Share

Bukan ancaman biasa

Author: de Banyantree
last update Last Updated: 2025-11-15 16:54:54

​"Apa... apa yang kau lakukan?" Suara Vivian bergetar, masih shock dengan keadaan yang mengejutkan ini.

​Juno memalingkan wajahnya, menyandarkan lengannya di dahinya. "Aku melihatmu." Suaranya terdengar serak dan rendah. "Aku mendengarnya. Ayahku memperlakukanku dengan arogan, tapi aku bisa menerimanya. Namun, melihat ia menghancurkanmu seperti itu..."

​Ia menghela napas, mengangkat kepalanya, dan menoleh ke arah Vivian. Matanya berkilat dalam gelap.

​"Kau pantas mendapatkan lebih, Vivian. Bukan kontrak murahan. Kau pantas dihasratkan."

​Vivian terdiam. Kata-kata itu, meskipun keluar dari mulut putra tirinya setelah ciuman terlarang, menancap. Ia pantas dihasratkan.

​"Kau gila, Juno. Kau... kau anakku!" Vivian berbisik, nadanya kini beralih menjadi ketakutan yang dingin.

​Juno tersenyum sinis, senyuman yang berbahaya dan sangat mirip dengan Arman, namun lebih muda dan lebih kejam.

​"Aku bukan anakmu, Vivian. Aku tidak pernah menyebutmu 'Ibu'. Aku adalah pria, dan kau adalah wanita yang baru saja dicampakkan oleh suaminya. Wanita yang membutuhkan 'sesuatu'."

​Juno mencondongkan tubuh lagi, wajahnya mendekat. "Dan kau pantas mendapatkan itu, Vivian. Kau terlalu berharga untuk menjadi 'aset' atau 'topeng' bagi pria tua sepertinya."

​Vivian tidak bisa bergerak, terperangkap oleh tatapan Juno. Seakan sedang mengunci dirinya. Dan ia baru saja sedang berbagi ciuman dengan putra tirinya. Sesuatu yang kotor dan mematikan telah dimulai.

​"Sekarang kau tahu," bisik Juno, suaranya mengandung ancaman dan janji. "Aku tidak akan membiarkan Ayah terus meremehkanmu. Aku akan memberimu apa yang ia tolak untuk berikan."

​Juno bangkit, berdiri di samping tempat tidur. Lingerie hitam Vivian yang tersembunyi di balik selimut terasa panas di kulitnya.

​"Jangan pernah berpikir untuk memberitahunya," ancam Juno, suaranya kembali dingin dan kaku seperti yang biasa didengar Vivian. "Atau kontrak yang kau bicarakan itu akan benar-benar hancur, dan bukan hanya karirmu, Vivian. Seluruh hidupmu. Aku tidak main-main."

​Juno berjalan pelan menuju pintu. Ia tidak menoleh ke belakang, meninggalkan Vivian yang membeku di ranjang, di antara selimut tebal dan rasa bersalah yang mematikan.

​Vivian memejamkan mata. Ia sudah kehilangan segalanya pada Arman. Dan sekarang, ia baru saja menyerahkan kendali atas hidupnya pada Juno.

​Apa yang baru saja aku lakukan?

​Ciuman itu... gairah itu... ia tidak bisa mengingkarinya. Ia merasakannya. Dan itu membuat situasinya seribu kali lebih berbahaya.

​Vivian membuka matanya, menatap ke pintu kamar yang tertutup. Ia baru saja melompat dari api Arman ke dalam neraka Juno.

Bunyi pintu yang ditutup oleh Juno pun, semakin membuat Vivian tal berdaya.

Ia meremas selimut tebal miliknya. Ingin marah dan meluapkan semua gejolak emosinya. Tapi jauh di lubuk hatinya, Juno benar-benar telah merampas rasa yang kosong itu.

"Tapi, argggggghhh."

Vivian berdesis tak terima.

​"Aku... aku sedang bermimpi," bisiknya, suaranya parau. Ia meremas pahanya kuat, hingga kemerahan, berharap rasa sakit fisik akan membawanya kembali ke kenyataan yang lebih normal. Kenyataan di mana putra tirinya tidak mengatakan ia pantas dihasratkan, dan tidak mengancam akan menghancurkan hidupnya.

​Vivian bangkit dari tempat tidur, kakinya terasa goyah. Ia bergerak menuju cermin rias, menyalakan lampu redup. Pantulan wajahnya yang pucat dan mata yang melebar menatapnya kembali. Tidak ada tanda-tanda tidur atau mimpi. Ciuman itu nyata. Kata-kata itu nyata. Ancaman itu... sangat nyata.

​Vivian membenamkan wajah di telapak tangannya. "Aku tidak bisa. Aku tidak akan membiarkannya terjadi," ia berbisik dengan tekad yang kini membakar rasa takutnya. Ia sudah kehilangan dirinya sekali untuk keluarga ini; ia tidak akan kehilangan jiwanya untuk putra tirinya.

​Ia berjalan mondar-mandir di kamar, pikirannya berputar cepat mencari celah. Juno berpikir ia rentan, dicampakkan. Ia benar. Tapi Juno meremehkan betapa keras ia akan berjuang untuk bertahan hidup sekarang setelah ia tahu dirinya hanya "aset".

​Tiba-tiba, ponselnya bergetar di meja. Pesan masuk. Dari Juno.

​Juno: Tidur nyenyak, Vivian. Dan jangan mencoba meyakinkan dirimu sendiri bahwa ini adalah mimpi. Aku akan segera menghubungimu.

​Napas Vivian tercekat. Dingin dan perhitungan. Ia menekan tombol panggilan.

​Juno mengangkatnya setelah dering kedua. "Mengapa kau tidak menurut, Vivian? Aku sudah bilang jangan memberitahu Ayah."

​"Aku tidak meneleponmu untuk mengancam," potong Vivian, suaranya kini kembali dingin dan kaku, memantulkan nada Juno. "Aku meneleponmu untuk mengakhiri kegilaan ini. Lupakan ciuman itu. Lupakan semua yang kau katakan. Kau adalah putra Arman. Kau... Juno. Kau bukan siapa-siapa bagiku selain anak tiriku."

​Keheningan yang mencekam menggantung di udara.

​Kemudian, Juno tertawa. Tawa yang sama sinis dan berbahaya yang ia tunjukkan di hadapannya beberapa menit yang lalu.

​"Kau sungguh keras kepala," katanya, nada suaranya berubah dari ancaman menjadi sesuatu yang lebih gelap dan memikat. "Kau berpikir kau bisa menyangkalnya? Aku tidak peduli dengan penolakanmu yang dingin, Vivian. Aku memang terlihat dingin dan tak berperasaan kelihatan di luar sana. Bagiku, jika kini aku memilihmu maka itu adalah pilihan yang tak bisa digugat lagi."

​"Kau salah memilih," bantah Vivian. "Kau sedang memainkan permainan berbahaya, Juno, dan aku tidak ingin menjadi bidak di dalamnya."

​"Kau sudah menjadi bidak, Vivian. Bidak Ayahku, dan sekarang, bidakku. Kau hanya menolak mengakui betapa menariknya bidakku ini," bisik Juno, suaranya terdengar sangat dekat, seolah ia berada tepat di belakang Vivian. "Kau bilang itu mimpi buruk. Baiklah. Biar aku tunjukkan apa itu mimpi indah."

​Pintu kamar Vivian tiba-tiba berderit pelan. Jantung Vivian langsung mencelos. Ia menoleh ke belakang, tetapi tidak ada siapa-siapa.

​"Apa... apa yang kau lakukan?"

​"Aku di rumah. Aku tahu kapan pintu kamarmu tidak dikunci, Vivian," jawab Juno, nadanya seperti seorang guru yang sabar. "Arman mungkin mengunci hatinya, tapi dia tidak pernah mengunci kamarmu dariku. Sekarang, aku hanya ingin memastikan kau tidak melakukan hal bodoh, seperti... mencoba lari."

​Vivian meletakkan ponselnya, matanya terpaku pada celah sempit di antara pintu dan kusen. Juno tidak hanya mengawasinya; ia mengendalikannya. Dan sekarang ia ada di rumah, hanya beberapa langkah dari kamarnya.

​Juno tidak menutup telepon. Vivian bisa mendengar napasnya yang berat dan pelan di seberang sana, seperti pemangsa yang mengintai.

Hati Viviane semakin berdegup kencang, dia merasa sepertinya Juno tidak bermain-main dengan kata-katanya.

"Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan Ya Tuhan?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Sentuhan

    Malam semakin larut, menyisakan suara jangkrik dan gesekan dahan pohon yang tertiup angin di luar sana. Setelah menyantap masakan rumahan Bi Inah yang luar biasa lezat—ayam ungkep bumbu kuning dan sambal terasi yang membangkitkan selera—Juno dan Vivian memutuskan untuk segera beristirahat. Tubuh mereka butuh jeda, namun pikiran mereka masih berpijar oleh rencana-rencana besar.​Mereka menaiki tangga kayu yang kokoh menuju lantai atas. Kamar utama di rumah ini jauh lebih luas dari seluruh luas rumah kontrakan mereka sebelumnya. Sebuah ranjang besar dengan tiang-tiang kayu jati berdiri megah di tengah ruangan, dilapisi sprei sutra berwarna putih bersih yang tampak sangat lembut.​"Bi Inah benar-benar menyiapkan segalanya dengan sempurna," gumam Juno sambil meletakkan tas punggungnya di atas kursi santai.​Vivian tersenyum lemas. "Aku butuh air hangat, Juno. Rasanya seluruh tulangku seperti mau copot."​Tanpa banyak bicara, Vivian langsung melangkah menuju kamar mandi yang terletak di da

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Markas

    Di tempat lain, di sebuah unit penthouse mewah yang menghadap langsung ke kerlip lampu kota Jakarta, Clarissa sedang menyesap wine merahnya dengan anggun. Ia menyilangkan kaki jenjangnya di atas sofa kulit mahal, sementara matanya menatap tajam ke arah layar tablet yang menampilkan laporan dari orang suruhannya.​"Tuan muda Anda sudah meninggalkan kontrakannya, Nona," suara pria di ujung telepon terdengar patuh. "Dia pergi membawa beberapa koper menggunakan taksi menuju arah pusat kota."​Clarissa meledakkan tawa lepas yang terdengar dingin di ruangan yang luas itu. Suara tawanya bergema, memantul di dinding kaca yang tebal. Ia membayangkan wajah Juno yang panik, keringat dingin yang mengucur, dan kebingungan istrinya saat harus terusir dari rumah petak yang kumuh itu.​"Bagus. Biarkan dia berputar-putar mencari tempat berteduh malam ini," ucap Clarissa sambil memutar gelas wine-nya. "Dia pikir dunia ini tempat yang ramah bagi pecundang yang tidak punya apa-apa? Dia akan segera sadar

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Mobil tua

    Juno mengernyitkan dahinya, benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Vivian. Di saat mereka baru saja kehilangan segalanya dalam hitungan jam, istrinya justru tampak memiliki energi yang meledak-ledak. Tak ada isak tangis, tak ada keluhan soal betapa tidak adilnya dunia.​"Vian, kamu serius? Kita mau ke mana? Ini sudah sore, dan mencari kontrakan baru tidak semudah membalikkan telapak tangan," ujar Juno dengan nada khawatir yang kental.​Vivian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik tangan Juno masuk ke dalam kamar. "Jangan pikirkan soal kontrakan baru dulu. Sekarang, bantu aku masukkan semua baju kita ke koper. Cepat, Juno. Sebelum orang-orang Clarissa kembali untuk memata-matai kita."​Juno hanya bisa terpaku melihat Vivian bergerak cekatan. Semua perabotan di rumah ini—meja makan, tempat tidur, hingga lemari kayu tua itu—adalah milik Bu Asih. Mereka hanya datang membawa pakaian dan beberapa barang pribadi. Dalam waktu kurang dari satu jam, dua koper besar dan dua t

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Ide

    Pagi itu, suasana di kantor Hendra Cargo terasa berbeda bagi Juno. Biasanya, Pak Hendra akan menyapanya dengan tepukan hangat di bahu atau sekadar menawarkan kopi sebelum mereka mulai mengecek manifes. Namun hari ini, pria tua itu tampak menghindari kontak mata. Ia terus-menerus mengusap dahinya yang berkeringat meski kipas angin di ruangan itu berputar kencang.​"Pak Hendra? Ada yang salah dengan laporan distribusi barang ke Jawa Tengah?" tanya Juno sambil meletakkan beberapa berkas di meja kayu yang sudah mulai mengelupas itu.​Pak Hendra mendongak, wajahnya tampak kuyu dan penuh beban. "Juno... bisa kita bicara sebentar? Di ruang dalam saja."​Juno mengangguk, firasatnya mulai tidak enak. Begitu mereka duduk di ruang kerja kecil yang pengap itu, Pak Hendra menghela napas panjang.​"Juno, kamu tahu betapa besarnya rasa hormatku pada almarhum ayahmu. Tanpa beliau, perusahaan kecil ini tidak akan pernah ada," buka Pak Hendra dengan nada gemetar. "Tapi pagi ini, aku menerima telepon da

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Cari tau

    Hanya butuh waktu kurang dari dua puluh empat jam bagi seorang detektif swasta profesional untuk menguliti kehidupan baru Juno dan Vivian. Bagi orang seperti "D", melacak jejak mantan miliarder yang kini hidup di lingkungan menengah ke bawah bukanlah perkara sulit.​Siang itu, cuaca Jakarta terasa sangat terik, namun suhu di dalam kantor pribadi Clarissa terasa sedingin es. Pintu ruangan terbuka, dan sang detektif melangkah masuk dengan setelan jaket kulit hitam yang tampak gerah. Ia meletakkan sebuah map biru di atas meja marmer Clarissa yang mengkilap.​"Semua informasi yang Anda minta ada di dalam sana, Nona," ujar sang detektif dengan suara serak.​Clarissa tidak langsung membukanya. Ia hanya melirik map itu dengan ujung matanya sambil terus mengikir kuku. "Jelaskan secara garis besar. Aku sedang tidak ingin membaca narasi panjang lebar."​Detektif itu berdehem. "Juno bekerja di sebuah perusahaan logistik kecil bernama 'Hendra Cargo'. Pemiliknya adalah Hendra Wijaya, seorang pengu

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Rencana busuk

    Di tempat lain, di sebuah penthouse mewah yang dulunya adalah milik Juno, kini telah berubah menjadi miliknya. Clarissa sedang menyesap wine merah dengan kaki tersilang angkuh. Ruangan itu dipenuhi oleh barang-barang bermerek yang kini sepenuhnya adalah haknya. Kemenangan ini terasa begitu manis di lidahnya, lebih manis daripada anggur termahal yang pernah ia beli.​"Venderbilt Group sudah di tanganku. Semua aset, saham, bahkan nama besar itu kini tunduk padaku," gumam Clarissa sambil menatap pemandangan kota Jakarta dari balik dinding kaca.​Namun, rasa puas itu ternyata memiliki celah. Ada rasa penasaran yang menggerogoti hatinya. Ia ingin tahu seberapa hancur pria yang dulu menolaknya demi wanita "tua" itu. Clarissa tidak puas hanya dengan mengambil hartanya; ia ingin menyaksikan Juno merangkak di kubangan kemiskinan.Dalam hatinya bertekad, dengan hancurnya Juno suatu saat pasti dia akan datang mengemis cinta Clarisa.​Ia meraih ponselnya dan menghubungi sebuah nomor yang tersimp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status