MasukAku lanjutin malam ya kak, aku usahakan up 5 bab. Mau nonton drakor dulu hehehhee
Tanpa aba-aba lagi, Olivia menerjang maju, mengayunkan pisaunya dengan sepenuh tenaga.Untung saja, Elyssa bergerak cepat, menghindar tepat saat ujung pisau itu nyaris menusuk matanya. Akhirnya, pisau itu tertancap di lantai, tepat di samping kepala Sean."Kau gila, Olivia! Kenapa kau membunuhnya?!" teriak Elyssa sambil merangkak bangun, meninggalkan tubuh Sean di lantai."Dia harus mati karena dia lebih memilihmu!" jerit Olivia histeris.Walaupun sedang gugup, Elyssa berpikir cepat. Ia memanfaatkan celah saat Olivia meracau. Adrenalin yang muncul tiba-tiba memberi kekuatan pada kaki Elyssa untuk berlari sekuat tenaga menuju ruang tamu.Namun, Olivia tidak membiarkannya lepas begitu saja. Wanita itu langsung mengejarnya dengan cepat.“Kau mau lari ke mana, hah?! Kau tidak bisa kabur!!”Namun, sesak di dada mulai mencekik napas Elyssa, membuat gerakannya kian melambat. Dalam hitungan detik, Olivia berhasil menyamai langkahnya dan…Srett!!“Akh!!!”Ujung pisau itu menyabet lengan atas E
Tubuh Elyssa seketika kaku. Dirinya yang baru saja hancur karena peristiwa yang menimpa Juan barusan, kini dipaksa menerima kenyataan yang lebih menyakitkan.Sean... pria yang seharusnya menyambutnya dengan senyuman hangat, justru tergeletak tak berdaya di lantai. Kepalanya terkulai ke samping, menghadap tepat ke arah Elyssa, dengan pandangan mata yang terlihat kosong.“Sean… kenapa… k-kamu…”Kedua lutut Elyssa mendadak kehilangan tumpuan. Tubuhnya ambruk begitu saja ke lantai. Ia sempat berusaha bangkit, namun kakinya seolah lumpuh. Karena tak sanggup lagi berdiri, Elyssa akhirnya memilih merangkak di atas dinginnya lantai, menyeret tubuhnya dengan sisa tenaga yang ada untuk menghampiri Sean di sana.“S-sean…. aku datang. Lihat aku…” bisiknya parau. Namun Sean tidak bergeming. Tatapan matanya lurus, kosong, dan redup.Tangisan Elyssa pecah semakin deras. “Sean…”Tangan Elyssa yang gemetar perlahan meraih wajah Sean, menangkup kedua pipi pria itu, mencari kehangatan yang mungkin masih
"Ju-Juan? Darah... k-kamu..." suara Elyssa bergetar. Ia baru menyadari bahwa dekapan erat Juan tadi bukanlah sebuah pelecehan, justru pengorbanan.Tubuh Juan akhirnya limbung. Elyssa dengan cepat menangkapnya, membiarkan tubuh pria itu ambruk ke dalam pangkuannya. Tangan Elyssa yang gemetar mencoba menahan aliran darah di perut Juan, namun cairan hangat itu terus keluar membasahi tangannya.“Juan... bertahan, Juan! Tolong! Seseorang tolong!” tangis Elyssa pecah di tengah parkiran yang sunyi.Juan terbatuk, darah mulai keluar dari sudut bibirnya. Dengan suara yang sangat lirih dan napas yang satu-satu, ia berbisik.“Pergi... Elyssa. Lari sekarang... cari tempat aman... hubungi polisi,” ucap Juan sambil menahan rasa sakit yang luar biasa.“Tidak, Juan! Aku tidak akan ke mana-mana!" isak Elyssa, semakin mendekap Juan di tengah genangan darah yang makin meluas di bawah mereka.“Aku… a-aku… tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau sampai kamu juga terluka…” lirih Juan dengan senyum getir.
Sebelum kejadian….Elyssa sedang berdiri di balkon, menghirup udara pagi sambil menunggu Sean hingga telepon hotel berdering.“Maaf mengganggu, Bu Elyssa. Ada seseorang yang mencari Ibu di lobi,” ucap resepsionis.Elyssa mengernyit bingung. “Siapa, ya?”“Sebentar, Bu, saya tanyakan dulu.”“Tidak usah. Katakan padanya, saya akan turun sekarang,” potong Elyssa. Ia mengulas senyum tipis, yakin kalau itu adalah Sean. “Duh, manja banget sih. Padahal sudah disuruh naik sendiri, malah minta dijemput di bawah,” gumamnya sambil bergegas menuju lift.Namun, begitu pintu lift terbuka di lobi, senyum Elyssa langsung hilang. Bukan Sean yang menunggunya di sana, melainkan Juan.“Juan?” gumam Elyssa.Begitu melihat Elyssa, Juan langsung menoleh dan berlari menghampiri. “Elyssa, ikut aku.”Tanpa penjelasan, Juan menyambar lengan Elyssa dan menariknya paksa keluar dari gedung hotel dengan terburu-buru.“Juan! Apa-apaan sih? Lepas!” seru Elyssa, merasa kesal dengan tingkah Juan yang tiba-tiba.Namun, J
Elyssa akhirnya tiba di lobi Hotel Lenvin yang luas dan megah. Lantai marmernya sangat bersih sampai bisa memantulkan bayangan lampu-lampu kristal di langit-langit.Meski hatinya masih gelisah, Elyssa mencoba tetap tenang saat berjalan menuju meja resepsionis untuk check-in kamar yang sudah ia pesan dari semalam.Resepsionis hotel menyambutnya dengan sangat ramah. Setelah mengecek data, resepsionis itu memberikan dua kartu akses kamar dengan desain mewah nan eksklusif."Saya titip satu kartu aksesnya atas nama Sean, ya. Dia akan datang sebentar lagi," kata Elyssa."Baik, Bu Elyssa. Akan langsung kami berikan begitu Bapak Sean sampai," jawab resepsionis itu sopan.Elyssa lalu menuju lift khusus yang hanya bisa diakses oleh tamu di lantai paling atas.Begitu pintu lift terbuka, ia keluar menuju lorong yang sangat sepi dan tenang. Karpetnya sangat tebal, sampai suara langkah kakinya pun tidak terdengar. Rasanya seolah-olah seluruh lantai itu memang dikhususkan hanya untuknya.Ia lalu men
Pagi itu, suasana di kamar Elyssa tampak seperti medan tempur. Gaun-gaun berserakan di atas ranjang, mulai dari yang bergaya kasual hingga formal. Elyssa berdiri di depan cermin besar, menempelkan satu per satu pakaian ke tubuhnya, namun tak ada satu pun yang terasa pas.Saking bingungnya, ia akhirnya memanggil Selena masuk ke kamarnya untuk meminta bantuan.“Kenapa kamu nervous banget sih, Kak? Kan sudah sering ketemu Sean. Mau pakai daster sekalipun, dia pasti tetap suka!” seru Selena sambil bersandar di kusen pintu, menatap tumpukan baju itu dengan gelengan kepala.Elyssa tidak menggubris godaan Selena. Ia bahkan sudah bela-belain pergi ke mal semalam hanya untuk membeli beberapa setelan baru, namun pagi ini keraguannya justru semakin menjadi-jadi.“Ini beda, Sel. Pertemuan kali ini benar-benar berbeda,” ucap Elyssa dengan nada cemas sembari mematut diri di cermin.Ia memegang sebuah dress berwarna soft pastel yang tampak sangat elegan. “Pagi ini, aku gak cuma mau ngobrol biasa sam







