Share

Bab 02

Author: Irama Senja
last update publish date: 2026-04-11 12:48:43

Malam ini terasa hambar, tak ada deep talk antara Ferdi dan Salma. Sepulangnya dari kediaman Bu Mayang mereka masih betah di ruang tamu, seakan enggan beranjak walau keheningan yang menemani. Salma duduk mematung menatap kosong ke dinding yang dihiasi foto pernikahan mereka tujuh tahun yang lalu. Disana tampak tak ada beban. Senyum merekah dengan keyakinan bahwa kehidupan ke depan akan baik-baik saja.

Sekarang, keyakinan itu sedang diuji. Berkali-kali, bahkan ribuan kali dengan realitas dunia yang kejam. Salma masih terngiang akan ucapan Bu Mayang tentang poligami. Rasa nya menusuk pelan namun mematikan sampai ke titik lemah diri Salma. Selama ini, ia tak pernah menggubris apa yang orang lain bilang tentang dirinya, namun hal yang Bu Mayang katakan, adalah hal yang paling Salma takutkan.

Langkah kaki terdengar dari arah dapur. Ferdi membawa segelas air hangat, meletakkan gelas itu di meja. Ferdi duduk di samping Salma, menggenggam tangan Salma yang masih sedingin es.

“Sayang, tatap Mas. Jangan biarkan perkataan Ibu mengganggu pikiran kamu. Kita bisa usaha lebih keras lagi. Tuhan tak pernah tidur. Tuhan tahu kapan waktu yang tepat untuk kita.”

Salma menatap sorot mata penuh keyakinan itu. Mata sembapnya tak henti menyiratkan luka.

“Kalau kita gagal lagi bagaimana ? Aku ini cacat Mas. Benar kata Ibu, tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untuk kita dapat momongan. Aku menantu yang tak sempurna. Pengabdian ku pada mu tak akan pernah ternilai, karena aku belum bisa memberikan ‘penerus’ untuk keluarga mu.”

“Siapa yang bilang kamu cacat Sayang? Suara Ferdi memberat, genggam tangannya semakin erat. “ Aku sudah bilang, jangan terlalu mendengarkan perkataan orang lain, sekalipun itu–Ibu. Ibu bilang begitu karena ambisi dari keluarga dulu. Sekarang pernikahan kita antara aku, kamu dan Tuhan. Tak perlu kamu berpikir tentang siapapun lagi. Pengabdian yang kamu berikan itu bentuk cinta tertinggi diatas segalanya, Sayang. Kamu sempurna dimataku.”

Salma memalingkan pandangannya. Mencari oksigen ditengah sesaknya dada.

“Tapi aku lelah Mas. Setiap hari aku merasa seperti terdakwa. Mereka selalu menatap sinis perutku, merendahkan dan terus membandingkan. Aku enggak kuat Mas, harus menghadapi sesuatu yang bahkan bukan dalam kuasaku.”

Ferdi menarik Salma ke dalam dekapan nya.

“Anak adalah titipan, bukan sekedar keinginan Sayang. Kini, ia belum hadir, mungkin kita sedang dipersiapkan untuk menjadi orang tua yang lebih kuat.”

Keesokan paginya, mentari mulai menampakkan sinarnya dengan angkuh, seolah tak peduli dengan mendung dihati Salma. Kakinya melangkah menuju teras depan. Namun, pemandangan yang sangat ia hindari sudah tersaji di depan mata.

Bu Lastri dengan antek-antek nya sedang berbincang di depan pagar. Mata nya menelisik ke arah Salma. Tersenyum kecil, menyembunyikan sesuatu dibalik keakraban.

“Mau nyiram bunga ya Jeng?” Ucap Bu Tami

“Iya Bu”. Salma tersenyum tipis. Langkah nya berhenti di bunga anggrek berwarna ungu.

“Bagus si ya, merawat bunga itu hal yang positif. Tapi ya itu, bunga bisa bagus kalau dipupuk dengan benar. Enggak beda jauh sama manusia. Masa kalah sama tanaman ?”

Bu Tami dan Bu Rosa tertawa kecil, tipe tawa mengejek. Salma hanya diam menggenggam erat gembor ditangan nya.

“Tak semua yang dipupuk akan subur dan indah di waktu yang sama Bu Lastri. Ada yang tumbuh setelah hujan. Ada yang tumbuh setelah kemarau.”

“Aduh, puitis sekali Bu Rosa ini,” timpal Bu Lastri. “Tapi Bu, usia itu terus bertambah dan ada masanya rahim kita tak seproduktif dulu. Jangan sampai Mas Ferdi yang tampan itu jenuh, karena suasana rumah terlalu sunyi senyap tanpa suara anak-anak. “ Ucap Bu Lastri menatap Salma, ia sengaja menaikan volume suaranya.

Salma menghela nafas panjang. Sindiran itu seperti tusukan kecil yang berhasil menembus batas. Kehidupan pribadinya berubah menjadi bahan perbincangan tetangga yang tak pernah usai. Salma memilih diam. Ia tak ingin memperpanjang dengan kata-kata. Luka semalam belum kering. Ia tak ingin menambah luka lagi.

Setelah selesai menyiram anggrek. Dengan tenang, ia masuk ke dalam rumah walaupun menahan perasaan yang nyaris tumpah menjadi tangis.

Suasana yang sejak pagi menegang, kini memuncak kala kedatangan Rani, kakak Ferdi. Masuk ke rumah tanpa permisi, seperti angin yang datang tanpa izin. Di tangannya, terlihat sebuah bungkusan kain berisi botol botol minuman tradisional yang beraroma tajam. Bau nya perpaduan antara pahit rempah dan bau amis yang menusuk hidung.

Rani meletakkan botol-botol itu di atas meja dengan kasar .

“Sal, aku bicara sebagai kakanya Ferdi. Semalam setelah kalian pulang, ibu menangis. Dia takut garis keturunan Ayah dan Ibu berhenti di keluarga kalian. Kamu harus minum ini. Ini ramuan dari Tabib kepercayaan keluarga ibu dulu. Jangan banyak tanya, ini soal usaha batin.”

Salma mengernyit, perut nya terasa tidak nyaman kala mencium aroma dari botol itu.

“Mbka Rani, bukan aku tidak mau. Tapi dokter bilang hormon ku sedang tidak stabil. Aku khawatir terjadi apa-apa kalau minum jamu yang tidak ada label nya..”

“Apa sih Sal ? Lagi-lagi kata dokter ? Kamu terlalu percaya apa yang dokter katakan, memangnya semua itu sudah memberikanmu anak selama ini?” Suara Rani meninggi. “ Ibu ku sudah susah payah memesan kan jamu khusus untuk kamu. Tidak bersyukur sekali kamu Salma. Mending kamu terima saran yang ibu tawarkan. Jangan menyesal jika nanti ibu yang memutuskan untuk masa depan Ferdi. Sekali-kali nurut, jangan egois.”

Kata “egois” itu menghujam Salma dengan telak. Di titik ini, apa benar Salma mulai mementingkan dirinya sendiri ? Apakah mempertahankan Ferdi itu termasuk egois? Tanpa pikir panjang Salma langsung meraih botol itu, dan meminum nya. Namun, baru satu tegukan rasa pahit dan bau itu kembali menusuk. Membuat matanya berair menahan mual.

“Mbak aku sudah meminum nya… Tolong jangan paksa aku lagi.” Ucap Salma lirih sambil merasakan rasa tak nyaman diperut.

Rani menatap Salma tajam.

“Kamu sendiri yang ingin mempertahankan Ferdi kan ? Disuruh minum segitu aja ragu. Ini jamu, bukan racun.” Rani melangkah pergi tanpa pamit.

Salma menghela nafas, melihat kepergian kakak ipar nya. Ia pergi ke dapur mengambil manisan untuk menetralkan rasa mual akibat jamu itu.

Sore harinya, Ferdi pulang dan segera melangkah masuk ke dalam rumah. Matanya menelisik semua sudut, namun tak nampak keberadaan Salma disana.

Akhirnya ia ke ruang tengah dan menemukan Salma terbaring lemah dengan wajah pucat. Di atas meja, ada botol yang tak asing bagi Ferdi, dan itu cukup menjelaskan semuanya. Ferdi menghela nafas berat. Lagi dan lagi keluarnya ikut campur melampaui batas.

Ferdi memandangi wajah yang selama tujuh tahun menemaninya. Tujuh tahun yang penuh dengan liku dan hampir membuat Salma menyerah ingin pergi dari sisi nya.

Ferdi segera menggendong istrinya ke kamar, menyelimuti dan mengecup kening Salma penuh kasih. Ia kembali ke dapur, mengambil semua botol dan membuangnya ke tong sampah besar di luar rumah.

“Maafkan keluarga ku Salma. Mereka membuatmu seperti ini. Aku berjanji, mulai saat ini tidak akan ada lagi yang boleh menyakiti mu.”

“Biarlah mereka membenciku, karena tetap bertahan dengan mu. Dari pada aku membenci diriku sendiri karena membiarkan mu hancur karena keluarga ku.” Ia merogoh saku, meraih ponsel dan keluar dari grup keluarga. Ferdi sudah cukup geram dengan tekanan yang diberikan keluarga nya.

Di dalam kamar, mereka hanya saling berpelukan. Tidak ada pembicaraan tentang anak maupun masa depan. Malam ini mereka hanya ingin menikmati kebersamaan satu sama lain. Salma sadar perjalanan mereka masih panjang dan pastinya sangat terjal. Namun, dalam pelukan Ferdi ia selalu menemukan penyembuh bagi kekhawatiran nya. Tujuh tahun mereka belajar bahwa mempertahankan rumah tangga tidak hanya saat senang, tapi juga saat dunia memaksa mereka untuk saling melepaskan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 07

    Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Salma menjalani hari-hari dengan penuh kehati-hatian. Selama masa kehamilan Salma selalu di dalam rumah. Ferdi sengaja memesan kebutuhan dapur via online. Ia tak ingin Salma kecapean, sekaligus menghindari Bu Lastri dan teman-temannya yang menjadi pusat gosip.Sore harinya, Salma menerima paket yang bukan miliknya. Saat membaca nama penerima yang tertera, ternyata paket itu milik Bu Lastri. Sayangnya, tak ada lagi sosok kurir di depan rumahnya. Tak ingin gegabah. Salma pun menunggu Ferdi pulang.“Lebih baik, paket ini diantar Mas Ferdi saja nanti.”Namun, belum sempat Salma melangkah ke dalam rumah. Terdengar suara Bu Lastri di depan pagar.“Seperti nya paket saya terkirim ke sini ya, Jeng?” ucap Bu Lastri dengan sedikit berteriak.“Iya Bu. Ini paketnya.” Salma menyodorkan paket itu. Berusaha biasa saja. Namun, ada kegelisahan dalam dirinya. Takut, Bu Lastri menyadari sesuatu dari perutnya.Dengan sigap, Bu Lastri meraih paket itu dari tangan S

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 06

    Salma mengurai pelukan Ferdi. Ia mengusap tangisan di sudut matanya.“Mas…Kita harus ke dokter.” Ujar Salma lirih. “Iya Sayang. Sekarang juga, kita akan ke rumah sakit. Tapi, jangan bilang pada siapa pun akan hal ini. Untuk sementara, kita berdua saja yang tahu. Mas hanya ingin menjaga.” Salma mengangguk. Ia paham maksud suaminya. Kehamilan awal yang masih rentan, akan sangat berbahaya jika tidak dijaga. Apalagi, tinggal di lingkungan yang dipenuhi penabur bisik-bisik, akan sangat mempengaruhi kehamilan nya.Selama perjalanan menuju rumah sakit, Ferdi mengemudi dengan sangat hati-hati, seolah setiap guncangan dapat membahayakan apa yang ada di rahim istrinya. Begitupun Salma, tangannya terus mengelus perutnya, seolah tak ingin beranjak sedikitpun.Sesampainya di Rumah Sakit, mereka langsung ke ruang tunggu spesialis kandungan. Di sana, Salma menggenggam erat tangan Ferdi. Ada rasa senang berbalut takut yang ia rasakan. Senang, jika tes itu benar. Takut, jika hasil itu hanya ilusi se

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 05

    Sore itu, Salma tidak menangis lagi. Sudah cukup, ia tak mau susah payah memikirkan apa yang Mbak Rani katakan. Ia bangkit, membersihkan rumah dengan teliti. Salma tak ingin membiarkan setitik debu pun menempel. Tak lupa, ia memasakkan makanan kesukaan Ferdi; tumis kangkung , tempe goreng dan ayam goreng. Entah kenapa ada semacam tekad yang lahir dari rasa sakitnya. Jika orang luar mencoba untuk menghancurkan, maka ia akan memperkuat apa yang ada di dalam.Ditengah kesibukan Salma menyiapkan makanan di meja, Ferdi pulang, wajahnya terlihat lelah, namun lelah itu seketika terganti dengan senyum hangat saat melihat istrinya. Tak ada mata sembab, maupun raut muka yang menampakkan kesedihan. Terlihat seperti biasa, tenang dan penuh kehangatan. Rasanya sudah lama sekali, ia tak melihat istrinya seperti itu.“Mbak Rani kesini?” tanya Ferdi setelah cuci tangan.Salma terkejut. “Mas tahu dari mana ?” “Siapa lagi kalau bukan Bu Lastri. Dia mengirimkan video Mbak Rani teriak-teriak di grup wh

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 04

    Malam itu, Ferdi pulang dan mendapati keadaan rumah gelap gulita. Hanya ada cahaya kecil yang menyala di ruang tengah. Ia menemukan Salma disana, menatap layar laptop yang menampilkan nama-nama panti asuhan.Ferdi duduk disamping Salma dan meletakkan tasnya di meja. Ia mengamati wajah istrinya yang agak sembab. “Ibu datang lagi?”Salma hanya mengangguk pelan dengan pandangan yang tak beralih dari layar.“Ibu benar Mas. Aku tidak boleh egois. Mungkin dengan mengadopsi anak itu bisa menjadi jalan tengah, agar ibu berhenti menuntutmu untuk menikah lagi.”Ferdi mengambil laptop dari pangkuan Salma. Menutup halaman dan mematikan nya. Ia meraih kedua tangan Salma dan mencium nya lama.“Sayang, adopsi adalah perbuatan yang mulia, mungkin suatu saat nanti. Tapi tidak untuk sekarang. Itu bukan jalan yang terbaik untuk saat ini, bahkan jika ibu memaksa, Mas tidak akan melakukan nya.” Ujar Ferdi dengan tenang.“Jika kita mengadopsi anak karena ketakutanmu pada ibu, rasanya tidak adil untuk anak

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 03

    Kicauan burung yang hinggap di ranting pohon, dan aroma kopi yang khas menguar menambah kesan indah di pagi ini. Salma tak henti-hentinya melihat keprotektifan Ferdi setelah insiden jamu kemarin. Ia benar-benar menjadi garda terdepan bagi orang yang mencoba menyerang Salma. “Jangan pernah angkat, atau balas pesan dari keluarga ku kalau hal itu menyangkut tentang anak. Mereka tak berhak ikut campur lagi.”Ferdi bahkan tahu media sosial dan grup pesan singkat sejahat itu. Dari subuh tadi ia tak henti-hentinya mengingatkan untuk tak pernah menelan apa yang orang lain katakan. Satu katapun, demi kesehatan mental nya.Setelah mengantar kepergian suami ke kantor. Salma segera mengerjakan pekerjaan rumah. Pukul sembilan pagi, Salma ke ruang tengah, ingin memfokuskan diri menulis novel. Menulis adalah hobi Salma dari sejak SMA. Ia merasa jika menulis adalah satu-satunya cara agar ia bisa meluapkan semua yang ia rasakan. Ia bebas menentukan takdir atas dirinya sendiri. Tanpa harus mendengar

  • Garis Dua Yang Yertunda   Bab 02

    Malam ini terasa hambar, tak ada deep talk antara Ferdi dan Salma. Sepulangnya dari kediaman Bu Mayang mereka masih betah di ruang tamu, seakan enggan beranjak walau keheningan yang menemani. Salma duduk mematung menatap kosong ke dinding yang dihiasi foto pernikahan mereka tujuh tahun yang lalu. Disana tampak tak ada beban. Senyum merekah dengan keyakinan bahwa kehidupan ke depan akan baik-baik saja.Sekarang, keyakinan itu sedang diuji. Berkali-kali, bahkan ribuan kali dengan realitas dunia yang kejam. Salma masih terngiang akan ucapan Bu Mayang tentang poligami. Rasa nya menusuk pelan namun mematikan sampai ke titik lemah diri Salma. Selama ini, ia tak pernah menggubris apa yang orang lain bilang tentang dirinya, namun hal yang Bu Mayang katakan, adalah hal yang paling Salma takutkan.Langkah kaki terdengar dari arah dapur. Ferdi membawa segelas air hangat, meletakkan gelas itu di meja. Ferdi duduk di samping Salma, menggenggam tangan Salma yang masih sedingin es. “Sayang, tatap M

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status