LOGIN“Dok, kenapa pagi-pagi Anda datang ke sini? Ada perlu sama Mas Kaveer, ya?” tanya Yessa, suaranya terdengar gugup dengan jantungnya yang berdebar cepat.
Isandro menggeleng singkat, “Saya mau ambil jam tangan saya yang ketinggalan di kamar mandi semalam.” Dahi Yessa mengernyit, sebelum teringat sesuatu. “O-oh, itu punya dokter, ya? Saya kira punya Mas Kaveer. Sebentar, saya ambil dulu ya di dalam.” Yessa lantas berbalik badan, kembali masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkan Isandro seorang diri berdiri di depan pintu tanpa dipersilahkan masuk. Tak lama kemudian, Yessa kembali membawa jam tangan mahal milik Isandro. Pagi tadi, dia memang sempat bertanya-tanya pada jam tangan mahal yang dia temukan di kamar mandinya itu, ia ragu itu milik suaminya. Dan benar saja, jam tangan mahal itu milik Isandro. “Ini dok, jam tangannya,” Yessa menyerahkannya dengan sangat hati-hati, tak ingin sampai dia tak sengaja menjatuhkannya, karena harganya sangat mahal jika dia harus mengganti rugi. Isandro menerimanya, dan matanya sempat melirik ke dalam rumah yang belum sepenuhnya ditutup. “Kaveer belum bangun?” tanyanya sambil memakai jam tangannya. Yessa menelan ludahnya berat, “Sudah, dok. Tapi Mas Kaveer tidur lagi. Katanya, dia mau keluar nanti ada janji mau interview kerjaan,” ucapnya berdusta. Mendengar itu Isandro hanya tersenyum tipis, “Bagus kalau begitu,” ia mengangkat tangan kirinya, “Terima kasih karena sudah menyimpan jam tangan saya. Kalau begitu, saya permisi.” “Iya, sama-sama, dok.” Balas Yessa sambil mengulas senyum manis. Isandro menatapnya sejenak sebelum berbalik badan menuju mobilnya yang diparkir di depan pagar rumah Yessa. Sementara Yessa menutup pintu rumahnya, lalu mengeluarkan ponsel untuk memesan ojek online. “Yessa!” seru Isandro dari tempatnya berdiri. Yessa mengangkat pandangannya dan mendapatkan pria itu melambaikan tangan, memintanya untuk menghampirinya. Cepat-cepat Yessa membawa langkahnya ke sana. “Ada apa lagi, dok?” “Berangkat dengan saya,” ujar Isandro, bukan menawarkan melainkan memberi perintah. Ia membukakan pintu penumpang depan, samping kemudi untuk Yessa. Untuk beberapa saat Yessa terdiam, ia menelan ludahnya dengan susah payah mendengar tawaran itu. Kepalanya terangkat menatap pria yang tingginya menjulang tersebut. “Nggak, dok. Saya bisa pesen ojek online,” tolak Yessa halus. “Kenapa tidak dengan saya saja? Kita searah.” “I-iya, tapi ... kita ini senior dan junior, dok. Gak enak kalau saya naik mobil dokter. Apa kata orang-orang di rumah sakit nanti, kalau saya keluar dari mobil dokter?” sahut Yessa hati-hati. “Memangnya mereka akan bilang apa?” Isandro melipat kedua tangannya di dada. Yessa terdiam, haruskah dia menjelaskan hal itu pada Isandro yang seharusnya sudah paham? Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Dok, begini ... saya dan dokter ini kan senior dan junior. Terus, saya sama dokter sama-sama sudah berkeluarga ....” “Hm,” sahut Isandro singkat, kepalanya mengangguk. “Lalu?” “Bukannya itu terkesan buruk ya, dok? Gimana kalau nanti orang-orang mikir, kalau—“ “Kalau apa?” potong Isandro, tangan kirinya terangkat memeriksa arloji mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. “Saya dan kamu tidak punya banyak waktu mengobrol di sini. Kita bisa telat, dan kalau telat, kamu yang akan dihukum, bukan saya.” Isandro membuka pintu mobil lebih lebar, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Yessa. “Mau masuk sendiri, atau perlu saya bantu?” tanyanya dengan suara tenang. Tangan besarnya sudah terulur, seakan siap menggenggam lengan Yessa. Yessa menelan ludahnya, jantungnya berdegup cepat. Gengsinya berteriak untuk menolak, tapi rasa takut terlambat membuatnya tak bisa banyak berpikir. Dalam hati, ia juga tak benar-benar keberatan—selama Isandro tidak menganggapnya merepotkan. “Baik, dok, saya ikut,” putus Yessa pada akhirnya, dia dengan cepat masuk ke dalam mobil Isandro dan duduk dengan tenang di kursi samping kemudi. Isandro menutup pintu, lalu mengitari mobil menuju kursi kemudi. Setelahnya, dia membawa mobil mewahnya meninggalkan kawasan rumah Yessa dan melaju dengan kecepatan rendah. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, tak ada percakapan yang keluar dari mulut mereka berdua. Isandro fokus mengemudi, sementara Yessa menatap ke luar jendela untuk menghilangkan kejenuhan. Hening sesaat, kemudian Isandro membuka suara. “Semalam itu bukan jatuh dari ranjang, kan?” Yessa sontak menoleh pada Isandro yang menatap lurus ke jalan raya. “Maksud dokter?” “Maaf kalau saya terkesan ikut campur, tapi semalam saya tidak sengaja mendengar pertengkaran kalian.” Yessa meremas kedua tangannya di atas pangkuan, tubuhnya langsung menegang. Ia tak bisa mengelak, itu sudah jelas dan Isandro bukan pria yang mudah dikibuli. Tepat saat itu, lampu lalu lintas berubah merah. Mobil pun melambat lalu berhenti sempurna di garis pembatas jalan, menciptakan jeda hening yang membuat ucapan Isandro terasa semakin menekan. Dalam keheningan itu, Isandro akhirnya menoleh, menatap Yessa dengan sorot mata yang tenang tapi menusuk. “Kamu nggak perlu pura-pura kuat, Yessa.” Tangannya terulur meraih tangan Yessa yang berada di pangkuan, lalu mengusapnya lembut dengan ibu jari. “Saya ada, kalau kamu butuh,” lanjutnya, suaranya rendah. Yessa menggigit bibirnya, menatap Isandro dengan sorot mata yang bergetar di antara ragu dan dorongan yang tak bisa ia kendalikan. “Dok ….” “Hm,” sahut Isandro singkat, suaranya berat dan serak, sekaligus menggetarkan dada Yessa. Keheningan di antara mereka kian pekat, seperti ada sesuatu yang tak kasat mata mendorong keduanya semakin dekat. Jantung Yessa berdegup kencang, ia memejamkan mata, pasrah pada gejolak yang membuncah. Detik berikutnya, Isandro menautkan bibirnya pada bibir Yessa—sebuah ciuman lembut dan menuntut. Membuat suara cecapan dari ciuman mereka menjadi latar keheningan kabin.“Kamu ngobrol apa aja sama Mama Salma, Mas?” tanya Yessa pelan saat mobil melaju meninggalkan area Rumah Sakit Gloria Medika, beberapa menit setelah pemeriksaan kandungannya selesai. “Tidak banyak,” jawab Isandro tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. Namun tangannya tetap menggenggam tangan Yessa erat di atas paha sang istri. “Kami hanya membahas Kaveer.” Yessa membuka mulut, hendak bertanya lebih jauh. Namun Isandro kembali berbicara lebih dulu. “Oh iya,” ucapnya santai. “Tante Salma itu sudah bukan Mama mertua kamu. Jadi … jangan panggil Mama lagi, ya.” Yessa terdiam sejenak. Bibirnya terkatup rapat sebelum akhirnya ia mengangguk pelan. “Udah kebiasaan,” katanya lirih. “Jadi suka kelupaan, Mas.” “Mulai sekarang dibiasakan,” balas Isandro tenang. Senyum tipis terukir di wajah tampannya. “Tante Salma bukan mertua kamu lagi.” Tak lama kemudian, mobil memasuki halaman mansion. Isandro turun lebih dulu, bergegas membukakan pintu dan membantu Yessa turun dengan penuh kehati-hatia
“Terima kasih banyak, San. Karena kamu mau bertemu dengan tante,” ucap Salma lirih, tak berani menatap langsung ke mata Isandro. Isandro terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya membuka suara. “Tante pasti selama ini penasaran, atas apa yang akan saya lakukan setelah ini pada Kaveer?” Salma meremat jari-jemarinya di atas pangkuan. “Iya, itu salah satunya. Dan kedatangan tante ke sini, tentu saja untuk mewakili permintaan maaf Kaveer ke kamu, serta istri kamu. Yessa.” Pria itu mengangguk paham. Tapi sayangnya saat ini dia memilih untuk bicara empat mata dengan Salma, daripada membawa sang istri juga. Hal itu dilakukan agar Yessa tidak mendengar ucapan yang tak seharusnya, hingga mengganggu mental dan hormon kehamilannya membuat wanita itu sensitif. “Apa ada alasan, kenapa Kaveer tidak datang sendiri untuk minta maaf?” tanya Isandro, suaranya rendah namun tetap tegas. “Kaveer, dia ... sebenarnya ingin datang sendiri. Tapi tante tidak yakin dia datang untuk meminta maaf atau justru
“Aku juga, Mas. Aku bakal lindungin kamu, sekalipun taruhannya nyawa aku sendiri. Kalau kamu pergi, aku takut gak sanggup,” bisik Yessa lirih. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Isandro menghela napas panjang. Tangannya terulur, ibu jarinya menghapus air mata itu satu per satu dengan gerakan yang sangat hati-hati. “Aku pernah kehilangan kamu,” ucapnya tenang, namun suaranya berat, “Dan aku gak akan pernah mau kehilangan kamu lagi untuk kedua kalinya. Pernah kehilangan, bukan berarti aku sanggup kehilangan lagi.” Yessa terisak kecil. “Entah udah berapa kali aku bilang ke kamu,” lanjut Isandro, sorot matanya mengeras oleh luka lama yang belum sepenuhnya sembuh, “Hari itu aku hampir gila.” Ia menelan ludah, dadanya naik turun. “Aku koma karena kecelakaan itu. Dan waktu aku sadar, kenyataan kalau kamu pergi dari hidup aku, itu menghantam aku untuk kedua kalinya.” Jarinya mengerat di pinggang Yessa. “Aku depresi, Yessa. Bukan cuma karena kamu pergi,” suaranya merendah, hampir be
Satu minggu berlalu dari terakhir kali Isandro pulang ke rumah dan rawat jalan. Kini pria itu sudah bisa kembali beraktivitas lagi. Namun dia tidak beraktivitas dalam hal pekerjaan, melainkan tidak terbaring terus menerus di atas ranjang. Mulai hari ini, sudah bisa bermain dengan kedua anaknya. “Udah minum susunya, sayang?” tanya Isandro begitu sang istri kembali ke ruang bermain kedua anaknya di lantai dua mansion tersebut. “Udah,” jawabnya singkat, lalu ikut bergabung dan duduk di sebelah sang suami. “Cucu, Pa,” rengek Yessy pada sang ayah. Isandro tersenyum kecil. “Papa minta Sus Mala buatin untuk kamu, ya?” ia melirik Mala yang langsung paham dan bergegas meninggalkan ruang bermain. Di hadapan mereka, Arby tengah bermain lego. Bocah laki-laki usia enam tahun itu tampak begitu fokus, sampai tak menyadari kedatangan Yessa. “Bikin apa itu, sayang?” tanya Yessa lembut pada anak sambungnya, satu tangannya mengusap punggung kecil bocah itu yang tengah tengkurap di karpet. Arby t
Brak. Aurora memukul setir kemudinya dengan keras begitu duduk di kursi kemudi. Hal itu dikarenakan Yessa mengusirnya dengan cara yang tak Aurora duga. Jika Yessa mengusirnya dengan nada tajam seperti yang dia lakukan, itu sepadan dengan sikapnya untuk melawannya balik. Seandainya tidak ada Isandro di sana, Aurora sudah pasti tak akan diam saja. “Mulai berani sekarang, ya? Sok karena Isandro selalu bela kamu?” kalimat yang diucapkan itu mengandung bahaya. Aurora melirik refleksi dirinya di spion tengah. “Aku gak akan berhenti di sini. Kalau Yessa udah bisa menggunakan posisinya sebagai istri Isandro, aku harus lebih dari dia.” Ucapannya itu penuh tekad. Tapi bukan untuk hal baik, melainkan untuk sebaliknya. Ia kemudian menyalakan mesin mobil. Setelah itu, mobilnya mulai meninggalkan area rumah sakit. Tentu saja kembali ke rumahnya. Tak jauh dari sana, sebuah mobil juga mengikutinya. Siapa lagi kalau bukan Luke. Pria itu sengaja mengikuti Aurora sampai ke rumah sakit, ingin mema
Belum sempat Luke menjawab, Aurora refleks melirik ke sekeliling. Dan benar saja, beberapa wali murid mulai saling berbisik. Tatapan penasaran, heran, mengejek, bahkan ada yang menyipitkan mata, jelas tertuju pada mereka berdua. Sambil berbisik satu sama lain. “Eh, itu selingkuhannya Aurora, kan?” “Iya, ngapain dia datang ke sini bawa anak mereka yang hasil dari perselingkuhan?” “Gak nyambung, ya. Yang karnaval anaknya siapa, yang datang siapa. Mana bawa anak hasil kumpul kebonya lagi,” bisik yang lain tak kalah tajam. Aurora meremas kedua tangannya di pangkuannya, rahangnya mengeras. Rasa tidak nyaman menjalar cepat di dadanya. Kehadiran Luke di tempat ini—di ruang publik, di tengah banyak pasang mata, jelas bukan sesuatu yang ia inginkan. Sementara Luke berdiri di sampingnya dengan tenang, seolah siap menanggung seluruh bisik-bisik yang mulai tumbuh di aula itu. “Pergi,” usir Aurora dengan nada pelan, tatapannya dingin dan menusuk. Tapi Luke tak goyah, dia justru memilih du







