Share

Bab 03

Author: Irama Senja
last update publish date: 2026-04-11 12:49:37

Kicauan burung yang hinggap di ranting pohon, dan aroma kopi yang khas menguar menambah kesan indah di pagi ini. Salma tak henti-hentinya melihat keprotektifan Ferdi setelah insiden jamu kemarin. Ia benar-benar menjadi garda terdepan bagi orang yang mencoba menyerang Salma.

“Jangan pernah angkat, atau balas pesan dari keluarga ku kalau hal itu menyangkut tentang anak. Mereka tak berhak ikut campur lagi.”

Ferdi bahkan tahu media sosial dan grup pesan singkat sejahat itu. Dari subuh tadi ia tak henti-hentinya mengingatkan untuk tak pernah menelan apa yang orang lain katakan. Satu katapun, demi kesehatan mental nya.

Setelah mengantar kepergian suami ke kantor. Salma segera mengerjakan pekerjaan rumah.

Pukul sembilan pagi, Salma ke ruang tengah, ingin memfokuskan diri menulis novel. Menulis adalah hobi Salma dari sejak SMA. Ia merasa jika menulis adalah satu-satunya cara agar ia bisa meluapkan semua yang ia rasakan. Ia bebas menentukan takdir atas dirinya sendiri. Tanpa harus mendengar pendapat orang lain ataupun hinaan mereka. Bersyukur walaupun tak bisa bercerita pada orang lain, ia masih bisa menulis, sehingga ada sedikit luka yang terobati.

Namun, konsentrasi Salma buyar, kala pintu pagar digedor dan di buka paksa. Salma mengintip dibalik celah gorden. Terlihat Bu Lastri datang bersama seorang wanita asing yang memakai pakaian serba hitam. Dandanannya aneh, lipstik dengan celak hitam yang tebal.

“Jeng Salma! Ini saya Jeng! Bu Lastri!” Teriaknya dari luar pintu. “Buka pintunya Jeng, saya bawa seseorang. Dia jauh-jauh saya undang dari luar kota Jeng!”

Sekali lagi, Bu Lastri mengetuk pintu lebih keras. “Saya tahu Jeng Salma ada di rumah, cepat buka pintunya. Jangan sia-sia kan kesempatan ini.”

Salma menghela nafas, jantung nya berdetak lebih cepat. Bukan takut, tapi ada amarah yang terselip atas tindakan Bu Lastri. Ini sudah diluar batas wajar. Ia ingat pesan Ferdi. Jangan menerima tamu yang berniat mencampuri urusan pribadi mereka. Tapi, jika mengabaikan Bu Lastri sama saja memancing keributan yang lebih besar dan itu yang Bu Lastri inginkan. Dengan berat hati, Salma membuka pintu.

Ia

“Selamat pagi Bu, ada apa ya ?” tanya Salma, berusaha tetap tenang

“Ini Jeng, kenalkan ini namanya Nyai Rara, dia ini ahli dalam ‘pijat’ rahim, dia bisa melihat bagaimana keadaan rahim seseorang. Saya sengaja mengundang beliau kesini, karena kasihan melihat Jeng Salma yang tak kunjung hamil.”

Nyai Rara melihat Salma, lalu menutup mata seolah sedang merasakan apa yang ada di tubuh Salma. “Ada hawa aneh, disekitar perut mu Nak, bisa jadi itu penghalang untuk kamu punya keturunan.”

Nyai Rara kembali menelisik, kali ini bukan Salma, tapi ia mencoba masuk ke dalam. Namun, Salma segera menghalangi.

“Di sini saja, tidak usah kedalam dulu.” Ucap Salma di ambang pintu.

“Nak, ini bukan masalah medis. Dilihat dari aura rumahmu, ini masalah kiriman.” Ujar wanita itu dengan suara serak yang dibuat buat.

Amarah yang sejak tadi Salma redam, akhirnya bergejolak. Fitnah baru apalagi ini. “Mohon maaf Bu Lastri, Nyai. Saya sangat berterima kasih atas perhatian nya, tapi suami saya sudah berpesan, bahwa untuk tidak menerima pengobatan selain medis yang tengah kami jalani.”

“Medis ? Itu lagi ? Jeng Salma kok keras kepala sekali.” Wajahnya berubah masam. “Kami berniat baik untuk membantu, mencari solusi untuk mendapatkan keturunan. Nyai Rara ini sudah banyak membantu wanita yang divonis mandul kaya Jeng Salma.”

“Tapi Bu Lastri salah, selama ini saya tidak pernah divonis mandul. Saya hanya belum mendapatkan apa yang wanita lain punya. Jadi jangan asal bicara.” Salma naik pitam. Kesabaran nya habis.

“Mana buktinya ? Sampai sekarang belum punya juga kan?” Bu Lastri berkacak pinggang. “Apa Jeng Salma enggak takut, kalau Mas Ferdi kawin lagi karena tak mau mencoba?”

“Kawin lagi”,”poligami” kata-kata ancaman itu selalu Bu Lastri ucapkan. Kemarin ancaman itu berhasil menghancurkan hatinya. Tapi tidak untuk sekarang, Salma tak akan diam.

“Bu Lastri” Salma melangkah maju, menatap Bu Lastri dengan tajam namun tenang. “Saya menghargai apa yang anda lakukan, jika itu memang baik. Tapi rumah tangga saya adalah tanggung jawab saya

dan Mas Ferdi. Ibu atau siapapun tidak berhak mencampuri urusan kami. Peduli ibu sudah dibatas wajar. Terkadang diam lebih bijak daripada ikut memperkeruh. Sekarang, saya mohon maaf, ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.”

Arini menutup pintu agak keras. Dibalik pintu ia menahan tubuhnya yang gemetar.

Brakk

Terdengar pintu pagar yang ditutup paksa. Dan sayup suara Bu Lastri yang mengumpat. “Dasar wanita sombong”, lihat saja dia pasti akan “Menyesal”.”

Sore harinya, Bu Mayang, sang mertua datang berkunjung. Kali ini ia tidak datang dengan nasihat yang terselip hinaan. Tapi dengan derai air mata yang dibuat sesedih mungkin.

“Apalagi ini Tuhan.” Salma menghela nafas lelah

“Salma, menantu Ibu, tolong ibu Nak! Semalam ibu bermimpi almarhum bapak Ferdi. Dia menanyakan cucu dari Ferdi? Ibu harus jawab apa? Ibu takut, kalau almarhum bapak di atas sana bersedih, karena keturunan nya akan berhenti jika Ferdi tidak memiliki anak.” Bu Mayang menggenggam erat tangan Salma.

“Ibu harus bagaimana Sal? Apa yang harus ibu katakan?”

Tenggorokan Salma mendadak kering. Ia menunduk. “Salma juga ingin sekali memberikan cucu pada Ibu. Tapi, Tuhan belum menjawab doa-doa Salma dan Mas Ferdi.”

“Doa saja tidak cukup kalau tidak dibarengi dengan usaha.” Bu Mayang menghempas tangan Salma. “Kemarin Ibu kirimkan jamu mahal, tapi malah kamu buang. Harus nya kamu minum. Usaha tidak hanya medis, cara tradisional pun bisa jika kamu mau. Jangan jadikan alasan hormon kamu tidak stabil untuk menutupi keegoisan mu.”

“Bukan begitu Bu, Salma sempat meminumnya. Tapi setelah minum jamu itu, lambung Salma kambuh. Dan Mas Ferdi yang membuangnya, karena khawatir terjadi apa-apa.” Jelas Arini dengan lirih

“Ferdi sudah dibutakan oleh cinta.” Bu Mayang mendekat, suaranya mulai meninggi. “ Tapi cinta tidak bisa memberikan anak, jika kamu peduli dengan kebahagiaan Ferdi, minta lah ia untuk menikah dengan wanita lain yang bisa memberikan apa yang tidak bisa kamu berikan. Tapi jika kamu menolak, kamu benar-benar wanita egois, yang tak mau berkorban demi kebahagiaan suami.”

Bu Mayang melangkah pergi dengan amarah yang memuncak.

Kata-kata itu menghujam jantung Salma. Ia tidak berkutik. Kalimat “egois” itu adalah sebuah kata yang selalu menghantuinya selama tujuh tahun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 07

    Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Salma menjalani hari-hari dengan penuh kehati-hatian. Selama masa kehamilan Salma selalu di dalam rumah. Ferdi sengaja memesan kebutuhan dapur via online. Ia tak ingin Salma kecapean, sekaligus menghindari Bu Lastri dan teman-temannya yang menjadi pusat gosip.Sore harinya, Salma menerima paket yang bukan miliknya. Saat membaca nama penerima yang tertera, ternyata paket itu milik Bu Lastri. Sayangnya, tak ada lagi sosok kurir di depan rumahnya. Tak ingin gegabah. Salma pun menunggu Ferdi pulang.“Lebih baik, paket ini diantar Mas Ferdi saja nanti.”Namun, belum sempat Salma melangkah ke dalam rumah. Terdengar suara Bu Lastri di depan pagar.“Seperti nya paket saya terkirim ke sini ya, Jeng?” ucap Bu Lastri dengan sedikit berteriak.“Iya Bu. Ini paketnya.” Salma menyodorkan paket itu. Berusaha biasa saja. Namun, ada kegelisahan dalam dirinya. Takut, Bu Lastri menyadari sesuatu dari perutnya.Dengan sigap, Bu Lastri meraih paket itu dari tangan S

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 06

    Salma mengurai pelukan Ferdi. Ia mengusap tangisan di sudut matanya.“Mas…Kita harus ke dokter.” Ujar Salma lirih. “Iya Sayang. Sekarang juga, kita akan ke rumah sakit. Tapi, jangan bilang pada siapa pun akan hal ini. Untuk sementara, kita berdua saja yang tahu. Mas hanya ingin menjaga.” Salma mengangguk. Ia paham maksud suaminya. Kehamilan awal yang masih rentan, akan sangat berbahaya jika tidak dijaga. Apalagi, tinggal di lingkungan yang dipenuhi penabur bisik-bisik, akan sangat mempengaruhi kehamilan nya.Selama perjalanan menuju rumah sakit, Ferdi mengemudi dengan sangat hati-hati, seolah setiap guncangan dapat membahayakan apa yang ada di rahim istrinya. Begitupun Salma, tangannya terus mengelus perutnya, seolah tak ingin beranjak sedikitpun.Sesampainya di Rumah Sakit, mereka langsung ke ruang tunggu spesialis kandungan. Di sana, Salma menggenggam erat tangan Ferdi. Ada rasa senang berbalut takut yang ia rasakan. Senang, jika tes itu benar. Takut, jika hasil itu hanya ilusi se

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 05

    Sore itu, Salma tidak menangis lagi. Sudah cukup, ia tak mau susah payah memikirkan apa yang Mbak Rani katakan. Ia bangkit, membersihkan rumah dengan teliti. Salma tak ingin membiarkan setitik debu pun menempel. Tak lupa, ia memasakkan makanan kesukaan Ferdi; tumis kangkung , tempe goreng dan ayam goreng. Entah kenapa ada semacam tekad yang lahir dari rasa sakitnya. Jika orang luar mencoba untuk menghancurkan, maka ia akan memperkuat apa yang ada di dalam.Ditengah kesibukan Salma menyiapkan makanan di meja, Ferdi pulang, wajahnya terlihat lelah, namun lelah itu seketika terganti dengan senyum hangat saat melihat istrinya. Tak ada mata sembab, maupun raut muka yang menampakkan kesedihan. Terlihat seperti biasa, tenang dan penuh kehangatan. Rasanya sudah lama sekali, ia tak melihat istrinya seperti itu.“Mbak Rani kesini?” tanya Ferdi setelah cuci tangan.Salma terkejut. “Mas tahu dari mana ?” “Siapa lagi kalau bukan Bu Lastri. Dia mengirimkan video Mbak Rani teriak-teriak di grup wh

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 04

    Malam itu, Ferdi pulang dan mendapati keadaan rumah gelap gulita. Hanya ada cahaya kecil yang menyala di ruang tengah. Ia menemukan Salma disana, menatap layar laptop yang menampilkan nama-nama panti asuhan.Ferdi duduk disamping Salma dan meletakkan tasnya di meja. Ia mengamati wajah istrinya yang agak sembab. “Ibu datang lagi?”Salma hanya mengangguk pelan dengan pandangan yang tak beralih dari layar.“Ibu benar Mas. Aku tidak boleh egois. Mungkin dengan mengadopsi anak itu bisa menjadi jalan tengah, agar ibu berhenti menuntutmu untuk menikah lagi.”Ferdi mengambil laptop dari pangkuan Salma. Menutup halaman dan mematikan nya. Ia meraih kedua tangan Salma dan mencium nya lama.“Sayang, adopsi adalah perbuatan yang mulia, mungkin suatu saat nanti. Tapi tidak untuk sekarang. Itu bukan jalan yang terbaik untuk saat ini, bahkan jika ibu memaksa, Mas tidak akan melakukan nya.” Ujar Ferdi dengan tenang.“Jika kita mengadopsi anak karena ketakutanmu pada ibu, rasanya tidak adil untuk anak

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 03

    Kicauan burung yang hinggap di ranting pohon, dan aroma kopi yang khas menguar menambah kesan indah di pagi ini. Salma tak henti-hentinya melihat keprotektifan Ferdi setelah insiden jamu kemarin. Ia benar-benar menjadi garda terdepan bagi orang yang mencoba menyerang Salma. “Jangan pernah angkat, atau balas pesan dari keluarga ku kalau hal itu menyangkut tentang anak. Mereka tak berhak ikut campur lagi.”Ferdi bahkan tahu media sosial dan grup pesan singkat sejahat itu. Dari subuh tadi ia tak henti-hentinya mengingatkan untuk tak pernah menelan apa yang orang lain katakan. Satu katapun, demi kesehatan mental nya.Setelah mengantar kepergian suami ke kantor. Salma segera mengerjakan pekerjaan rumah. Pukul sembilan pagi, Salma ke ruang tengah, ingin memfokuskan diri menulis novel. Menulis adalah hobi Salma dari sejak SMA. Ia merasa jika menulis adalah satu-satunya cara agar ia bisa meluapkan semua yang ia rasakan. Ia bebas menentukan takdir atas dirinya sendiri. Tanpa harus mendengar

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 02

    Malam ini terasa hambar, tak ada deep talk antara Ferdi dan Salma. Sepulangnya dari kediaman Bu Mayang mereka masih betah di ruang tamu, seakan enggan beranjak walau keheningan yang menemani. Salma duduk mematung menatap kosong ke dinding yang dihiasi foto pernikahan mereka tujuh tahun yang lalu. Disana tampak tak ada beban. Senyum merekah dengan keyakinan bahwa kehidupan ke depan akan baik-baik saja.Sekarang, keyakinan itu sedang diuji. Berkali-kali, bahkan ribuan kali dengan realitas dunia yang kejam. Salma masih terngiang akan ucapan Bu Mayang tentang poligami. Rasa nya menusuk pelan namun mematikan sampai ke titik lemah diri Salma. Selama ini, ia tak pernah menggubris apa yang orang lain bilang tentang dirinya, namun hal yang Bu Mayang katakan, adalah hal yang paling Salma takutkan.Langkah kaki terdengar dari arah dapur. Ferdi membawa segelas air hangat, meletakkan gelas itu di meja. Ferdi duduk di samping Salma, menggenggam tangan Salma yang masih sedingin es. “Sayang, tatap M

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status