LOGINDI RUANG KERJA ALANDDinding berwarna abu-abu tua dengan aksen kayu gelap tidak pernah terasa cukup luas bagi Aland. Saat dia melihat keluar dari dinding kaca, pemandangan kota jelas tidak seindah yang bisa dilihat dari lantai teratas – ruang kerja Aaron sebagai Presiden Direktur Cisal Enterprise.Aland mengalihkan tatapannya dari pemandangan kota, ke arah pintu ketika mendengar suara tumit hak Natasha menggelegar di lantai marmer. Suara tak asing itu seperti penuh godaan, membuatnya tahu siapa yang datang meski tanpa melihat. Natasha melenggak-lenggokkan pinggulnya, berjalan mendekati Aland, lalu duduk di pangkuan pria itu dengan gerakan lembut yang menggoda. "Sayang ... kapan kamu akan menceraikan wanita itu?" Jari jemari Natasha yang berhias mahkota berlian menjalar perlahan di leher Aland, mengikuti urat yang membesar karena ketegangan. "Padahal dari awal, kamu menikahinya hanya untuk menjatuhkan Aaron, bukan? Namun adikmu justru seperti raja yang tidak bisa diganggu gugat!"Ala
"Jessica, apa yang kamu lakukan di sini?!" Suara Rebecca menusuk suasana ruang keluarga yang tadinya sunyi. Wanita itu berdiri di pintu dengan wajah memerah karena kesal, mata melotot menatap Jessica yang tengah bersandar di sofa besar seperti orang yang punya hak penuh atas tempat itu – tangan di paha, gelas jus jeruk di tangan kanannya. "Bukan urusanmu," jawab Jessica tanpa melihatnya, matanya tetap terpaku pada layar televisi yang sebenarnya tidak sedang dia tonton. Suaranya dingin seperti es, tak sedikitpun memberi ruang untuk pembantahan. Tepat saat itu, Alexander keluar bersama Veronika yang mengenakan gaun panjang berwarna emas yang membuatnya terlihat mencolok. "Tuan Smith," panggil Jessica dengan nada yang jauh dan kaku, seolah-olah yang dia hadapi bukan ayah kandungnya sendiri. "Aku sudah membawa surat perjanjian investasi dari Cisal Enterprise seperti yang kamu minta." Alexander langsung tersenyum lebar, wajahnya bersinar kegembiraan. "Betapa baiknya putriku yang canti
Setelah meninggalkan Snow Butique, Jessica melangkah cepat menuju parkiran, langkahnya sedikit tergesa-gesa di atas ubin lantai yang mengkilap. Dia masih menggenggam jas Aaron dengan erat hingga kainnya terlipat kusut di genggamannya, sementara dada yang masih terasa sakit perlahan-lahan terbakar oleh nyala balas dendam yang semakin membara.'Aland bilang aku hanya mencari perhatian? Baiklah, nanti kau akan tahu betapa salahnya menganggapku seperti itu!' – suara dalam hatinya terdengar keras, menyembunyikan rasa sakit yang masih menyelimuti dirinya.Tangan sudah siap membuka pintu mobil yang disewanya ketika suara yang sangat akrab terdengar dari belakang – suara yang membuat tulang belakangnya sedikit berdiri rilek."Kau berpikir bisa pergi begitu saja setelah membawa jas ku?"Jessica langsung berbalik, alisnya sedikit terangkat dengan ekspresi tidak senang. Udara di parkiran terasa lebih dingin dari biasanya. "Aku akan membawanya kembali ke kantormu nanti.""Tak perlu repot, aku sud
"Kenapa kau di sini?" Suara dingin Aland mengagetkan Jessica yang baru saja berganti pakaian dan hendak pergi meninggalkan Snow Butique sambil menenteng jas Aaron. Dia sedikit terkejut melihat keberadaan Aland yang sebelumnya sangat dia cintai dan dirindui siang-malam. Kini, perasaan itu musnah berganti dengan kekecewaan yang meninggalkan rasa permusuhan. Jessica menatap Aland, lalu dengan sinis melirik Natasha yang menempel di lengan pria itu. Kemudian, tatapan Jessica kembali tertuju pada Aland. "Apa masalahnya? Kenapa aku tidak boleh ada di sini?" Natasha melihat Jessica dari ujung kepala sampai ujung kaki, dia selalu iri hati saat menyadari saudari perempuannya selalu terlihat cantik meski hanya dibalut pakaian sederhana. Detik selanjutnya, tatapan Natasha jatuh pada jas pria di tangan Jessica. "Adik, kenapa kamu memegang pakaian pria di tanganmu? Itu bukan pakaian Aland, kan?" "Oh, aku bertanya-tanya kenapa kau belum sampai ke Orleander Breeze, padahal ibu bilang kau sud
"Apa?" Jessica menghentikan kegiatannya, dia menatap pria di sampingnya. "Aaron, kenapa kau mendesakku bercerai? Aku tidak sedang terburu-buru. Aku....""Apa kau pikir, kau tidak perlu bertanggung jawab setelah tiga kali tidur denganku?""Tanggung jawab?" Jessica menatap Aaron dengan tatapan tak percaya. "Hmmmm." Aaron mengangguk tanpa dosa. "Anggap saja sebagai kompensasi atas hilangnya waktu berhargaku dan kerusakan mental yang disebabkan olehmu.""Hah ... kerusakan mental?" Jessica terkekeh sinis. Bukankah dia yang merusak mentalku? "Kau tidak hanya mengambil kepolosanku, tapi juga berkali-kali mencoba memanfaatkan aku. Jadi, tentu saja kau harus bertanggung jawab!""Kau—" Jessica mengacungkan jari telunjuknya ke arah Aaron dengan gigi yang saling gemertakan seolah-olah ingin melumat pria itu. "Gila!""Apa aku salah?"Jessica diam, dia tidak punya kata-kata yang tepat untuk membalas Aaron. Lebih tepatnya, dia tidak ingin berdebat dengan Aaron untuk mencegah dirinya menjadi gila
Jessica terdiam. Sebelumnya, dia berniat meminta bantuan pada Aland untuk berinvestasi pada Smith Company agar kesepakatannya dengan Alex bisa terpenuhi. Namun, begitu mengetahui perselingkuhan Aland dan Natasha, Jessica membuang jauh-jauh pemikirannya itu. Di matanya, aku hanyalah wanita yang tidak diinginkan. Bagaimana mungkin bajingan itu bersedia membantuku? Jessica menggertakkan gigi, sementara otaknya sedang berpikir dengan liar. Detik selanjutnya, dia langsung menoleh ke arah Aaron saat pemikirannya membawa satu nama. "Aaron ...." Jessica memasang senyum terbaik yang terlihat begitu dipaksakan hingga Aaron menatapnya dengan aneh. Bukannya senang ditatap oleh Jessica dengan dengan netra berbinar dan senyum lebar, Aaron justru bergedik ngeri. "Apa?" "Maukah kamu membantuku?""Bantuan seperti apa yang kamu inginkan?"Jessica menggigit bibirnya, tampak ragu mengutarakan niatnya. Meski demikian, dia tetap berbicara dengan perlahan. "Aku ingin kamu berinvestasi pada Smith Comp







