Partager

Bab 7

Auteur: Sia
Yasmin mengangguk tipis.

Namun, begitu Galen pergi, Naura segera berkata dengan suara manja, "Kak, aku ingin naik kuda."

Yasmin mengernyit. "Kamu sedang mengandung, tidak baik menunggang kuda."

"Tapi yang mulia berkata agar Kakak menjagaku." Naura tersenyum polos. "Apa Kakak hendak melanggar perintah yang mulia?"

Yasmin terdiam sejenak, lalu akhirnya maju dan memegang tali kekang.

Namun, begitu Naura naik ke atas kuda, dia tiba-tiba menghimpit perut kuda dengan kedua kakinya!

Kuda itu kesakitan, mengangkat kedua kaki depannya dan meringkik keras.

Naura menjerit, lalu terjatuh dengan keras dari punggung kuda.

"Ah! Anakku!"

Suasana seketika kacau.

Ketika Galen kembali, darah dari rubah putih itu bahkan belum mengering.

Tabib istana dengan gemetar melaporkan, "Nona Naura mengalami patah tulang. Untungnya, beberapa hari terakhir dia cukup banyak mengonsumsi obat penguat, sehingga janinnya tidak apa-apa."

Naura tersadar tepat pada waktunya, lalu dengan mata berkaca-kaca meraih lengan baju Galen.

"Kak Galen ... aku tahu kakak tidak menyukaiku, tapi dia ... dia juga tidak boleh membunuh anak kita!"

Tatapan Galen menggelap. "Apa maksudmu?"

"Begitu Kak Galen pergi, kakak memaksaku menunggang kuda. Dengan kondisiku seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa berkuda?" Naura menangis tersedu-sedu. "Dia bahkan tidak membantuku memegang tali kekang dan menusuk kuda itu dengan jarum!"

Galen tiba-tiba menoleh ke arah Yasmin, amarah membara di matanya. "Aku sudah mengatakan, anak itu tidak boleh sampai kenapa-kenapa!"

Tabib buru-buru berlutut. "Yang Mulia, mohon dengarkan penjelasan hamba! Saat itu kami semua berada di sana. Jelas-jelas Nona Naura sendiri yang ...."

"Diam!" Galen memotong dengan suara keras, "Yasmin, pergi ke luar dan berlututlah. Berlutut selama sehari semalam untuk menebus kesalahanmu!"

Sejak awal hingga akhir, Yasmin tidak membantah sedikit pun.

Dia hanya menanyakan satu hal kepada Galen.

"Yang Mulia Putra Mahkota." Yasmin tiba-tiba mengangkat kepala. "Yang tidak boleh kenapa-kenapa itu anaknya, atau dia?"

Galen tertegun.

Namun, Yasmin tidak menunggu jawabannya. Dia hanya tersenyum, lalu menegakkan punggung dan berlutut di tengah terpaan angin serta salju.

Begitu lututnya menyentuh tanah, luka lamanya kembali terasa seperti terkoyak.

Penyakit lama itu didapatnya saat dalam perjalanan menuju pengasingan. Yasmin berlutut di dalam gua es selama tiga hari tiga malam demi memohon obat untuk Galen.

Tahun itu, demam Galen tidak kunjung turun. Di tengah hamparan salju dan udara yang membekukan, Yasmin berlutut selama tiga hari tiga malam demi mendapatkan obat untuknya.

Mata Galen memerah, lalu dia mencium lutut Yasmin berkali-kali.

"Gadis bodoh. Kenapa kamu sebodoh ini?"

Memang, dia adalah gadis bodoh. Dulu bodoh, dan sekarang pun masih bodoh.

Ketika kaisar kembali dari berburu, yang dilihatnya adalah pemandangan seperti ini.

Yasmin berlutut di atas salju, wajahnya bahkan lebih pucat daripada salju, sementara putra kesayangannya sedang memeluk Naura dan menanyakan keadaannya dengan penuh perhatian.

"Keterlaluan!"

Kaisar murka. Dia segera memerintahkan orang memanggil Galen dan Naura ke hadapannya. "Begitukah caramu memperlakukan Yasmin?"

Galen berkata tanpa ekspresi, "Ayahanda, aturan Istana Timur tidak boleh dilanggar. Dia adalah putri mahkota. Karena dia hampir membuat calon selir sanding keguguran, sudah sepatutnya dia memberi teladan dengan menerima hukuman."

Kaisar berkata dengan marah, "Siapa yang memberitahumu bahwa dia adalah putri mahkota?"

Galen langsung mendongak. "Apa maksud Ayahanda?"

Kaisar menatapnya dengan tidak percaya, lalu beralih memandang Yasmin. "Kamu belum memberitahunya?"

Yasmin menundukkan mata. Baru saja hendak berbicara, Naura tiba-tiba menjerit dan pingsan.

Suasana kembali kacau. Galen menggendong Naura dan bergegas pergi, bahkan tidak menoleh sedikit pun kepada Yasmin.

Kaisar menghela napas panjang, lalu mengulurkan tangan dan membantu Yasmin berdiri. "Kamu sudah banyak menderita. Rombongan utusan Beida akan tiba lusa. Kamu ...."

Yasmin hanya menggelengkan kepala. "Yang Mulia Kaisar, hamba tidak menderita."

Setelah meninggalkan Galen, dia tidak akan menderita lagi.

Mulai sekarang, hari-harinya akan selalu indah.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 25

    Ketika padang rumput Beida menyambut salju musim semi yang kesepuluh, Yasmin melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan di dalam tenda berlapis emas.Barra menggenggam tangannya yang basah oleh keringat. Mendengar tangisan bayi yang baru lahir, matanya justru lebih merah daripada saat dia terluka di medan perang dulu.Barra memotong tali pusar bayi itu dengan tangannya sendiri, lalu menggendongnya yang dibungkus kulit cerpelai ke hadapan Yasmin. "Lihatlah putri kita. Dia sangat mirip denganmu."Mata Yasmin memancarkan kelembutan. "Kamu ini, baru melihatnya saja sudah pilih kasih kepada anak perempuan.""Siapa suruh putri kita lebih mirip denganmu!"Yasmin tertawa geli, tetapi tawanya membuat lukanya tertarik hingga dia mendesis pelan.Barra segera membungkuk dengan cemas. "Sakit? Tabib!""Barra, aku tidak apa-apa."Yasmin menggenggam tangan Barra, ujung jarinya mengusap kapalan di telapak tangannya. "Bagaimana dengan Nandu ... belakangan ini ada kabar?"Wajah Barra menggel

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 24

    Barra terkekeh pelan, jakunnya bergesekan dengan tulang selangka Yasmin."Tentu saja. Ini mata air spiritual. Katanya, air ini paling ampuh untuk meredakan pegal-pegal di pinggang."Tangannya bergeser ke pinggang belakang Yasmin, lalu memijatnya dengan lembut."Akhir-akhir ini, aku sering melihatmu berguling-guling di tengah malam. Apa kamu terlalu lelah?"Di tengah kabut yang mengepul, daun telinga Yasmin perlahan memerah.Dia menyembunyikan wajahnya di lekuk bahu Barra dan berkata dengan suara teredam, "Bukankah itu gara-gara seseorang yang bersikeras harus memelukku saat tidur?""Kalau tidak memelukmu, bagaimana aku tahu kamu menendang selimut atau tidak?" Barra memegang wajahnya dan mengusap bibirnya dengan ibu jari. "Waktu itu, kamu sampai masuk angin dan batuk. Aku benar-benar ketakutan."Ketika ciumannya jatuh, kehangatan pemandian air panas masih terasa. Di antara ciuman yang lembut dan penuh kasih, Yasmin mendengar detak jantung Barra yang bergemuruh di dalam dadanya.Tiba-tib

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 23

    "Kalau begitu, biarkan negeri ini berganti penguasa." Suaranya begitu pelan, tetapi setiap katanya sedingin ujung es.Kenangan tiba-tiba membanjiri benaknya.Saat dalam perjalanan menuju tempat pengasingan, Yasmin pernah menggendongnya menyeberangi sungai yang membeku. Sol sepatu kain kasarnya bergesekan dengan lapisan es, menimbulkan bunyi "krek-krek".Punggungnya yang kurus tertekan hingga melengkung seperti busur, tetapi masih terdengar napasnya yang terengah-engah disertai tawa."Asalkan Yang Mulia baik-baik saja."Kaisar terhuyung dan berpegangan pada sandaran takhta. Rasa amis darah membanjiri tenggorokannya, lalu dia memuntahkan seteguk darah ke lantai ubin batu giok hijau."Anak durhaka .... Kamu anak durhaka ...."Sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, tubuh kaisar sudah terkulai lemas di atas takhta.Para kasim yang berjaga di luar pintu berbondong-bondong masuk. Galen menyaksikan para tabib istana dengan panik mengangkat tandu kekaisaran.Dia perlahan berdiri, ujung jubah h

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 22

    Selama masa pemulihan Barra, Galen berkali-kali meminta untuk bertemu dengan Yasmin, tetapi selalu ditolak.Baru sebulan kemudian, Yasmin bersedia menemuinya.Galen tampak jauh lebih kurus dan lesu, dengan lingkaran hitam pekat di bawah matanya.Ketika melihat Yasmin bergandengan tangan dengan Barra yang telah pulih, secercah keputusasaan melintas di matanya."Bukan aku yang mengirim pembunuh itu," katanya dengan suara serak, "itu orang-orang dari Keluarga Rahardjo. Mereka membencimu. Tapi, ini juga salahku.""Aku tahu," Yasmin berkata dengan tenang, "Barra sudah menyelidikinya hingga tuntas. Naura sudah meninggal, jadi wajar mereka menyimpan dendam."Galen melangkah maju. "Yasmin, ikutlah denganku. Nandu membutuhkanmu, aku ... lebih membutuhkanmu."Barra mengernyitkan kening dan hendak berbicara, tetapi Yasmin mencubit lembut tangannya. "Biar aku yang mengurusnya."Dia berjalan ke hadapan Galen dengan ekspresi setenang air. "Yang Mulia Putra Mahkota, hubungan kita sudah lama berakhir.

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 21

    Yasmin mengeluarkan jarum perak, lalu kembali melakukan akupunktur untuk mengeluarkan racun dari tubuh Barra.Ini adalah metode yang dia kembangkan dengan menggabungkan ilmu pengobatan Nandu dan ilmu sihir Beida. Meski berbahaya, inilah satu-satunya harapan.Saat jarum perak menusuk titik akupunktur, tubuh Barra seketika bergetar hebat dan urat-urat di tubuhnya menegang.Yasmin menggigit bibir bawahnya erat-erat dan terus menusukkan jarum, hingga tubuh Barra perlahan kembali tenang."Racun di dalam tubuh baginda raja sudah terlalu parah," ujar tabib sambil menghela napas, "kalaupun baginda raja sadar, takutnya juga ....""Diam!" bentak Yasmin dengan suara tegas, "dia pasti akan sembuh!"Saat malam makin larut dan suasana menjadi sunyi, Yasmin yang kelelahan menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang untuk beristirahat sejenak.Tiba-tiba, dia merasakan jarinya disentuh lembut."Barra?" Dia segera mengangkat kepala dan berhadapan dengan sepasang mata berwarna amber yang begitu dikenalnya.Bar

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 20

    Keesokan paginya, perundingan perdagangan digelar di padang rumput di luar tenda raja.Yasmin mengenakan pakaian kebesaran Ratu Beida. Hiasan kepala emasnya berkilauan diterpa sinar matahari.Dia menggandeng lengan Barra dan berjalan perlahan menuju tenda tempat perundingan.Galen sudah menunggu di sana. Jubah brokat hitam yang dikenakannya membuat tubuhnya tampak makin kurus.Ketika melihat Yasmin dan Barra yang tampak begitu mesra, secercah kepedihan melintas di mata Galen, tetapi dia segera kembali tenang."Raja Beida." Dia mengangguk tipis, tetapi tatapannya justru tertuju kepada Yasmin. "Yasmin ... Ratu."Wajah Yasmin tetap tenang. "Yang Mulia Putra Mahkota telah menempuh perjalanan jauh, pasti sangat lelah."Perundingan berlangsung sangat lancar. Galen hampir selalu menyetujui semua persyaratan yang diajukan Barra.Saat tengah hari, mereka semua berpindah ke tempat jamuan di padang rumput untuk makan."Maukah Ratu berbicara denganku sebentar?" Galen tiba-tiba berbicara, matanya d

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status