Share

Bab 5. Noda Merah

Author: Indira Kirana
last update Last Updated: 2025-10-28 11:11:11

Disebuah toko bunga, Serena tengah memilih bunga kesukaannya. Bunga lili pink dan putih, Mawar merah dan sebagian berwarna kuning.

"Oh my god, Wangi sekali" ucapnya dengan mata terpejam. Seolah tak bisa berhenti mencium aroma bunga di hadapannya.

"Apa Nyonya Serena datang sendiri? Dimana suamimu?"

Serena segera menoleh ke samping, Seperti mendengar sebuah sindiran halus. Matanya terbuka lebih lebar, "Alex? sedang apa?"

Serena menatap ke arah mobil yang terparkir, disana, tepat di kursi penumpang paling depan. Ada siluet wanita dengan rambut tergerai tengah duduk anggun menunggu Alex.

"Mau beli bunga?" Lagi tanya Serena saat pertanyaannya tak kunjung dijawab.

Alex mengangguk sebagai Jawaban, "Untuk pacarku" jawabnya singkat.

"Oh!" Serena bergumam pelan. Sekali lagi matanya melirik ke arah mobil, tepat ke arah wanita itu.

"Kasihan sekali nasibmu, Ruby" Serena berkata dalam hati, Gadis yang duduk di mobil Alex bukanlah Ruby, melainkan gadis lain.

Serena masih ingat betul bagaimana Ruby dan Alex sering bermain Golf bersamanya. Mereka terkenal romantis dan penyayang, namun pagi ini Alex membawa wanita lain di mobilnya? sungguh mengheranoan.

"Ngomong-ngomong, suamimu kemarin malam tidak pulang?" Tanya Alex tiba-tiba, suaranya mengandung bisikan rahasia.

Wajah Serena seketika berubah pucat, matanya membulat penuh ketakutan yang berusaha disembunyikan. "Darimana kamu tahu kalau Nicklas tidak pulang? Apa dia pergi ke Club?"

Alex dengan cepat menggeleng, "Bukan begitu, Aku hanya menebak"

"Dia lembur di kantor," jawab Serena kesal, "Tapi dia tidak sendirian. Ada beberapa staf ahli, katanya, bahas proyek pembangunan Mall."

Alex mengernyit, senyumnya tiba-tiba melebar seperti menyimpan petaka. Tangannya erat menggenggam sebatang mawar merah, seolah bunga itu menjadi senjata rahasia yang masih tersimpan rapat. "Staf ahli? yang benar? Apa Nicklas tidak membohongimu?"

Alex mencondongkan badan mendekat, matanya menusuk Serena seolah ingin menggali rahasia lebih dalam. "Coba lihat sekelilingmu. Aku hanya merasa kasihan, itu saja."

Serena terpaku, alisnya mengerut tajam, ada kilat kemarahan. “Apa maksudnya? Apa dia sok-sokan jadi cenayang?” pikirnya dengan getir.

Serena memilih Diam, lanjut memilih bunga kesukaannya, sementara Alex melangkah ke kasir, senyum liciknya tak pernah surut di wajahnya.

Sekian menit berlalu, Serena mendengar langkah Alex kembali mendekat jadi Ia segera mendongak, "Sudah mau pulang?" tanya Serena dengan senyum menawan.

Akan Ia buktikan kepada Alex bahwa kehidupan nya baik-baik saja.

"Nyonya Serena, Ini untukmu!"

Serena menatap setangkai mawar yang sudah layu di tangan Alex, tak mengerti maksud dan tujuan pria itu memberinya setangkai mawar layu, "Ini untukmu," katanya kembali mengulang.

"Tidak perlu!"

"Ini sebagai tanda perkenalan kita, bukankah selama ini kamu cukup dekat dengan Ruby?"

Serena menatap mawar layu itu dengan pandangan kesal, "Jangankan hanya setangkai mawar layu, Aku bisa membeli semua bunga yang ada di tempat ini bahkan tokonya sekalipun. Simpan saja mawar itu untuk selingkuhanmu," Jawab Serena dengan nada kesal.

"Aku peringatkan sekali lagi, sebelum kau terluka lebih dalam nyonya Serena. Jaga kandunganmu sebaik mungkin, ya!"

Alex dengan angkuh, mengenakan kacamata hitam yang menempel di hidung mancungnya dan meninggalkan Serena begitu saja.

Hati Serena terbakar, Belum pernah ada pria yang memperlakukannya sejahat itu. Mengirimkan bunga layu, seperti menghinanya tanpa perlu berkata apapun.

"Apa dia kira aku tidak mampu membeli bunga segar sendiri?" bisiknya penuh dendam, rahang mengeras menahan amarah yang menyala-nyala. “Ini belum berakhir, Alex. Tunggu saja balasanku.”

****

****

Sinar matahari berusaha menerobos ruangan bernuansa Monocrom dengan Tirai yang menjuntai di sekelilingnya.

Tapi ruangan itu terlalu gelap, Tirainya terlalu pekat. Tak ada suara ayam atau suara burung yang mampu menembus bangunan lantai atas di sebuah Hunian mewah tengah kota.

Ruby membuka matanya perlahan, pandangannya masih buram oleh sisa kantuk selaman.

Tubuhnya terasa remuk, Otot-otot kakinya kaku dan berat ketika mencoba di gerakkan, namun sesuatu yang hangat dan kuat membungkus pinggangnya, menahan setiap gerakan.

"Arghh!" Ruby bergumam pelan, sakit itu seolah meremukkan seluruh tubuhnya

Dia menoleh perlahan ke samping, dan di sana, Nicklas. Dengan wajah setengah tertidur namun penuh kepuasan, masih melingkarkan tangannya yang kekar di sekitar tubuhnya.

Bau parfum yang khas dan hangat menyelimuti ruangan gelap tersebut, menguatkan kesadaran Ruby bahwa malam yang baru saja berlalu bukan sekadar mimpi.

Jantung Ruby berdegup kencang, sedikit ketakutan menyelinap di dalam dadanya. Dia menelan ludah kasar, mencoba merangkai kembali ingatan yang samar-samar, tentang apa yang terjadi, tentang bagaimana dirinya bisa terjebak di kamar Penthouse yang mewah, dengan Nicklas yang tak pernah dia bayangkan akan sedekat ini.

"Sudah bangun?" Nicklas membuka mata saat Ruby berusaha melepas pelukannya yang erat.

"Aku mau ke kamar mandi,"

"Perlu aku antar?"

"Aku bisa sendiri, lebih baik kamu lanjutkan tidur!" Ruby bergerak perlahan, Memaksa tubuhnya untuk turun dari ranjang tinggi itu.

saat hendak berjalan, Ruby terdiam ketika Nicklas tampak enggan melepas genggaman tangannya. "Apapun yang terjadi setelah ini, Jangan ingkari Janjimu! Jangan berubah pikiran hanya karena Serena"

Ruby mengangguk pelan, "Aku hanya menunggu janjimu kemarin,"

"Aku tidak akan pernah mengingkari itu"

Nicklas melepas tangan Ruby dan membiarkan wanitanya pergi ke kamar mandi. Tapi....Cara berjalan Ruby membuatnya tersentak.

Nicklas memeriksa tempat Ruby berbaring, Ada jejak kemerahan yang tertinggal disana. Mengering, bersama dengan sisa percintaan mereka semalam.

Ini Gila....

"Jadi dia masih gadis?"

Bahkan saat bercinta dengan Serena, Nicklas tak melihat jejak seperti itu, Dan seperti dugaannya, Serena sering gonta-ganti pacar selama ini.

Nicklas terdiam sesaat, Masih gadis? Apa Ia baru saja merenggut kesucian cinta pertamanya? Apa Ruby selama ini begitu terjaga?

Itu berarti, Alex tak pernah sekalipun menyentuhnya, Dan Ruby juga begitu menjaga dirinya dari pergaulan bebas.

Drtttt

Drtttt...

Nicklas mengalihkan pandangan ke arah ponsel yang bergetar, Lagi-lagi panggilan dari Serena yang membuatnya terpaksa harus bangun dari tidurnya.

"Kenapa?"

"Sayang, kamu dimana? Apa kamu lupa hari ini ada Yoga hamil?"

"Sekarang jam berapa?"

"Jam 10"

Mata Nicklas menutup perlahan, "Undur semua Jadwal hari ini, Aku harus segera menuju ke lokasi proyek untuk peletakan batu pertama"

"Kamu bercanda? Aku sudah mengundur Jadwalnya dari seminggu yang lalu" jawab Serena kesal, "Aku sudah bersiap menuju ke kantor, Tunggu sebentar, aku bawakan Sarapan"

"Tidak perlu!" Jawab Nicklas cepat, "Aku sudah bersiap untuk pergi"

"Sayang tolonglah, sampai kapan kamu memperlakukan aku seperti ini?" Suara Serena terisak, Nicklas bisa mendengar dengan jelas istrinya itu menangis di seberang telepon.

"Serena, Jangan seperti anak kecil!"

"Ini anakmu, Nick!!" Jawab Serena kesal.

Wajah Nicklas mengeras, Rahangnya mengatup rapat, "Sudah puas? bukankah malam itu, Kamu yang menjebakku dengan Minuman sialan itu?"

*

*

*

Bersambung....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Liar Suami Sahabatku   Bab 26. Tespek garis dua

    Uap hangat memenuhi ruangan kecil itu saat Ruby berdiri di depan cermin, tubuhnya masih basah oleh air yang baru saja mengalir dari shower. Nicklas berdiri di belakangnya, tangan pria itu perlahan menyentuh tali swimsuit merah yang membalut tubuh Ruby. Dengan gerakan lembut namun penuh maksud, ia mulai melepas satu tali, kemudian tali yang lain, sambil matanya tak lepas menatap lekuk tubuh wanita di hadapannya. “Sayang, tubuhmu membuatku candu,” bisik Nicklas dengan suara serak, napasnya hangat menyentuh leher Ruby. Ruby menoleh sekilas, menahan malu sekaligus geli. “Jangan nakal!” jawabnya sambil tersenyum, mencoba mengusir rasa grogi yang tiba-tiba menyelimuti. Namun, tangan Nicklas tidak berhenti. Ia menangkup milik Ruby dengan perlahan, matanya memicing penuh perhatian. “Kamu tahu, ini... ini kesukaanku” ucapnya sambil mengerutkan kening, merasa ada sesuatu yang berbeda. "Keras sekali"Ruby menggigit bibir bawahnya, merasakan sensasi aneh bercampur sakit ketika tangan Nicklas

  • Gairah Liar Suami Sahabatku   Bab 25. Swimsuit Merah Menggoda

    Ruby mengambang di kolam renang lantai atas penthouse mewahnya , air yang jernih memantulkan sinar matahari senja yang mulai meredup."Nona, silahkan dinikmati Jus Jeruknya sebelum esnya mencair" ucap pelayan pribadinya yang baru saja meletakkan minuman di atas meja kaca. Ruby berenang menyusuri kolam yang luas, Air di dalamnya menyiprat keluar saat wanita itu melempar tubuhnya dari sisi kolam. "Sebentar mbak, nanggung" ucapnya, melanjutkan aktifitas berenang. "Sebentar nona, boleh saya minta waktunya untuk bicara?" ucap pelayan pribadinya dengan wajah cemas, seolah ada suatu hal yang membuatnya Khawatir. Gerakan Ruby semakin cepat, Ia berenang ke tepian kolam dimana pelayan pribadinya itu berdiri dengan wajah tegang. "Boleh minta ambilkan handuk?"pinta Ruby yang baru saja mengangkat wajah dari dalam kolam. "Siap nona, saya akan ambilkan handuknya sekarang"Setelah menerima handuk dari tangan pelayan, Ruby melilitkan handuk itu di pinggangnya yang ramping. Menyembunyikan lekuk t

  • Gairah Liar Suami Sahabatku   Bab 24. Akhiri Segalanya

    Nicklas melangkah cepat ke arah walk-in closet, suara langkahnya bergema di lorong sunyi. "S-sayang tunggu!" Serena mengikuti langkah suaminya yang lebar dengan berlari kecil. "Kita harus bicara dulu!" "Berisik!" Nicklas membentak, lalu tangannya meraih gagang pintu, "sudah aku katakan, Diam dulu!" Saat membuka pintu, matanya langsung tertuju pada serpihan botol parfum yang berserakan di lantai marmer, Pecahan kaca itu berkilauan, namun alisnya mengkerut, menandakan keraguan mulai menyelinap. "Siapa yang menjatuhkan botol itu?" “Sayang, biar aku panggilkan pelayan untuk membersihkan pecahannya, mungkin aku salah meletakkan parfum itu, terlalu di pinggir” suara Serena terdengar lembut, hampir terdengar seperti upaya untuk menenangkan Nicklas. "Jatuh sendiri, begitu?" Nicklas tampak tak peduli. Tangannya yang dipegang oleh Serena terhempas kuat, "berhenti terlihat ketakutan seperti itu, Serena! Aku tidak akan membunuhmu!" Serena mengusap tangannya kasar, hampir saja Ni

  • Gairah Liar Suami Sahabatku   Bab 23. Kain Segitiga

    "T-tuan, anda disini?" Pelayan pribadi Serena tampak gugup, tak menyngka Nicklas langsung naik ke lantai dua dengan wajah dingin. "Dimana serena?", Pelayan itu berdiri kaku di depan pintu, seolah menghalangi langkah Nicklas untuk masuk ke kamar utama. Pelayan itu mengusap-usap tangan yang gemetar, berusaha merangkai kata dengan suara pelan, "Em, begini, Tuan... " "Minggir!" Seru Nicklas dengan mulut terkatup rapat, "Sebentar tuan, saya--" "Aku tidak butuh penjelasanmu" "Begini tuan, nyonya Serena ada di dalam." Matanya menghindar dari tatapan tajam Nicklas yang penuh tekanan. "Minggir!" desis Nicklas, suaranya dingin dan penuh tuntutan. "Maaf Tuan, saya takut, karena sepertinya nyonya sedang tidur" jawab pelayan itu akhirnya, napasnya tersengal menahan takut. Tanpa aba-aba, Nicklas menyenggol lengan pelayan itu dengan kasar, lalu melangkah masuk ke kamar. Pintu didorong dengan keras, Brak! Suaranya menggema, Serena yang sedang duduk di atas tempat tid

  • Gairah Liar Suami Sahabatku   Bab 22. Lingerie Serena

    Alex menatap dingin ke arah lukisan tua yang menggantung di dinding ruang kerjanya, bayangan api dari kebakaran masih membekas di pikirannya. Tapi kini, seolah ada angin segar yang berhembus di ruang kerjanya setelah hampir sebulan rasanya kehilangan arah. Di depannya, seorang bawahan dengan gugup membuka sebuah map dan menyerahkan beberapa cetakan foto hasil tangkapan CCTV sekitar klub malam tempat kejadian."Ini bukti fotonya, tuan. Hasilnya sudah kami perjelas, bisa tuan lihat, pakaian wanita itu persis seperti pakaian terakhir yang dikenakan nona Ruby" Foto pertama menunjukkan kepulan asap tebal mengepul, mengaburkan pandangan. Namun foto kedua memperlihatkan sosok perempuan yang terkulai lemas dalam gendongan, digendong keluar oleh seorang pria bertubuh tinggi dan gagah, mengenakan setelan hitam dan kacamata gelap. Alex mengerutkan alisnya tajam, matanya seolah mencoba mengumpulkan potongan teka-teki yang belum tersambung. “Jadi, Ruby sebenarnya masih hidup?” Alex memutar kur

  • Gairah Liar Suami Sahabatku   Bab 21. Tidur di Atas Pangkuan

    Ruby duduk dengan mata berbinar menatap panci hot pot yang mengepul di tengah meja. Aroma rempah yang harum menyebar, membuatnya tak sabar mencicipi kuah racikan Nicklas. "Kuahnya kelihatan lebih enak? Kamu kayaknya lebih pintar dari aku racik bumbunya," Bisiknya sambil tersenyum lebar. Nicklas mengambilkan sumpit, dan memasukkan beberapa slice daging ke dalam kuah, "Campuran cabai, jahe, dan sedikit kaldu ayam yang di rebus lama. Masakan kamu tadi kurang kaldunya" Ia mengaduk kuah dengan hati-hati, lalu menyodorkan sendok kecil berisi kuah hangat ke Ruby. Ruby mengambilnya dan menyeruput dengan perlahan. "Hmm, beneran enak! Gak nyangka kamu bisa bikin yang seenak ini." "Kalau begitu, nanti malam aku dapat hadiah?"Wajah Ruby ditekuk, "hadiah apa? Jangan macam-macam deh!""Kamu beneran naik berat badan sekarang, merasa nggak? Pipi kamu tambah chubby?"Gerakan tangan Ruby terhenti di atas panci hot pot, wajahnya sedikit berubah. "Aku juga belum datang bulan" Bisiknya dalam hati, "S

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status