INICIAR SESIÓN"Merayap pelan di balik roda Fuso nomor dua belas, Juna, jangan biarkan senter buruh gadungan itu memergoki langkah kita!" pangkas Slamet berbisik parau.
Aroma solar basah dan jelaga knalpot menyengat tajam di sela-sela lorong gelap depo kontainer empat malam hari ini.
Slamet merayap satset di atas tanah berkerikil, mengacungkan kunci pas besarnya dengan urat lengan tegang membatu.
"Waduhhh… te-te-tetapi Kang Slamet, itu tiga penyusup berbaju kuli kok membawa jerik
Pintu ruang kerja direktur utama lantai tiga gedung Marunda Fast itu tertutup rapat, menyisakan keheningan pekat di antara tumpukan arsip perusahaan.Sonya Baskoro berdiri menatap amplop misterius berlogo asing yang baru saja ia pungut dari lantai kayu dengan kernyitan dahi yang dalam."Waduhhh... Siapa yang berani menyelipkan amplop ancaman ini langsung ke ruanganku tanpa terpantau kamera pengawas lobi?" gerutu Sonya penasaran.Arya Baswira melangkah mendekat dari sudut ruangan, merangkul pinggang ramping istrinya lalu mengambil amplop tersebut dari tangan sang Ratu Besi."Coba biar kulihat isinya, Majikanku... Jangan biarkan teror murahan seperti ini merusak malam kemenangan bisnis yang sudah kita raih hari ini," ucap Arya tenang.Jari-jemari kokoh Arya merobek bagian atas amplop kertas tebal itu, mengeluarkan selembar surat peringatan bertuliskan ancaman penghentian proyek log
Suasana di lantai tiga ruang administrasi utama gedung Marunda Fast pagi itu dipenuhi oleh tumpukan berkas perkara hukum yang berserakan di atas meja besar berlapis kaca hitam.Cindy duduk dengan sangat sigap di samping meja kerja Sonya, memeriksa lembar demi lembar transkrip sumpah palsu yang diajukan oleh kubu konsorsium saingan bisnis.Sebagai sekretaris andalan yang sangat teliti dalam urusan arsip perusahaan, Cindy memastikan tidak ada satu pun detail keliru dalam dokumen verifikasi kredibilitas saksi pelapor tersebut."Waduhhh... Saksi bayaran yang mereka ajukan ini ternyata memiliki catatan kriminal penggelapan dana di perusahaan logistik sebelumnya, Bu Direktur!" lapor Cindy dengan nada suara tegas.Sonya Baskoro mengangguk pelan penuh wibawa, menatap tajam lembar demi lembar riwayat hidup saksi palsu yang disodorkan oleh sekretaris setianya itu dengan senyum sinis."Bagu
Suasana di lantai empat gedung utama Marunda Fast pagi itu terasa jauh lebih sibuk dan tegang dari hari-hari biasa.Layar televisi di ruang tunggu koridor direkrut menampilkan siaran berita pagi yang menyoroti dugaan skandal izin operasional depo logistik perusahaan.Para staf administrasi dan sekretaris tampak berbisik-bisik cemas melihat pemberitaan miring yang sengaja disponsori oleh konsorsium saingan bisnis.Sonya Baskoro melangkah keluar dari lift pribadi mengenakan setelan jas formal abu-abu tua dengan tatapan mata dingin setajam mata pedang.Wibawa Ratu Besi yang melekat pada dirinya langsung membungkam seluruh suara bisik-bisik para karyawan yang berkumpul di dekat ruang lobi."Kembali bekerja ke meja kalian masing-masing!" perintah Sonya dengan nada suara tegas berwibawa tanpa sedikit pun keraguan.Para karyawan bergegas membubarkan diri dalam hitun
Suasana di dalam sudut kafe kecil yang agak tersembunyi di kawasan pinggiran kota sore itu tampak sunyi, tenang, dan jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota besar yang melelahkan fisik maupun mental.Arya Baswira duduk menyendiri di meja pojok ruangan berpenyejuk udara sambil mengenakan jaket kulit hitam gelap untuk menyamarkan identitas aslinya sebagai Manajer Keuangan korporasi besar.Pria berbadan kekar itu melirik jam tangan peraknya berulang kali, menunggu kedatangan seorang informan lapangan yang berjanji menyerahkan data tambahan terkait proyek hibah pelabuhan regional."Waduhhh... Mana orangnya ini, sudah lewat sepuluh menit dari jadwal perjanjian tapi batang hidungnya belum juga kelihatan di pintu masuk kafe," gumam Arya kesal sambil melipat tangan di dada.Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya berjas kusam dan berkacamata tebal berjalan tergesa-gesa menghampiri meja pojok tempat Arya menu
Pagi hari yang sibuk di kawasan depo logistik regional pelabuhan niaga tampak dipenuhi oleh deru mesin truk kontainer dan aktivitas bongkar muat barang yang sangat padat.Arya Baswira melangkah turun dari mobil pribadinya mengenakan kemeja flanel gelap dan topi lapangan, menyamar sebagai pengawas audit independen dari kantor pusat perusahaan.Pria berbadan kekar itu berjalan tenang menyusuri area gudang penyimpanan logistik yang luas, mengamati setiap aktivitas keluar-masuk muatan secara cermat tanpa menarik perhatian.Sebagai Manajer Keuangan Marunda Fast, Arya harus bergerak cepat mengamankan bukti digital transaksi fiktif sebelum disembunyikan oleh oknum kepala depo yang berkhianat."Waduhhh... Laporan harian solar di depo ini kelihatannya tidak sinkron dengan jumlah armada truk tronton yang beroperasi setiap harinya di lapangan," gumam Arya meneliti catatan fisik di tangannya.
Lampu kristal mewah di ruang kerja direktur utama lantai tiga gedung Marunda Fast memancarkan cahaya temaram kekuningan yang sangat hangat dan menenangkan.Pintu kayu jati berukuran besar berlapis pernis mengkilap tersebut terkunci rapat dari dalam, memastikan tidak ada satu pun staf kantor yang bisa masuk mengganggu privasi.Sonya Baskoro duduk di atas kursi kerjanya dengan napas yang sedikit memburu, memandangi tumpukan laporan ancaman dari utusan misterius di pangkalan utama tadi siang.Blazer abu-abu gelap berpotongan elegan yang melekat di tubuh indahnya tampak sedikit kusut akibat ketegangan mental yang ia rasakan sepanjang perjalanan pulang dari Limo."Mereka benar-benar mencoba menekan kita dari segala penjuru, Arya... Konsorsium lawan tampaknya tidak mau menyerah begitu saja setelah somasi mereka kita mentahkan," keluh Sonya.Keluhan tersebut keluar dengan nada suara man







