Mag-log inAudrey sedikit tersentak merasakan sengatan gairah yang familier menjalar ke seluruh tubuhnya akibat bisikan sensual Denzel di tempat umum. "Denzel... hentikan, ada dokter di sini," bisik Audrey pelan sambil menepuk lengan kekar suaminya yang melingkar erat di perutnya. "Aku tidak peduli," sahut Denzel dengan nada otoritasnya yang khas, namun ia tetap melonggarkan sedikit pelukannya tanpa melepaskan genggaman tangannya dari jemari Audrey. Setelah pemeriksaan selesai dan dokter menyatakan seluruh kondisi Fiona sangat prima, mereka bersiap untuk kembali ke penthouse. Suasana hati Fiona tampak sangat bahagia, ia terus membicarakan tentang dekorasi kamar bayi yang ingin ia rancang bersama Audrey nanti. ** Audrey melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam ketika mobil limousine hitam mereka berhenti di depan lobi hotel bintang lima yang memiliki restoran rooftop paling terkenal
"Sekarang, kita harus bersiap," bisik Denzel setelah melepaskan tautan bibir mereka. "Hari ini kita punya janji untuk menemani Fiona melakukan check-up kehamilannya. Aku tidak ingin merusak hari bahagia sahabatmu karena tikus-tikus ini." Audrey mengangguk perlahan. "Kamu benar. Fiona sudah sangat menantikan hari ini." Satu jam kemudian, mobil limousine hitam milik Denzel sudah membelah jalanan kota menuju salah satu rumah sakit bersalin paling eksklusif di Eropa. Di dalam kabin mobil yang luas, suasana terasa cukup kontras. Di satu sisi, Audrey dan Denzel duduk dengan ketenangan yang dipaksakan akibat kabar peretasan tadi, sementara di sisi lain, Aksa dan Fiona membawa aura yang sama sekali berbeda. Fiona duduk sambil mendengus kesal, sementara Aksa berada di sampingnya dengan wajah datar namun tangannya terus memegangi bantal kecil di belakang punggung istrinya. "Aksa, demi Tuhan, aku cuma hamil muda, bukan sedang lum
"Aku tidak peduli, Audrey. Ruangan ini kedap suara, dan kamu sudah resmi menjadi konsultan utamaku. Saat ini 'rapat' pertama kita untuk divisi baru," geram Denzel serak tepat di depan bibir Audrey. Denzel langsung membungkam bibir Audrey dengan ciuman yang jauh lebih liar dan menuntut dari sebelumnya. Lidahnya menyusup masuk tanpa permisi, mengabsen setiap jengkal rongga mulut Audrey dengan dominasi yang murni, menghisapnya hingga menciptakan suara kecapan basah yang sensual di keheningan ruangan. Audrey melenguh keras, "Mmmph..." Tangannya bergerak acak, meremas rambut pendek Denzel, lalu berpindah mencakar bahu kokoh suaminya saat jubah mandi sutranya diturunkan paksa oleh Denzel, mengekspos bahu dan bagian atas dadanya yang sensitif. Denzel memindahkan ciumannya ke leher jenjang Audrey, memberikan gigitan-gigitan kecil yang lapar di sepanjang selangkanya, meninggalkan tanda kemerahan baru sebagai segel kepemilikannya. Napas mereka
Audrey membiarkan dirinya larut dalam lumatan bibir Denzel yang lambat namun begitu mengikat. Rasa hangat menjalar dari bibir pria itu, turun ke dadanya, hingga membuat ujung jari kakinya meremang di atas lantai balkon. Ketika tautan itu terlepas, menyisakan napas mereka yang saling memburu, Denzel tidak langsung menjauh. Ibu jarinya mengusap bibir Audrey yang sedikit basah dan memerah, lalu beralih merapikan jubah mandi sutra istrinya yang sedikit melonggar di bagian bahu. "Sekarang, ikut aku," bisik Denzel parau, suaranya masih menyisakan serak gairah yang tertahan. Denzel meraih jemari Audrey, menautkan jari-jari mereka dengan erat, dan menuntunnya melangkah membelah ruang utama penthouse yang sepi menuju ruang kerja pribadinya. Pintu kayu ek tebal yang biasanya tertutup rapat dan menjadi area paling sakral kini terbuka lebar untuk Audrey. Begitu melangkah masuk, mata emerald Audrey langsung tertuju pada meja kerja marmer hitam milik Denzel. Di atasnya, tidak ada tumpukan d
Denzel terdiam sejenak. Ia menatap Audrey dengan tatapan yang sulit diartikan, namun kemudian senyum tipis yang sangat hangat muncul di bibirnya. Ia meraih tangan Audrey, mengecup jemarinya satu per satu dengan penuh perhatian."Tentu saja aku memikirkannya, Audrey. Tapi saat ini, aku ingin memastikan kamu pulih sepenuhnya dari ketegangan yang lalu. Aku tidak ingin kamu kelelahan. Tapi..." Denzel sengaja menjeda kalimatnya, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Audrey, berbisik dengan nada yang sangat sensual, "Kalau itu keinginanmu, kita bisa mulai berlatih mulai malam ini."Wajah Audrey memerah padam. Ia memukul bahu Denzel pelan, meski jantungnya berdebar kencang. "Dasar mesum!""Aku hanya mesum padamu, Sayang," Denzel terkekeh, lalu bangkit berdiri sambil menggendong Kenneth yang kini sudah kembali ke pelukannya."Ayo, kita sarapan. Aku sudah meminta dapur menyiapkan bubur spesial untuk Kenneth dan menu favoritmu," ajak Denzel.Saat mereka duduk di meja makan, Denzel terus me
Sinar matahari pagi menembus celah gorden sutra kamar utama penthouse Shaquille Group, jatuh tepat di wajah Audrey yang masih terlelap. Denzel sudah terjaga lebih dulu. Ia tidak bergerak, hanya menatap lekat wajah damai istrinya. Tangannya yang besar sesekali membelai lembut pipi Audrey, menyingkirkan anak rambut yang sedikit menutupi wajahnya. Ingatan tentang perjalanan di dalam limusin kemarin sore kembali terlintas, membuat sudut bibir Denzel tertarik membentuk senyuman penuh kepuasan."Enghh..." Audrey mulai terusik. Mata emeraldnya terbuka perlahan, menatap mata gelap Denzel yang sudah menunggunya dengan tatapan teduh namun mematikan."Selamat pagi, Mommy," bisik Denzel dengan suara serak khas bangun tidur menyambut. Ia menarik Audrey lebih dekat, hingga tak ada lagi jarak di antara mereka."Pagi, Daddy," sahut Audrey dengan suara parau yang lembut. Ia menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Denzel, menghirup aroma maskulin yang selalu menjadi candu baginya. "Jam berapa sekaran
Prosesi pemakaman berlanjut. Denzel berdiri di samping Trustin yang sejak tadi hanya diam memperhatikan dengan sorot mata yang sulit dibaca. Peti mati Tuan Shaquille dan istrinya akhirnya diturunkan ke dalam liang lahat. Suara tanah yang jatuh menimpa peti mati terdengar seperti detak jam yang men
Denzel memacu dirinya dengan kecepatan yang tidak mengenal ampun. Setiap gerakan yang ia lakukan seolah-olah ingin membuang semua rasa frustrasi dan amarah akibat pengkhianatan Velove, Shaly dan Selina. Tiga wanita yang hampir menguras emosinya. Di atas sofa itu, Denzel seakan men
Denzel tidak membiarkan Audrey protes di tengah ciuman mereka, ia justru membuat Audrey membalas ciumannya dengan intensitas yang sama. Di tengah ketakutan akan serangan penyusup, gairah mereka menjadi satu-satunya pelarian yang nyata.Lidah mereka bertemu dalam tarian liar, menyalurkan
Beberapa detik setelah membaca pesan masuk itu, tiba-tiba pendengaran Denzel yang tajam menangkap sesuatu. Di luar pintu kamar, terdengar suara langkah kaki yang sangat ringan. Langkah itu terlalu teratur, terlalu terlatih untuk seorang pengawal biasa. Denzel segera menyimpan ponselnya, ia bergerak







