Share

Membara

Author: Purplexyiii
last update publish date: 2026-09-20 09:37:41

Mata Ivy menyapu baris demi baris tulisan di lembar pertama: Laporan Autopsi Kematian Valerius Drake & Seraphina Vance. Tangannya makin gemetar saat membaca lembar kedua: Peta Rute Sabotase Rem Truk Kontainer - Dilengkapi Akses Jalur Internal Sterling Manor. Dan di lembar terakhir, terpampang jelas tanda tangan tebal berbintik tinta hitam milik Balthazar Sterling, serta surat pengalihan seluruh aset paten teknologi Drake Synergy kepada klan Sterling.

Darah di seluruh tubuh Ivy terasa mendidih l
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Aman

    Ivy menatap Liam yang meratap di bawah kakinya. Sudah tidak ada lagi rasa kasihan yang tersisa, tergantikan rasa hampa yang perlahan terisi oleh kepuasan yang aneh. Ia menyadari jika membalas dendam tidak membuatnya merasa seperti pahlawan, justru itu membuatnya merasa bebas."Kau punya dua pilihan, Liam." Ivy berbicara sambil merapikan sarung tangannya. "Keluar lewat pintu belakang dan hadapi orang-orang yang mencarimu itu, atau aku akan menelepon polisi sekarang dan kau akan menghabiskan dua puluh tahun ke depan di penjara federal atas penggelapan dana. Mana yang menurutmu lebih baik?"Liam terisak, napasnya tersengal-sengal. "Penjara, panggil polisi, tolong, panggil mereka."Ivy menoleh ke arah Arthur. Arthur memberikan isyarat pada tim keamanannya yang sudah menunggu di luar. Dalam sekejap, sirene polisi terdengar mendekat. Arthur sudah mengatur semuanya, laporan, bukti-bukti, hingga koordinasi dengan pihak berwenang agar Liam tidak punya celah untuk membela diri.Saat petugas kep

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Monster

    Arthur duduk di tepi tempat tidur, mengambil tablet dari tangan Ivy dan meletakkannya di meja nakas. Ia menarik Ivy ke dalam pelukannya dan membiarkan kulit mereka bersentuhan dalam keheningan yang intim."Kau akan mendapatkannya besok pagi. Jam sepuluh di gudang terbengkalai dekat dermaga yang sudah tidak terpakai. Memang bukan tempat yang cantik, tapi sangat efektif untuk membuat seseorang menghilang tanpa jejak," bisik Arthur.Ivy menyandarkan kepalanya di dada Arthur, mendengarkan detak jantung pria itu yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja merencanakan kehancuran hidup orang lain. "Kau tidak takut aku akan berubah menjadi terlalu dingin? Sampai suatu saat aku mungkin akan berbalik menyerangmu?"Arthur tertawa pelan yang terdengar seperti gesekan logam. Ia mencium kening Ivy dengan posesif. "Itulah yang membuatku tetap tertarik padamu, Sayang. Aku bosan dengan wanita yang hanya bisa tunduk. Aku ingin seseorang yang sanggup memegang pisau di leherku saat aku sedang tid

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Kegelapan

    Chloe merosot ke lantai, memegangi kepalanya sambil mengerang. Ia tampak sangat hancur di bawah sorotan lampu LED yang terang benderang. Petugas keamanan galeri, yang sudah menerima instruksi dari Arthur, mendekat untuk menyeretnya keluar sebelum pihak berwenang tiba.Ivy berdiri tegak, menatap kehancuran itu tanpa sedikit pun keraguan. Rasa puas yang ia rasakan bukan karena kemenangan materi, tapi karena melihat kebenaran yang dipaksakan keluar dari kegelapan.Arthur meletakkan tangannya di pinggang Ivy, menariknya menjauh dari tontonan tragis itu. "Kau terlihat sangat cantik saat menjadi kejam.""Aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya," sahut Ivy tetap stabil meski jantungnya berdegup kencang.Mereka keluar dari galeri menuju area parkir privat. Mobil hitam milik Arthur sudah menunggu. Di dalam mobil yang kedap suara itu, ketegangan yang tadi memuncak berubah menjadi sesuatu yang lebih intim. Ivy menyandarkan kepalanya di jok yang lembut, memejamkan mata sejenak."Satu mangsa s

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Bukti

    Chloe diseret keluar dari The Glass Pavilion, melewati barisan orang paling berkuasa di New York yang kini menatapnya seolah ia adalah sampah di pinggir jalan.Ivy berdiri di tengah ballroom yang mendadak sunyi. Ia tidak merasakan gelombang kemenangan yang manis seperti di film-film. Yang ia rasakan adalah hampa yang tenang. Ia telah menyelesaikan satu urusan.Arthur melangkah maju, berdiri tepat di belakangnya. Ia tidak menyentuh Ivy di depan umum, namun kehadirannya memberikan tekanan protektif yang nyata. "Satu mangsa sudah diasingkan. Dia akan dikirim ke fasilitas rehabilitasi tertutup di utara malam ini. Tidak ada akses internet dan pengunjung. Hanya dia dan bayang-bayangnya sendiri.""Berapa lama dia akan di sana?" tanya Ivy, matanya menatap pintu tempat Chloe baru saja diseret keluar."Selama yang kau inginkan. Aku sudah memastikan rekam medisnya menunjukkan dia tidak stabil secara mental. Dia tidak akan pernah bisa bicara pada pers tanpa dianggap gila," jawab Arthur datar.Ivy

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Hancur

    Balthazar tertawa geli. "Kau pikir sudah menang, ya? Kau akan menghabiskan sisa hidupmu dengan pria yang merupakan putra dari pembunuh orang tuamu. Setiap kali kau menatapnya, kau akan melihat wajahku. Setiap kali dia menyentuhmu, kau akan teringat darah mereka!"Ivy terdiam sejenak. Kalimat itu adalah racun yang paling mematikan. Dia menatap Arthur. Arthur menunduk, siap menerima jika Ivy memutuskan untuk menembaknya saat itu juga. Namun, Ivy justru mendekati Arthur. Dia mengambil pistol dari tangan Arthur, mengarahkannya ke arah Balthazar, dan menembak kaki kursi pria tua itu hingga Balthazar terjatuh ke lantai."Kau salah, Balthazar," ucap Ivy tenang. "Arthur bukan putramu. Dia adalah pria yang menghancurkanmu demi aku. Dia adalah senjataku. Aku tidak benci pada senjataku sendiri. Aku benci pada orang yang menarik pelatuknya. Itu adalah kau."Ivy berbalik. "Arthur, urus mereka. Aku ingin mereka membusuk di penjara paling gelap yang bisa dibeli dengan uangmu. Jangan biarkan mereka m

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Terbakar

    Ivy melepaskan cengkeraman pada dasi Arthur dengan sentakan kasar. Ia berbalik, mengabaikan napas berat pria itu yang masih terasa di tengkuknya. Fokusnya sekarang bukan lagi pada gairah yang merusak, tapi pada tumpukan kertas yang berserakan di lantai, bukti darah yang selama ini disembunyikan di bawah kemewahan nama Sterling. "Keluar dari sini, Arthur. Aku butuh waktu untuk merangkai rencana penghancuran keluargamu. Jangan berpikir untuk menempatkan mata-mata di pintu kamarku," ucap Ivy tanpa menoleh dan tanpa emosi yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan histeris sebelumnya. Arthur berdiri mematung. Hidungnya masih mengeluarkan darah sedikit, tapi dia tidak peduli. Dia menatap punggung Ivy yang tegak, menyadari bahwa wanita di depannya bukan lagi Ivy yang butuh perlindungan. "Vanguard Black sudah aktif atas namamu. Segala akses biometrik di gedung ini, di bank, dan di markas taktis sudah dipindahkan ke otoritasmu. Kau hanya perlu menjentikkan jari." "Oke. Sekarang pergilah.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status