, tadi siang saat aku ingin mengajaknya makan siang bareng dan menelponnya nomornya nggak aktif. Lalu aku







