Share

Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati
Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati
Author: de Banyantree

Bisikan orang terdekat

Author: de Banyantree
last update Last Updated: 2025-11-14 08:20:20

Vivian berdiri di depan cermin riasnya yang besar. Rambutnya yang disanggul cantik, dan elegan. Dandanan make up dari penata rias ternama, serta gaun malam yang memeluk lekuk tubuhnya dengan indah meski kini telah menginjak usia 40 tahun.

Ingin sekali dia menyangkal dirinya dengan tampilan di depan cermin yang begitu sempurna, tanpa cela. Inilah dia sosok Vivian, seorang model terkenal.

Lambang keanggunan, dan kecantikan serta kesetian dari CEO Arman Group.

​Namun, di balik polesan makeup yang flawless, sepasang mata cokelatnya memancarkan kekosongan yang membekukan. Tidak seorang pun tau, kekosangan itu menyakitkan hatinya. Sejak lima tahun terakhir, kesempurnaan ini terasa seperti kulit yang ditarik kencang, rentan robek kapan saja.

Renntang waktu yang Vivian hitung sejak terakhir kali Arman menyentuhnya. Sejak terakhir kali ia merasakan kehangatan yang tulus, bukan sekadar pelukan formal di depan kamera.

​Pada awalnya, Vivian meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanyalah fase alami dari pernikahan yang telah berlangsung lama. Arman sedang sibuk. Proyek besar di luar kota, rapat larut malam, perjalanan bisnis ke luar negeri yang mendadak. Itu semua demi perusahaan.

Tetapi, sebenarnya banyak tanya, di dalam hatinya. Entah kenapa semuanya terasa tercekat di tenggorokan, jika dia ingin memulai pembicaraan.

​Mengapa Arman selalu menjaga jarak fisik, bahkan di rumah?

Mengapa ia tidak lagi berbagi cerita tentang hari-harinya, melainkan hanya memberikan jawaban singkat dan datar?

Mengapa setiap kali ia menawarkan sentuhan, Arman selalu beralasan lelah atau sakit kepala?

​"Vivian, kau sudah siap?" Suara bariton Arman memecah lamunannya. Suaranya formal, seperti memanggil seorang rekan kerja, bukan istrinya.

​"Sudah, Arman. Aku turun sekarang," gegas Vivian sambil mengambil tas tangan miliknya.

​Selama bertahun-tahun, Vivian telah mengabaikan semua keanehan itu dengan sengaja. Berharap semua baik-baik saja.

*****

​"Viv, aku tidak tahu apakah aku harus mengatakan ini..." ucap Winda yang adalah sahabat dekat Vivian. Oleh karena bisnis properti milik suaminya dan milik Arman masih menjalani kerja sama yang baik.

​Vivian menyesap tehnya perlahan, menjaga agar ekspresinya tetap tenang, sambil tersenyum tipis. "Apa itu? Mengenai butik baruku?"

​"Bukan. Mengenai Arman," bisiknya. "Akhir-akhir ini, ada rumor yang beredar di kalangan stafku, terutama di bagian kolom bisnis. Mereka bilang Arman tidak hanya pergi untuk urusan perusahaan saat ke luar kota. Ada yang melihatnya... sangat akrab dengan sekretarisnya," lanjut Winda lagi dengan ekpresi serius, menandakan dia tidak sedang berbohong.

​Vivian meletakkan cangkir tehnya, tidak ada suara denting yang tercipta. Ia masih tersenyum tipis, berusaha tenang walau dadanya terasa sedang dihantam palu. "Arman dan sekretaris? Tentu saja akrab. Mereka bekerja bersama setiap hari, Sayang. Jangan mendengarkan gosip murahan."

​"Aku tidak bicara tentang keakraban profesional, Viv," desak Winda. "Ini sudah menjurus ke lebih intim. Dan, Viv, stafku melihat sesuatu yang lebih mengkhawatirkan. Sekretarisnya, Indira, kabarnya... terlihat sering memegangi perutnya. Aku dengar dia sedang mengambil cuti panjang."

​Dunia Vivian seakan terhenti. Napasnya tercekat di tenggorokan. Indira. Vivian tahu nama itu. Sekretaris Arman yang muda, efisien, dan berpenampilan biasa saja. Ia tidak pernah menganggap Indira sebagai ancaman.

​"Kau harus lebih banyak memperhatikan gerak gerik suami kamu, Vivian."

Itu bukan kalimat sederhana dari Winda, tapi Vivian mengerti.

​Vivian memutuskan untuk melakukan apa yang tidak pernah dilakukan seorang istri setia, menyewa penyelidik swasta. Bukan untuk menangkap basah, melainkan untuk memastikan. Ia ingin fakta, bukan desas-desus.

​Tanpa membutuhkan waktu yang lama, semua laporan itu berada di depan matanya.

​Vivian membacanya di ruang kerjanya yang sunyi, jauh dari pengawasan Arman atau staf rumah.

Semua laporannya sangat lengkap. Lokasinya Ia sering terlihat check-in di sebuah unit penthouse eksklusif di Hotel The Elysium, salah satu hotel mewah di pusat kota. Bersama sekertarisnya itu.

​Vivian menelan ludah. Ia membalik ke halaman terakhir, tempat foto-foto itu terlampir.

​Foto-foto yang sebenarnya ingin sekali disangkal olehnya. Jika Arman tidak akan melakukan perbuatan itu. Namun ini bukan hanya perselingkuhan. Ini adalah masa depan yang telah Arman bangun di belakangnya.

​Kemarahan Vivian tidak meledak; ia justru meresap dan menjadi es. Ia ingat setiap ciuman yang Arman tolak, setiap malam yang ia habiskan sendirian.

Setiap rasa kecewa yang dia dapatkan.

​Vivian menelepon Arman, suaranya tenang. "Arman, bisakah besok sore, kita akan mengadakan makan malam dengan relasi penting dari Dubai. Tolong kosongkan jadwalmu dan pulang lebih awal? Ada yang perlu kita diskusikan sebelum bertemu mereka."

​Arman, yang selalu patuh jika mengenai urusan bisnis, setuju tanpa curiga.

​Keesokan harinya, Arman pulang sekitar pukul lima sore. Ia mendapati Vivian sedang menunggunya di ruang keluarga. Ruangan itu didominasi oleh perabot antik mahal dan cahaya yang lembut. Vivian duduk tegak di sofa beludru, secangkir teh dingin di mejanya.

​"Kau sudah pulang," sapa Vivian dengan senyum yang sempurna dan tanpa cela.

​"Ya. Kau mau bicara apa, Viv? Cepatlah, aku lelah," jawab Arman, melempar tas kerjanya ke kursi.

​Vivian tidak menjawab, matanya melihat tas yang Arman lempar.

Kemudian, Ia hanya mengambil amplop cokelat besar dari sampingnya dan memberikannnya ke meja kaca di depan Arman.

​"Aku tahu kau lelah," kata Vivian, suaranya lembut, namun matanya memancarkan petir. "Mungkin kau lelah karena terlalu sering menghabiskan malam di The Elysium, kamar penthouse 3001."

Ujar Vivian dingin, namun menahan beribu rasa sakit di dalam hatinya.

​Senyum Arman menghilang. Wajahnya mengeras, tetapi ia masih mencoba mempertahankan kendali.

"Omong kosong apa ini, Vivian?"

​"Omong kosong yang bernama Indira Kirana," lanjut Vivian, suaranya perlahan meninggi, menembus ketenangan yang selama ini ia jaga.

"Dan omong kosong yang paling menyakitkan adalah... bayi yang sedang ia kandung."

​Arman akhirnya membuka amplop itu. Matanya terpaku pada foto-foto yang menunjukkan perut besar Indira. Rahasia itu terbongkar dengan cara yang paling kejam. Arman mendongak, matanya penuh ancaman.

​"Kau mengintai aku?"

​Vivian bangkit, berdiri di atas Arman. Keanggunan telah berubah menjadi kemarahan yang membara.

"Aku mencari suamiku, Arman. Aku mencari alasan mengapa kau meninggalkanku, mengapa kau menolak sentuhanku, mengapa kau mengubah pernikahan kita menjadi lelucon kosong. Dan sekarang, aku tahu. Aku tidak hanya menemukan selingkuhanmu, aku menemukan keluarga barumu."

​Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Kau tahu apa yang paling membuatku jijik, Arman? Bukan perselingkuhan itu. Tapi kenyataan bahwa kau berpikir aku begitu bodoh, begitu naif, hingga tidak akan pernah mengetahuinya."

"Bukan begitu maksudku, Vivian. Cobalah dengarkan alasanku."

Vivian menatap tajam lelaki dihadapannya itu, menunggu apa yang akan dia lontarkan, sebagai alasan perselingkuhannya serta pembenaran atas perbuatannya itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Sentuhan

    Malam semakin larut, menyisakan suara jangkrik dan gesekan dahan pohon yang tertiup angin di luar sana. Setelah menyantap masakan rumahan Bi Inah yang luar biasa lezat—ayam ungkep bumbu kuning dan sambal terasi yang membangkitkan selera—Juno dan Vivian memutuskan untuk segera beristirahat. Tubuh mereka butuh jeda, namun pikiran mereka masih berpijar oleh rencana-rencana besar.​Mereka menaiki tangga kayu yang kokoh menuju lantai atas. Kamar utama di rumah ini jauh lebih luas dari seluruh luas rumah kontrakan mereka sebelumnya. Sebuah ranjang besar dengan tiang-tiang kayu jati berdiri megah di tengah ruangan, dilapisi sprei sutra berwarna putih bersih yang tampak sangat lembut.​"Bi Inah benar-benar menyiapkan segalanya dengan sempurna," gumam Juno sambil meletakkan tas punggungnya di atas kursi santai.​Vivian tersenyum lemas. "Aku butuh air hangat, Juno. Rasanya seluruh tulangku seperti mau copot."​Tanpa banyak bicara, Vivian langsung melangkah menuju kamar mandi yang terletak di da

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Markas

    Di tempat lain, di sebuah unit penthouse mewah yang menghadap langsung ke kerlip lampu kota Jakarta, Clarissa sedang menyesap wine merahnya dengan anggun. Ia menyilangkan kaki jenjangnya di atas sofa kulit mahal, sementara matanya menatap tajam ke arah layar tablet yang menampilkan laporan dari orang suruhannya.​"Tuan muda Anda sudah meninggalkan kontrakannya, Nona," suara pria di ujung telepon terdengar patuh. "Dia pergi membawa beberapa koper menggunakan taksi menuju arah pusat kota."​Clarissa meledakkan tawa lepas yang terdengar dingin di ruangan yang luas itu. Suara tawanya bergema, memantul di dinding kaca yang tebal. Ia membayangkan wajah Juno yang panik, keringat dingin yang mengucur, dan kebingungan istrinya saat harus terusir dari rumah petak yang kumuh itu.​"Bagus. Biarkan dia berputar-putar mencari tempat berteduh malam ini," ucap Clarissa sambil memutar gelas wine-nya. "Dia pikir dunia ini tempat yang ramah bagi pecundang yang tidak punya apa-apa? Dia akan segera sadar

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Mobil tua

    Juno mengernyitkan dahinya, benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Vivian. Di saat mereka baru saja kehilangan segalanya dalam hitungan jam, istrinya justru tampak memiliki energi yang meledak-ledak. Tak ada isak tangis, tak ada keluhan soal betapa tidak adilnya dunia.​"Vian, kamu serius? Kita mau ke mana? Ini sudah sore, dan mencari kontrakan baru tidak semudah membalikkan telapak tangan," ujar Juno dengan nada khawatir yang kental.​Vivian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik tangan Juno masuk ke dalam kamar. "Jangan pikirkan soal kontrakan baru dulu. Sekarang, bantu aku masukkan semua baju kita ke koper. Cepat, Juno. Sebelum orang-orang Clarissa kembali untuk memata-matai kita."​Juno hanya bisa terpaku melihat Vivian bergerak cekatan. Semua perabotan di rumah ini—meja makan, tempat tidur, hingga lemari kayu tua itu—adalah milik Bu Asih. Mereka hanya datang membawa pakaian dan beberapa barang pribadi. Dalam waktu kurang dari satu jam, dua koper besar dan dua t

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Ide

    Pagi itu, suasana di kantor Hendra Cargo terasa berbeda bagi Juno. Biasanya, Pak Hendra akan menyapanya dengan tepukan hangat di bahu atau sekadar menawarkan kopi sebelum mereka mulai mengecek manifes. Namun hari ini, pria tua itu tampak menghindari kontak mata. Ia terus-menerus mengusap dahinya yang berkeringat meski kipas angin di ruangan itu berputar kencang.​"Pak Hendra? Ada yang salah dengan laporan distribusi barang ke Jawa Tengah?" tanya Juno sambil meletakkan beberapa berkas di meja kayu yang sudah mulai mengelupas itu.​Pak Hendra mendongak, wajahnya tampak kuyu dan penuh beban. "Juno... bisa kita bicara sebentar? Di ruang dalam saja."​Juno mengangguk, firasatnya mulai tidak enak. Begitu mereka duduk di ruang kerja kecil yang pengap itu, Pak Hendra menghela napas panjang.​"Juno, kamu tahu betapa besarnya rasa hormatku pada almarhum ayahmu. Tanpa beliau, perusahaan kecil ini tidak akan pernah ada," buka Pak Hendra dengan nada gemetar. "Tapi pagi ini, aku menerima telepon da

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Cari tau

    Hanya butuh waktu kurang dari dua puluh empat jam bagi seorang detektif swasta profesional untuk menguliti kehidupan baru Juno dan Vivian. Bagi orang seperti "D", melacak jejak mantan miliarder yang kini hidup di lingkungan menengah ke bawah bukanlah perkara sulit.​Siang itu, cuaca Jakarta terasa sangat terik, namun suhu di dalam kantor pribadi Clarissa terasa sedingin es. Pintu ruangan terbuka, dan sang detektif melangkah masuk dengan setelan jaket kulit hitam yang tampak gerah. Ia meletakkan sebuah map biru di atas meja marmer Clarissa yang mengkilap.​"Semua informasi yang Anda minta ada di dalam sana, Nona," ujar sang detektif dengan suara serak.​Clarissa tidak langsung membukanya. Ia hanya melirik map itu dengan ujung matanya sambil terus mengikir kuku. "Jelaskan secara garis besar. Aku sedang tidak ingin membaca narasi panjang lebar."​Detektif itu berdehem. "Juno bekerja di sebuah perusahaan logistik kecil bernama 'Hendra Cargo'. Pemiliknya adalah Hendra Wijaya, seorang pengu

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Rencana busuk

    Di tempat lain, di sebuah penthouse mewah yang dulunya adalah milik Juno, kini telah berubah menjadi miliknya. Clarissa sedang menyesap wine merah dengan kaki tersilang angkuh. Ruangan itu dipenuhi oleh barang-barang bermerek yang kini sepenuhnya adalah haknya. Kemenangan ini terasa begitu manis di lidahnya, lebih manis daripada anggur termahal yang pernah ia beli.​"Venderbilt Group sudah di tanganku. Semua aset, saham, bahkan nama besar itu kini tunduk padaku," gumam Clarissa sambil menatap pemandangan kota Jakarta dari balik dinding kaca.​Namun, rasa puas itu ternyata memiliki celah. Ada rasa penasaran yang menggerogoti hatinya. Ia ingin tahu seberapa hancur pria yang dulu menolaknya demi wanita "tua" itu. Clarissa tidak puas hanya dengan mengambil hartanya; ia ingin menyaksikan Juno merangkak di kubangan kemiskinan.Dalam hatinya bertekad, dengan hancurnya Juno suatu saat pasti dia akan datang mengemis cinta Clarisa.​Ia meraih ponselnya dan menghubungi sebuah nomor yang tersimp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status