Share

Bab 04

Author: Irama Senja
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-11 12:50:42

Malam itu, Ferdi pulang dan mendapati keadaan rumah gelap gulita. Hanya ada cahaya kecil yang menyala di ruang tengah. Ia menemukan Salma disana, menatap layar laptop yang menampilkan nama-nama panti asuhan.

Ferdi duduk disamping Salma dan meletakkan tasnya di meja. Ia mengamati wajah istrinya yang agak sembab. “Ibu datang lagi?”

Salma hanya mengangguk pelan dengan pandangan yang tak beralih dari layar.

“Ibu benar Mas. Aku tidak boleh egois. Mungkin dengan mengadopsi anak itu bisa menjadi jalan tengah, agar ibu berhenti menuntutmu untuk menikah lagi.”

Ferdi mengambil laptop dari pangkuan Salma. Menutup halaman dan mematikan nya. Ia meraih kedua tangan Salma dan mencium nya lama.

“Sayang, adopsi adalah perbuatan yang mulia, mungkin suatu saat nanti. Tapi tidak untuk sekarang. Itu bukan jalan yang terbaik untuk saat ini, bahkan jika ibu memaksa, Mas tidak akan melakukan nya.” Ujar Ferdi dengan tenang.

“Jika kita mengadopsi anak karena ketakutanmu pada ibu, rasanya tidak adil untuk anak itu dimasa depan.”

“Tapi ibu bawa-bawa almarhum bapak yang ingin segera punya cucu Mas. Kalau itu benar bagaimana?” tangis Salma pecah.

“Dan kamu percaya?” Tanya Ferdi lembut. Ia menarik Salma ke dalam pelukannya. “Itu hanya akal-akalan Ibu saja. Ibu itu wanita yang ambisius, dia bisa melakukan segala cara agar kita bisa menuruti apa yang dia mau.”

“Besok aku ke rumah Ibu, sekali-kali harus ditegaskan bahwa hak untuk memiliki anak hak mutlak kita berdua. Jika ibu tidak bisa menerima keputusan tersebut, lebih baik kita menjaga jarak.”

“Jangan Mas…Nanti kamu dibilang anak durhaka dan pasti ibu akan terus-menerus memojokkan ku.” Cegah Salma.

“Berbakti itu tidak harus mengorbankan rumah tangga sendiri, kalau sudah menyakiti pasangan, itu tandanya sudah lewat batas. Aku tidak mau menjadi suami dzalim yang membiarkan istrinya disakiti secara mental.” Salma hanya diam mendengar jawaban Ferdi yang tegas. Ia tak bisa menyangkal, Ia lelah. Mentalnya terus menerus dirusak.

Ferdi benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Ferdi segera menghubungi kakak nya—Rani. Ia memperingatkan agar tidak mengirimkan ramuan atau apapun tanpa sepengetahuan dan seizin Ferdi. Dan Ia juga langsung menghubungi Ibunya, menyatakan bahwa ia sangat menghormati dan menyayangi beliau, namun ia tidak bisa memberikan ruang untuk ibunya ikut campur dengan segala hal yang dapat merusak mental Salma.

Salma mencoba menggulung tubuhnya dengan selimut, Salma menatap Ferdi yang tengah fokus pada dokumen di tangannya. Salma tersenyum tipis. Ia menyadari satu hal. Di dunia yang penuh dengan lika liku terjal ini, ia diberikan satu keberuntungan yang tak semua orang lain miliki—seorang suami yang kesetiaannya tak tergoyahkan oleh apapun.

Ferdi menutup dokumen itu. Ia menatap Salma lembut. “Kenapa sayang?”

Salma mendekat, memeluk pinggang Ferdi erat. “Terimakasih Mas. Terimakasih sudah mau bertahan dan berjuang bersama.”

Ferdi membalas pelukan Salma dengan penuh kasih. “Terimakasih juga sudah mau bertahan, meskipun lelah selalu menghampiri. Kita hanya butuh sedikit kesabaran. Percayalah! Didepan nanti akan ada kebahagiaan yang sedang menanti.”

Malam yang sunyi itu, untuk pertama kalinya, Salma tidur dengan tenang tanpa bayang-bayang wajah sinis tetangga dan tuntutan ibu mertua. Ia tahu, esok hari badai nya akan lebih berat lagi. Namun, ia tak akan takut, karena nahkoda nya tak akan membiarkan ia tenggelam.

Kringgg…

Kringgg…

Kringgg…

Ponsel Ferdi terus berdering sejak subuh tadi. Namun ia memilih abai. Tak ingin mendengar makian maupun tangisan drama yang merusak suasana hatinya.

“Mas, apa enggak sebaiknya kamu angkat telponnya?” tanya Salma. Matanya terus melirik ke hp suaminya yang kembali berdering.

Ferdi menggeleng sambil menyesap kopinya. “Tidak usah. Mbak Rani hanya akan melukaimu dan Ibu pasti akan kembali menangis, meminta maaf. Setelah itu, mereka akan mengulangi hal yang sama. Untuk saat ini, diam adalah jawaban yang paling bijak.”

Salma hanya mengangguk diam.

“Apa yang kamu takutkan sayang.” Ferdi menggenggam tangan Salma yang terus mengaduk makanan nya tanpa minat.

“Aku hanya takut, mereka semakin membenciku.” Jawab Salma

“Sayang dengarkan Mas! Kita hidup dengan prinsip kita sendiri. Kalau kita terus mengikuti apa yang mereka inginkan dan itu hanya mempersulit, maka kita akan mati perlahan sebelum waktunya.”

“Hari ini, jangan kemana-mana. Cukup diam di rumah. Jangan buka pintu selain kurir atau orang yang kita kenal baik. Jangan terus menyakiti diri sendiri. Abaikan jika itu membuat kita cape.”Ucap Ferdi tegas.

Setelah obrolan itu, Ferdi beranjak dan pamit untuk pergi ke kantor. Sementara Salma, ia memulai pekerjaan rumah seperti biasa. Entah kenapa, hari ini lebih tenang dari kemarin, tak ada bisik bisik Bu Lastri dan tawa mengejek tetangga terdengar.

“Andaikan setiap hari seperti ini. Pasti hidupku akan lebih mudah.”

Namun, ketenangan itu seketika pecah. Bukan oleh Bu Lastri, tapi oleh ketukan pintu yang keras dan bertenaga. Teriakan nama Salma sangat memekik telinga. Salma mengintip dari jendela. Itu Rani. Wajah kakak iparnya sudah merah padam, menandakan amarah nya sudah memuncak.

Salma bimbingan. Ia ingat pesan Ferdi, tapi membiarkan Rani seperti itu, sama saja ia memberikan tontonan gratis bagi tetangga. Dengan berat, Salma membuka pintu.

“Oh jadi sekarang kamu jadi tukang ngadu domba ya?” Rani langsung mendorong Salma dengan keras. “Bagus sekali, sekarang Ferdi berani melawan Ibu dan memarahi kakaknya. Apa yang kamu katakan hah?”

“Mbak tolong, pelankan suaranya. Kita bisa bicara baik-baik di dalam.” Salma mencoba untuk tetap tenang.

“Bicara baik-baik katamu? Setelah kamu menjelekkan kami, dan Ferdi sampai keluar dari grup keluarga kami?” Rani berkacak pinggang. “Dengar ya, Ibu hanya mengusahakan untuk kamu. Kamu nya saja tidak tahu diuntung. Sudah tujuh tahun numpang hidup tapi tidak ada hasil, sekarang malah mau memutuskan hubungan keluarga. Kamu itu seperti parasit, tahu tidak?”

Salma mencoba mengumpulkan keberaniannya. Ia tak mau terus di injak-injak oleh kakak iparnya. “Mbak, aku ini bukan parasit. Aku ini istri sah nya Mas Ferdi. Jika kami belum memiliki keturunan, bukan kesalahan kami, itu takdir Tuhan. Dan masalah Mas Ferdi yang marah, semua karena Mbak membawakan minuman yang tidak jelas dan itu mengganggu kesehatan janinku.”

“Tidak jelas kamu bilang? Itu minuman turun temurun. Kamunya saja yang penyakitan. Sedikit - sedikit sakit.” Rani mendekat. “Ingat ya, posisi kamu di keluarga Adijaya tak akan pernah aman, jika rahimmu itu masih kering tanpa janin yang tumbuh. Jangan merasa menang dulu, karena Ferdi selalu membela kamu. Suatu saat dia akan sadar bahwa dia butuh anak. Dan saat itu terjadi, kamu akan ditendang dari rumah ini.”

Rani pergi begitu saja, membanting pintu pagar dengan keras. Salma jatuh terduduk dilantai. Kata-kata ancaman Rani berhasil membuat pertahanan yang baru saja ia bangun runtuh begitu saja.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 13

    Pria berseragam itu melangkah maju dua langkah, lalu mengeluarkan sebuah map jepit berwarna biru tua dan meletakkannya di atas meja, tepat di samping kotak kayu milik bude Rahmi. Sebuah kontras tajam terpampang jelas di sana, masa lalu yang penuh kejujuran berdampingan dengan masa kini yang terbelit kepalsuan.“Total tunggakan dan denda berjalan saat ini sudah melewati batas yang ditentukan, Pak.” lanjut pria berseragam itu. Ia mendorong map biru tua tersebut sedikit ke depan hingga tepat dihadapan Ferdi.Ferdi menatap dokumen itu, ia tahu persis apa arti cap merah di sudut berkas tersebut. Surat peringatan penyitaan aset. Dan surat itu tidak pernah datang tanpa konsekuensi besar.“Tunggu dulu,” sela Ferdi cepat. Suaranya berat dan terdengar bergetar samar. Jemarinya naik memijat pangkal hidung dengan gerakan kasar, sementara dahinya berkerut tajam.“Cicilan mana yang dimaksud? Ibu saya tidak punya utang apa pun pada pihak bank. Semua aset keluarga sudah dibereskan.”Senyum profesiona

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 12

    Jejak bazar amal masih tampak di halaman rumah yang belum sepenuhnya sepi. Suara tawa warga perlahan mereda, berganti ucapan terimakasih yang tulus. Salma berdiri sejenak di tengah halaman, membiarkan aroma nasi hangat itu menenangkan hatinya. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia merasa langkah yang diambilnya tidak salah.Salma melangkah masuk ke dalam rumah. Arkana sudah terlelap di dalam boks bayi nya, tak terusik oleh sisa-sisa ketegangan yang masih menggantung di udara. Di ruang tamu, Bu Mayang duduk dengan kaku, memperhatikan Salma dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara amarah yang tertahan dan rasa malu yang mendalam.“Kau merasa sudah menang, Salma?” suara Ibu Mayang memecah kesunyian, dingin dan tajam.Salma menoleh, sorot matanya tenang. “Aku tidak sedang bersaing dengan Ibu. Aku hanya ingin melakukan yang menurutku benar untuk Arkana.” “Benar untukmu atau sengaja ingin melawan?” suara itu terdengar lebih berat dari sebelumnya.Salma terdiam sejenak, sebelum m

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 11

    Tiga hari berlalu sejak Bu Mayang meninggalkan rumah dengan penuh amarah. Sekilas, suasana di rumah mulai kembali tenang seperti biasa. Namun bagi Salma, ketenangan itu terasa rapuh, seolah hanya jeda sementara sebelum masalah lain kembali muncul.Trang Trang Salma yang sedang menyusui Arkana langsung tersentak ketika suara gaduh terdengar dari depan rumah. Saat melirik keluar jendela, ia membeku melihat sebuah truk besar terparkir dan beberapa pekerja mulai menurunkan perlengkapan tenda.“Mas, Mas Ferdi!” panggil Salma panik. “Ada orang pasang tenda di depan rumah!”Ferdi yang baru keluar dari ruang kerja langsung bergegas keluar. “Maaf, Pak” ucapnya cepat mendekati salah satu pekerja. “Sepertinya ini salah alamat. Kami tidak memesan tenda.”Mendengar penolakan itu, pria paruh baya tersebut langsung membuka map plastik yang sejak tadi di jepit di bawah lengannya. Dengan cepat, ia memperlihatkan yang sudah distempel.“Tidak salah, Pak. Alamatnya sudah sesuai,” jelas nya hati-hati. “P

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 10

    Salma baru saja selesai berjemur bersama Arkana di pagi hari. Setelah itu, ia memandikan putranya dengan hati-hati, memastikan tubuh kecil itu bersih dan nyaman sebelum akhirnya menidurkannya. Setelah memastikan Arkana benar-benar aman dan tertidur nyenyak di kamarnya, Salma menarik napas pelan. Hari itu terasa sedikit lebih tenang dari biasanya, apalagi Ferdi sedang libur kerja dan bisa berada di rumah sejak siang.Keduanya duduk di ruang makan untuk menikmati makan siang bersama. Suasana terasa hangat dan sederhana, hanya diisi suara pelan peralatan makan serta obrolan ringan antara Salma dan Ferdi yang sesekali bertukar pandang.Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.Terdengar suara pintu depan terbuka. Langkah kaki masuk perlahan, memecah ketenangan rumah yang sebelum nya damai.Dari arah ruang makan, Bu Mayang dan Rani terlihat memasuki rumah. Keduanya berjalan masuk begitu saja.Rani menoleh ke meja makan dan tersenyum tipis. “Wah, kebetulan sekali kita datang pas jam ma

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 09

    Bab 09Kepulangan Salma ke rumah dengan bayi kecil dipelukannya seharusnya menjadi awal yang menenangkan. Setelah berhari-hari berada di rumah sakit, ia hanya ingin beristirahat sambil menikmati kehadiran Arkana Pratama di sisinya.Namun, baru saja pintu rumah terbuka, Salma langsung menyadari bahwa ketenangan yang ia dambakan rupanya belum benar-benar menunggu nya di rumah itu. Perhatian Salma tertuju pada keluarga besar Ferdi, orang-orang yang kini tersenyum padanya seolah setahun lalu tidak pernah ada pertengkaran menyakitkan diantara mereka.Salma berdiri beberapa detik diambang pintu sambil memeluk Arkana lebih erat. Senyum-senyum yang diberikan padanya terasa asing, bahkan sebagian tampak terlalu manis untuk dipercaya.“Salma sudah pulang?” sapa salah satu bibinya dengan nada hangat yang terdengar dipaksakan.“Ya ampun, cucunya ganteng sekali,” ujar yang lain antusias.Salma menunduk menatap putranya sesaat. Hatinya aneh, bukan bahagia melainkan waspada. Ia masih terlalu ingat

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 08

    Sembilan bulan bukan sekedar angka bagi Salma, karena dibalik itu ada perjalanan panjang yang penuh luka, harapan dan pengorbanan. Kini, perutnya membuncit sempurna, menghadirkan rasa lelah yang terus menemaninya setiap hari. Napas nya bahkan mulai terasa berat hanya untuk berdiri terlalu lama. Namun, semua itu masih belum seberapa dibanding beban hati yang ia pendam sendirian dari komentar sinis yang dulu sering menyusup ke telinganya. Seolah setiap ucapan itu tak pernah benar-benar hilang. Malam itu, butiran hujan jatuh begitu deras di atas atap, menutupi suara-suara lain di sekeliling rumah. Di dalam kamar, Ferdi dengan sabar mengusap minyak zaitun di punggung Salma yang mulai sering terasa nyeri. Tindakan sederhana itu menjadi bentuk perhatian yang selalu ia jaga beberapa bulan terakhir. “Mas….nggak capek tiap malam begini?” tanya Salma pelan sambil memejamkan mata saat tangan Ferdi mengusap punggungnya. Ferdi tersenyum kecil. “Kalau buat kamu sama bayi kita, capeknya nggak

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status