Share

CHAPTER 195 | TEGA KAMU!

Author: Langit Parama
last update Last Updated: 2025-11-25 08:07:38

“A-anaknya ... Yessa?” tanya Isandro terbata, masih belum bisa sepenuhnya percaya dengan ucapan Pak RT. “Maksudnya, anak yang hidup itu anaknya Yessa. Dan yang meninggal itu—“

Pak RT mengangguk tegas. “Iya, yang meninggal itu anaknya Fika. Dan yang Fika gendong setiap pagi itu, kemungkinan anaknya Yessa. Benar?”

Tubuh Isandro gemetar dengan sendirinya, dia bahkan tak dapat berkata-kata lagi setelah mendengar fakta barusan. Jadi, anak kandungnya masih hidup?

Anak yang selama ini dia gendong, dia juga belikan barang-barang perlengkapan bayi adalah darah dagingnya sendiri yang sebenarnya masih bernyawa di dunia.

Tapi kenapa? Kenapa Yessa mengatakan kalau anaknya sudah meninggal, sementara Yessy itu anak kandung Fika. Pantas saja pikirnya, saat bertemu Fika di makam—gelagat wanita itu aneh.

“Pak dokter. Saya ada pilihan untuk Pak dokter, jika Bapak masih ingin mengoperasikan klinik milik keluarga Bapak di desa kami,” kata Pak RT, suaranya rendah.

“Pak,” Isandro mengangkat waja
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Wahyuningsih D.Sumitro
semangat updatet babnya yg banyak kaka... setelah sekian byk bab mulai terungkap sandiwara yessa
goodnovel comment avatar
mirah
braga ya yg hamilin fika?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku   CHAPTER 333 |

    “San, tolong Mama aku, San. Aku mohon, selametin Mama aku.” Suara Aurora pecah saat Isandro keluar dari ruang operasi. Pria itu masih mengenakan pakaian medis lengkap, masker menggantung di bawah dagunya, raut wajahnya lelah namun tetap profesional. “Tante Yura kehilangan banyak darah,” ujar Isandro tenang, tapi serius. “Operasi utamanya berjalan baik. Kalau transfusi darah bisa segera dilakukan, peluangnya sangat besar untuk selamat.” Aurora menahan napas. “Terus, gimana?” “Stok darah dengan golongan yang sama sedang kosong.” “Ko-kosong?” suara Aurora bergetar, lututnya hampir melemas. “Jadi … Mama aku gak bisa diselamatkan?” “Bisa,” potong Isandro tegas, menatapnya lurus. “Asal kita dapat donor pengganti secepatnya.” Aurora menelan ludah. “Golongan darah Mama aku dan aku gak cocok, San. Aku A+.” Isandro terdiam beberapa saat, lalu mengangguk singkat. “Baik. Aku akan coba hubungi rumah sakit lain untuk stok cadangan. Sementara itu, kamu cari keluarga atau kerabat dengan golo

  • Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku   CHAPTER 332 |

    “Papa janji bakal beliin donat,” kata Arby pada Yessa siang itu, nadanya penuh harap. Yessa menghela napas pelan. “Kita pesen online aja, ya? Kemungkinan Papa lagi ada pasien darurat di rumah sakit.” “Kenapa gak ditelepon aja dulu, Ma?” tawar Arby, tetap bersikeras. Ia ingin donat itu dibeli langsung oleh ayahnya, bukan oleh kurir. “Telepon?” Yessa mengerjap, lalu tersenyum kecil. “Hm … Mama coba dulu, ya?” Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, lalu menekan nomor sang suami yang tersimpan paling atas. Baru satu detik panggilan terhubung … Terdengar suara langkah kaki. Dan bersamaan dengan itu, Isandro muncul di ambang pintu ruang tengah. “Papa pulang,” serunya sambil mengangkat satu paper bag cokelat dengan logo toko donat langganan mereka. “Papa!” Arby langsung melonjak turun dari sofa dan berlari menghampiri sang ayah. Yessy yang tadinya duduk manis ikut menuruni sofa, langkah kecilnya tertatih tapi penuh semangat. “Papa … donat,” ucap Yessy dengan suara khasnya, m

  • Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku   CHAPTER 331 |

    “Kenapa gak suka, sayang? Ini bagus,” ujar Isandro sambil kembali menunjuk tatonya, nada suaranya terdengar bangga. Yessa mendengus pelan. “Aku gak suka laki-laki pake tato, Mas. Serem. Kesan pertama yang muncul tuh kayak berandalan,” katanya jujur tanpa ditahan. “Kamu itu dokter. Berwibawa. Dihormati banyak orang. Terus kenapa harus pake tato?” Mulut Isandro sempat terbuka, tapi tak satu kata pun keluar. Ia jelas tak menyangka reaksinya akan sejauh ini. Diluar dugaannya. “Aku gak suka,” ulang Yessa tegas. “Pokoknya aku gak suka. Titik.” Isandro menarik napas, lalu bicara lebih pelan. “Kamu harus tahu dulu, sayang. YESS–Y/A² itu singkatan kamu dan anak-anak kita. Yessa, Yessy, Arby … dan calon anak kita nanti.” Nada suaranya melembut, penuh harap. “Aku bikin ini buat kalian.” Namun Yessa tetap menggeleng. “Tetep gak suka, Mas. Sekalipun itu nama aku dan anak-anak. Bahkan satu titik pun, aku gak suka tato.” “Tapi … udah jadi,” jawab Isandro lirih. “Mau gimana lagi?” Yessa men

  • Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku   CHAPTER 330 |

    “Argh!” Isandro mengerang pelan saat ujung jarum tato menekan kulit dadanya. Otot-otot di lengannya menegang refleks, rahang kokohnya mengeras menahan perih yang menyebar pelan tapi pasti. Hari itu, Isandro memang datang dengan satu niat. Membuat tato di dada kirinya—tepat di dekat jantung. Sebuah tulisan sederhana, namun sarat makna. YESS–Y/A² “Woy, San, tahan dikit lah,” suara temannya terkekeh dari samping. “Badan segede gitu, otot semua, masa baru jarum segini aja udah meringis?” Isandro mendengus, mencoba mengatur napas. “Ini dada, bukan lengan. Beda rasanya,” sahutnya ketus, meski jelas nada suaranya sedikit goyah. “Alasan,” temannya kembali menggoda. “Keliatan sangar, tapi pas ditato langsung lembek.” “Kamu coba sendiri kalau berani,” balas Isandro cepat, melirik tajam. “Aku hajar pakai jarum juga.” Tawa kecil pecah di ruangan itu. Sementara jarum kembali bergerak, menggoreskan huruf demi huruf di kulitnya. Isandro kembali memejamkan mata. Perihnya memang nyata, tapi p

  • Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku   CHAPTER 329 |

    Pukul tujuh malam, Luke akhirnya tiba di Puncak bersama putrinya dan babysitter Arsy, Elis. Mereka menginap di sebuah villa yang cukup luas, bahkan terasa terlalu lengang untuk ditempati hanya bertiga. Udara malam itu menusuk tulang. Beruntung Arsy mengenakan jaket tebal, membuat Luke sedikit lega. Lagi pula, mereka sudah sampai di villa. Tak perlu khawatir sang anak akan masuk angin. “Non Arsy ketiduran, Tuan,” lapor Elis begitu Luke turun dari mobil dan membuka bagasi untuk mengambil barang-barang. “Tidak apa-apa,” jawab Luke tenang sambil mengulurkan tangan. “Sudah malam juga. Nanti dia bangun sendiri kalau sudah cukup tidur.” Luke mengambil alih putrinya dari pelukan Elis, lalu melangkah masuk ke dalam villa. Elis menyusul di belakang, membawa barang-barang mereka—tak banyak, hanya satu tas kecil milik Arsy dan koper Luke. Di kamar, Luke langsung merebahkan Arsy ke atas ranjang. Tubuh kecil itu menggeliat pelan, namun tak kunjung terbangun. “Akhirnya sampai juga, Nak,” gu

  • Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku   CHAPTER 328 |

    “Aku sama Arsy malam ini mau berangkat ke puncak, kami akan liburan berdua,” ucap Luke siang itu, pada Aurora yang entah sudah berapa hari tak keluar dari kamarnya. Wanita itu bahkan tak menoleh, seolah masih kesal pada Luke karena kehamilannya saat ini. “Aku gak ngajak kamu bukan sengaja, tapi karena aku udah tahu jawabannya. Kalau kamu mau makan nanas muda, silakan,” lanjut Luke, kalimat terakhirnya spontan membuat Aurora menoleh. Tatapan wanita itu dingin, tak terima kala dirinya disuruh secara terang-terangan untuk melakukan hal tersebut. “Kamu baik-baik saja di sini selama tidak ada kami berdua. Ah, tentunya kamu akan lebih nyaman kalau gak ada aku sama Arsy.” Luke menambahkan, nada bicaranya terdengar menyindir. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia lantas meninggalkan kamar Aurora. “Apa sih, Luke? Kamu pikir aku bakal sedih ditinggal kalian berdua?” ketus Aruroa sinis, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya—bersiap tidur siang. Di dalam kamarnya, Luke benar-benar bersia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status