ANMELDENMendengar tantangan yang begitu berani dari istrinya, Denzel mengerang rendah, sebuah geraman predator yang dipenuhi hasrat akhirnya meledak. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Denzel langsung membungkam bibir Audrey dengan sebuah ciuman yang luar biasa panas, liar, dan penuh dominasi yang murni. Lidah mereka saling bertautan dengan irama yang tergesa-gesa, membangkitkan gairah yang sejalan dengan detak jantung mereka yang kian berdegup kencang memenuhi kabin mobil yang kedap suara itu. Tangan besar Denzel bergerak dengan sangat cepat namun presisi, merayap turun ke ujung gaun pastel Audrey, menarik kain lembut itu naik dengan kasar hingga tersingkap sepenuhnya di atas pinggul polos istrinya. "Sshhh... Denzel... Ahhh..." Audrey mendesah keras di sela-sela lumatan bibir mereka saat telapak tangan Denzel yang hangat langsung menyentuh kulit paha dalamnya yang sensitif, memberikan usapan-usapan menuntut yang membuat seluruh tubuh Audrey ge
"Kyaaa! Denzel, turunkan aku! Ada Aksa dan Fiona!" pekik Audrey pelan, wajahnya langsung merona merah karena terkejut. Aksa dan Fiona yang berjalan di depan mereka hanya terkekeh kecil tanpa menoleh ke belakang, sengaja mempercepat langkah mereka untuk masuk ke dalam mobil SUV pengawal yang berada di depan, memberikan privasi penuh pada sang CEO. "Mereka tidak akan melihat, Sayang. Dan kalaupun melihat, mereka tidak akan berani protes," sahut Denzel dengan nada otoritasnya yang khas namun penuh dengan kelembutan yang memabukkan. Ia melangkah tegap menuju mobil limousine antipeluru mereka, membawa Audrey di dalam pelukannya dengan sangat mudah seolah wanita itu tidak memiliki beban berat sama sekali. Denzel mendudukkan Audrey di atas kursi kulit kabin limousine yang mewah dan kedap suara, lalu ia sendiri segera masuk dan menutup pintu dengan suara klik yang mantap, mengunci mereka berdua di dalam ruang privasi yang sangat hangat dan ek
Pria itu tidak membiarkan Audrey protes atau pun berteriak, dia justru mencium pipi Audrey seakan tidak peduli kalau mereka sedang berdiri di tengah-tengah ratusan lampu kamera jurnalis yang sedang menyiarkan acara ini secara langsung ke berbagai stasiun televisi bisnis dunia. Audrey menghela nafas panjang mengetahui itu suaminya. “Denzel kamu membuatku terkejut dan takut..” lirih Audrey. “Maaf, sayang..” Denzel memutar tubuh Audrey sepenuhnya, menangkup bagian belakang kepala istrinya dengan telapak tangannya yang besar, lalu merunduk untuk membungkam bibir Audrey dengan sebuah ciuman yang sangat dalam, menuntut, dan penuh dengan gairah posesif di depan umum. "Mmmph..." Audrey melenguh rendah, matanya terpejam rapat seketika saat lidah Denzel langsung menyusup tanpa permisi, menyapu rongga mulutnya dengan dominasi yang murni. Ciuman itu tidak lagi sekadar formalitas perayaan, ada hasrat yang tertahan, rasa bangga yang luar biasa, dan
"Kamulah yang membuatku menjadi pria paling beruntung, Audrey," bisik Denzel parau, matanya menatap tajam ke arah kerumunan di bawah sana yang mulai bertepuk tangan saat protokol acara mengumumkan peresmian resmi dimulai. Aksa melangkah maju satu langkah, memberikan isyarat dengan tangannya. "Denzel, sudah waktunya untuk turun ke lantai dasar. Gunting emas untuk pemotongan pita sudah disiapkan." Denzel memberikan Kenneth kembali kepada pengasuhnya dengan gerakan yang lembut. "Jaga anakku dengan baik, Fiona. Jangan biarkan dia dekat dengan pagar pembatas balkon." "Tenang saja, Pak Denzel. Saya akan menjaga jagoan kecil ini bersama pengasuh," sahut Fiona sambil tersenyum hangat, mengacak rambut halus Kenneth yang sedang asyik memandangi lampu warna-warni air terjun. Denzel kembali beralih pada Audrey. Ia meluruskan blazer putih istrinya yang sedikit bergeser karena menggendong Kenneth tadi, lalu menangkup wajah Audrey dengan kedua tangannya yang besar. Matanya yang gelap menata
Audrey mendongak, menatap mata gelap suaminya dengan senyuman paling manis yang ia miliki. "Ini semua karena dukunganmu yang tidak pernah berhenti, Denzel. Terima kasih sudah mempercayai ide gila ini sejak awal." Denzel tidak memedulikan puluhan pasang mata jurnalis yang masih memperhatikan mereka atau kilatan kamera yang terus mengabadikan momen tersebut. Ia membawa tangan Audrey yang berada di dalam genggamannya ke depan dada, mengelus punggung tangan istrinya perlahan dengan ibu jarinya, memberikan rasa aman yang nyata. "Aku selalu mempercayaimu, Audrey. Apapun yang keluar dari pemikiranmu akan selalu kuwujudkan dengan seluruh kekuasaanku." Di belakang mereka, Aksa melangkah mendekat dengan langkah tegap, memegang tablet digitalnya yang terus memperbarui jadwal acara hari itu. "Denzel, Audrey. Para tamu undangan sudah mulai bergerak menuju area atrium utama untuk prosesi pemotongan pita peresmian. Para petinggi dan kepala bursa efek sudah menunggu di posisi depan." Denzel me
Denzel melenguh rendah, matanya yang tajam perlahan terbuka akibat sentuhan lembut tangan Audrey. Sedetik kemudian, sebuah senyuman tipis yang sangat menawan muncul di bibirnya begitu melihat mata emerald istrinya menyambutnya. "Selamat pagi, Tuan istriku. Hari besar proyekmu sudah tiba," bisik Denzel dengan suaranya yang serak khas bangun tidur, terdengar begitu seksi di telinga Audrey. "Selamat pagi, suamiku yang luar biasa. Terima kasih untuk malam yang indah... Dan untuk semua dukunganmu sampai proyek ini selesai," sahut Audrey tulus, mendongak untuk mengecup bibir Denzel dengan lembut. Denzel menarik Audrey semakin rapat dalam pelukannya, menghirup aroma rambut istrinya yang menenangkan. "Apa pun untukmu, sayang. Mulai hari ini dan seterusnya, seluruh dunia akan tahu bahwa di balik kesuksesan Shaquille Group, ada seorang wanita luar biasa bernama Audrey yang memegang kendali penuh atas hati sang penguasa." Bibirnya mencuri ciuman mendalam pada Audrey. “Mmpphh.. Denzel, ka
"Denzel! Jangan bicara seperti itu padanya!" tegur Audrey sambil memegang lengan suaminya. Aiden tidak tahan lagi. Di depan Papa kandungnya, Papa Denzel, dan Audrey, Aiden tiba-tiba menjatuhkan diri ke lantai. Ia berlutut di depan Elena, memegang kedua tangan wanita itu dengan tatapan yang sanga
Saat mereka sampai di lokasi proyek pelabuhan, suasana kerja yang biasanya kaku dan penuh tekanan terasa jauh lebih ceria bagi Aiden. Meski mereka tetap menjaga jarak di depan para pekerja, namun tatapan mata yang saling mencuri pandang tidak bisa disembunyikan. Aiden berdiri di tepi dermaga, mem
Aiden mengangkat tubuh Elena dengan mudah, membuat kaki wanita itu melingkar di pinggangnya. Tanpa memutus tautan bibir mereka, Aiden mendorong pintu pondok hingga terbuka dan menendangnya hingga tertutup rapat. Di dalam kegelapan pondok yang hanya diterangi cahaya bulan dari celah jendela, gairah
Suasana di meja makan panjang mansion Shaquille malam itu terasa begitu hangat. Tidak ada lagi ketegangan antara Aiden dan Denzel, dan tidak ada lagi kecanggungan berlebihan antara Aiden dan Audrey. "Jadi, Aiden," Denzel membuka pembicaraan sambil memotong steak-nya. "Kamu bilang ingin melamar E







