Beranda / Romansa / Gairah Terlarang Calon Mertua / Bab 22 Pengejaran di Mall

Share

Bab 22 Pengejaran di Mall

Penulis: Cynta
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-25 12:20:17

​Saat Audrey sampai di mal dan turun dari taksi online, ia merasakan firasat buruk yang tajam. Instingnya benar. Tepat saat ia berjalan menuju pintu masuk lobi, ia melihat mobil sport hitam yang sangat familiar, milik Aiden yang baru saja diparkirkan di area parkir VIP.

​'Dia mengikutiku?! Tapi bagaimana dia tahu aku ke sini?!' batin Audrey panik. Ia menyadari Aksa pasti telah memberi tahu Denzel bahwa ia akan menunggu di mal dekat penthouse, dan Aiden entah bagaimana mengetahuinya, atau hanya menerka.

​Audrey pura-pura tidak melihat. Ia merapikan blus yang sedikit kusut dan memaksa dirinya berjalan dengan tenang, meskipun jantungnya terus berdebar cepat.

“Aku harus menghilang dari pandangan Aiden! Denzel harusnya juga sampai sebentar lagi..” gumamnya. Audrey harus berjalan cepat, menyelinap ke dalam keramaian, dan berusaha menghilang sebelum Aiden semakin dekat dengannya.

Audrey berhasil masuk ke dalam mal, berbaur di antara kerumunan pengunjung. Namun, ia tahu Aiden akan mencarinya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 208 Saatnya menerima hukuman

    ​Denzel mengangkat Audrey, melingkarkan kaki jenjang istrinya ke pinggangnya yang kuat. Ia membawa Audrey ke kamar utama, namun langkahnya terhenti di balkon pribadi yang menghadap ke arah pemandangan kota. ​"Di sini, Audrey. Aku ingin seluruh kota tahu bahwa kamu adalah ratu dari raja maut yang paling beruntung," bisik Denzel sensual.Tangan Denzel menurunkan Audrey di atas sofa yang empuk. Dengan tangan yang terampil, Denzel membuka kancing gaun hitam Audrey satu per satu. Setiap inci kulit Audrey yang terekspos langsung diserang oleh ciuman panas Denzel.Saat gaun itu luruh ke lantai, Denzel terpaku menatap perut Audrey yang mulai sedikit menonjol, tempat di mana benihnya sedang tumbuh.​Denzel berlutut, mencium perut Audrey dengan sangat lembut, hampir seperti sebuah ritual. "Terima kasih telah bertahan untukku dan anak kita, sayang."​Gairah Audrey meluap. Ia menarik Denzel berdiri, tangannya dengan berani membuka ikat pinggang suaminya, membebaskan Anaconda yang sudah menegang

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 207 Sisa ketegangan di pemakaman

    ​Prosesi pemakaman berlanjut. Denzel berdiri di samping Trustin yang sejak tadi hanya diam memperhatikan dengan sorot mata yang sulit dibaca. Peti mati Tuan Shaquille dan istrinya akhirnya diturunkan ke dalam liang lahat. Suara tanah yang jatuh menimpa peti mati terdengar seperti detak jam yang menandai berakhirnya sebuah babak panjang penuh dendam dan luka.​Denzel menggenggam tanah, lalu menaburkannya. Di dalam hatinya, ‘Aku berjanji bahwa kekacauan yang diciptakan Papa tidak akan pernah terulang pada anak-anak ku.’ Ia menoleh ke arah jenazah Lorenzo yang sedang dibungkus kantong mayat oleh tim Aksa di kejauhan. Musuh besarnya telah tumbang, namun kedamaian seakan masih belum benar-benar terasa sempurna. ​Setelah doa terakhir dipanjatkan, Trustin mendekatkan kursi rodanya ke arah Denzel.​"Denzel," panggil Trustin pelan. "Aksa baru saja melacak sesuatu dari ponsel Lorenzo yang kita sita. Ada satu panggilan keluar terakhir sesaat sebelum dia mati. Bukan ke Velove, bukan pula ke Aide

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 206 ‘Hukuman’ yang menanti

    ​Langit di atas pemakaman keluarga Shaquille seolah terbelah. Di satu sisi, peti mati orang tua Denzel siap bersatu dengan bumi, namun di sisi lain, genangan darah Lorenzo dan pengorbanan tragis Aiden meninggalkan aroma amis yang menyesakkan. Kabut yang merayap di antara nisan-nisan marmer menambah suasana mencekam, seolah-olah maut masih enggan pergi dari sana. ​Melihat ekspresi wajah Denzel yang berubah menjadi gelap dan dingin seperti malam yang tak berbintang, Audrey segera menggelengkan kepalanya. Ia merasakan cengkraman tangan Denzel di bahunya mengeras, tanda bahwa monster posesif di dalam diri pria itu sedang bangkit. ​“Tidak Denzel, aku... Aku hanya ingin tahu kondisinya... Dia... Menyelamatkan aku...” lirih Audrey. Suaranya bergetar, matanya masih terbayang bagaimana Aiden menerjang belati Velove demi melindunginya. ​“Dia menyelamatkanmu karena masih mencintaimu!” bentak Denzel. Suaranya yang berat bergema di antara kesunyian makam. Ia menatap Audrey dengan tatapan yang

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 205 Tanah pemakaman berdarah

    ​Denzel melangkah maju, perlahan dan pasti. Ia mengambil senjata apinya, menodongkan laras dingin itu tepat ke dahi Lorenzo yang kini bersimbah keringat dingin. "Semua pasukan yang kamu sewa sudah dilumpuhkan dan digantikan oleh orang-orangku satu jam yang lalu. Kamu sendirian, Lorenzo." ​Lorenzo mendongak, matanya merah penuh kebencian. "Kamu pikir ini berakhir di sini? Tidak... Aku sudah menyiapkan sasaran pada kelemahanmu... Lihat ke belakang mu, Denzel!" ​Denzel sempat melirik sekilas ke arah Audrey dan Trustin. Mereka masih berdiri di sana, dijaga ketat. "Mereka aman. Dan sekarang, waktunya kamu menemui Papaku, Lorenzo!" ​Denzel menarik pelatuknya. DOR! Kepala Lorenzo tersentak ke belakang, nyawanya tercabut seketika, di atas tanah pemakaman yang ingin ia hancurkan. ​Sesaat suasana disana terasa begitu hening, tapi keheningan setelah tembakan itu hanya bertahan sedetik karena semua orang tertegun dengan apa yang baru saja terjadi. Tiba-tiba.. ​"DENZEL, TOLONG!!!" ​Teriaka

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 204 Pertarungan di pemakaman

    ​Tepat pukul sembilan pagi, iring-iringan mobil jenazah bergerak meninggalkan mansion. Suasana sangat mencekam. Puluhan mobil hitam dengan kaca gelap mengawal dua mobil jenazah di depan. Di sepanjang jalan menuju pemakaman pribadi keluarga Shaquille di perbukitan, tim elit Aksa sudah berjaga di setiap jembatan dan persimpangan. ​Denzel duduk di mobil utama bersama Audrey dan Trustin. Sepanjang perjalanan, tangan Denzel tidak pernah lepas dari pinggang Audrey, mendekapnya posesif seolah sedang melindungi permata paling berharga di dunia. ​Denzel akhirnya merogoh saku jasnya untuk mengambil ponselnya yang terus bergetar. Ia baru sempat membuka pesan yang masuk sejak pagi tadi. ​[08123xxxxxxx : Pemakaman keluarga Shaquille telah siap. Semua lubang sudah digali, termasuk untukmu.] ​Mata Denzel menyipit tajam. Kilat kemarahan yang tampak jelas dari manik matanya. Ia tidak membalas pesan itu. Ia justru mematikan ponselnya dan menoleh ke arah jendela, menatap gerbang besi pemakaman kelua

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 203 Gairah di rumah duka

    ​Setelah aktivitas mandi yang cukup panas dan menguras tenaga, Denzel membantu Audrey berpakaian. Mereka mengenakan pakaian serba hitam yang melambangkan duka sekaligus kesiapan untuk berperang. Denzel mengenakan jas hitam dengan rompi antipeluru di dalamnya, sementara Audrey mengenakan dress hitam sederhana namun elegan, lengkap dengan mantel yang menyembunyikan perlindungan yang sama, anti peluru. Mereka juga menyembunyikan senjata api dibaliknya. ​Denzel menggandeng tangan Audrey menuju lift. Wajahnya kini benar-benar mendingin, kembali menjadi sosok pemimpin Shaquille yang tak kenal ampun. ​"Ingat, tetap di dekatku. Jangan lepaskan tanganku sedetik pun saat kita di mansion dan pemakaman," bisik Denzel tegas. ​”Iya, aku mengerti, Denzel!” Audrey mengangguk, ia menggenggam tangan Denzel erat, menyalurkan dukungan penuh lada suaminya. ​Saat mereka melangkah keluar menuju mobil yang sudah menunggu di lobi, ponsel Denzel yang berada di saku jasnya bergetar pelan. Denzel tidak la

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status