Masuk
Vivian berdiri di depan cermin riasnya yang besar. Rambutnya yang disanggul cantik, dan elegan. Dandanan make up dari penata rias ternama, serta gaun malam yang memeluk lekuk tubuhnya dengan indah meski kini telah menginjak usia 40 tahun.
Ingin sekali dia menyangkal dirinya dengan tampilan di depan cermin yang begitu sempurna, tanpa cela. Inilah dia sosok Vivian, seorang model terkenal. Lambang keanggunan, dan kecantikan serta kesetian dari CEO Arman Group. Namun, di balik polesan makeup yang flawless, sepasang mata cokelatnya memancarkan kekosongan yang membekukan. Tidak seorang pun tau, kekosangan itu menyakitkan hatinya. Sejak lima tahun terakhir, kesempurnaan ini terasa seperti kulit yang ditarik kencang, rentan robek kapan saja. Renntang waktu yang Vivian hitung sejak terakhir kali Arman menyentuhnya. Sejak terakhir kali ia merasakan kehangatan yang tulus, bukan sekadar pelukan formal di depan kamera. Pada awalnya, Vivian meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanyalah fase alami dari pernikahan yang telah berlangsung lama. Arman sedang sibuk. Proyek besar di luar kota, rapat larut malam, perjalanan bisnis ke luar negeri yang mendadak. Itu semua demi perusahaan. Tetapi, sebenarnya banyak tanya, di dalam hatinya. Entah kenapa semuanya terasa tercekat di tenggorokan, jika dia ingin memulai pembicaraan. Mengapa Arman selalu menjaga jarak fisik, bahkan di rumah? Mengapa ia tidak lagi berbagi cerita tentang hari-harinya, melainkan hanya memberikan jawaban singkat dan datar? Mengapa setiap kali ia menawarkan sentuhan, Arman selalu beralasan lelah atau sakit kepala? "Vivian, kau sudah siap?" Suara bariton Arman memecah lamunannya. Suaranya formal, seperti memanggil seorang rekan kerja, bukan istrinya. "Sudah, Arman. Aku turun sekarang," gegas Vivian sambil mengambil tas tangan miliknya. Selama bertahun-tahun, Vivian telah mengabaikan semua keanehan itu dengan sengaja. Berharap semua baik-baik saja. ***** "Viv, aku tidak tahu apakah aku harus mengatakan ini..." ucap Winda yang adalah sahabat dekat Vivian. Oleh karena bisnis properti milik suaminya dan milik Arman masih menjalani kerja sama yang baik. Vivian menyesap tehnya perlahan, menjaga agar ekspresinya tetap tenang, sambil tersenyum tipis. "Apa itu? Mengenai butik baruku?" "Bukan. Mengenai Arman," bisiknya. "Akhir-akhir ini, ada rumor yang beredar di kalangan stafku, terutama di bagian kolom bisnis. Mereka bilang Arman tidak hanya pergi untuk urusan perusahaan saat ke luar kota. Ada yang melihatnya... sangat akrab dengan sekretarisnya," lanjut Winda lagi dengan ekpresi serius, menandakan dia tidak sedang berbohong. Vivian meletakkan cangkir tehnya, tidak ada suara denting yang tercipta. Ia masih tersenyum tipis, berusaha tenang walau dadanya terasa sedang dihantam palu. "Arman dan sekretaris? Tentu saja akrab. Mereka bekerja bersama setiap hari, Sayang. Jangan mendengarkan gosip murahan." "Aku tidak bicara tentang keakraban profesional, Viv," desak Winda. "Ini sudah menjurus ke lebih intim. Dan, Viv, stafku melihat sesuatu yang lebih mengkhawatirkan. Sekretarisnya, Indira, kabarnya... terlihat sering memegangi perutnya. Aku dengar dia sedang mengambil cuti panjang." Dunia Vivian seakan terhenti. Napasnya tercekat di tenggorokan. Indira. Vivian tahu nama itu. Sekretaris Arman yang muda, efisien, dan berpenampilan biasa saja. Ia tidak pernah menganggap Indira sebagai ancaman. "Kau harus lebih banyak memperhatikan gerak gerik suami kamu, Vivian." Itu bukan kalimat sederhana dari Winda, tapi Vivian mengerti. Vivian memutuskan untuk melakukan apa yang tidak pernah dilakukan seorang istri setia, menyewa penyelidik swasta. Bukan untuk menangkap basah, melainkan untuk memastikan. Ia ingin fakta, bukan desas-desus. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, semua laporan itu berada di depan matanya. Vivian membacanya di ruang kerjanya yang sunyi, jauh dari pengawasan Arman atau staf rumah. Semua laporannya sangat lengkap. Lokasinya Ia sering terlihat check-in di sebuah unit penthouse eksklusif di Hotel The Elysium, salah satu hotel mewah di pusat kota. Bersama sekertarisnya itu. Vivian menelan ludah. Ia membalik ke halaman terakhir, tempat foto-foto itu terlampir. Foto-foto yang sebenarnya ingin sekali disangkal olehnya. Jika Arman tidak akan melakukan perbuatan itu. Namun ini bukan hanya perselingkuhan. Ini adalah masa depan yang telah Arman bangun di belakangnya. Kemarahan Vivian tidak meledak; ia justru meresap dan menjadi es. Ia ingat setiap ciuman yang Arman tolak, setiap malam yang ia habiskan sendirian. Setiap rasa kecewa yang dia dapatkan. Vivian menelepon Arman, suaranya tenang. "Arman, bisakah besok sore, kita akan mengadakan makan malam dengan relasi penting dari Dubai. Tolong kosongkan jadwalmu dan pulang lebih awal? Ada yang perlu kita diskusikan sebelum bertemu mereka." Arman, yang selalu patuh jika mengenai urusan bisnis, setuju tanpa curiga. Keesokan harinya, Arman pulang sekitar pukul lima sore. Ia mendapati Vivian sedang menunggunya di ruang keluarga. Ruangan itu didominasi oleh perabot antik mahal dan cahaya yang lembut. Vivian duduk tegak di sofa beludru, secangkir teh dingin di mejanya. "Kau sudah pulang," sapa Vivian dengan senyum yang sempurna dan tanpa cela. "Ya. Kau mau bicara apa, Viv? Cepatlah, aku lelah," jawab Arman, melempar tas kerjanya ke kursi. Vivian tidak menjawab, matanya melihat tas yang Arman lempar. Kemudian, Ia hanya mengambil amplop cokelat besar dari sampingnya dan memberikannnya ke meja kaca di depan Arman. "Aku tahu kau lelah," kata Vivian, suaranya lembut, namun matanya memancarkan petir. "Mungkin kau lelah karena terlalu sering menghabiskan malam di The Elysium, kamar penthouse 3001." Ujar Vivian dingin, namun menahan beribu rasa sakit di dalam hatinya. Senyum Arman menghilang. Wajahnya mengeras, tetapi ia masih mencoba mempertahankan kendali. "Omong kosong apa ini, Vivian?" "Omong kosong yang bernama Indira Kirana," lanjut Vivian, suaranya perlahan meninggi, menembus ketenangan yang selama ini ia jaga. "Dan omong kosong yang paling menyakitkan adalah... bayi yang sedang ia kandung." Arman akhirnya membuka amplop itu. Matanya terpaku pada foto-foto yang menunjukkan perut besar Indira. Rahasia itu terbongkar dengan cara yang paling kejam. Arman mendongak, matanya penuh ancaman. "Kau mengintai aku?" Vivian bangkit, berdiri di atas Arman. Keanggunan telah berubah menjadi kemarahan yang membara. "Aku mencari suamiku, Arman. Aku mencari alasan mengapa kau meninggalkanku, mengapa kau menolak sentuhanku, mengapa kau mengubah pernikahan kita menjadi lelucon kosong. Dan sekarang, aku tahu. Aku tidak hanya menemukan selingkuhanmu, aku menemukan keluarga barumu." Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Kau tahu apa yang paling membuatku jijik, Arman? Bukan perselingkuhan itu. Tapi kenyataan bahwa kau berpikir aku begitu bodoh, begitu naif, hingga tidak akan pernah mengetahuinya." "Bukan begitu maksudku, Vivian. Cobalah dengarkan alasanku." Vivian menatap tajam lelaki dihadapannya itu, menunggu apa yang akan dia lontarkan, sebagai alasan perselingkuhannya serta pembenaran atas perbuatannya itu. Vivian duduk di balik meja kerja barunya yang megah, namun matanya tidak sedikit pun melirik pada kemewahan di sekelilingnya. Jemarinya menari lincah di atas keyboard laptop, membuka satu per satu folder tersembunyi yang berhasil dipulihkan oleh tim IT Juno.Semakin dalam ia menggali, semakin sesak dadanya. Folder bertajuk "Operasional Vendor" ternyata berisi tumpukan kuitansi fiktif dan penggelembungan dana yang tidak masuk akal. Clarisa tidak hanya memimpin dengan tangan besi, ia menggerogoti perusahaan ini dari dalam seperti rayap."Juno, lihat ini," ujar Vivian saat suaminya melangkah mendekat dengan segelas teh hangat. "Dia mengalihkan hampir tiga puluh persen laba bersih tahun lalu ke perusahaan cangkang bernama 'Garda Utara'. Ini bukan sekadar kesalahan administrasi, ini pencurian berencana."Juno membungkuk, memperhatikan grafik yang memerah di layar. "Aku sudah menduganya, tapi aku tidak menyangka jumlahnya sebesar ini. Kau hebat bisa menemukannya secepat ini, Vivian.""I
"Ini belum selesai, Juno. Kau pikir kau bisa menghapus namaku begitu saja? Kau salah besar," umpat Clarisa dengan suara yang lebih mirip desisan ular. Ia mencengkeram pinggiran kardus hingga kukunya yang dicat merah marun hampir patah.Dina, yang sejak tadi berdiri kaku di sampingnya, merasa iba sekaligus takut. Meskipun Clarisa sering memperlakukannya seperti pelayan, loyalitas Dina sudah teruji bertahun-tahun. Dengan cekatan, Dina membantu memunguti beberapa botol parfum mahal dan berkas yang berserakan, lalu memasukkannya ke dalam kardus yang sudah agak penyok."Ayo, Bu. Kita tidak bisa terus di sini. Orang-orang mulai mengambil foto," bisik Dina sambil melirik beberapa pejalan kaki yang mulai mengeluarkan ponsel mereka.Clarisa berdiri dengan sisa keangkuhannya, menahan sebuah taksi biru yang kebetulan lewat. Ia tidak menunggu supirnya membukakan pintu; ia masuk begitu saja, disusul Dina yang kerepotan membawa barang-barang mereka."Jalan, Pak!" perintah Clarisa tajam."Ke ma
Dina melangkah ragu-ragu mendekati Clarisa yang masih bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin. Suara tangis Clarisa kini telah berubah menjadi tawa getir yang menyeramkan—tipe tawa seseorang yang baru saja kehilangan segala yang ia banggakan dalam satu kedipan mata."Bu... Bu Clarisa," panggil Dina lirih. "Keamanan sudah berdiri di depan pintu. Mereka meminta kita untuk segera... mengosongkan tempat ini.""Diam!" bentak Clarisa, meski suaranya terdengar serak dan pecah. Ia mendongak, matanya yang sembab menyala dengan api kebencian yang masih membara. "Lihat semua ini, Dina! Dia mengganti semuanya! Hanya dalam hitungan menit, dia menghapus jejakku seolah-olah aku ini sampah yang mengotori ruangannya!"Di luar jendela besar ruangan itu, sebuah crane besar mulai bergerak lambat. Para pekerja sedang menurunkan papan nama raksasa yang selama ini menjadi kebanggaan Clarisa. Logo emas Vanderbilt Group sudah siap untuk dipasang, berkilau tajam di bawah sinar matahari sore, seolah-ola
Clarisa berdiri mematung, jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Ia menatap Juno yang berdiri tegak dengan aura yang sangat berbeda—lebih gelap, lebih berkuasa, dan benar-benar tak tersentuh.Juno tidak menunggu Clarisa pulih dari keterkejutannya. Pria itu mengangkat satu tangannya, memberikan instruksi tanpa perlu mengeluarkan satu kata pun. Seketika, enam orang pria berseragam hitam masuk ke dalam ruangan luas itu. Mereka mulai mengosongkan meja kerja Clarisa dengan gerakan yang sangat efisien dan tanpa ampun."Apa yang kalian lakukan?! Hentikan! Ini kantorku!" teriak Clarisa histeris. Ia mencoba menahan salah satu petugas yang sedang memasukkan tumpukan dokumennya ke dalam kotak plastik."Buang semuanya," perintah Juno datar. Suaranya dingin, tidak ada sedikit pun keraguan di sana. "Semua benda yang pernah disentuh oleh wanita ini, singkirkan dari pandanganku."Belum sempat Clarisa membalas, beberapa karyawan dari toko furnitur ternama masuk membawa so
Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti jalanan desa yang berbatu. Suara kicau burung gereja bersahutan, seolah ingin ikut melepas kepergian penghuni rumah kayu yang selama tiga bulan terakhir telah menjadi bagian dari ketenangan desa tersebut. Namun, suasana damai itu pecah oleh deru mesin mobil yang halus namun bertenaga.Sebuah sedan mewah berwarna hitam mengkilap—jenis yang belum pernah dilihat warga desa sebelumnya—berhenti tepat di depan pagar kayu rumah Juno. Di belakangnya, dua mobil SUV hitam lainnya mengikuti dengan sigap, menciptakan kontras yang mencolok antara kemewahan kota dan kesederhanaan desa.Edward Harjo turun dari mobil pertama, membukakan pintu dengan sikap hormat yang kaku. "Tuan Juno, Nyonya Vivian, semua sudah siap. Kita harus berangkat sebelum lalu lintas kota mulai padat."Di teras rumah, Bi Inah dan suaminya, berdiri berdampingan. Bi Inah tak henti-hentinya menyeka air mata dengan ujung daster batiknya. Isakannya terdengar berat, seolah baru saja kehilan
Malam itu, di sebuah penthouse mewah yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit Jakarta, suasananya sangat kontras dengan ketenangan desa tempat Juno dan Vivian berada. Botol-botol minuman keras berserakan di atas meja marmer yang mahal. Bau alkohol yang tajam menyengat hidung siapa pun yang masuk ke ruangan itu.Clarisa duduk di sofa beludru merahnya, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan. Matanya merah, bukan hanya karena alkohol, tapi juga karena rasa marah yang sudah mengerak selama tiga bulan terakhir."Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?" gumam Clarisa dengan suara serak. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Juno dan Vivian saat acara pembukaan galeri tahun lalu. "Di mana kalian bersembunyi? Kenapa kau tak kunjung datang mengemis padaku, Juno?"Clarisa meneguk sisa wiski di gelasnya hingga tandas. Ia membayangkan Juno akan datang padanya dengan lutut gemetar, memohon bantuan finansial setelah bisnis kecil yang dibangun pria itu







