LOGINYessa baru saja meninggalkan ruangan Isandro. Napasnya terengah, dadanya masih berdegup sangat cepat mendengar kata-kata pria itu.
“Apa perlu saya hamili kamu dulu, supaya kamu tidak berani pergi jauh dari saya? Hm?” Apa katanya? Menghamili? “Aku bahkan udah hamil anak kamu, Mas. Tapi sampai kapan pun aku gak akan pernah kasih tahu kamu kalau aku hamil,” desis Yessa pelan di lorong rumah sakit yang sepi. Kepalanya menggeleng tegas pada kemungkinan yang akan terjadi. “Aku gak mau kalau setelah aku melahirkan anak ini, kamu ambil dia dari aku dan merawatnya bersama istri kamu,” gumamnya tajam, kedua tangannya mengepal erat di samping tubuhnya. “Bahkan istri kamu aja gak mau ngurusin anak kandungnya sendiri, apalagi anak aku? Yang notabenenya hadir bukan dalam ikatan suci pernikahan.” “Aku akan rawat anak ini sendiri, tanpa bantuan kamu,” uc“Mbak Aurora? Dia udah pergi, Mas. Tadi ke sini karena mau anter Arby untuk karnaval. Rencananya, Mbak Aurora mau menunggu sampai acara selesai,” jelas Yessa tenang. Luke tertegun sesaat. Sorot matanya redup, seolah ada banyak hal yang berputar di kepalanya. “Begitu, ya? Saya pikir dia masih di sini.” Yessa hanya membalas dengan senyum kecil. “Mau masuk dulu?” tawarnya sopan. Luke tak langsung menjawab. Pandangannya sempat beralih pada Isandro yang menatapnya datar—dingin, nyaris tanpa ekspresi. Di pangkuan pria itu, Yessy sibuk memainkan mainannya, sesekali menggumam kecil pada Isandro. Mengingatkan interaksinya dengan Arsy. “Bagaimana kondisi Isandro? Apa sudah lebih baik dari sebelumnya?” tanya Luke akhirnya. “Kebetulan sudah, Mas,” jawab Yessa singkat. Luke mengangguk pelan. Namun alih-alih melangkah masuk, ia justru menarik napas panjang—seakan sedang mengumpulkan keberanian. “Yessa,” panggilnya kemudian, suaranya berubah lebih rendah dan serius. Yessa menoleh. “Iya, Mas
“Aurora,” panggil Luke yang baru saja keluar dari kamar mandi, dan tak menemukan istrinya di mana-mana. Bahkan Arsy, sedang bermain sendirian di atas ranjang. “Mama kamu ke mana, Nak?” tanyanya seraya naik ke atas ranjang masih dengan bathrobe yang menutupi tubuh tegapnya. Arsy menoleh, tak paham pertanyaaan sang ayah dan kembali memainkan mainannya. Ia serahkan pada Luke, seolah ingin mengajak ayahnya itu bermain. Luke tersenyum kecil, dan menerima mainannya. “Main sendiri dulu, ya? Papa mau ganti baju dulu. Kalau gak, nanti Papa masuk angin.” Ketika Luke bangkit dari duduknya, Arsy langsung merengek dan meminta untuk digendong. Luke dengan sigap meraih putrinya ke dalam gendongan. “Ya udah, kalau gitu temenin Papa ganti baju sebentar. Setelah itu kita sarapan bareng sama Mama. Pasti udah nunggu di bawah.” Beberapa saat kemudian, Luke selesai berganti pakaian. Ia dan anaknya turun ke lantai satu, menuju meja makan yang dia kira Aurora sudah menunggu di sana. “Di mana istri say
Pagi itu, Arby sudah siap berangkat ke sekolah. Hari ini akan digelar karnaval dengan dresscode sesuai cita-cita masing-masing murid. Bocah itu mengenakan kemeja hitam rapi, celana hitam yang pas di tubuh kecilnya, dan jas dokter berwarna putih yang membingkai tubuhnya dengan manis. Dasi maroon terpasang rapi di lehernya, sementara stetoskop mainan melingkar sempurna, menambah kesan gagah pada penampilannya. “Ya Tuhan,” gumam Yessa sambil tersenyum lebar usai membantu merapikan kerah jas Arby. “Anak Mama ganteng banget, sayang.” Arby tersenyum sumringah, dadanya mengembang bangga. “Iya dong, Ma. Arby kan anaknya Papa,” katanya santai. “Papa Arby juga ganteng.” Yessa terkekeh kecil, lalu mencubit pelan pipi sang anak. “Pinter banget anak Mama.” Ia meraih tangan Arby. “Ya udah, yuk. Kita pamerin ke Papa.” Mereka melangkah keluar kamar mandi menuju ruang rawat inap. Begitu Isandro melihat sosok kecil itu berdiri di ambang pintu, matanya langsung membesar, lalu berbinar. “Papa!”
Arby langsung berlari menghampiri sang ayah yang terbaring di atas brankar. Melihat itu, Isandro sigap mengubah posisinya menjadi duduk, bersandar pada kepala ranjang. Yessa cepat-cepat mengambil bantalan tambahan, menyelipkannya di belakang punggung sang suami agar ia lebih nyaman untuk duduk. “Papa kenapa, Pa? Ma?” suara Arby bergetar. Matanya berkaca-kaca, tak sanggup menyembunyikan rasa takut melihat sosok ayah yang selama ini ia kenal selalu kuat, kini tampak begitu lemah. Dada Yessa ikut terasa sesak. Ia berjongkok di depan Arby, lalu membantu melepaskan tas sekolah yang masih bertengger di punggung kecil itu. “Papa lagi sakit, sayang,” ucap Yessa lembut. “Tapi kamu jangan khawatir. Papa udah sembuh. Sekarang tinggal istirahat.” Tas bergambar robot itu kemudian diletakkan di atas sofa, tepat di dekat Yessy yang masih terlelap dengan napas teratur. “Papa ….” lirih Arby lagi. “Sini, Nak,” panggil Isandro pelan, membuka satu tangannya. Arby segera naik ke atas brankar deng
Aurora tak pernah membayangkan hidupnya akan sampai di titik ini. Terbaring kaku di atas ranjang usai memuaskan hasrat Luke dengan terpaksa, tubuhnya terasa berat dan asing, seolah bukan lagi miliknya sendiri. Dadanya naik turun tak beraturan, sementara pandangannya kosong menatap langit-langit kamar yang terasa begitu sempit. Luke benar-benar gila. Seolah suami yang memperkosa istrinya sendiri. Bagi Luke, semua yang baru saja terjadi adalah hukuman. Hukuman karena Aurora berani membantah, karena ia memaksa pergi ke rumah sakit, karena ia masih peduli pada Isandro—lelaki yang seharusnya sudah menjadi masa lalunya. Di sisi kanan, Luke sudah terlelap. Napasnya teratur, wajahnya tenang, seolah tak terjadi apa-apa. Seolah yang barusan terjadi hanyalah rutinitas rumah tangga biasa. Aurora mengepalkan jemarinya di atas seprai. Rahangnya mengeras. Padahal dia yang dipaksa. Tapi tampaknya Luke yang paling kelelahan di sini. “Bener-bener nyebelin,” gumamnya lirih, suaranya nyaris tak t
“Kamu ngancem?” Aurora mendesis pelan, tatapannya dingin pada sang suami. “Dan kamu pikir aku takut sama ancaman kamu?” Luke tetap tenang, menjaga wibawanya. “Selama ini aku nurut, bukan berarti aku takut sama kamu. Bukan juga karena aku setuju atas semua sikap dan perbuatan kamu.” “Terus?” Aurora menantang, dagunya terangkat. “Salah aku ke rumah sakit buat lihat kondisi Isandro? Dia orang yang pernah hidup sama aku, dan kita punya anak dari pernikahan kami.” “Jangan lupa, kamu udah punya suami. Tidak salah kamu jenguk dia. Tapi kamu harus izin lebih dulu sama suami kamu yang sekarang, dan aku gak izinin,” ucap Luke menekan. “Aku gak peduli kamu izinin atau gak, karena aku bakal tetep pergi,” Aurora mengepalkan tangannya erat sampai buku-buku jarinya memutih, dadanya naik turun menahan emosi. Luke terdiam beberapa detik. Tatapannya datar, terlalu tenang untuk ukuran amarah. Lalu ia mengangguk singkat. “Baik. Berarti kamu siap nerima konsekuensi dari keras kepala kamu sendiri.”







