LOGINBi Sumi menghela napas panjang, suaranya terdengar lemah dan bergetar.“Pak Sean... terima kasih banyak atas keadilan yang Bapak tawarkan. Tapi jujur, Pak, ini bukan murni kesalahan Tuan Muda Kenza saja."Bi Sumi menjeda kalimatnya, beralih menatap Siren yang kembali menunduk. "Siren sudah jujur sama saya. Mereka melakukannya karena sama-sama suka, bukan karena dipaksa atau diancam Tuan Muda. Jadi, cucu saya juga punya andil dalam kesalahan ini. Lagian dia sudah besar, dia seharusnya bisa menjaga dirinya sendiri. Jadi, saya rasa tidak adil kalau semua beban ini ditimpakan hanya kepada Tuan Muda.""Jadi… saya tidak akan menuntut apa-apa. Saya sudah memaafkan Tuan Muda Kenza. Saya justru merasa malu... benar-benar malu karena kami sudah merusak kepercayaan keluarga ini, apalagi kepercayaan Ibu Elyssa.”Elyssa yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara dengan suara parau. "Bi... jangan bicara begitu. Kami juga salah. Kami tidak bisa mengawasi Kenza dengan baik.”Bi Sumi lalu terisak pe
Kenzi yang sejak tadi menguping di balik dinding akhirnya tidak tahan. Ia pun muncul di ruang makan dan langsung menyambar ucapan kakaknya."Papa sama Mama memang salah, tapi Kakak jangan merasa lebih suci dari mereka! Namanya salah ya tetap salah, Kak. Gak ada yang lebih baik di sini!" seru Kenzi, suaranya bergetar menahan tangis.Kenza menatap adiknya dengan sinis. "Terus apa bedanya sama kamu, Kenzi? Kamu juga pacaran, ciuman, bahkan berani VCS sama pacarmu itu, iya kan?"Kenzi terdiam, wajahnya sontak memerah karena malu rahasianya yang lain terbongkar. "Kak... jaga mulutmu! Aku benar-benar gak nyangka Kakak tega membongkarnya di depan Mama Papa. Jahat!"Kenza mendengus kasar. "Aku benar-benar muak. Semua orang di rumah ini belagak sok suci, padahal aslinya kotor."Sean dan Elyssa kembali merasa sesak saat mendengar fakta bahwa putri mereka juga sudah berbuat sejauh itu, meski setidaknya Kenzi belum sampai kehilangan kehormatannya.Sambil terisak, Kenzi mendekati kakaknya. "Keluar
Saat semua orang sudah terlelap, Kenza kembali terbangun dari tidurnya yang sebentar.Entah kenapa, ia merasa sesuatu di bagian bawah sana menegang. Ingin rasanya kembali menikmati tubuh Siren.Kenza pun turun ke lantai bawah, berharap gadis itu keluar dari kamarnya seperti biasa.Namun hingga pukul tiga subuh, Siren tak kunjung muncul."Padahal biasanya jam dua dia pasti keluar ngintipin aku berenang,” gumam Kenza tak sabar.Kenza akhirnya memutuskan untuk menunggu di dapur. Ia duduk di sana sambil meneguk air dingin, berusaha meredam pikirannya yang liar.Tak lama kemudian, pintu kamar Siren terbuka. Dan benar saja, Siren keluar dari sana.Kenza benar-benar menantikannya. Namun Siren justru berlari terburu-buru ke toilet dapur tanpa menyadari keberadaan Kenza.Di dalam toilet, Siren kembali didera rasa mual yang hebat, meski tidak ada apa pun yang keluar dari mulutnya.Setelah merasa agak mendingan, ia pun keluar dari toilet. Ia lalu berjalan ke kulkas, hendak mengambil air es. Namu
Elyssa mencoba menghubungi teman-teman Kenzi satu per satu, namun tidak ada yang tahu keberadaannya.Hanya Bella yang mengaku sempat dihubungi, itu pun mereka batal bertemu karena Kenzi menolak ajakannya.Sementara itu, Sean menghubungi asisten rumah tangga di kediaman orang tuanya, berpikir Kenzi mungkin mampir ke sana. Namun, putrinya juga tidak ada di sana.“Aku sudah telpon semua teman-teman Kenzi yang aku kenal, Mas. Tapi mereka gak tau. Aku juga sudah telpon orang tuaku, hasilnya sama aja. Mereka semua gak tau Kenzi ke mana.”Sean terdiam, pikirannya kini mengarah pada Dewanto, partner bisnisnya yang belakangan ini sering terlihat bersama Kenzi.Sean pun buru-buru mencari nomor Dewanto dan menghubunginya."Bagaimana, Mas? Aku takut Kenzi kenapa-napa!""Sialan! Nomornya gak aktif!”Tangis Elyssa pun pecah. “Kita cari Kenzi di mana lagi, Mas? Kita harus bagaimana??”“Sebentar, Sayang. Aku pikirkan dulu.”Tanpa membuang waktu, Sean pun menghubungi kenalannya yang bekerja di pusat p
Kenza menarik kursi dan duduk dengan tenang. Melihat raut wajah ibunya yang tampak tegang, ia berusaha meredam suasana."Ma, tenang dulu. Tadi aku memang mau mampir ke toko Mama, tapi tiba-tiba ada chat masuk soal rapat mendadak di sekolah. Karena buru-buru, aku langsung naik ojek balik ke sana," bohong Kenza dengan nada yang sangat meyakinkan.Elyssa menghela napas panjang. Beban di pundaknya seolah sedikit terangkat. Ia merasa bersalah karena sempat menuduh putranya itu berbuat macam-macam.Jujur, pikirannya sebenarnya hanya sedang kacau karena ulah Kenzi yang berani berbohong terang-terangan tadi.Kenza masih tetap berakting tenang, memerankan sosok putra teladan yang sempurna. Ia mengubur dalam-dalam soal dirinya yang bertemu Howard Han tadi.“Maaf, Mama sudah nuduh kamu gak enggak-enggak, Kenza. Mama tadi kebawa emosi karena adik kamu,” jelas Elyssa.“Memangnya apa yang terjadi, Ma? Tadi di depan pintu utama, kami berpapasan. Aku lihat dia menangis sesegukan.”Mata Elyssa langsun
Malam itu, Siren dan Bi Sumi sibuk menyiapkan makan malam di dapur.Bi Sumi sama sekali tidak tahu apa yang menimpa Siren sore tadi karena Siren menutupinya dengan sangat rapi. Ia tidak ingin neneknya yang sudah renta itu ikut kepikiran.Saat sedang menata makanan ke piring, Siren tiba-tiba merasa mual.Hoekk… hoek…Bi Sumi langsung menoleh khawatir. "Nduk? Kamu kenapa?""Gak apa-apa, Nek.”"Kalau sakit, istirahat saja di kamar. Biar Nenek yang lanjutin.""Jangan, Nek. Siren mau bantu Nenek. Sumpah, Siren gak apa-apa."Entah kenapa, tubuh Siren terasa sangat tidak enak. Rasa merinding menjalar di tengkuknya, dibarengi rasa mual yang mendesak di kerongkongan.Saat keluarga majikannya mulai berkumpul di meja makan, Siren datang membawa nampan berisi jus jeruk.Kenzi, yang duduk dengan tenang, memperhatikan gerak-gerik Siren dengan mata tajam yang menyelidik."Ini jusnya, Non Kenzi," bisik Siren sopan tanpa berani menatap mata Kenzi.Namun, baru saja ia meletakkan gelas itu, aroma masaka







