LOGINDenzel terdiam sesaat. Keheningan itu terasa panjang, hanya terdengar napas berat mereka berdua yang masih saling menghimpit di sudut dinding. Audrey menahan napas, menunggu jawaban Denzel. Tubuhnya masih bergetar karena gairah, tetapi pikirannya kini tertuju sepenuhnya pada pengakuan yang akan datang.
Tidak lama kemudian akhirnya Denzel menghela napas, panjang dan berat, sebelum menjawab.“Dia Giselle. Mantan tunangan ku.”Audrey terkejut. Bukan iMalam di mansion baru itu terasa begitu sunyi, namun di dalam kamar yang ditempati Trustin dan Sarah, suhu udara seolah naik beberapa derajat. Sarah berdiri di dekat jendela, memandangi kerlip lampu taman dengan bahu yang masih sedikit gemetar. Pikirannya masih terbayang pada kartu emas ancaman yang mereka terima di meja makan tadi.Trustin melangkah pelan, mendekat dari belakang. Ia melingkarkan lengannya yang kokoh di pinggang Sarah, menarik punggung wanita itu agar menempel pada dadanya. Ia bisa merasakan jantung Sarah yang berdegup kencang."Berhenti memikirkannya, Sarah," bisik Trustin tepat di telinga Sarah. Suaranya rendah, serak, dan penuh otoritas yang menenangkan. "Aku tidak akan membiarkan seujung kuku pun dari mereka menyentuhmu. Kamu milikku sekarang."Sarah berbalik dalam pelukan Trustin. Matanya berkaca-kaca menatap wajah pria yang selama puluhan tahun ia cintai dalam diam. "Aku hanya takut kehilanganmu lagi, Trustin. Kita baru saja kembali bersama. Aku tidak mau mat
Suasana di ruang makan yang tadinya penuh tawa kini berubah menjadi ruang rapat darurat yang dingin. Kartu ucapan berwarna emas itu tergeletak di tengah meja, tampak kontras dengan piring-piring sarapan yang masih penuh. Aiden mencengkram pinggiran meja hingga kuku jarinya memutih, sementara Elena hanya bisa terdiam, merasakan remasan tangan suaminya yang sangat kuat di bawah meja. "Aksa, kumpulkan semua kepala tim di ruang komando sekarang!" perintah Denzel dengan suara tegas yang menggelegar. "Trustin, ikut aku. Kita harus memeriksa lagi siapa saja tamu yang sudah mengkonfirmasi kehadirannya." Aksa mengangguk cepat. Ia tidak lagi memegang garpu, melainkan tablet yang layarnya terus berkedip menunjukkan denah digital hotel berbintang yang akan digunakan sebagai lokasi pernikahan. "Siap, Denzel. Aku sudah memerintahkan tim siber untuk melacak asal cetakan kartu ini. Tekstur kertasnya bukan sembarangan, ini kualitas premium." Aiden berdiri, menarik Elena agar ikut berdiri bersam
Elena terbangun karena wajahnya terkena sinar matahari yang masuk melalui cela gorden, ia tampak sangat segar meskipun ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya. Elena terbangun karena suara tawa yang sangat keras dari lantai bawah."Itu seperti suara Papa Trustin," gumam Elena sambil tersenyum.Ia mencoba duduk, dan rasanya sedikit tidak nyaman di bagian bawah tubuhnya. Elena teringat kejadian semalam dan wajahnya langsung memerah padam. Aiden benar-benar tidak memberinya ampun meskipun ia sedang dalam masa pemulihan.Elena menoleh ke sisi lain ranjang, Aiden sudah tidak ada. ‘Kemana dia?’ batin Elena, tidak lama ia mendengar suara Aiden yang sedang berteriak di balkon kamarnya."APA?! SALAH UKURAN?! BAGAIMANA BISA VENDOR SEKELAS KALIAN SALAH MEMBACA DATA?! JAS ITU HARUS SIAP SORE INI ATAU AKU AKAN MEMBELI PERUSAHAAN KALIAN DAN MEMECAT SEMUANYA!"Elena tertawa kecil mendengar omelan suaminya. Aiden memang paling tidak bisa mentoleransi kesalahan kecil karena kelalaian, apalagi k
Denzel menyandarkan punggungnya, ia menoleh ke arah sofa di seberangnya. "Sepertinya kita menang, tapi kita juga kehilangan sesuatu."Aiden, Trustin, dan Aksa mengikuti arah pandangan Denzel. Di sana, di atas sofa panjang yang melingkar, keempat wanita mereka sudah jatuh tertidur karena kelelahan menunggu.Elena tampak meringkuk dengan kepala bersandar di bahu Audrey. Sarah tertidur di ujung sofa dengan bantal kecil, sementara Fiona menyandarkan kepalanya di meja makan kecil di dekat mereka. Wajah mereka tampak begitu damai di bawah cahaya lampu ruang tengah yang mulai redup.Aiden berdiri dan berjalan mendekati Elena. Ia menatap wajah istrinya yang cantik dengan tatapan yang sangat dalam. Hasrat yang tadi sempat membuncah di dalam dirinya kini bercampur dengan rasa haru yang luar biasa."Tidur di sofa seperti ini... Mereka pasti akan sakit leher besok pagi," bisik Aiden pelan.Trustin mendekati Sarah, ia mengusap pipi calon istrinya itu dengan penuh kasih sayang. "Dia pasti san
Denzel baru saja meletakkan ponselnya setelah memastikan seluruh tim keamanan luar sudah melapor. Ia menoleh ke arah ranjang, melihat Audrey yang sedang menepuk-nepuk pelan pantat Kenneth agar bayi itu terlelap. Denzel tersenyum tipis, ia mendekat dan mencium kening Audrey dengan penuh cinta. "Dia sudah tidur?" bisik Denzel. "Baru saja, Denzel. Jangan berisik, nanti dia bangun lagi," balas Audrey pelan. Denzel mengangguk, ia kemudian berjalan menuju meja kerjanya di sudut kamar untuk memeriksa beberapa laporan rutin melalui laptopnya sebelum ia benar-benar ikut berbaring di samping istrinya. Namun, begitu layar laptop menyala dan ia membuka portal bursa saham, kening Denzel berkerut tajam. "Sialan… Apa-apaan ini?!" desis Denzel. Audrey yang baru saja hendak memejamkan mata, langsung terduduk kembali. "Ada apa, Denzel? Kenapa wajahmu tiba-tiba tegang seperti itu?" "Saham Trustin Group, Audrey. Grafiknya terjun bebas dalam waktu tiga puluh menit terakhir. Ini bukan fluktuasi
Audrey duduk di atas karpet bulu diruang keluarga sambil menemani Kenneth yang sedang asyik bermain dengan mainan gantungnya. Di sofa, tumpukan katalog bunga dan kain sutra berserakan. Denzel masuk ke ruangan itu dengan wajah yang sedikit ditekuk. Ia langsung menghampiri Audrey dan duduk di samping istrinya, menyandarkan kepalanya di bahu Audrey seperti anak kecil yang merajuk. "Sayang, hentikan dulu mengurus bayi Kenneth. Perhatikan aku sebentar," keluh Denzel. Audrey menoleh sambil tersenyum geli. "Denzel, Kenneth baru saja bisa memegang mainannya sendiri. Lihatlah, dia sangat pintar." "Aku tahu dia pintar, dia anakku. Tapi aku lapar, dan aku ingin kamu menemaniku makan malam di balkon, hanya kita berdua," tuntut Denzel. Ia mulai menciumi bahu Audrey yang terbuka, mengabaikan Kenneth yang menatap Papanya dengan mata bulat yang bingung. "Denzel, jangan di depan anakmu! Dan lihat, ada Elena dan Aiden datang," bisik Audrey sambil mendorong wajah Denzel dengan lembut.







