LOGINMalam itu, Ferdi pulang dan mendapati keadaan rumah gelap gulita. Hanya ada cahaya kecil yang menyala di ruang tengah. Ia menemukan Salma disana, menatap layar laptop yang menampilkan nama-nama panti asuhan.
Ferdi duduk disamping Salma dan meletakkan tasnya di meja. Ia mengamati wajah istrinya yang agak sembab. “Ibu datang lagi?” Salma hanya mengangguk pelan dengan pandangan yang tak beralih dari layar. “Ibu benar Mas. Aku tidak boleh egois. Mungkin dengan mengadopsi anak itu bisa menjadi jalan tengah, agar ibu berhenti menuntutmu untuk menikah lagi.” Ferdi mengambil laptop dari pangkuan Salma. Menutup halaman dan mematikan nya. Ia meraih kedua tangan Salma dan mencium nya lama. “Sayang, adopsi adalah perbuatan yang mulia, mungkin suatu saat nanti. Tapi tidak untuk sekarang. Itu bukan jalan yang terbaik untuk saat ini, bahkan jika ibu memaksa, Mas tidak akan melakukan nya.” Ujar Ferdi dengan tenang. “Jika kita mengadopsi anak karena ketakutanmu pada ibu, rasanya tidak adil untuk anak itu dimasa depan.” “Tapi ibu bawa-bawa almarhum bapak yang ingin segera punya cucu Mas. Kalau itu benar bagaimana?” tangis Salma pecah. “Dan kamu percaya?” Tanya Ferdi lembut. Ia menarik Salma ke dalam pelukannya. “Itu hanya akal-akalan Ibu saja. Ibu itu wanita yang ambisius, dia bisa melakukan segala cara agar kita bisa menuruti apa yang dia mau.” “Besok aku ke rumah Ibu, sekali-kali harus ditegaskan bahwa hak untuk memiliki anak hak mutlak kita berdua. Jika ibu tidak bisa menerima keputusan tersebut, lebih baik kita menjaga jarak.” “Jangan Mas…Nanti kamu dibilang anak durhaka dan pasti ibu akan terus-menerus memojokkan ku.” Cegah Salma. “Berbakti itu tidak harus mengorbankan rumah tangga sendiri, kalau sudah menyakiti pasangan, itu tandanya sudah lewat batas. Aku tidak mau menjadi suami dzalim yang membiarkan istrinya disakiti secara mental.” Salma hanya diam mendengar jawaban Ferdi yang tegas. Ia tak bisa menyangkal, Ia lelah. Mentalnya terus menerus dirusak. Ferdi benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Ferdi segera menghubungi kakak nya—Rani. Ia memperingatkan agar tidak mengirimkan ramuan atau apapun tanpa sepengetahuan dan seizin Ferdi. Dan Ia juga langsung menghubungi Ibunya, menyatakan bahwa ia sangat menghormati dan menyayangi beliau, namun ia tidak bisa memberikan ruang untuk ibunya ikut campur dengan segala hal yang dapat merusak mental Salma. Salma mencoba menggulung tubuhnya dengan selimut, Salma menatap Ferdi yang tengah fokus pada dokumen di tangannya. Salma tersenyum tipis. Ia menyadari satu hal. Di dunia yang penuh dengan lika liku terjal ini, ia diberikan satu keberuntungan yang tak semua orang lain miliki—seorang suami yang kesetiaannya tak tergoyahkan oleh apapun. Ferdi menutup dokumen itu. Ia menatap Salma lembut. “Kenapa sayang?” Salma mendekat, memeluk pinggang Ferdi erat. “Terimakasih Mas. Terimakasih sudah mau bertahan dan berjuang bersama.” Ferdi membalas pelukan Salma dengan penuh kasih. “Terimakasih juga sudah mau bertahan, meskipun lelah selalu menghampiri. Kita hanya butuh sedikit kesabaran. Percayalah! Didepan nanti akan ada kebahagiaan yang sedang menanti.” Malam yang sunyi itu, untuk pertama kalinya, Salma tidur dengan tenang tanpa bayang-bayang wajah sinis tetangga dan tuntutan ibu mertua. Ia tahu, esok hari badai nya akan lebih berat lagi. Namun, ia tak akan takut, karena nahkoda nya tak akan membiarkan ia tenggelam. Kringgg… Kringgg… Kringgg… Ponsel Ferdi terus berdering sejak subuh tadi. Namun ia memilih abai. Tak ingin mendengar makian maupun tangisan drama yang merusak suasana hatinya. “Mas, apa enggak sebaiknya kamu angkat telponnya?” tanya Salma. Matanya terus melirik ke hp suaminya yang kembali berdering. Ferdi menggeleng sambil menyesap kopinya. “Tidak usah. Mbak Rani hanya akan melukaimu dan Ibu pasti akan kembali menangis, meminta maaf. Setelah itu, mereka akan mengulangi hal yang sama. Untuk saat ini, diam adalah jawaban yang paling bijak.” Salma hanya mengangguk diam. “Apa yang kamu takutkan sayang.” Ferdi menggenggam tangan Salma yang terus mengaduk makanan nya tanpa minat. “Aku hanya takut, mereka semakin membenciku.” Jawab Salma “Sayang dengarkan Mas! Kita hidup dengan prinsip kita sendiri. Kalau kita terus mengikuti apa yang mereka inginkan dan itu hanya mempersulit, maka kita akan mati perlahan sebelum waktunya.” “Hari ini, jangan kemana-mana. Cukup diam di rumah. Jangan buka pintu selain kurir atau orang yang kita kenal baik. Jangan terus menyakiti diri sendiri. Abaikan jika itu membuat kita cape.”Ucap Ferdi tegas. Setelah obrolan itu, Ferdi beranjak dan pamit untuk pergi ke kantor. Sementara Salma, ia memulai pekerjaan rumah seperti biasa. Entah kenapa, hari ini lebih tenang dari kemarin, tak ada bisik bisik Bu Lastri dan tawa mengejek tetangga terdengar. “Andaikan setiap hari seperti ini. Pasti hidupku akan lebih mudah.” Namun, ketenangan itu seketika pecah. Bukan oleh Bu Lastri, tapi oleh ketukan pintu yang keras dan bertenaga. Teriakan nama Salma sangat memekik telinga. Salma mengintip dari jendela. Itu Rani. Wajah kakak iparnya sudah merah padam, menandakan amarah nya sudah memuncak. Salma bimbingan. Ia ingat pesan Ferdi, tapi membiarkan Rani seperti itu, sama saja ia memberikan tontonan gratis bagi tetangga. Dengan berat, Salma membuka pintu. “Oh jadi sekarang kamu jadi tukang ngadu domba ya?” Rani langsung mendorong Salma dengan keras. “Bagus sekali, sekarang Ferdi berani melawan Ibu dan memarahi kakaknya. Apa yang kamu katakan hah?” “Mbak tolong, pelankan suaranya. Kita bisa bicara baik-baik di dalam.” Salma mencoba untuk tetap tenang. “Bicara baik-baik katamu? Setelah kamu menjelekkan kami, dan Ferdi sampai keluar dari grup keluarga kami?” Rani berkacak pinggang. “Dengar ya, Ibu hanya mengusahakan untuk kamu. Kamu nya saja tidak tahu diuntung. Sudah tujuh tahun numpang hidup tapi tidak ada hasil, sekarang malah mau memutuskan hubungan keluarga. Kamu itu seperti parasit, tahu tidak?” Salma mencoba mengumpulkan keberaniannya. Ia tak mau terus di injak-injak oleh kakak iparnya. “Mbak, aku ini bukan parasit. Aku ini istri sah nya Mas Ferdi. Jika kami belum memiliki keturunan, bukan kesalahan kami, itu takdir Tuhan. Dan masalah Mas Ferdi yang marah, semua karena Mbak membawakan minuman yang tidak jelas dan itu mengganggu kesehatan janinku.” “Tidak jelas kamu bilang? Itu minuman turun temurun. Kamunya saja yang penyakitan. Sedikit - sedikit sakit.” Rani mendekat. “Ingat ya, posisi kamu di keluarga Adijaya tak akan pernah aman, jika rahimmu itu masih kering tanpa janin yang tumbuh. Jangan merasa menang dulu, karena Ferdi selalu membela kamu. Suatu saat dia akan sadar bahwa dia butuh anak. Dan saat itu terjadi, kamu akan ditendang dari rumah ini.” Rani pergi begitu saja, membanting pintu pagar dengan keras. Salma jatuh terduduk dilantai. Kata-kata ancaman Rani berhasil membuat pertahanan yang baru saja ia bangun runtuh begitu saja.Sembilan bulan bukan sekedar angka bagi Salma, karena dibalik itu ada perjalanan panjang yang penuh luka, harapan dan pengorbanan. Kini, perutnya membuncit sempurna, menghadirkan rasa lelah yang terus menemaninya setiap hari. Napas nya bahkan mulai terasa berat hanya untuk berdiri terlalu lama. Namun, semua itu masih belum seberapa dibanding beban hati yang ia pendam sendirian dari komentar sinis yang dulu sering menyusup ke telinganya. Seolah setiap ucapan itu tak pernah benar-benar hilang.Malam itu, butiran hujan jatuh begitu deras di atas atap, menutupi suara-suara lain di sekeliling rumah. Di dalam kamar, Ferdi dengan sabar mengusap minyak zaitun di punggung Salma yang mulai sering terasa nyeri. Tindakan sederhana itu menjadi bentuk perhatian yang selalu ia jaga beberapa bulan terakhir. “Mas….nggak capek tiap malam begini?” tanya Salma pelan sambil memejamkan mata saat tangan Ferdi mengusap punggungnya.Ferdi tersenyum kecil. “Kalau buat kamu sama bayi kita, capeknya nggak beras
Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Salma menjalani hari-hari dengan penuh kehati-hatian. Selama masa kehamilan Salma selalu di dalam rumah. Ferdi sengaja memesan kebutuhan dapur via online. Ia tak ingin Salma kecapean, sekaligus menghindari Bu Lastri dan teman-temannya yang menjadi pusat gosip.Sore harinya, Salma menerima paket yang bukan miliknya. Saat membaca nama penerima yang tertera, ternyata paket itu milik Bu Lastri. Sayangnya, tak ada lagi sosok kurir di depan rumahnya. Tak ingin gegabah. Salma pun menunggu Ferdi pulang.“Lebih baik, paket ini diantar Mas Ferdi saja nanti.”Namun, belum sempat Salma melangkah ke dalam rumah. Terdengar suara Bu Lastri di depan pagar.“Seperti nya paket saya terkirim ke sini ya, Jeng?” ucap Bu Lastri dengan sedikit berteriak.“Iya Bu. Ini paketnya.” Salma menyodorkan paket itu. Berusaha biasa saja. Namun, ada kegelisahan dalam dirinya. Takut, Bu Lastri menyadari sesuatu dari perutnya.Dengan sigap, Bu Lastri meraih paket itu dari tangan S
Salma mengurai pelukan Ferdi. Ia mengusap tangisan di sudut matanya.“Mas…Kita harus ke dokter.” Ujar Salma lirih. “Iya Sayang. Sekarang juga, kita akan ke rumah sakit. Tapi, jangan bilang pada siapa pun akan hal ini. Untuk sementara, kita berdua saja yang tahu. Mas hanya ingin menjaga.” Salma mengangguk. Ia paham maksud suaminya. Kehamilan awal yang masih rentan, akan sangat berbahaya jika tidak dijaga. Apalagi, tinggal di lingkungan yang dipenuhi penabur bisik-bisik, akan sangat mempengaruhi kehamilan nya.Selama perjalanan menuju rumah sakit, Ferdi mengemudi dengan sangat hati-hati, seolah setiap guncangan dapat membahayakan apa yang ada di rahim istrinya. Begitupun Salma, tangannya terus mengelus perutnya, seolah tak ingin beranjak sedikitpun.Sesampainya di Rumah Sakit, mereka langsung ke ruang tunggu spesialis kandungan. Di sana, Salma menggenggam erat tangan Ferdi. Ada rasa senang berbalut takut yang ia rasakan. Senang, jika tes itu benar. Takut, jika hasil itu hanya ilusi se
Sore itu, Salma tidak menangis lagi. Sudah cukup, ia tak mau susah payah memikirkan apa yang Mbak Rani katakan. Ia bangkit, membersihkan rumah dengan teliti. Salma tak ingin membiarkan setitik debu pun menempel. Tak lupa, ia memasakkan makanan kesukaan Ferdi; tumis kangkung , tempe goreng dan ayam goreng. Entah kenapa ada semacam tekad yang lahir dari rasa sakitnya. Jika orang luar mencoba untuk menghancurkan, maka ia akan memperkuat apa yang ada di dalam.Ditengah kesibukan Salma menyiapkan makanan di meja, Ferdi pulang, wajahnya terlihat lelah, namun lelah itu seketika terganti dengan senyum hangat saat melihat istrinya. Tak ada mata sembab, maupun raut muka yang menampakkan kesedihan. Terlihat seperti biasa, tenang dan penuh kehangatan. Rasanya sudah lama sekali, ia tak melihat istrinya seperti itu.“Mbak Rani kesini?” tanya Ferdi setelah cuci tangan.Salma terkejut. “Mas tahu dari mana ?” “Siapa lagi kalau bukan Bu Lastri. Dia mengirimkan video Mbak Rani teriak-teriak di grup wh
Malam itu, Ferdi pulang dan mendapati keadaan rumah gelap gulita. Hanya ada cahaya kecil yang menyala di ruang tengah. Ia menemukan Salma disana, menatap layar laptop yang menampilkan nama-nama panti asuhan.Ferdi duduk disamping Salma dan meletakkan tasnya di meja. Ia mengamati wajah istrinya yang agak sembab. “Ibu datang lagi?”Salma hanya mengangguk pelan dengan pandangan yang tak beralih dari layar.“Ibu benar Mas. Aku tidak boleh egois. Mungkin dengan mengadopsi anak itu bisa menjadi jalan tengah, agar ibu berhenti menuntutmu untuk menikah lagi.”Ferdi mengambil laptop dari pangkuan Salma. Menutup halaman dan mematikan nya. Ia meraih kedua tangan Salma dan mencium nya lama.“Sayang, adopsi adalah perbuatan yang mulia, mungkin suatu saat nanti. Tapi tidak untuk sekarang. Itu bukan jalan yang terbaik untuk saat ini, bahkan jika ibu memaksa, Mas tidak akan melakukan nya.” Ujar Ferdi dengan tenang.“Jika kita mengadopsi anak karena ketakutanmu pada ibu, rasanya tidak adil untuk anak
Kicauan burung yang hinggap di ranting pohon, dan aroma kopi yang khas menguar menambah kesan indah di pagi ini. Salma tak henti-hentinya melihat keprotektifan Ferdi setelah insiden jamu kemarin. Ia benar-benar menjadi garda terdepan bagi orang yang mencoba menyerang Salma. “Jangan pernah angkat, atau balas pesan dari keluarga ku kalau hal itu menyangkut tentang anak. Mereka tak berhak ikut campur lagi.”Ferdi bahkan tahu media sosial dan grup pesan singkat sejahat itu. Dari subuh tadi ia tak henti-hentinya mengingatkan untuk tak pernah menelan apa yang orang lain katakan. Satu katapun, demi kesehatan mental nya.Setelah mengantar kepergian suami ke kantor. Salma segera mengerjakan pekerjaan rumah. Pukul sembilan pagi, Salma ke ruang tengah, ingin memfokuskan diri menulis novel. Menulis adalah hobi Salma dari sejak SMA. Ia merasa jika menulis adalah satu-satunya cara agar ia bisa meluapkan semua yang ia rasakan. Ia bebas menentukan takdir atas dirinya sendiri. Tanpa harus mendengar







