Mag-log inMata Yessa membesar, jantungnya berdegup kencang.
Ia ingin menyangkal, ingin berbalik pergi, tapi tubuhnya justru terpaku oleh ucapan yang keluar begitu saja dari mulut Isandro—seolah tanpa kendali. “Apa maksud Anda, dok?” jemari Yessa meremas sisi pakaiannya, matanya bergetar menahan gugup. “Jangan karena Anda pernah menolong saya, Anda jadi seenaknya mengatur hidup saya seperti ini.” “Jadi saya mengatur, ya?” Suara Isandro terdengar sinis, nadanya dingin menusuk. “Menurut Anda?” balas Yessa, meski jelas-jelas ketakutan. Isandro menyipitkan mata, lalu condong sedikit ke arahnya. “Kalau saya menyerahkan bukti tumbler yang pernah berisi alkohol itu ke departemen perawat, apa itu juga namanya mengatur?” Bola mata Yessa seketika membulat. Napasnya tercekat, wajahnya memucat. Isandro menyeringai tipis“Kamu ngobrol apa aja sama Mama Salma, Mas?” tanya Yessa pelan saat mobil melaju meninggalkan area Rumah Sakit Gloria Medika, beberapa menit setelah pemeriksaan kandungannya selesai. “Tidak banyak,” jawab Isandro tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. Namun tangannya tetap menggenggam tangan Yessa erat di atas paha sang istri. “Kami hanya membahas Kaveer.” Yessa membuka mulut, hendak bertanya lebih jauh. Namun Isandro kembali berbicara lebih dulu. “Oh iya,” ucapnya santai. “Tante Salma itu sudah bukan Mama mertua kamu. Jadi … jangan panggil Mama lagi, ya.” Yessa terdiam sejenak. Bibirnya terkatup rapat sebelum akhirnya ia mengangguk pelan. “Udah kebiasaan,” katanya lirih. “Jadi suka kelupaan, Mas.” “Mulai sekarang dibiasakan,” balas Isandro tenang. Senyum tipis terukir di wajah tampannya. “Tante Salma bukan mertua kamu lagi.” Tak lama kemudian, mobil memasuki halaman mansion. Isandro turun lebih dulu, bergegas membukakan pintu dan membantu Yessa turun dengan penuh kehati-hatia
“Terima kasih banyak, San. Karena kamu mau bertemu dengan tante,” ucap Salma lirih, tak berani menatap langsung ke mata Isandro. Isandro terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya membuka suara. “Tante pasti selama ini penasaran, atas apa yang akan saya lakukan setelah ini pada Kaveer?” Salma meremat jari-jemarinya di atas pangkuan. “Iya, itu salah satunya. Dan kedatangan tante ke sini, tentu saja untuk mewakili permintaan maaf Kaveer ke kamu, serta istri kamu. Yessa.” Pria itu mengangguk paham. Tapi sayangnya saat ini dia memilih untuk bicara empat mata dengan Salma, daripada membawa sang istri juga. Hal itu dilakukan agar Yessa tidak mendengar ucapan yang tak seharusnya, hingga mengganggu mental dan hormon kehamilannya membuat wanita itu sensitif. “Apa ada alasan, kenapa Kaveer tidak datang sendiri untuk minta maaf?” tanya Isandro, suaranya rendah namun tetap tegas. “Kaveer, dia ... sebenarnya ingin datang sendiri. Tapi tante tidak yakin dia datang untuk meminta maaf atau justru
“Aku juga, Mas. Aku bakal lindungin kamu, sekalipun taruhannya nyawa aku sendiri. Kalau kamu pergi, aku takut gak sanggup,” bisik Yessa lirih. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Isandro menghela napas panjang. Tangannya terulur, ibu jarinya menghapus air mata itu satu per satu dengan gerakan yang sangat hati-hati. “Aku pernah kehilangan kamu,” ucapnya tenang, namun suaranya berat, “Dan aku gak akan pernah mau kehilangan kamu lagi untuk kedua kalinya. Pernah kehilangan, bukan berarti aku sanggup kehilangan lagi.” Yessa terisak kecil. “Entah udah berapa kali aku bilang ke kamu,” lanjut Isandro, sorot matanya mengeras oleh luka lama yang belum sepenuhnya sembuh, “Hari itu aku hampir gila.” Ia menelan ludah, dadanya naik turun. “Aku koma karena kecelakaan itu. Dan waktu aku sadar, kenyataan kalau kamu pergi dari hidup aku, itu menghantam aku untuk kedua kalinya.” Jarinya mengerat di pinggang Yessa. “Aku depresi, Yessa. Bukan cuma karena kamu pergi,” suaranya merendah, hampir be
Satu minggu berlalu dari terakhir kali Isandro pulang ke rumah dan rawat jalan. Kini pria itu sudah bisa kembali beraktivitas lagi. Namun dia tidak beraktivitas dalam hal pekerjaan, melainkan tidak terbaring terus menerus di atas ranjang. Mulai hari ini, sudah bisa bermain dengan kedua anaknya. “Udah minum susunya, sayang?” tanya Isandro begitu sang istri kembali ke ruang bermain kedua anaknya di lantai dua mansion tersebut. “Udah,” jawabnya singkat, lalu ikut bergabung dan duduk di sebelah sang suami. “Cucu, Pa,” rengek Yessy pada sang ayah. Isandro tersenyum kecil. “Papa minta Sus Mala buatin untuk kamu, ya?” ia melirik Mala yang langsung paham dan bergegas meninggalkan ruang bermain. Di hadapan mereka, Arby tengah bermain lego. Bocah laki-laki usia enam tahun itu tampak begitu fokus, sampai tak menyadari kedatangan Yessa. “Bikin apa itu, sayang?” tanya Yessa lembut pada anak sambungnya, satu tangannya mengusap punggung kecil bocah itu yang tengah tengkurap di karpet. Arby t
Brak. Aurora memukul setir kemudinya dengan keras begitu duduk di kursi kemudi. Hal itu dikarenakan Yessa mengusirnya dengan cara yang tak Aurora duga. Jika Yessa mengusirnya dengan nada tajam seperti yang dia lakukan, itu sepadan dengan sikapnya untuk melawannya balik. Seandainya tidak ada Isandro di sana, Aurora sudah pasti tak akan diam saja. “Mulai berani sekarang, ya? Sok karena Isandro selalu bela kamu?” kalimat yang diucapkan itu mengandung bahaya. Aurora melirik refleksi dirinya di spion tengah. “Aku gak akan berhenti di sini. Kalau Yessa udah bisa menggunakan posisinya sebagai istri Isandro, aku harus lebih dari dia.” Ucapannya itu penuh tekad. Tapi bukan untuk hal baik, melainkan untuk sebaliknya. Ia kemudian menyalakan mesin mobil. Setelah itu, mobilnya mulai meninggalkan area rumah sakit. Tentu saja kembali ke rumahnya. Tak jauh dari sana, sebuah mobil juga mengikutinya. Siapa lagi kalau bukan Luke. Pria itu sengaja mengikuti Aurora sampai ke rumah sakit, ingin mema
Belum sempat Luke menjawab, Aurora refleks melirik ke sekeliling. Dan benar saja, beberapa wali murid mulai saling berbisik. Tatapan penasaran, heran, mengejek, bahkan ada yang menyipitkan mata, jelas tertuju pada mereka berdua. Sambil berbisik satu sama lain. “Eh, itu selingkuhannya Aurora, kan?” “Iya, ngapain dia datang ke sini bawa anak mereka yang hasil dari perselingkuhan?” “Gak nyambung, ya. Yang karnaval anaknya siapa, yang datang siapa. Mana bawa anak hasil kumpul kebonya lagi,” bisik yang lain tak kalah tajam. Aurora meremas kedua tangannya di pangkuannya, rahangnya mengeras. Rasa tidak nyaman menjalar cepat di dadanya. Kehadiran Luke di tempat ini—di ruang publik, di tengah banyak pasang mata, jelas bukan sesuatu yang ia inginkan. Sementara Luke berdiri di sampingnya dengan tenang, seolah siap menanggung seluruh bisik-bisik yang mulai tumbuh di aula itu. “Pergi,” usir Aurora dengan nada pelan, tatapannya dingin dan menusuk. Tapi Luke tak goyah, dia justru memilih du







