/ Romansa / Panasnya Dendam di Ranjang Pengantin / Chapter 57 | Pisah Ranjang

공유

Chapter 57 | Pisah Ranjang

last update 게시일: 2025-11-10 23:00:42
Tiba di galeri, Selina langsung menutup ruang kerjanya dan melarang siapa pun mengganggunya.

Bukan untuk bekerja—laptopnya bahkan tak tersentuh. Ia hanya ingin mengamati sejauh mana api kecil yang tadi ia lemparkan sudah menjalar.

Selepas menjatuhkan diri ke kursi, Selina menyilangkan kaki lalu menyalakan tablet kerja dan memasang earphonenya di telinga.

Senyum tipis muncul ketika rekaman CCTV menampilkan Marissa dan Dusan yang sudah tiba di apartemen, mereka berdiri saling berhadapan di
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Panasnya Dendam di Ranjang Pengantin   Chapter 148 | Skandal Terungkap

    Selina menepis keinginan untuk memikirkan Raven lebih jauh. Ia memilih menyimpan perasaannya rapat-rapat di dalam hati, lalu mempersiapkan diri melakukan apa yang diminta pria itu.Daripada merusak seluruh rencana yang selama ini mereka susun dengan susah payah, lebih baik ia mengikuti strategi Raven saja. Saat ini hanya pria itu yang mampu menembus lapisan terdalam keluarga Mathias.**Keesokan paginya, berita skandal Marissa benar-benar menyebar ke seluruh jagat maya. Seperti yang Raven katakan, kabar itu meledak hampir bersamaan di berbagai media dan langsung menghebohkan publik.Di rumah, ekspresi Dusan dan Marissa bahkan tidak perlu ditebak. Amarah yang meledak membuat piring sarapan berhamburan di lantai pagi itu.Dusan murka.Tentu saja ia murka. Siapa yang tidak akan marah ketika usaha yang tinggal selangkah lagi berhasil justru dihancurkan oleh istrinya sendiri?"Apa yang sudah kamu lakukan, Marissa?" suara Dusan terdengar rendah, tetapi setiap katanya dipenuhi amarah. "Satu

  • Panasnya Dendam di Ranjang Pengantin   Chapter 147 | Menyembunyikan Sesuatu

    "Marah?" Raven mengerutkan dahinya samar. Ia memiringkan kepala, menatap Selina seolah benar-benar tidak memahami pertanyaannya. Namun beberapa saat kemudian, senyumnya mengembang hingga ke mata. Ia menyandarkan bahu ke ke ranjang, kedua tangan dimasukkan melingkar lebih erat di pinggang Selina. "Memangnya semalam ada apa? Aku sepertinya tidak ingat. Ada masalah?" Selina menghela napas pelan. Jemarinya tanpa sadar meremas ujung lengan bajunya. Senyum pria itu tampak jelas dipaksakan. Tatapannya terlalu ringan, terlalu santai untuk seseorang yang baru saja ditolak. Ia tahu penolakannya semalam pasti melukai hati pria mana pun. Tetapi mengapa Raven memilih berpura-pura tidak mengingat apa pun. "Baguslah kalau kamu tidak ingat," ujar Selina akhirnya. Ia menegakkan punggungnya dan menatap lurus ke arah Raven. "Kalau begitu, bisakah kamu membantuku melakukan satu hal?" "Bisa. Katakan saja apa yang harus aku lakukan untuk Tuan Putri." Sebelah alis Raven terangkat menggoda. Ia melangkah me

  • Panasnya Dendam di Ranjang Pengantin   Chapter 146 | Kita Saling Memanfaatkan

    Selina menunduk beberapa saat sebelum melepas tangan Rani. “Aku hanya nggak ingin menghancurkan perasaannya lebih dalam. Aku nggak ingin memanfaatkan perasaannya. Sayangnya … entah dia mengerti maksudku atau tidak.”Rani menerbitkan senyum kecilnya. “Tuan tidak membahas hal ini dan tetap membantu Nyonya, artinya Tuan memiliki prioritas sendiri.”Selina mengangguk mengerti sambil menatap lantai beberapa detik. “Semoga saja dia memahaminya.”“Sekarang yang terpenting bagaimana Nyonya akan melakukan hal selanjutnya? Rekaman Nyonya Marissa berhubungan dengan pria lain sudah di tangan, kalau ada perintah Nyonya katakan saja.”Kata-kata itu membuat Selina menegakkan punggung. Ia menarik napas panjang dan mengusap pelipisnya. “Raven bilang Mathias Group mengerjakan proyek ini dengan teknologi 3d printing. Apa peserta expo lain juga memakai teknologi yang sama?”Rani mengangguk. “Teknologi ini menghemat waktu tapi biaya besar. Hanya dua perusahaan yang memakainya. Selain Mathias Group, Blacks

  • Panasnya Dendam di Ranjang Pengantin   Chapter 145 | Membencimu

    “Raven, kita sudah bahas ini berulang kali kan? Hubungan kita sebatas mutualisme aja, kita nggak mungkin buat—”“Tapi kenapa? Jangan terus nolak aku tapi kamu nggak sanggup kasih penjelasan!”Selina memejamkan matanya beberapa saat sebelum menegakkan tubuhnya. Selina memutar badannya hingga berhadapan dengan Raven. “Raven, menurutmu bagaimana bisa aku bersama dengan keturunan seseorang yang telah menghancurkan keluargaku? Yang ada setiap aku lihat wajah kamu yang ada di kepalaku cuma bayangan orang tuamu yang menyakiti orang tuaku,” jawab Selina lantang. Kali ini terlalu emosional sampai matanya berkaca-kaca.“Aku nggak seperti mereka, aku bahkan bantu kamu buat balas dendam. Aku bukan—”“Aku tahu. Kesalahan itu bukan tanggung jawabmu, tapi dalam darahmu tetap mengalir darah Dusan Mathias, dan itu orang yang paling aku benci!”Bibir Raven tersenyum getir. “Cuma itu alasannya?”“Ya!” Selina mengangguk tanpa ragu. Raven membuang napasnya. Tetapi beberapa saat kemudian pria itu mengang

  • Panasnya Dendam di Ranjang Pengantin   Chapter 144 | Melambungkan Harapan

    Tanpa menjawab, Raven segera menarik tubuh Selina hingga ke pelukannya. Dengan gerakan cepat ia menutup pintu dan mengunci smart door itu dengan ibu jari Selina. Selina menatap sikap Raven dengan kerutan dahi. “Kamu ini …? Ngapain kamu datang? Bukannya harus ke Haras sama Giovanni?”Raven memiringkan kepalanya. “Kalau aku nggak datang kamu bakal beneran tidur sama tua bangka itu, hm?” “Aku bahkan udah pakai obatmu, gimana bisa lakukan hal itu?” Selina hampir tertawa dibuatnya. “Justru kamu yang aneh, kenapa Giovanni bisa berangkat sendiri? Gimana kalau Papa tahu kamu nggak ke sana?”Raven tidak menjawab, ia melepas dasinya dan menutup mata Selina dengan kain panjang itu. Sedetik kemudian menggendong Selina hingga membuat wanita itu terkejut. “Kerjaanku nggak penting, sekarang aku cuma pengen nunjukin sesuatu buat kamu.”Selina tidak sempat bertanya lagi karena membungkamnya dengan ciuman. Selina hanya bisa diam menikmati sentuhan itu sambil menerka kemana Raven akan membawanya menu

  • Panasnya Dendam di Ranjang Pengantin   Chapter 143 | Dusta

    Semua yang dihadapi Selina, setiap untung dan rugi yang ia pertaruhkan, terasa begitu wajar. Namun, entah mengapa, ada perasaan yang selalu mengganjal di dalam dirinya. Seolah-olah ada sesuatu yang ia lewatkan, sesuatu yang penting, tapi ia tak mampu menebak apa. Meski segala sesuatunya berjalan lancar dan masalah-masalah yang muncul dapat diatasi, hatinya tetap tidak sepenuhnya tenang.Sebisa mungkin Selina menahan diri untuk tetap tersenyum. "Kalau begitu, maaf merepotkan kalian untuk mengurus itu," ucapnya dengan lembut.***Tanggal sepuluh bulan berikutnya …Perayaan anniversary itu dipersiapkan dengan sangat matang. Marissa rela duduk di salon selama empat jam, merapikan rambut dan riasannya. Wajahnya cerah dan penuh kegembiraan, matanya berbinar menantikan momen spesial hari ini bersama suaminya. Bagi Marissa, hari ini mungkin adalah puncak kebahagiaannya.Sementara itu, Selina memilih duduk di balkon rumah pemberian Dusan, menikmati secangkir teh mawar sambil menatap langit

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status