Beranda / Romansa / Gairah Liar Suami Sahabatku / Bab 6. Bukti Rekaman CCTV

Share

Bab 6. Bukti Rekaman CCTV

Penulis: Indira Kirana
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-06 15:17:38

Dave berdiri tegak dengan setelan jas dan kemeja formal di lobi kantor, Pagi ini, wajah tampannya tampak tegang saat menyaksikan seorang wanita hamil turun dari mobil hitam bersama dua pengawal pribadinya.

Suasana lobi terasa berubah saat Serena menatapnya tajam, Wanita itu berjalan anggun dengan dagu terangkat.

"Selamat pagi nyonya, Serena!" Sapa pria itu dengan senyum ramah, badannya menunduk sedikit saat Serena berhenti di hadapannya.

"Dimana suamiku?" Mata Serena menatap tajam, satu tangannya menaikkan tali tas dengan tergesa-gesa.

Dave masih menundukkan kepala, "Tuan Nick sedang tidak ada di kantor, nyonya"

"Tutup mulutmu itu, Dave! Jangan pancing amarahku!"

"Saya berkata apa adanya" Dave mengangkat pandangan, "tuan Nicklas pagi ini ada jadwal meninjau proyek,"

Alis Serena mengkerut tajam, nafasnya terasa kian berat. Entah mengapa, akhir-akhir ini Nicklas seolah sengaja menjauh darinya.

Tapi bukannya pergi dari perusahaan, Serena menatap salah satu pengawal yang berdiri di belakangnya, "taruh bekalnya didalam mobil! Aku tidak butuh benda itu"

"Baik nyonya!" Ucap sang pengawal, patuh. Sambil mengambil alih kotak bekal dari tangan Serena.

"Dave, bawa aku masuk ke ruangan Nicklas"

"Tapi tuan Nicklas sedang tidak ada di dalam"

"Aku tidak peduli"

"B-baiklah" Ucap Dave pasrah pada akhirnya.

Dave mengekor di belakang Serena, wajahnya pucat dan beberapa bintik keringat mulai membanjiri dahi.

Entah kekacauan apa lagi yang akan Serena ciptakan, dan berakhir Ialah yang harus berurusan dengan kemarahan Nicklas.

Baru saja keduanya hendak masuk ke pintu lift....

"Astaga!" Dave hampir menabrak punggung Serena yang berhenti tanpa aba-aba.

"Dengarkan aku, Dave. Detik ini, aku adalah atasanmu, tidak ada ruang bagimu untuk menolak perintahku, paham!"

"Baik nyonya, sebisa mungkin saya akan patuhi perintah nyonya Serena"

Serena melipat kedua tangan di depan dada, "Serahkan rekaman CCTV sekarang juga!"

Dave tersentak kaget, bagaimana bisa Serena datang ke kantor secara tiba-tiba dan sekarang meminta rekaman CCTV?

"Saya tidak bisa menyerahkan rekaman CCTV tanpa ijin dari tuan Nicklas"

"Aku istrinya, Dave!"

"Maaf nyonya" Dave menundukkan kepala sebagai sinyal bahwa permintaan Serena tidak bisa ia turuti.

"Baiklah, aku telepon papa skarang juga, biar manusia sepertimu langsung berhadapan dengan papa"

Arthur? Bagaimana bisa Dave melawan Arthur? Bahkan sejauh ini, Nicklas pun masih tunduk dibawah kendali Arthur, pria yang memegang penuh kekuasaan di perusahaan Creed. Jika sampai Serena mengadu kepada Arthur, bisa-bisa ia kehilangan pekerjaan detik ini juga.

"Maaf nyonya, jangan lakukan itu. Baiklah, saya akan berikan rekaman CCTV yang nyonya inginkan"

Serena tersenyum licik, ia kembali memasukkan ponsel kedalam tas kecil yang bertengger di lengannya, "berikan aku rekaman CCTV dari lobi sampai ruangan suamiku, selama Nicklas lembur"

Dave menelan ludah kasar, kepalanya terasa berat untuk mengangguk, "baiklah, silahkan nyonya tunggu di ruangan Direktur, saya akan bawakan rekamannya kurang dari 20 menit"

"Aku hanya sanggup menunggu 10 menit"

"Baik nyonya"

Dave membalikkan badan sambil menahan amarahnya,bagaimanapun ia tak pernah suka dengan Serena dan segala tingkah laku wanita itu yang menyebalkan.

"Sialan"

****

***"

Sore itu, sinar matahari mulai merunduk, menciptakan bayangan di atas rumput hijau yang terawat. Serena melangkah sendirian diantara luasnya lapangan Golf, mencari kumpulan sahabatnya yang biasa bermain Golf di tempat itu.

Tak lama, Serena menangkap pemandangan Ruby bersama beberapa sahabatnya yang lain, tertawa ringan sambil menunggu giliran memukul bola.

Namun, suasana hatinya berubah saat mengingat rekaman CCTV pemberian Dave, Serena ingat betul. Ruby masuk ke dalam ruangan suaminya, sebuah tindakan yang tak pernah Serena duga akan terjadi.

Entah untuk urusan bisnis atau mungkin, urusan pribadi?

Wajahnya yang biasanya tenang kini memerah oleh amarah yang sulit ia sembunyikan. Dengan langkah cepat, Serena mendekati Ruby yang sedang beristirahat di bangku kayu tak jauh dari sana.

"Wah bumil, kangen main Golf?"

"Hay Cia.... Gimana kabar kamu?" Serena menyapa salah satu sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu, mereka berpelukan sekias dan saling melempar senyuman.

"Aku baik, beb. maaf kemarin acara pesta aku gak bisa datang, ibuku sakit dan dirawat di rumah sakit"

"Sekarang sudah sembuh?"

"Sudah, Ayo duduk sini! Sendirian aja?"

"Hm.. " Serena tersenyum paksa, "aku datang sendirian, kebetulan mau bicara dengan Ruby sebentar"

"Yaudah aku kesana ya, udah giliran nih"

Serena menganggukkan kepala lalu duduk di sebelah Ruby yang sedari tadi seolah tak melihat kehadirannya di tempat itu.

"Kamu masih marah dengan kejadian penamparan itu?" tanya Serena dengan nada dingin, suaranya bergetar menahan kesal yang membuncah.

Matanya menatap tajam ke arah Ruby, "aku ingin meminta maaf atas apa yang ibu mertuaku lakukan padamu, Ruby. Tolong maafkan sifatnya yang sedikit keras"

Ruby terlihat terkejut, raut wajahnya berubah bingung dan waspada. Ia mengalihkan pandangannya, mencoba menghindari tatapan Serena. "Hm, tidak. Lupakan saja, mungkin ibu mertuamu salah sasaran"

"Bisakah kamu menjelaskan sedikit hubungan masa lalu dengan keluarga Creed? maksudku, kamu adalah sahabatku Ruby, dan sekarang aku adalah menantu di keluarga Creed, apa hubungan kalian sedekat itu, dulu?" Serena menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan amarahnya yang hampir meledak. "Jangan buat aku bertanya dua kali," desaknya, suaranya kini mengandung ancaman terselubung.

Di dalam hati, ia berjuang menahan kekecewaan yang menggerogoti kepercayaan yang selama ini ia bangun.

Namun, di luar, ia hanya bisa menunjukkan wajah dingin dan sikap tegas, menunggu jawaban dan kejujuran dari sahabatnya.

"Aku tidak mengenal keluarga suamimu" jawab Ruby gelisah.

Bagaimana tidak? bahkan setengah jam yang lalu, yang mengantarnya ke tempat Golf adalah Nicklas. Bahkan pria itu juga memberinya ATM prioritas dan memenuhi segala keperluannya hanya dalam waktu 24 jam.

melihat kegelisahan di wajah Ruby, Serena jelas semakin percaya dengan segala bukti yang ada di depan mata.

ia sangat percaya bahwa suaminya dan Ruby sudah saling mengenal, atau bahkan lebih dari itu? memnayangkannya membuat dadanya semakin terbakar api cemburu.

"Tapi kenapa mama bilang kamulah penyebab papa lumpuh? Semuanya bukan sebuah kebetulan, Ruby. Aku hanya butuh kejujuranmu... Apa dulu, kamu punya hubungan dengan Nicklas?"

Ruby secepat kilat memandang Serena, kepalanya menggeleng sebagai jawaban, "jangan salah paham dulu!"

"Lalu bagaimana dengan rekaman CCTV yang aku punya? sepertinya, Pelakor sepertimu ingin mencoba masuk kembali dan merebut posisiku sebagai nyonya di keluarga Creed, apa benar begitu?"

Kedua alis Ruby mengkerut dalam, tangannya saling meremas satu sama lain, "apa maksudmu, Serena?"

"Jangan berpura-pura bodoh, Ruby! Apa yang dilakukan gadis gatal sepertimu dengan masuk ke ruangan suamiku saat jam kerja? Kamu bahkan berada di ruangan itu sampai sore, apa yang telah kalian lakukan didalam?"

"Kapan?"

Plak!!!!

*

*

*

Bersambung....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gairah Liar Suami Sahabatku   Bab 26. Tespek garis dua

    Uap hangat memenuhi ruangan kecil itu saat Ruby berdiri di depan cermin, tubuhnya masih basah oleh air yang baru saja mengalir dari shower. Nicklas berdiri di belakangnya, tangan pria itu perlahan menyentuh tali swimsuit merah yang membalut tubuh Ruby. Dengan gerakan lembut namun penuh maksud, ia mulai melepas satu tali, kemudian tali yang lain, sambil matanya tak lepas menatap lekuk tubuh wanita di hadapannya. “Sayang, tubuhmu membuatku candu,” bisik Nicklas dengan suara serak, napasnya hangat menyentuh leher Ruby. Ruby menoleh sekilas, menahan malu sekaligus geli. “Jangan nakal!” jawabnya sambil tersenyum, mencoba mengusir rasa grogi yang tiba-tiba menyelimuti. Namun, tangan Nicklas tidak berhenti. Ia menangkup milik Ruby dengan perlahan, matanya memicing penuh perhatian. “Kamu tahu, ini... ini kesukaanku” ucapnya sambil mengerutkan kening, merasa ada sesuatu yang berbeda. "Keras sekali"Ruby menggigit bibir bawahnya, merasakan sensasi aneh bercampur sakit ketika tangan Nicklas

  • Gairah Liar Suami Sahabatku   Bab 25. Swimsuit Merah Menggoda

    Ruby mengambang di kolam renang lantai atas penthouse mewahnya , air yang jernih memantulkan sinar matahari senja yang mulai meredup."Nona, silahkan dinikmati Jus Jeruknya sebelum esnya mencair" ucap pelayan pribadinya yang baru saja meletakkan minuman di atas meja kaca. Ruby berenang menyusuri kolam yang luas, Air di dalamnya menyiprat keluar saat wanita itu melempar tubuhnya dari sisi kolam. "Sebentar mbak, nanggung" ucapnya, melanjutkan aktifitas berenang. "Sebentar nona, boleh saya minta waktunya untuk bicara?" ucap pelayan pribadinya dengan wajah cemas, seolah ada suatu hal yang membuatnya Khawatir. Gerakan Ruby semakin cepat, Ia berenang ke tepian kolam dimana pelayan pribadinya itu berdiri dengan wajah tegang. "Boleh minta ambilkan handuk?"pinta Ruby yang baru saja mengangkat wajah dari dalam kolam. "Siap nona, saya akan ambilkan handuknya sekarang"Setelah menerima handuk dari tangan pelayan, Ruby melilitkan handuk itu di pinggangnya yang ramping. Menyembunyikan lekuk t

  • Gairah Liar Suami Sahabatku   Bab 24. Akhiri Segalanya

    Nicklas melangkah cepat ke arah walk-in closet, suara langkahnya bergema di lorong sunyi. "S-sayang tunggu!" Serena mengikuti langkah suaminya yang lebar dengan berlari kecil. "Kita harus bicara dulu!" "Berisik!" Nicklas membentak, lalu tangannya meraih gagang pintu, "sudah aku katakan, Diam dulu!" Saat membuka pintu, matanya langsung tertuju pada serpihan botol parfum yang berserakan di lantai marmer, Pecahan kaca itu berkilauan, namun alisnya mengkerut, menandakan keraguan mulai menyelinap. "Siapa yang menjatuhkan botol itu?" “Sayang, biar aku panggilkan pelayan untuk membersihkan pecahannya, mungkin aku salah meletakkan parfum itu, terlalu di pinggir” suara Serena terdengar lembut, hampir terdengar seperti upaya untuk menenangkan Nicklas. "Jatuh sendiri, begitu?" Nicklas tampak tak peduli. Tangannya yang dipegang oleh Serena terhempas kuat, "berhenti terlihat ketakutan seperti itu, Serena! Aku tidak akan membunuhmu!" Serena mengusap tangannya kasar, hampir saja Ni

  • Gairah Liar Suami Sahabatku   Bab 23. Kain Segitiga

    "T-tuan, anda disini?" Pelayan pribadi Serena tampak gugup, tak menyngka Nicklas langsung naik ke lantai dua dengan wajah dingin. "Dimana serena?", Pelayan itu berdiri kaku di depan pintu, seolah menghalangi langkah Nicklas untuk masuk ke kamar utama. Pelayan itu mengusap-usap tangan yang gemetar, berusaha merangkai kata dengan suara pelan, "Em, begini, Tuan... " "Minggir!" Seru Nicklas dengan mulut terkatup rapat, "Sebentar tuan, saya--" "Aku tidak butuh penjelasanmu" "Begini tuan, nyonya Serena ada di dalam." Matanya menghindar dari tatapan tajam Nicklas yang penuh tekanan. "Minggir!" desis Nicklas, suaranya dingin dan penuh tuntutan. "Maaf Tuan, saya takut, karena sepertinya nyonya sedang tidur" jawab pelayan itu akhirnya, napasnya tersengal menahan takut. Tanpa aba-aba, Nicklas menyenggol lengan pelayan itu dengan kasar, lalu melangkah masuk ke kamar. Pintu didorong dengan keras, Brak! Suaranya menggema, Serena yang sedang duduk di atas tempat tid

  • Gairah Liar Suami Sahabatku   Bab 22. Lingerie Serena

    Alex menatap dingin ke arah lukisan tua yang menggantung di dinding ruang kerjanya, bayangan api dari kebakaran masih membekas di pikirannya. Tapi kini, seolah ada angin segar yang berhembus di ruang kerjanya setelah hampir sebulan rasanya kehilangan arah. Di depannya, seorang bawahan dengan gugup membuka sebuah map dan menyerahkan beberapa cetakan foto hasil tangkapan CCTV sekitar klub malam tempat kejadian."Ini bukti fotonya, tuan. Hasilnya sudah kami perjelas, bisa tuan lihat, pakaian wanita itu persis seperti pakaian terakhir yang dikenakan nona Ruby" Foto pertama menunjukkan kepulan asap tebal mengepul, mengaburkan pandangan. Namun foto kedua memperlihatkan sosok perempuan yang terkulai lemas dalam gendongan, digendong keluar oleh seorang pria bertubuh tinggi dan gagah, mengenakan setelan hitam dan kacamata gelap. Alex mengerutkan alisnya tajam, matanya seolah mencoba mengumpulkan potongan teka-teki yang belum tersambung. “Jadi, Ruby sebenarnya masih hidup?” Alex memutar kur

  • Gairah Liar Suami Sahabatku   Bab 21. Tidur di Atas Pangkuan

    Ruby duduk dengan mata berbinar menatap panci hot pot yang mengepul di tengah meja. Aroma rempah yang harum menyebar, membuatnya tak sabar mencicipi kuah racikan Nicklas. "Kuahnya kelihatan lebih enak? Kamu kayaknya lebih pintar dari aku racik bumbunya," Bisiknya sambil tersenyum lebar. Nicklas mengambilkan sumpit, dan memasukkan beberapa slice daging ke dalam kuah, "Campuran cabai, jahe, dan sedikit kaldu ayam yang di rebus lama. Masakan kamu tadi kurang kaldunya" Ia mengaduk kuah dengan hati-hati, lalu menyodorkan sendok kecil berisi kuah hangat ke Ruby. Ruby mengambilnya dan menyeruput dengan perlahan. "Hmm, beneran enak! Gak nyangka kamu bisa bikin yang seenak ini." "Kalau begitu, nanti malam aku dapat hadiah?"Wajah Ruby ditekuk, "hadiah apa? Jangan macam-macam deh!""Kamu beneran naik berat badan sekarang, merasa nggak? Pipi kamu tambah chubby?"Gerakan tangan Ruby terhenti di atas panci hot pot, wajahnya sedikit berubah. "Aku juga belum datang bulan" Bisiknya dalam hati, "S

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status