MasukSuara Juno memudar, dan telepon diputus. Vivian tidak bisa bernapas. Ia tidak hanya melompat ke neraka Juno; Juno baru saja membuka gerbang dan berjalan masuk. Ia sekarang berada di bawah satu atap dengan putra tirinya yang terobsesi dan berbahaya. Ia sudah kehilangan Arman, dan kini ia dalam bahaya kehilangan segalanya pada Juno.
Aku tidak akan lari. Aku akan melawannya. Vivian mengambil kunci kamarnya, langkahnya mantap. Ia memasukkannya ke lubang kunci dan memutarnya. Kunci berbunyi klik. Kamarnya aman. Ia mengambil napas dalam-dalam. Namun, sesaat setelah tangannya turun, ia mendengar suara lain. Sangat pelan, tetapi jelas. Kring. Itu bukan suara kunci yang diputar. Itu adalah bunyi kunci duplikat yang baru saja dimasukkan ke dalam lubang kunci, dari sisi luar. Dan bunyinya adalah bunyi pembukaan. Vivian membeku. Suara Juno bergema di benaknya: "Aku tahu kapan pintu kamarmu tidak dikunci..." Ternyata itu hanyalah pikiran Vivian. Tidak terjadi apa pun. Setelah memastikan pintu kamar tidak bisa dibuka, mata Vivian kini benar benar tertutup rapat, lelah menghadapi kenyataan tak terduga seperti ini.. Pagi harinya, Vivian berdiri terpaku. Jantungnya berdebar kencang, memukul tulang rusuknya seolah ingin melarikan diri dari tubuhnya. Udara terasa dingin dan tipis. Kunci yang baru saja ia putar untuk mengamankan dirinya ternyata hanya memberinya ilusi palsu. Juno sudah memilikinya. Juno tidak hanya tahu kapan pintunya tidak terkunci, ia punya cara untuk membuatnya terbuka kapan pun ia mau. Kunci duplikat. Atau bahkan mungkin, kunci utama. Kring. Suara klik lembut itu, bunyi mekanis yang dingin, kini terasa mematikan. Pintu kamar Vivian, yang berlapis kayu solid dan dihiasi ukiran kuno, perlahan mulai terayun ke dalam, membuka celah hitam. Vivian tidak bisa lari. Kakinya terasa terpaku ke lantai marmer yang dingin. Matanya terpaku pada celah yang melebar itu. Ia melihat siluet tinggi, bahu lebar, dan rambut hitam pekat. Juno berdiri di ambang pintu, bingkai tubuhnya mengisi seluruh bukaan. Ia tidak tergesa-gesa. Ia menyandarkan sebelah tangannya di kusen, tatapannya yang intens menyapu seluruh kamar, mendarat tepat pada Vivian. "Aku sudah bilang," suara Juno terdengar rendah dan bergetar, hampir seperti senandung yang mengerikan, "Aku tahu kapan pintu kamarmu tidak dikunci." Vivian akhirnya menemukan suaranya, meskipun hanya bisikan tajam, "Keluar." Juno tersenyum. Itu bukan senyum kegembiraan, melainkan seringai predator yang telah berhasil menjebak mangsanya. "Itu tidak mungkin, Ibu Tiri. Aku datang untuk memastikan kau baik-baik saja." "Aku baik-baik saja," kata Vivian, mengambil satu langkah mundur. Ia meraba meja di belakangnya, mencari pegangan. Jemarinya menyentuh vas keramik yang berat. Itu mungkin satu-satunya senjatanya. "Keluar dari kamarku sekarang." Juno melangkah masuk. Satu langkah. Lalu yang kedua. Udara di ruangan itu terasa menghimpit. "Kenapa tergesa-gesa?" Juno memajukan dagunya, menatap Vivian dengan sorot mata yang membuat bulu kuduk berdiri. "Aku ingin kita memulai hari ini dengan benar. Aku ingin kau tahu, bahwa tidak ada yang akan memisahkan kita lagi." "Kita sudah terpisah, Juno. Aku istri Arman. Dan kau... kau adalah putranya," Vivian menekan kata-kata itu, berusaha menegaskan batas yang ia tahu telah ia langgar. "Arman tidak ada di sini," balas Juno, suaranya kini mendesak. Ia mengambil langkah lagi. Saat itulah Vivian bertindak. Dengan gerakan cepat yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri, ia mengayunkan vas keramik itu. Brak! Vas itu menghantam kusen pintu, tepat di samping kepala Juno, pecah menjadi serpihan. Suara dentuman yang nyaring itu memenuhi ruangan, diikuti keheningan yang memekakkan telinga. Juno berhenti, matanya melebar sesaat, tetapi bukan karena rasa takut, melainkan kejutan. Kemudian, senyumnya kembali, lebih lebar, lebih gila. Ia mencondongkan tubuh sedikit. "Kau berani. Aku suka itu." Vivian terengah-engah, serpihan porselen putih berserakan di kakinya. Ia tahu ia telah gagal. Ia hanya membuatnya semakin tertarik. "Pergilah, Juno," Vivian berbisik, mundur ke jendela. "Aku tidak ingin melihatmu." "Tapi kau harus," Juno mendesis, mendekat lagi. "Kita harus sarapan bersama, Ibu Tiri. Itu adalah tradisi keluarga, dan kau sekarang adalah bagian dari keluarga. Kau harus tahu, Arman ingin kita semua rukun." Vivian menggeleng. "Tidak. Aku... aku tidak lapar. Aku akan makan nanti." "Tidak ada nanti," Juno mengangkat bahunya, mendekati Vivian yang kini bersandar ke jendela. Ia tidak menyentuhnya, tetapi keberadaannya begitu mendominasi, seperti dinding yang baru saja menutup jalan keluarnya. "Aku sudah menyiapkan pain au chocolat dan kopi yang sangat kuat. Persis seperti yang kau suka." Vivian mengepalkan tangannya. Ia ingin berteriak, memanggil bantuan, tetapi ia tahu tidak ada yang akan datang. Rumah ini terasa seperti perangkap yang terisolasi. "Juno, dengar," Vivian mencoba taktik lain, membuatnya terdengar lebih tenang. "Aku perlu waktu sendiri. Aku sedang berduka. Tolong beri aku ruang." "Aku tahu kau berduka," bisik Juno, ia kini cukup dekat hingga Vivian bisa mencium aroma aftershave-nya yang tajam dan sedikit manis. "Itulah sebabnya aku di sini. Aku akan menghiburmu." Vivian menggeleng, matanya menyala. "Tidak, kau hanya akan memperburuknya. Kau tidak peduli padaku, kau hanya peduli pada... pada obsesimu yang sakit." Ekspresi Juno berubah, senyumnya menghilang. Matanya menjadi dingin, keras, dan berbahaya. "Jangan pernah bicara seperti itu padaku lagi," katanya, suaranya sedingin es. "Aku peduli padamu lebih dari siapapun, bahkan lebih dari Arman." Vivian menelan ludah, tetapi ia tidak mau menyerah. "Aku tidak akan sarapan denganmu. Aku tidak akan menghabiskan waktu denganmu. Aku akan tetap di kamarku. Sekarang keluar!" Juno menatapnya lama, tatapan yang menembus hingga ke tulang. Lalu, sesuatu yang aneh terjadi. Ia tersenyum lagi, senyum yang kali ini tampak seperti topeng yang dipaksakan. "Baiklah. Aku mengerti. Kau butuh waktu. Tetapi jangan khawatir, kau tidak akan bisa menghindariku selamanya," kata Juno, suaranya kembali lembut. Ia mengambil satu langkah mundur, lalu satu lagi, menuju pintu yang terbuka. "Aku akan menunggumu di meja, Ibu Tiri. Sepuluh menit. Dan jika kau tidak muncul," Juno berhenti di ambang pintu, menoleh, matanya gelap dan menjanjikan bahaya. "Aku akan kembali dengan sarapan dan memaksamu memakannya... dan kemudian, kita akan membahas kamar tidur ini, dan bagaimana kita bisa memastikan tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi." Pintu kamar tertutup dengan bunyi pelan. Kunci berbunyi klik. Vivian berdiri di sana, terengah-engah. Ia tidak yakin siapa yang mengunci siapa. Apakah Juno mengunci dirinya di dalam, atau Juno mengunci Vivian di luar dari dunia. Malam pertama di rumah terasa begitu berbeda. Meskipun kamar bayi itu kini lebih mirip laboratorium medis mini, atmosfernya jauh lebih hangat daripada bangsal rumah sakit yang kaku. Cahaya lampu redup berwarna kekuningan memberikan kesan tenang, kontras dengan kerlip lampu indikator pada mesin inkubator yang menjaga suhu tubuh Arka dan Kiara.Juno masuk ke kamar dengan membawa segelas susu hangat dan sepiring kecil camilan sehat untuk Vivian. Ia mendapati istrinya masih terjaga, duduk di kursi menyusui tepat di antara dua inkubator tersebut."Belum mengantuk, Vi? Ini sudah hampir tengah malam," bisik Juno lembut agar tidak mengganggu dua perawat profesional, Suster rini dan Suster Maya, yang sedang sibuk mencatat grafik perkembangan bayi di meja sudut ruangan.Vivian menoleh, senyumnya tidak lepas dari wajahnya yang masih sedikit pucat. "Bagaimana bisa aku tidur, Jun? Melihat mereka bernapas dengan tenang di sini saja sudah membuatku merasa seperti sedang bermimpi. Terima kasih ya,
Tiga hari berlalu dengan cepat di rumah sakit. Luka bekas operasi sesar Vivian mulai mengering, dan rasa mulas akibat prosedur laparoskopi tempo hari pun sudah jauh berkurang. Vivian sudah mulai bisa berjalan tegak, meski langkahnya masih pelan dan hati-hati. Pagi itu, Dokter Handoko datang melakukan visit rutin dengan senyum khasnya yang kebapakan."Kondisi fisik Ibu Vivian sangat luar biasa. Pemulihannya cepat sekali," puji Dokter Handoko sambil memeriksa grafik medis. "Hari ini Ibu sudah diperbolehkan pulang. Jangan lupa obatnya diminum rutin dan jangan mengangkat beban berat dulu, ya."Vivian tersenyum lega, namun sedetik kemudian tatapannya beralih pada Juno yang berdiri di samping tempat tidur. Ada kegelisahan yang menggantung di udara."Lalu bagaimana dengan bayi kami, Dok?" tanya Juno cepat. Suaranya terdengar cemas. "Apa Arka dan Kiara sudah bisa ikut pulang bersama mamanya?"Dokter Handoko menghela napas pendek, lalu melipat tangannya di depan dada. "Untuk sementara, bia
Setelah perawat selesai menyuntikkan obat penenang ringan dan penstabil tensi, kantuk mulai menggelayuti kelopak mata Vivian. Dokter Handoko memberikan instruksi terakhir kepada timnya sebelum kembali menoleh pada Juno."Kita akan membawanya ke ruang tindakan sekarang, Pak Juno. Prosedurnya tidak akan selama operasi sesar tadi siang karena ini tindakan laparoskopi minimal. Kami hanya akan menutup akses saluran tuba agar tidak terjadi kehamilan di masa depan," jelas Dokter Handoko dengan nada yang sangat menenangkan.Juno mengangguk, melepaskan genggaman tangannya dengan berat hati namun penuh keyakinan. "Lakukan yang terbaik, Dok. Saya titip istri saya."Roda brankar berderit halus saat perawat mendorong Vivian keluar dari kamar 402. Juno hanya bisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung para medis itu hingga menghilang di balik pintu ganda ruang sterilisasi. Lorong rumah sakit kini terasa lebih sunyi, namun anehnya, perasaan Juno jauh lebih damai. Ia tahu, keputusan ini adalah
Juno melangkah pelan menyusuri lorong rumah sakit yang mulai temaram. Pikirannya masih tertuju pada penjelasan Dokter Handoko. Sterilisasi. Sebuah kata yang terdengar berat, namun terasa seperti satu-satunya jalan logis untuk menjaga agar napas Vivian tetap berembus di sisinya.Begitu membuka pintu kamar 402, ia mendapati Vivian sudah bersandar pada bantal yang ditumpuk tinggi. Masker oksigennya sudah diganti dengan selang kecil di hidung , membuat wajah cantiknya terlihat lebih jelas."Dari mana, Jun?" suara Vivian masih agak serak, tapi sorot matanya sudah jauh lebih fokus."Habis dipanggil Dokter Handoko sebentar, Sayang," jawab Juno sambil tersenyum menenangkan. Ia mendekat, mengusap pipi Vivian yang mulai terasa hangat. "Gimana? Masih pusing banget?"Vivian menggeleng lemah. "Lapar sedikit. Tapi rasanya kayak habis lari maraton, badan remuk semua."Kebetulan sekali, seorang pramusaji rumah sakit masuk membawakan nampan berisi bubur halus, sup bening, dan segelas air putih ha
Juno mengusap lembut kepala Vivian, membiarkan jemarinya menyisir rambut istrinya yang sedikit berantakan. Ia bisa merasakan napas Vivian yang mulai dalam dan teratur, pertanda wanita itu kembali terlelap dalam tidur yang lebih berkualitas setelah perjuangan hidup dan mati di meja operasi."Istirahat ya, Vian. Kamu butuh ini," bisik Juno pelan.Baru saja Juno hendak menyandarkan punggungnya di kursi, pintu kamar diketuk pelan. Bayu melongokkan kepalanya dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Pak, maaf mengganggu. Dokter Handoko baru saja berpesan, kalau Bapak sudah tenang, beliau minta Bapak ke ruangannya sebentar."Juno mengangguk. Meski hatinya enggan beranjak satu senti pun dari sisi Vivian, ia tahu ada hal medis yang harus ia dengar langsung. Ia memberikan instruksi singkat pada Bayu untuk menjaga di depan pintu dan segera melaporkan jika ada pergerakan sekecil apa pun dari Vivian.Juno melangkah masuk ke ruangan yang didominasi aroma antiseptik dan jajaran buku medis itu. Dok
"Dok, saya boleh lihat Vivian sekarang?" tanya Juno dengan nada mendesak, matanya masih memerah namun memancarkan harapan yang begitu besar.Dokter Handoko tersenyum maklum, ia sudah sangat terbiasa melihat ekspresi seorang suami yang sedang dilanda euforia sekaligus kecemasan pascaoperasi. "Sabar, Juno. Vivian sedang dipindahkan dari ruang pemulihan ke ruang perawatan VVIP. Obat biusnya belum hilang sepenuhnya, jadi dia mungkin belum sadar total. Tapi silakan, kamu bisa menemaninya di sana."Mendengar izin itu, Juno tidak menunggu dua kali. Ia bergegas mengikuti arahan perawat, mengabaikan rasa pegal di kakinya setelah berjam-jam duduk di kursi keras koridor. Bayu, yang masih setia mengikuti, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat bosnya yang biasanya berjalan dengan langkah penuh wibawa, kini hampir berlari kecil seperti remaja yang sedang jatuh cinta."Pak, pelan-pelan! Istri Bapak tidak akan lari ke mana-mana," goda Bayu pelan, mencoba mencairkan suasana.Juno hanya menoleh s







