MasukDusan mengusap lembut bibir Selina yang masih memerah karena ciumannya. Helaan napas mereka saling mengejar, panas dan tak beraturan, seolah ruangan itu hanya menyisakan udara untuk mereka berdua.
Jemari pria itu menyusuri wajah Selina, berhenti sejenak di tengkuknya, lalu turun perlahan ke leher, meninggalkan sensasi hangat yang membuat tubuh Selina kembali meremang.
“Maksud Papa, jangan biarkan dia tahu apa yang sudah kita lakukan,” kata Dusan dengan suara rendah.
Bibir mereka kembali berpaut, kali ini lebih dalam dan menuntut.
Selina merasa dirinya terseret ke dalam pusaran yang membuatnya lupa bernapas. Ia hanya bisa pasrah ketika Dusan menuruni jalur lembut di sepanjang lehernya, menabur jejak panas hingga ke bahu.
“Papa…” Tangan Selina otomatis mencari pegangan, meremas seprai sementara tubuhnya mengejang menahan sensasi yang berulang datang seperti gelombang.
Dusan menunduk, satu lengannya menahan Selina agar tetap dalam dekapannya. Ia tidak terburu membuka gaun tipis yang membalut tubuh wanita itu; cukup dengan sentuhan dan ciuman yang berpindah pelan menggoda puncak lembut yang kini begitu peka, membuat Selina melengkung tak berdaya di pelukannya.
Setiap gigitan kecil dan belaian lembut yang diberikan Dusan membuat pertahanan Selina runtuh.
“Baru pemanasan saja kamu sudah terengah, hm?” bisik Dusan di sela kecupan panasnya.
“Papa terlalu pandai … Selina jadi makin sulit menahan diri!” bisiknya tanpa sadar, seolah otaknya berhenti bekerja di bawah sentuhan itu.
Dusan hanya tersenyum mendengar kepolosan Selina. “Kalau baru begini kamu sudah gemetar, bagaimana kalau Papa tunjukkan semua yang Papa bisa?”
“Kalau begitu… shh … biarkan Selina merasakannya!”
Senyum kemenangan melintas di sudut bibir Dusan. Ia menunduk perlahan, membiarkan giginya menarik tali gaun tidur Selina turun sedikit demi sedikit.
Begitu gaun melorot, Dusan menyapa puncak ranum yang telah mengeras dengan ciuman dalam bergantian, sementara jari besarnya perlahan turun, menelusuri lekuk perut hingga mendekati inti kelembutan Selina.
Awalnya Dusan hanya bermain di permukaan, menggoda dengan sentuhan ringan. Namun, tak lama kemudian mulai berani masuk dan mengeksplorasi bagian hangat yang telah basah itu.
“Ahh—!” Selina tersentak, kedua tangannya spontan menahan tangan Dusan, tetapi pria itu tetap melanjutkan seolah tak terganggu sedikit pun.
Hanya dengan satu jari, Dusan membuat tubuh Selina bagai tersengat aliran listrik. Gerak tangannya menjelajahi ruang hangat itu dengan irama teratur, menekan titik-titik yang membuat Selina tak kuasa menutup mulutnya lagi.
“Papa …. Mmh!”
Kuku panjang Selina hampir menancap pada kulit lengan Dusan. Tubuhnya bergelombang, mengikuti irama jemari pria itu tanpa sadar.
“Ya?”
“Ssh … Selina nggak tahan lagi!”
Selina hampir merasa melayang. Ada sesuatu yang akan meledak dari dalam dirinya. Hanya tinggal sebentar lagi ia mencapai puncak kenikmatan pertamanya, tetapi gerakan tangan Dusan mendadak terhenti.
Wanita itu terperanjat, matanya terbuka setengah, menatap pria di hadapannya dengan sorot kecewa. Sensasi yang semula mengalir deras kini lenyap begitu saja.
“Kenapa Papa berhenti?” Selina nyaris frustasi, ia meraih bahu Dusan, seakan memohon agar menyelamatkannya dari siksa manis itu.
Dusan tersenyum miring. “Papa nggak mau buru-buru.”
Pria itu bangkit perlahan, lalu menarik piyama tidurnya hingga terlepas dari tubuh. Kain satin berwarna hitam yang ia kenakan terlempar ke lantai begitu saja, sementara pandangannya tetap tertuju pada Selina yang terbaring di ranjang.
Dengan satu gerakan mantap, Dusan mencondongkan tubuh, kedua lengannya mengurung tubuh Selina di antara kehangatan dan aroma maskulinnya.
Saat Dusan menunduk, jarak di antara mereka kembali lenyap.
Selina bisa mendengar detak jantungnya yang kacau, berpadu dengan desah lembut yang lolos dari bibirnya sendiri.
“Waktu dengan Giovanni, kamu juga begini, hm?” tanya Dusan terdengar seperti godaan yang sengaja diucapkan untuk memancing reaksi Selina.
Selina menggelengkan kepala pelan. Tanpa sadar, tangannya terangkat, merambat di sepanjang punggung Dusan yang hangat dan berotot.
“Cuma Papa yang bisa buat Selina begini.”
Tatapan Dusan melembut, seulas senyum tipis melintas di bibirnya. “Hari ini dan seterusnya kamu harus mengingat itu,” bisiknya rendah, sebelum kembali menunduk dan melanjutkan kecupannya.
Ciuman itu turun perlahan, sampai menyentuh pusat kelembutan di antara pahanya. Sementara Selina menarik lembut rambut Dusan, mencoba tetap seimbang di tengah gelombang kenikmatan.
“Pa… tolong…” Selina menjerit, tak mampu menahan gelombang sensasi yang menyerangnya. “Jangan siksa Selina seperti ini… ahh—”
Tetapi, Dusan seolah menulikan telinga. Gerakannya semakin dalam, Lidahnya menelusuri lembut lalu menggigit halus, mencipta sensasi antara nikmat dan siksa yang memabukkan.
“Ahh … Papa…” Suara tertahan kembali lolos dari bibir Selina.
Hingga ketika semua tidak bisa ditahan tubuhnya menggelinjang hebat saat pusat dirinya meledak dalam gelombang nikmat yang membanjiri seluruh tubuhnya.
Tubuh Selina akhirnya merosot lemas, beberapa kali menghembuskan desah panjang.
Keringat halus menetes di pelipis wanita itu, membentuk kilau lembab di permukaan kulitnya. Udara dingin dari pendingin ruangan tak lagi terasa, seakan suhu di tubuh mereka menciptakan iklimnya sendiri.
Dusan perlahan menegakkan tubuh, melepas gaun Selina, lalu celananya sendiri. Kini mereka benar-benar telanjang.
Selina menelan ludah saat menatap tubuh Dusan yang tegak di depannya. Pria itu berlutut di ranjang, posisinya lebih tinggi darinya
“Kamu nggak akan mendapatkan yang lebih baik dari ini, Selina,” ucap Dusan seraya menuntun tangan Selina menyentuh miliknya yang hangat. Ia menunduk berbisik lembut di telinga Selina membuat udara kembali memanas. “Kamu sudah puas, sekarang bantu puaskan Papa!”
“Pa—papa … mau dipuaskan bagaimana?”
Bukannya menjawab, Dusan justru langsung menuntun tangan Selina. Gerakannya lembut, mengatur posisi jari dan pergelangan tangannya seolah tengah menuntun irama yang hanya mereka berdua pahami.
Sentuhan itu tak memaksa, Selina mengikuti arahannya tanpa perlawanan di bawah sana.
“Mhh … buka mulutmu,” titah Dusan sedikit menggeram.
Selina menunduk beberapa saat sebelum melepas tangan Rani. “Aku hanya nggak ingin menghancurkan perasaannya lebih dalam. Aku nggak ingin memanfaatkan perasaannya. Sayangnya … entah dia mengerti maksudku atau tidak.”Rani menerbitkan senyum kecilnya. “Tuan tidak membahas hal ini dan tetap membantu Nyonya, artinya Tuan memiliki prioritas sendiri.”Selina mengangguk mengerti sambil menatap lantai beberapa detik. “Semoga saja dia memahaminya.”“Sekarang yang terpenting bagaimana Nyonya akan melakukan hal selanjutnya? Rekaman Nyonya Marissa berhubungan dengan pria lain sudah di tangan, kalau ada perintah Nyonya katakan saja.”Kata-kata itu membuat Selina menegakkan punggung. Ia menarik napas panjang dan mengusap pelipisnya. “Raven bilang Mathias Group mengerjakan proyek ini dengan teknologi 3d printing. Apa peserta expo lain juga memakai teknologi yang sama?”Rani mengangguk. “Teknologi ini menghemat waktu tapi biaya besar. Hanya dua perusahaan yang memakainya. Selain Mathias Group, Blacks
“Raven, kita sudah bahas ini berulang kali kan? Hubungan kita sebatas mutualisme aja, kita nggak mungkin buat—”“Tapi kenapa? Jangan terus nolak aku tapi kamu nggak sanggup kasih penjelasan!”Selina memejamkan matanya beberapa saat sebelum menegakkan tubuhnya. Selina memutar badannya hingga berhadapan dengan Raven. “Raven, menurutmu bagaimana bisa aku bersama dengan keturunan seseorang yang telah menghancurkan keluargaku? Yang ada setiap aku lihat wajah kamu yang ada di kepalaku cuma bayangan orang tuamu yang menyakiti orang tuaku,” jawab Selina lantang. Kali ini terlalu emosional sampai matanya berkaca-kaca.“Aku nggak seperti mereka, aku bahkan bantu kamu buat balas dendam. Aku bukan—”“Aku tahu. Kesalahan itu bukan tanggung jawabmu, tapi dalam darahmu tetap mengalir darah Dusan Mathias, dan itu orang yang paling aku benci!”Bibir Raven tersenyum getir. “Cuma itu alasannya?”“Ya!” Selina mengangguk tanpa ragu. Raven membuang napasnya. Tetapi beberapa saat kemudian pria itu mengang
Tanpa menjawab, Raven segera menarik tubuh Selina hingga ke pelukannya. Dengan gerakan cepat ia menutup pintu dan mengunci smart door itu dengan ibu jari Selina. Selina menatap sikap Raven dengan kerutan dahi. “Kamu ini …? Ngapain kamu datang? Bukannya harus ke Haras sama Giovanni?”Raven memiringkan kepalanya. “Kalau aku nggak datang kamu bakal beneran tidur sama tua bangka itu, hm?” “Aku bahkan udah pakai obatmu, gimana bisa lakukan hal itu?” Selina hampir tertawa dibuatnya. “Justru kamu yang aneh, kenapa Giovanni bisa berangkat sendiri? Gimana kalau Papa tahu kamu nggak ke sana?”Raven tidak menjawab, ia melepas dasinya dan menutup mata Selina dengan kain panjang itu. Sedetik kemudian menggendong Selina hingga membuat wanita itu terkejut. “Kerjaanku nggak penting, sekarang aku cuma pengen nunjukin sesuatu buat kamu.”Selina tidak sempat bertanya lagi karena membungkamnya dengan ciuman. Selina hanya bisa diam menikmati sentuhan itu sambil menerka kemana Raven akan membawanya menu
Semua yang dihadapi Selina, setiap untung dan rugi yang ia pertaruhkan, terasa begitu wajar. Namun, entah mengapa, ada perasaan yang selalu mengganjal di dalam dirinya. Seolah-olah ada sesuatu yang ia lewatkan, sesuatu yang penting, tapi ia tak mampu menebak apa. Meski segala sesuatunya berjalan lancar dan masalah-masalah yang muncul dapat diatasi, hatinya tetap tidak sepenuhnya tenang.Sebisa mungkin Selina menahan diri untuk tetap tersenyum. "Kalau begitu, maaf merepotkan kalian untuk mengurus itu," ucapnya dengan lembut.***Tanggal sepuluh bulan berikutnya …Perayaan anniversary itu dipersiapkan dengan sangat matang. Marissa rela duduk di salon selama empat jam, merapikan rambut dan riasannya. Wajahnya cerah dan penuh kegembiraan, matanya berbinar menantikan momen spesial hari ini bersama suaminya. Bagi Marissa, hari ini mungkin adalah puncak kebahagiaannya.Sementara itu, Selina memilih duduk di balkon rumah pemberian Dusan, menikmati secangkir teh mawar sambil menatap langit
Selina hanya mengangguk singkat. Ia berjalan ke luar ruangan diikuti dengan Ersa yang melangkah setelahnya.Koridor lengang di depan ruangan Raven menjadi pilihan terbaik untuk bicara berdua. Suasana terasa sunyi, seolah terisolasi dari hiruk-pikuk gedung Mathias Group. Tidak ada satupun orang yang berlalu-lalang. Hanya dinding kaca panjang yang memantulkan cahaya silau matahari dan menampilkan hamparan gedung metropolitan di kejauhan.Selina menyilangkan kedua tangannya di dada sebelum menatap serius wanita berseragam dokter di hadapannya. “Ada apa sampai kamu seserius ini? Apa dia cedera parah?”Ersa melirik kaki Selina dari ujung sepatu hingga betis, lalu kembali menatap wajahnya. “Mama mertuamu bilang semalam kamu jatuh, tapi sekarang ku lihat kakimu baik-baik aja? Kamu nggak jatuh sama sekali?”“Nggak usah bahas itu.” Selina langsung memotong. Nada suaranya cepat dan sedikit tergesa. “Itu cuma alasanku aja biar nggak ketahuan saat nguping mereka.”Dengan cepat menggeser posisi t
Secepat kilat Selina berlari masuk ke dalam gedung pencakar langit setinggi dua puluh lantai itu. Ia menaiki lift dan langsung menuju ruang rapat di lantai lima belas yang akan digunakan pagi ini.Begitu tiba, Selina mendapati beberapa anggota tim menunggu di luar ruangan. Wajah-wajah mereka tegang, sementara dari balik pintu kaca terdengar suara dua pria yang saling beradu argumen.Selina tak menangkap jelas apa yang mereka perdebatkan, hanya nada keras dan emosi yang nyaris meledak-ledak.“Kamu berani bicara seperti itu sama orang tuamu sendiri?!”“Aku bicara faktanya!”Sebelum masuk, Selina menoleh pada Clara. Wanita itu mengangguk singkat, memberi isyarat agar Selina segera masuk. “Silakan, Bu,” katanya seraya menggerakkan tangan.Pintu kaca terbuka.Sekejap, suara perdebatan mereka lenyap.Baik Dusan maupun Raven sama-sama terdiam, seolah kehilangan kata-kata saat melihat Selina berdiri di ambang pintu.Pemandangan pertama yang dilihat Selina adalah bibir Raven yang berdarah. Lalu







