LOGIN"Guys, prof. Dharma nggak masuk kelas."
Nozela dan Thalia saling tatap kemudian tersenyum bersama, dosen yang absen merupakan kesenangan tersendiri untuk semua siswa termasuk mereka. Selain hanya memberi tugas, kelas juga akan cepat selesai dan mereka bisa segera pulang.
"Gimana kalo kita bolos aja?" ajak Nozela.
Thalia lekas menganggukkan kepalanya, dia tentu saja mau dan juga senang jika diajak bolos seperti ini.
"Boleh."
"Ya udah ayo."
Nozela lekas
Ting..tong....Nozela berdiri didepan pintu manison William, ditangannya ada sebuah paper bag berukuran sedang. Gadis cantik yang rambutnya mulai memanjang itu bergerak kecil sambil menunggu seseorang membukakan pintu untuknya, dia beberapa kali menatap isi dari paper bag itu.Ceklek.Tatapan Nozela beralih ke pintu yang terbuka, dia tersenyum saat melihat Aluna yang berdiri diambang pintu lengkap dengan segaram sekolah yang digunakannya."Pagi Lun.""Pagi kak, ayo masuk."Aluna membuka lebar pintu rumahnya kemudian membiarkan Nozela masuk ke dalam."Kak Ojel tumben pagi-pagi ke sini. Bawa apa tuh?" tanya Aluna sambil melirik paper bag di tangan Nozela."Siapa Lun?" tanya Mona."Eh Ojel, tumben pagi-pagi ke sini? Ada apa sayang?" sambung Mona saat melihat Nozela berjalan masuk bersama Aluna."Pagi tante.""Ini Ojel bawa oleh-oleh buat om sama tante. Maaf ya baru bisa nganterin sekarang, Ojel belakanga
Clarissa mendorong kepala Drake dari lehernya, dia menatap tajam Drake sambil meraba lehernya yang basah bekas ciuman Drake."Brengsek, maksud lo apa, hah?"Drake mengusap bibirnya yang basah karena salivanya sendiri, dia tersenyum menggoda sambil terus menatap mantan kekasihnya yang sedang marah.Clarissa mengambil tissue dari tasnya lalu mengusap lehernya, dia yakin jika ciuman Drake akan berbekas lagi, padahal bekas yang kemarin saja belum hilang dan kini Drake dengan lancangnya kembali membuat tanda di lehernya."Sialan."Clarissa berdiri dari duduknya, dia mengambil tasnya kemudian pergi ke toilet.Fela yang sejak tadi hanya duduk sambil diam kini mendongak menatap kepergian Clarissa, dia masih terus mencerna apa yang baru saja dia lihat. Dia masih bingung dengan keadaan saat ini, apa lagi melihat kedekatan Clarissa dengan pria disampingnya yang terlalu initin namun sering marah dan mengumpat."Sebenarnya ada hubungan apa mereka?
Kricik..Kricik...William memainkan kakinya didalam kolam renang, dia menendang-nendang air yang semula tenang itu hingga menjadi bergelombang. Matanya menatap pantulan bayangan tubuhnya di permukaan air, wajah tampan itu terlihat tenang seperti tak memiliki beban apapun.Kepala William perlahan mendongak menatap langit malam yang gelap, tak ada satupun bintang yang menghiasi langit yang hitam itu seolah mendukung perasaannya yang mulai menggelap dan tak ada seberkas cahaya pun yang menyinari.Tap...tap...William menoleh ke belakang saat mendengar suara langkah kaki, dia tersenyum tipis melihat siapa yang datang."Om." sapanya.Andito berjalan mendekat ke arah William sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana, pria dewasa dengan usia yang tak lagi muda itu tersenyum hingga memperlihatkan lesung pipi persis seperti milik Nozela."Apa om menganggu?"William lekas menggelengkan kepalanya. "Tidak sama sekali om."
Brak!Drake tersenyum miring melihat Clarissa yang baru saja datang sambil melemparkan tasnya dengan kasar ke atas meja, jangan lupakan tatapan mantan kekasihnya yang tajam bak sebilah pedang yang siap menghunus siapapun yang menghalangi.Pria tampan dengan gaya rambut sedikit panjang dan diikat itu menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Clarissa, dia mengambil gelas yang berisi es batu kemudian menuangkan minuman beralkohol sedikit demi sedikit."Minum."Drake memberukan gelas itu pada Clarissa namun Clarissa hanya diam saja sambil menatap pria itu dengan tajam."Apa mau lo sebenarnya, Drake?" desisi Clarissa.Drake menjauhkan gelasnya, dia menyadarkan tubuhnya ke sofa sambil tersenyum smrik. Ditatapnya sang mantan kekasih yang malam ini tampil begitu menawan dengan gaun hitam yang sangat cocok dengan tubuhnya."Jaga mata lo sialan""Clam down baby, gue udah lihat semuanya."Clarissa menatap Drake dengan rahang meng
William menghela nafas pelan, dia menoleh ke arah Nozela yang juga sedang menatapnya dengan tatapan bingung, perlahan kepalanya mengangguk kemudian kembali menatap ke langit-langit kamar Nozela. William menghela nafas lelah, dia tak tahu apakah harus menceritakan semuanya pada Nozla.Namun disela pikirannya tentang Clarissa, dia teringat pertanyaan Nozela tentang bagaimana sedandainya jika Clarissa selingkuh. Seketika William mulai mengabungkan kejadian tadi malam di apartemen Clarissa. Saat dia melihat bekas kissmark itu, dia yakin bahwa bekas itu masih baru karena belum ada tanda-tanda hilang sama sekali."Lo kalo ada masalah bisa cerita sama gue."William menoleh. "Tentang pertanyaan lo kemarin, maksudnya apa?"Nozela mengerutkan keningnya. "Pertanyaan yang mana?""Kalo Clarissa selingkuh.""O-Oh i-itu...em...itu cuma asal ngomong aja sebenernya gue."Seketika Nozela merasa gugup, dia lupa jika tak akan memberithau William se
Nozela meminum jus kelengkeng yang baru saja dibuatkan oleh asisten rumah tangganya, dia duduk di meja pantry sambil memainkan ponselnya. Dia mendapat beberapa notifikasi dari akun sosial medianya, karena penasaran dia pun lekas membukanya. Sudut bibir Nozela terangkat, dia melihat beberapa story fotonya dan smooky diakun sosial media Drake yang menandai dirinya.Namun seketika senyumnya pudar, Nozela mengelengkan kepalanya palan saat menyadari apa yang baru saja dia lakukan. Dia hanya menyukai story itu kemudian mematikan ponselnya. Nozela pun kembali meminm jusnya hingga habis."Ah...."Nozela memegangi lehernya yang terasa lega setelah meminum jus."Gue kenapa sih? Jangan sampai gue suka sama Drake." gumam Nozela.Tak lama setelah itu, dari pintu samping Nozela melihat William masuk ke dalam rumah. William berlalu begitu saja melewati Nozela membuat gadis itu bingung. William pergi menaiki anak tangga membuat Nozela lekas bangkit dari duduknya.
Byur.Nozela melompat masuk ke dalam kolam renang hingga airnya memercik ke segala arah, dia menggerakkan tubuhnya berenang mengitari kolam luas yang ada di samping rumahnya. Dia ingin memanfaatkan sisa liburan semester yang hanya tinggal menghitung hari sebelum kembali masuk kuliah.
Tap.Tap.Suara sepatu beradu dengan lantai terdengar nyaring disebuah lorong yang sepi, Nozela membawa langkah kakinya menuju sebuah ruangan yang ada aja disayap kiri mansion Jasper. Ruangan luas itu dilengkapi dengan sofa dipojok ruangan, dindingnya terbuat dari kaca besar yang me
"Untuk rapat besok pagi mungkin kami akan berangkat bersama Ma.""Papa yakin mama nggak usah ikut?"Andito memeluk pundak Tiara dengan lembut. "Tidak perlu mah, kamu di rumah saja nemeni Ojel. Kasihan dia ditinggal-tinggal terus."Tiara mengangguk sambil tersenyum, mereka ber
"Adik-adik sudah paham?""Sudah kak." ucap anak-anak dengan kompak.Thalia tersenyum, dia kemudin berdiri dari duduknya lalu membagikan selembar kertas pada masing-masing anak."Karena sudah paham, kak Tha kasih tugas buat kalian ya. Pertemuan minggu depan kita bahas."







