Share

Sensasi baru, mematikan

Author: de Banyantree
last update Last Updated: 2025-11-14 11:52:45

​Vivian masih duduk terpaku di sofa ruang keluarga, dinding marmer terasa dingin memeluk kehampaan.

Ada rasa amarah bercampur benci menjadi satu dan terasa menyesakan di dalam dadanya.

"Kontrak baru," gumamnya sinis. Pernikahan yang berubah menjadi kesepakatan bisnis yang menjijikkan, di mana ia harus menjual harga dirinya demi menjaga citra sempurna yang telah ia bangun.

​Air matanya tidak menetes. Vivian tetap tidak menangis. Ia tahu, jika ia membiarkan satu tetes pun jatuh, ia akan tenggelam sepenuhnya. Arman telah berhasil. Ia menyentuh inti terdalamnya: ketakutan akan terlihat bodoh. Ia tidak takut miskin, tetapi ia tidak sudi kehilangan kendali atas kisahnya sendiri.

​Ia bangkit, kakinya membawanya menjauhi ilusi keharmonisan di ruang keluarga itu. Langkahnya terasa berat, seperti ia menyeret beban yang tak terlihat. Begitu tiba di kamar utama, Vivian menarik kasar kalung berliannya hingga rantainya terputus. Gejolak emosi yang tertahan, hanya dilampiaskan pada kalung . Ia membiarkan gaun sutra mahalnya jatuh ke lantai, meninggalkannya hanya dengan lingerie hitam minim. Bahan renda yang tipis itu tidak memberinya kehangatan, hanya memaparkan kerapuhan yang ia coba sembunyikan.

​Vivian duduk di tepi ranjang king size yang terasa terlalu luas. Ia memeluk lututnya, menatap ke kegelapan di luar jendela. Tubuhnya gemetar, namun ia tidak menangis. Ia hanya membiarkan rasa hina itu meresap, membeku di dalam pembuluh darahnya. Lima tahun tidak disentuh—bukan karena sibuk, tapi karena ada "penyegaran" yang lebih muda. Ia merasa kotor dan tak diinginkan.

​****

​Di balik pintu kayu mahoni ruang kerja yang tertutup, Juno menahan napas. Suara langkah Vivian yang menjauh dan kemudian keheningan yang menyelimuti rumah itu terasa lebih memekakkan daripada pertengkaran tadi. Ia tidak bergerak. Amarah dingin terhadap ayahnya kini bercampur dengan desakan kuat yang aneh. Ayahnya telah membuang Vivian. Dan sekarang, Vivian rapuh, sendiri, tidak berdaya.

Selama ini dia memang terlihat tidak perduli. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, nama Vivian ada disimpannya dengan rapi.

​Kini waktu di jam dinding klasik, menunjukan pukul 02.00 dini hari. Seolah ada kekuatan lain yang menggerakkan, kaki Juno melangkah, menuju lorong kamar utama. Ia berdiri di depan pintu yang tidak terkunci.

​Dengan hati-hati, Juno mendorong pintu itu hingga terbuka sedikit. Ia menyelinap masuk. Kamar itu gelap, hanya diterangi sedikit cahaya rembulan. Siluet Vivian terlihat jelas di tepi ranjang. Punggungnya terlihat anggun meski duduk di keremangan lampu kamar yang agak redup.

​Tangan Juno terangkat. Gerakannya terasa lambat, bukan karena ragu, tapi karena gairah di dada yang berjuang melawan kemarahan. Jemarinya yang panjang dan dingin menyentuh bahu Vivian yang mulus, bukan usapan, melainkan genggaman yang kuat.

​Sensasi sentuhan yang baru dirasakan oleh Vivian di bahunya seperti sengatan listrik yang melumpuhkan dirinya .Ia tersentak, tetapi tidak berteriak.

​Arman.

​Pikirnya seketika. Siapa lagi yang berani masuk ke kamarnya pada pukul 02.00 dini hari?

"Benarkah Arman kembali, apakah dia menyesali keputusannya tadi?"

Hati Vivian penuh tanya, namun enggan dia ungkapkan.

Rasa sakitnya seketika ditelan oleh kebutuhan yang lebih besar.

"Bisakah dia sedikir egois dengan penerimaan ini?"

Hati Vivian bergejolak, lagi dia masih menutup rapat mulutnya. Memilih merasakan sentuhan yang telah lama mati ini.

Tangan yang memegang bahunya terasa dingin dan asing—lebih muda—tetapi Vivian memilih untuk mengabaikannya. Ia terlalu lama haus sentuhan, terlalu lama haus pengakuan. Ia memejamkan mata, membiarkan sentuhan itu menjadi pembalasan atas kehampaan lima tahun.

​Vivian meraih tangan dingin di bahunya. Tangan itu terasa lebih tegas, dengan tulang jari yang lebih ramping daripada Arman. Namun, ia hanya bersandar, menikmati kehangatan sentuhan yang sudah lama hilang.

Ini bukan lagi pelukan. Ini adalah rangkulan yang menuntut. Juno mencondongkan tubuh, napasnya yang hangat dan berbau mint sangat berbeda dari Arman. Berembus di leher belakang Vivian. Bau maskulin yang berbeda itu menyelimuti indra Vivian, tetapi ia menolak untuk berpikir.

Otaknya sudah terasa buntu untuk berpikir.

Juno membalik tubuh Vivian, tangannya menangkup wajah Vivian. Vivian membuka mata, kegelapan menipu indranya.

​"Arman..." bisik Vivian, sebuah pertanyaan, bukan pernyataan.

​Juno tidak menjawab. Ia hanya menunduk, bibir hangatnya bertemu dengan bibir Vivian. Lumatan ciuman mereka itu intens, menuntut, dan penuh kemarahan yang dialihkan. Vivian merespons, bukan karena cinta, tetapi karena keputusasaan dan pembalasan. Lumatan itu menjadi pelepasan rasa sakit yang ia rasakan.

Rasa haus yang selama ini didamba, bagai pembalasan untuk waktu yang telah lama hilang bersama kepergian Arman.

​Mereka bercumbu, tenggelam dalam sensasi terlarang yang meledak-ledak. Juno mendorongnya, membaringkannya di ranjang, dan dengan cepat berada di atasnya.

​Vivian mendongak. Sedikit cahaya rembulan yang menembus celah tirai kini jatuh tepat di wajah pria yang berada di atasnya.

​Jantung Vivian berhenti berdetak. Bukan Arman yang ia lihat.

​Wajah tampan, dingin, dan kaku itu adalah Juno. Putra tirinya.

​Matanya yang gelap memancarkan gairah brutal yang dingin, dan kemarahan yang membuat Vivian sadar akan kehancuran yang baru saja terjadi. Wajahnya yang muda, yang biasa ia lihat dengan jarak sopan di ruang makan, kini berada sangat dekat, memancarkan dominasi yang berbahaya.

​Vivian tidak berteriak. Ia hanya bisa mengeluarkan desisan nama itu. "Juno!"

​Kaget, ngeri, dan syok. Semua emosi itu menghantamnya sekaligus. Dengan kekuatan yang tersisa dari keterkejutan itu, Vivian mendorong tubuh kekar Juno. Juno tidak siap dan terhuyung, jatuh ke samping tubuh Vivian di ranjang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Akhir yang Sempurna

    Malam pertama di rumah terasa begitu berbeda. Meskipun kamar bayi itu kini lebih mirip laboratorium medis mini, atmosfernya jauh lebih hangat daripada bangsal rumah sakit yang kaku. Cahaya lampu redup berwarna kekuningan memberikan kesan tenang, kontras dengan kerlip lampu indikator pada mesin inkubator yang menjaga suhu tubuh Arka dan Kiara.​Juno masuk ke kamar dengan membawa segelas susu hangat dan sepiring kecil camilan sehat untuk Vivian. Ia mendapati istrinya masih terjaga, duduk di kursi menyusui tepat di antara dua inkubator tersebut.​"Belum mengantuk, Vi? Ini sudah hampir tengah malam," bisik Juno lembut agar tidak mengganggu dua perawat profesional, Suster rini dan Suster Maya, yang sedang sibuk mencatat grafik perkembangan bayi di meja sudut ruangan.​Vivian menoleh, senyumnya tidak lepas dari wajahnya yang masih sedikit pucat. "Bagaimana bisa aku tidur, Jun? Melihat mereka bernapas dengan tenang di sini saja sudah membuatku merasa seperti sedang bermimpi. Terima kasih ya,

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Pulang

    Tiga hari berlalu dengan cepat di rumah sakit. Luka bekas operasi sesar Vivian mulai mengering, dan rasa mulas akibat prosedur laparoskopi tempo hari pun sudah jauh berkurang. Vivian sudah mulai bisa berjalan tegak, meski langkahnya masih pelan dan hati-hati. Pagi itu, Dokter Handoko datang melakukan visit rutin dengan senyum khasnya yang kebapakan.​"Kondisi fisik Ibu Vivian sangat luar biasa. Pemulihannya cepat sekali," puji Dokter Handoko sambil memeriksa grafik medis. "Hari ini Ibu sudah diperbolehkan pulang. Jangan lupa obatnya diminum rutin dan jangan mengangkat beban berat dulu, ya."​Vivian tersenyum lega, namun sedetik kemudian tatapannya beralih pada Juno yang berdiri di samping tempat tidur. Ada kegelisahan yang menggantung di udara.​"Lalu bagaimana dengan bayi kami, Dok?" tanya Juno cepat. Suaranya terdengar cemas. "Apa Arka dan Kiara sudah bisa ikut pulang bersama mamanya?"​Dokter Handoko menghela napas pendek, lalu melipat tangannya di depan dada. "Untuk sementara, bia

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Ruang bayi

    Setelah perawat selesai menyuntikkan obat penenang ringan dan penstabil tensi, kantuk mulai menggelayuti kelopak mata Vivian. Dokter Handoko memberikan instruksi terakhir kepada timnya sebelum kembali menoleh pada Juno.​"Kita akan membawanya ke ruang tindakan sekarang, Pak Juno. Prosedurnya tidak akan selama operasi sesar tadi siang karena ini tindakan laparoskopi minimal. Kami hanya akan menutup akses saluran tuba agar tidak terjadi kehamilan di masa depan," jelas Dokter Handoko dengan nada yang sangat menenangkan.​Juno mengangguk, melepaskan genggaman tangannya dengan berat hati namun penuh keyakinan. "Lakukan yang terbaik, Dok. Saya titip istri saya."​Roda brankar berderit halus saat perawat mendorong Vivian keluar dari kamar 402. Juno hanya bisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung para medis itu hingga menghilang di balik pintu ganda ruang sterilisasi. Lorong rumah sakit kini terasa lebih sunyi, namun anehnya, perasaan Juno jauh lebih damai. Ia tahu, keputusan ini adalah

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Keputusan

    Juno melangkah pelan menyusuri lorong rumah sakit yang mulai temaram. Pikirannya masih tertuju pada penjelasan Dokter Handoko. Sterilisasi. Sebuah kata yang terdengar berat, namun terasa seperti satu-satunya jalan logis untuk menjaga agar napas Vivian tetap berembus di sisinya.​Begitu membuka pintu kamar 402, ia mendapati Vivian sudah bersandar pada bantal yang ditumpuk tinggi. Masker oksigennya sudah diganti dengan selang kecil di hidung , membuat wajah cantiknya terlihat lebih jelas.​"Dari mana, Jun?" suara Vivian masih agak serak, tapi sorot matanya sudah jauh lebih fokus.​"Habis dipanggil Dokter Handoko sebentar, Sayang," jawab Juno sambil tersenyum menenangkan. Ia mendekat, mengusap pipi Vivian yang mulai terasa hangat. "Gimana? Masih pusing banget?"​Vivian menggeleng lemah. "Lapar sedikit. Tapi rasanya kayak habis lari maraton, badan remuk semua."​Kebetulan sekali, seorang pramusaji rumah sakit masuk membawakan nampan berisi bubur halus, sup bening, dan segelas air putih ha

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Peringatan dokter

    Juno mengusap lembut kepala Vivian, membiarkan jemarinya menyisir rambut istrinya yang sedikit berantakan. Ia bisa merasakan napas Vivian yang mulai dalam dan teratur, pertanda wanita itu kembali terlelap dalam tidur yang lebih berkualitas setelah perjuangan hidup dan mati di meja operasi.​"Istirahat ya, Vian. Kamu butuh ini," bisik Juno pelan.​Baru saja Juno hendak menyandarkan punggungnya di kursi, pintu kamar diketuk pelan. Bayu melongokkan kepalanya dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Pak, maaf mengganggu. Dokter Handoko baru saja berpesan, kalau Bapak sudah tenang, beliau minta Bapak ke ruangannya sebentar."​Juno mengangguk. Meski hatinya enggan beranjak satu senti pun dari sisi Vivian, ia tahu ada hal medis yang harus ia dengar langsung. Ia memberikan instruksi singkat pada Bayu untuk menjaga di depan pintu dan segera melaporkan jika ada pergerakan sekecil apa pun dari Vivian.​​Juno melangkah masuk ke ruangan yang didominasi aroma antiseptik dan jajaran buku medis itu. Dok

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Lega

    "Dok, saya boleh lihat Vivian sekarang?" tanya Juno dengan nada mendesak, matanya masih memerah namun memancarkan harapan yang begitu besar.​Dokter Handoko tersenyum maklum, ia sudah sangat terbiasa melihat ekspresi seorang suami yang sedang dilanda euforia sekaligus kecemasan pascaoperasi. "Sabar, Juno. Vivian sedang dipindahkan dari ruang pemulihan ke ruang perawatan VVIP. Obat biusnya belum hilang sepenuhnya, jadi dia mungkin belum sadar total. Tapi silakan, kamu bisa menemaninya di sana."​Mendengar izin itu, Juno tidak menunggu dua kali. Ia bergegas mengikuti arahan perawat, mengabaikan rasa pegal di kakinya setelah berjam-jam duduk di kursi keras koridor. Bayu, yang masih setia mengikuti, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat bosnya yang biasanya berjalan dengan langkah penuh wibawa, kini hampir berlari kecil seperti remaja yang sedang jatuh cinta.​"Pak, pelan-pelan! Istri Bapak tidak akan lari ke mana-mana," goda Bayu pelan, mencoba mencairkan suasana.​Juno hanya menoleh s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status