LOGIN
"Kak Liam lama banget sih kak, Luna udah laper nih." Gerutu Luna.
"Sabar elah, baru juga lima menit matiin teleponnya."
Brigita Nozela, gadis cantik yang memiliki rambut sebatas bahu saat ini sedang duduk disofa bersama seorang gadis remaja yang kini tengah mengerucutkan bibirnya karena kelaparan menunggu sang kakak.
Aluna kembali menidurkan kepalanya di paha Nozela, dia kembali menonton film itu meski perutnya terasa lapar. Nozela sebenarnya merasa kasihan pada Luna, tapi dari pada terjadi kebakaran dapur di rumah mewah ini lebih baik dia menunggu William saja.
"Nih makan."
Aluna membuka mulutnya saat Nozela menyuapinya keripik kentang, mereka lebih cocok menjadi kakak adik jika dibandingkan dengan William.
"Kenapa yang jadi pacar kak Liam bukan kak Ojel aja sih, kenapa harus nenek lampir itu."
Uhuk..uhuk
Aluna segera bangkit dari posisi tidurannya lalu mengambil segelas jus dan memberikannya pada Nozela.
"Minum dulu kak."
Nozela dengan cepat menenggak jus itu. Setelah merasa baikan, dia meletakkan kembali gelasnya ke meja.
"Lun, jangan asal ngomong ya. Gue sama abang lo udah sahabatan dari jaman lo belum dicetak, enak aja main suruh kita pacaran."
Aluna meringis kecil. "Tapi Luna lebih suka kak Ojel dari pada kak Clarissa, dia itu judes banget nggak kaya kak Ojel."
Seketika Nozela merasa kepalanya mulai membesar karena dipuji adik dari sahabatnya. Dia mengibaskan rambut sebahunya kebelakang dengan gaya centilnya.
"Gue emang sebaik itu dek Luna."
Luna mencebikkan bibirnya melihat kepedan Nozela yang dianggapnya sebagai kakak kedua itu.
"Minusnya jomblo aja sih. Hahaha."
Nozela menatap Luna tajam. "Berani banget lo ngatain gue jomblo ya bocah kemarin sore."
"Hahaha, ampun kak. Geli. Hahaha."
Luna tertawa terbahak-bahak saat Nozela mengelitiki perutnya. Tanpa mereka berdua sadari, sejak tadi William sudah berdiri di ambang pintu. Dia tersenyum melihat dua gadis beda generasi itu saling bercanda.
"Ehem."
Nozela menghentikan gelitikannya pada perut Lun saat mendegar suara deheman dari belakang. Dia tersenyum saat melihat William datang membawa dua kantong kresek makanan pesanan mereka.
"Ya Tuhan, Luna hampir aja mati kelaparan."
William mencubit bibir adiknya sebelum meletakkan bawaannya ke atas meja.
"Mulutnya." Ucap William.
Nozela mengambil martabak manis pesanannya, dia tersenyum saat aroma manis dan wangi dari martabak itu menguar saat dia membuka bungkusnya.
"Kak Ojel sisain, Luna juga mau." Ucap Luna.
"Belum juga gue makan." Ucap Nozela.
Nozela mengambil satu potong lalu memakannya, dia melirik William yang hanya diam saja sambil memainkan ponselnya. Dengan iseng, Nozela mengarahkan martabak itu ke mulut William.
William menggigitnya dengan ukuran besar membuat Nozela membelakan matanya."Tck, gede banget gigitnya." Decak Nozela.
William meletakkan ponselnya, dia menahan tangan Nozela lalu berusaha memakan lagi martabak di tangan Nozela.
"Liam awas. Woyyyy tangan gue kena ludah lo anjir."
Luna tertawa melihat kakaknya yang berebut martabak, sebuah ide muncul dikepalanya. Dia mengambil ponselnya lalu memfoto kedua orang itu.
"Bagi dikit Jel."
"Lepasin dulu Liam."
William melepaskan tangan Nozela, dia menatap wajah cantik sahabatnya yang nampak memerah.
Brigita Nozela, gadis cantik berambut lurus sebahu merupakan mahasiswa semester dua jurusan manajemen di salah satu universitas bergengsi di kota Jakarta Selatan. Nozela atau yang biasa dipanggil Ojel itu memiliki mata yang tajam, dia memiliki sahabat bernama Thalia dan William.William merupakan sahabatnya sejak kecil, namun saat menginjak sekolah menengah hingga sekolah menengah akhir, William pindah ke luar negeri mengikuti orang tuanya dan baru kembali ke tanah air saat memasuki jenjang perkuliahan. Nozela sendiri merupakan anak tunggal, sedangkan William memilki adik perempuan yang baru SMA kelas 10.
Sedangkan bersama Thalia, dia berteman sejak masuk kuliah. Kebetulan mereka berada dijurusan yang sama dan Nozela yang mudah bergaul langsung mengajak Thalia berteman.
"Belepotan banget."
William mengambil tissue kemudian mengelap mulut adiknya yang sedikit kotor, dia tersenyum saat melihat Aluna makan dengan lahap.
"Oh iya."
William menoleh ke arah Nozela saat gadis itu berbicara.
"Malam ini gue jadi nginep disini." sambung Nozela.
"Oke nggak papa. Tapi sebenernya misalnya lo nggak jadi nginep juga nggak papa Jel, takut lo ada acara apa gitu."
Nozela menggelengkan kepalanya. "Enggak kok, gue free malam ini."
Willian menganggukkan kepalanya, dia menatap tangan Nozela yang masih memgang martabak kemudian meraihnya lalu memakannya.
"Liam." protes Nozela.
William hanya tersenyum sambil menyeka mulutnya.
Disamping mereka, ada Aluna yang sejak tadi memperhatikan keduanya sambil tersenyum. Dia merasa senang diatas rasa sedihnya karena harus ditinggal kedua orang tuanya yang sedang pergi ke luar kota untuk urusan bisnis.
"Cocok banget sih, sayang cuma sahabatan doang." gumam Aluna.
Pukul sepuluh malam, ketiga orang itu masuk ke kamar masing-masing, Aluna yang sudah mengeluh mengantuk mengajak Nozela pergi ke kamar untuk istirahat.
"Luna tidur dulu ya kak, selamat malam."
"Malam Lun."
Nozela tidur terlentang sambil melihat ke arah plafon kamar Aluna, matanya mengedip-ngedip karena rasa kantuk tak kunjung datang.
"Lun, lo udah tidur?" tanya Nozela.
Tak ada jawaban.
Nozela menoleh ke samping dan tak lama mendengar suara dengkuran halus dari Aluna, dia menghela nafas pajang saat tahu Aluna sudah tidur.
"Kok gue nggak bisa tidur ya?"
Nozela menyibak selimutnya lalu bangkit dari ranjang, dia mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja nakas kemudian melangkah pelan keluar dari kamar Aluna.
Klek.
"Belum tidur?"
"Astaga."
Nozela berjengit terkejut saat suara William tiba-tiba terdengar dibelakang tubuhnya, dia lekas berbalik badan dan mendapati William sedang menahan tawanya.
"Lo ngagetin tahu."
Plak.
Nozela memukul lengan William saking kesalnya, hampir saja jantungnya berpindah tempat karena ulah sahabatnya.
"Sorry Jel. Lo kenapa keluar? Nggak bisa tidur?"
Nozela mengangguk sebagai jawaban. "Lebih tepatnya belum ngantuk sih?"
"Mau ikut gue?"
Nozela mengerutkan keningnya. "Kemana?"
Greb.
Nozela menatap pergelangan tangannya yang digenggam oleh William, dan tak lama setelah itu William menarik tangannya dan mengajaknya masuk ke dalam lift.
"Liam mau ajak gue kemana sih?" batin Nozela.
"Tante titip Nozela sama kalian ya, kalau ada apa-apa segera hubungi kami.""Iya tante, tante bisa percayakan Ojel sama kita, pokoknya om dan tante harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran dulu, Ojel aman disini sama kita. Kita bakal jagain Ojel.""Benar om tante, besok siang atau sore kalian bisa kesini lagi. Yang jelas kalian harus istirahat dulu."Tiara menatap kedua teman putrinya penuh haru, sejak dia mengenal Thalia, Thalia memang anak yang baik. Bahkan dia sudah menganggap Thalia seperti putri keduanya."Terima kasih ya kalia sudah mau membantu kami menjaga Nozela." ucap Andito.Thalia mengngguk. "Sama-sama om."Tiara menatap putrinya yang masih terdiam, dia melangkahkan kakinya mendekat ke arah putrinya. Tiara sangat ingin memeluk Nozela sebelum dia pulang, namun dia sangat takut sentuhan tangannya bisa menyakiti putrinya lagi."Jel, mama pulang dulu ya. Malam ini kamu ditemani Thalia sama Fela dulu, besok mama p
Gluk.Gluk.Gluk.Archen menatap sahabatnya yang meminum alkohol dari botolnya dengan rakus, dia menghela nafas panjang kemudian menyesap minumannya.Tak.William meletakkan botol minuman bralhokol itu dengan kasar diatas meja, mata serta wajahnya sudah memerah, dia mengelap bibirnya dengan tangannya lalu menundukkan kepalanya."Lo mau habisin berapa botol lagi, Liam?" tanya Lego.Meja dihadapan mereka ada tiga botol kosong dan dua botol yang masih utuh, dan William lah yang sudah menghabiskan tiga botol itu dalam waktu kurang dari 2 jam. Mereka saat ini berada di apartemen Lego karena ajakan William. Baik Archen maupun Lego memilih mengiyakan ajakan William karena mereka tahu saat ini William sangat membutuhkan dukungan atas kesedihan yang dia alami.Lego menuangkan minuman ke gelasnya dan milik Archen, tatapannya menatap ke arah William yang masih menundukkan kepalanya. Dia merasa kasihan pada sahabatnya, saat ini pasti
Thalia menatap paper bag ditangannya yang berisi buah kelengkeng dan chees cake kesukaan sahabatnya, beberapa hari setelah kejadian yang menimpa sahabatnya dia sangat disibukkan dengan kegiatan kampus dan mengajar les. Dan hari ini dia berencana menginap di rumah sakit untuk menemani Nozela karena kebetuan besok weekend, Thalia sudah menyiapkan semuanya dan juga ingin mengganti Tiara untuk menjaga Nozela. Setelah siap, dia segera keluar dari kamar kostnya. "Udah siap Tha?" tanya Fela. Thalia mengangguk. "Udah, ayo kak." Mereka segera pergi menaiki motor Fela kemudian berangkat ke rumah sakit bersama. Thalia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Nozela, dia yakin pasti Nozela akan suka dengan makanan yang dibawanya. Sampai di rumah sakit, mereka segera masuk ke lobi menuju kamar Nozela dirawat. "Tha, apa Nozela baik-baik aja?" Thalia tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya. "Kejadian itu buat Ojel trauma kak. Keadaan
Tok...tok.Ceklek.Pintu ruang rawat Clarissa terbuka, dua orang polwan dan satu orang polisi masuk ketika semua orang yang berada disana sedang mebereskan pakaian Clarissa. Clarissa terkejut saat melihat polisi masuk ke dalam ruangannya, dia lekas mendekati daddynya yang sedang berbicara dengan papanya."Selamat pagi."Cleo dan Fahmi bangkit dari duduknya, mereka sama terkejutnya seperti Clarissa saat melihat polisi itu masuk ke ruang rawat Clarissa. Cleo lekas menarik lengan Clarissa kemudian menyembunyikan Clarissa dibelakang tubuhnya."Selamat pagi pak." jawab Fahmi."Saya ke sini untuk membawa nona Clarissa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan atas kasus pelecehan seksual berencana.""Ini surat penangkapannya."Cleo menerima sebuah amplop dan mengeluarkan isinya yang dimana dalam surat itu adalah utusan penangkapan terhadap Clarissa."Tapi pak, putri saya baru saja sembuh." ucap Fahmi."Anda bisa
"Setelah pemeriksaan menyeluruh yang saya lakukan, Nozela terdeteksi mengalami trauma psikologis atas kejadian yang dia alami. Meski kejadian itu tak sampai merenggut kesuciannya dan dalam keadaan setengah sadar karena efek obat yang dia konsumsi, namun otaknya merekam jelas kejadian demi kejadian yang dialami. Hal itu menyebabkan Nozela terus mengingatnya dan memunculkan rasa trauma."Tiara tak bisa lagi menopang tubuhnya setelah mendengar penjelasan dari dokter, dia terduduk di sofa sambil menutup mulutnya sendiri. Air matanya menetes tanpa bisa dia bendung lagi, dia tak menyangka Nozela akan mengalami hal seperti ini."Apa bisa sembuh dok?" tanya Andito.Dokter mengangguk. "Tentu saja bisa tuan, dengan menjalani terapi dan dengan dukungan keluarga pasti Nozela akan cepat pulih. Namun semua pengobatannya membutuhkan proses yang sedikit panjang, jika Nozela bisa menerima dengan baik maka tak sampai menunggu lama dia akan segera pulih.""Tolong bantu putr
"Leon, kamu disini? Aku baru aja mau jenguk Drake sama kak Clarissa.""Ikut aku."Leon segera menarik tangan Clarie kemudian membwanya pergi ke koridor rumah sakit yang sepi, dia melepaskan tangan Clarie dengan kasar membuat Clarie kebingungan. Dia menoleh ke belakang dimana mamanya masih menunggunya."Ada apa Leon?"Leon menatap Clarie dengan tajam, dia mencengkeram lengan Calrie untuk menyalurkan rasa kesalnya. Clarie yang diperlakukan begitu kasar hanya bisa meringis kecil."Leon sakit.""Kamu tahu kan rencana Clarissa buat jebak Nozela sama Drake makanya kamu aku ajak pulang duluan?"Clarie mengerutkan keningnya. "Maksud kamu apa? Aku nggak paham sama sekali."Leon mendegus kasar. "Nggak usah belaga bodoh Clarie, aku tahu kamu sengaja bantuin kakak kamu karena kamu juga nggak suka sama Nozela kan?"Clarie merasa marah karena dituduh oleh Leon, dia akui dia memang membantu Clarissa namun dia tak tahu rencana kakaknya.
Drrtt...drrtt"KAKAK, ADA YANG TELPON."Aluna sedang bermain bersama max terpaksa berteriak memanggil kakaknya karena ponsel kakanya yagn berada diatas meja bergetar, dia sedikit mnegintip sang penelpon yang ternyata tertera nama On Andito."Papanya kak Ojel, tumben telepon k
Drrtt...drrtt....Ponsel Nozela yang berada diatas nakas terus bergetar membuat salah satu gadis yang sedang tertidur merasa terganggu."Berisik banget sih? Siapa yang tengah malem telepon?"Sebuah tangan teulur lalu berusaha mengambil ponsel yang masih bergetar, dengan kesad
"Emhhh...ah."William merebahkan tubuhnya ke ranjang setelah mneyelesaikan satu ronde bersama Clarissa pagi ini, dia memiringkan wajahnya untuk menatap wajah Clarissa yang memerah dengan nafas naik turun. Dia tersenyum lalu mengangkat tangannya untuk mengelap kening Clarissa yang berkering
Blam.William menutup pintu mobilnya dengan kencang, dia lekas memasang sabuk pengamannya kemudian melajukan mobilnya meninggalkan basement apartemen Clarissa. Dengan kecepatan tinggi William membawa mobilnya membelah jalanan yang sedikit padat.Dia terus menyalip mobil yang menghalangi jalannya, di







