Share

Bab 5

Auteur: Shirley
Beberapa menit kemudian, tangan kanan Darren, Tony, melangkah mendekat.

Begitu melihatku berlumuran darah, keningnya langsung berkerut. Dengan gelisah, dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Darren.

"Bos, ada seorang perempuan di pintu masuk rumah sakit, berlumuran darah. Dia sangat mirip dengan ... Bu Scarlett."

"Kamu juga tertipu?" Darren mendengus. "Sudah kubilang, satu suntikan obat itu nggak mungkin membuatnya berdarah seperti itu."

Tony berbicara dengan hati-hati. "Perlu aku ke sana untuk memastikan? Kalau benar itu Bu Scarlett, kondisinya sangat berbahaya ...."

"Aku bilang itu mustahil!" Darren berteriak histeris. "Scarlett terobsesi dengan penampilannya. Kalau separah itu, dia pasti sudah menerobos masuk kemari untuk mencariku sendiri. Mana mungkin dia membiarkan dirinya terlihat sekacau itu?"

Sementara itu, kepala unit gawat darurat memohon agar diberi satu set peralatan operasi saja.

Namun, Darren menjawab dengan ancaman dingin.

"Aku nggak peduli siapa dia. Nggak satu pun sumber daya yang disiapkan untuk Anggi boleh disentuh orang lain! Anggi dan anak di dalam kandungannya adalah garis keturunan sejati Keluarga Pandita! Siapa pun yang berani menyentuhnya, tahu sendiri konsekuensinya."

Dokter itu akhirnya menyerah dengan putus asa, menggeleng meminta maaf.

"Maafkan kami. Nggak ada yang bisa kami lakukan."

Setelah berhasil merangkak keluar dari neraka, aku menolak menyerah bahkan pada peluang sekecil apa pun demi keselamatan anakku. Sambil menahan rasa sakit seperti terkoyak, aku mengambil ponsel satelit milik Leo dengan tangan gemetar. Aku menekan nomor yang dulu pernah kusumpah tidak akan pernah kuhubungi lagi.

Itu nomor pribadi kakakku, Stephan.

"Stephan ...." Suaraku nyaris tak terdengar. "Aku salah. Aku nggak akan pernah menentangmu lagi ...."

"Tolong selamatkan aku ...."

Suara Stephan sedingin es, tanpa bertanya apa pun.

"Alamat."

Begitu mendengar suaranya, semua keluhan dan keputusasaan yang kupendam meledak sekaligus. Aku menangis histeris, seperti anak tersesat yang akhirnya menemukan jalan pulang.

Penyesalan, amarah, keputusasaan. Semua emosi itu tumpah ruah.

Tak sampai delapan menit kemudian, deruan rendah baling-baling helikopter memenuhi langit malam. Sebuah helikopter medis hitam yang canggih mendarat di atap rumah sakit. Baling-balingnya menimbulkan hembusan angin yang kuat.

Tim medis profesional berperalatan lengkap turun dengan sigap.

Aku segera diangkat ke dalam helikopter yang dilengkapi fasilitas medis paling mutakhir daripada rumah sakit mana pun.

"Siapkan operasi sesar!" perintah seorang dokter.

Pisau bedah menyayat perut bagian bawahku secara presisi. Bahkan dengan anestesi kuat, aku masih bisa merasakan rasa sakit saat dagingku terbelah.

Aku mendengar percakapan tegang para dokter dan bunyi monitor yang berbunyi cepat.

Setelah waktu yang terasa sangat lama, dokter bedah utama akhirnya mengembuskan napas lega.

"Bayinya sudah keluar!"

Namun, kabin itu dipenuhi dengan keheningan yang mematikan.

Tidak ada tangisan bayi, tidak ada napas kehidupan baru. Hanya bunyi alat medis dan detak jantungku yang kacau.

Firasat buruk menyiramku seperti air es. Dengan suara tercekat, aku bertanya,

"Bayiku …. Gimana keadaannya?"

Para dokter saling bertukar pandang dengan ekspresi serius, lalu salah satu dari mereka menyentuh bahuku dengan lembut.

"Bayi Ibu mengalami paparan racun yang parah dan kekurangan oksigen dalam waktu lama ...."

"Kami harus segera membawanya ke pusat medis di Sasila. Di sana ada peralatan perawatan intensif neonatal paling canggih."

Duniaku runtuh saat itu juga. Aku hanya bisa mengangguk dengan tatapan kosong.

Sementara itu, di sebuah ruang bersalin di Rumah Sakit Yoka.

Darren berdiri di luar ruang operasi seperti anjing penjaga setia. Begitu pintu terbuka, dia segera maju.

"Gimana Anggi? Bayinya sehat?"

"Ibu dan putranya sama-sama selamat, Bos," lapor dokter itu dengan hormat.

Darren masuk ke ruangan yang hangat dan nyaman, lalu dengan lembut menggendong bayi yang terbedong.

Matanya dipenuhi cinta seorang ayah saat dia berbisik, "Dia mirip sekali denganmu. Seperti malaikat kecil."

Setelah itu, pikirannya melayang sejenak.

Dia membiarkan dirinya membayangkan seperti apa rupa anaknya dengan Scarlett. Jika perempuan, pasti akan mewarisi mata indahnya ....

Setelah meninabobokan bayi itu hingga tertidur, Darren melirik jam tangannya.

Hari sudah pagi. Sudah waktunya menyuruh seseorang menjemput Scarlett. Dia melempar kunci mobil ke arah Tony.

"Kembali ke kediaman. Bawa istriku ke sini. Bagaimanapun caranya, anak itu harus dilahirkan. Aku mau tes DNA begitu bayi itu lahir."

Tony berdiri membeku, seluruh tubuhnya gemetar tak terkendali. Dia tak berani menatap Darren, jakunnya naik turun.

Darren menyadari ada yang tidak beres dan mengerutkan kening.

"Ada apa? Cepat bergerak."

Akhirnya, Tony mengumpulkan keberanian, suaranya bergetar.

"Bos .... Bu Scarlett. Dia sudah meninggal ...."
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Garis Keturunan yang Tercemar   Bab 13

    EpilogSudut Pandang Darren:Peluru itu menembus dadaku. Darah mengucur deras dari luka itu, mewarnai lantai dengan warna merah. Aku terhempas ke beton dingin, kesadaranku perlahan memudar.Namun anehnya, di saat itu, pikiranku justru terasa sangat jernih. Kabut yang selama ini menyelimuti segalanya lenyap.Akhirnya, aku melihat kebenaran.Scarlett tidak pernah mengkhianatiku. Surat-surat itu, foto-foto itu, semuanya adalah tipu daya Anggi.Akulah orang paling bodoh di dunia.Aku teringat Scarlett saat dia hamil. Dia selalu mengusap perutnya dengan lembut, berbicara pelan pada anak kami."Sayang, Papa bekerja sangat keras, tapi dia sangat mencintai kita. Nanti kalau kamu lahir, kita bertiga akan sangat bahagia."Matanya dipenuhi mimpi tentang masa depan. Bagaimana mungkin aku pernah berpikir bahwa kebahagiaan itu palsu?Aku teringat bagaimana dia bangun di tengah malam untuk membuatkan camilan untukku. Meski sedang hamil dan sulit bergerak, dia tetap bersikeras merawatku."Kamu bekerja

  • Garis Keturunan yang Tercemar   Bab 12

    Malam itu, seluruh bisnis Keluarga Pandita diserang secara bersamaan. Dermaga-dermaga diledakkan, kasino-kasino dihancurkan, dan semua usaha yang biasa membayar uang perlindungan memutuskan hubungan.Darren bersembunyi di sebuah rumah aman, sementara anak buahnya pergi satu per satu, meninggalkannya. Pada akhirnya, hanya sopir setianya, Leo, yang tersisa."Bos, kita harus pergi," desak Leo. "Seluruh orang sedang memburu kita.""Nggak." Darren menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa pergi. Aku harus menebus kejahatanku."Dia menatap foto putranya yang telah disobeknya dari laporan DNA. "Aku membunuh anakku, Leo. Aku membunuh satu-satunya darah dagingku."Leo menghela napas. "Bos, Anda ditipu. Tapi saat itu, Nyonya benar-benar putus asa. Dia sangat terluka.""Bukan ditipu. Tapi bodoh." Suara Darren parau. "Kecurigaanku dan ketidakmampuanku sendiri yang menghancurkan segalanya."Menjelang tengah malam, rumah aman itu dikepung. Yang datang bukan polisi, melainkan para pembunuh bayaran dari k

  • Garis Keturunan yang Tercemar   Bab 11

    "Bos Stephan, aku salah. Aku benar-benar salah." Darren berlutut di lantai, suaranya bergetar. Darah menetes dari sudut mulutnya, menodai setelan mahal yang dikenakannya.Stephan menatapnya dingin. "Baru sekarang kamu menyadarinya?""Aku bisa jelaskan ...." Darren mendongak, matanya dipenuhi ketakutan. "Aku nggak tahu kalau Scarlett adalah adikmu.""Kalau aku tahu, aku nggak akan pernah ....""Nggak akan pernah apa?" potongku. "Nggak akan pernah menyuntikkanku racun? Nggak akan pernah mengurungku di ruang bawah tanah sampai mati?"Darren menatapku, secercah harapan muncul di matanya. "Scarlett, kita masih punya perasaan satu sama lain.""Aku mencintaimu. Kamu tahu itu."Aku menyeringai. "Cinta?"Vincent mendekat dan berbisik di telingaku. "Bu, kami mendapat kabar penting."Aku mengangguk dan Vincent mengumumkan dengan suara lantang, "Kekasih Anggi, Carlo Baskara, telah diyakinkan ... untuk berbicara. Dia mengaku semuanya.""Mengaku apa?" Wajah Darren langsung berubah.Aku mengeluarkan

  • Garis Keturunan yang Tercemar   Bab 10

    Darren begitu murka melihat senyum dinginku sampai tak mampu berkata apa-apa. Rahangnya mengatup keras.Aku menatapnya dengan pandangan meremehkan."Cukup," kataku dingin. "Vincent, antar tamu kita keluar.""Nggak ada yang bisa mengusirku," geram Darren, cengkeramannya menguat. "Kamu ikut denganku."Vincent mengeluarkan pistolnya lagi, larasnya diarahkan tepat ke belakang kepala Darren. "Lepaskan Bu Marina."Antonio, bos Keluarga Romana, ikut berdiri, tangannya bertumpu di pinggang. "Pak, kamu sedang mengancam konsultan kami."Bos-bos keluarga lainnya bangkit serempak. Suasana di ruangan itu langsung dipenuhi niat membunuh.Darren menoleh ke sekeliling lalu menyeringai. "Kalian semua total sekali ya. Akting kalian hampir meyakinkan."Tiba-tiba, dia menarikku kasar ke arah pintu. "Tapi aku nggak percaya."Vincent mengokang pistolnya, tetapi aku mengangkat tangan, menghentikannya. "Biarkan dia mencoba."Darren tersenyum penuh kemenangan. "Aku masih yang paling mengenalmu, Scarlett. Kamu

  • Garis Keturunan yang Tercemar   Bab 9

    "Akhirnya aku menemukanmu." Suara Darren menggema di seluruh ruang konferensi.Semua bos mafia seketika menegang, tangan mereka refleks bergerak ke arah senjata di pinggang masing-masing.Darren melangkah masuk dengan langkah lebar, tatapannya terkunci padaku. "Delapan bulan, Scarlett. Kamu bersembunyi dengan sangat rapi."Aku berdiri perlahan, suaraku tetap tenang. "Pak, kamu salah masuk ruangan.""Salah ruangan?" Darren menyeringai sinis. "Nggak. Justru inilah tempat yang seharusnya."Antonio, bos Keluarga Romana, melirik gugup ke arah penyusup itu, lalu ke arahku. "Bu Marina, apakah kami perlu ... membereskan penyusup ini untukmu?"Dahi Darren langsung berkerut saat mendengar sebutan itu. "Bu Marina?" Dia menatap Antonio tajam. "Kamu panggil dia apa?"Menyadari kesalahannya, Antonio buru-buru menutup mulut.Namun, bos keluarga lain sudah lebih dulu berdiri dan membungkuk hormat ke arahku. "Bu Marina, apa sebaiknya kami meninggalkanmu untuk menyelesaikan urusan ini?"Pupil mata Darre

  • Garis Keturunan yang Tercemar   Bab 8

    Aku memilih sebidang makam di sebuah pulau untuk bayi kecilku yang telah meninggal. Pulau itu dikelilingi laut yang tenang, damai, dan terasa bebas.Di sana berdiri sebuah nisan marmer putih yang berukir sebuah kalimat. "Pangeran Kecil Keluarga Marina. Dicintai Selamanya."Aku berlutut di hadapan makam itu, jemariku mengusap pelan batu nisan yang dingin. "Maafkan Mama karena nggak bisa melindungimu," bisikku, air mataku menetes membasahi marmer. "Tapi Mama akan membalaskan dendammu."Sejak saat itu, aku menanggalkan seluruh kepolosanku dan mulai belajar mengelola bisnis keluarga dari kakakku. Aku adalah satu-satunya kerabat yang masih hidup. Suatu hari nanti, masa depan Keluarga Marina akan berada di tanganku.Kini aku tak lagi punya gangguan apa pun. Begitu tubuhku pulih sepenuhnya, aku akan resmi masuk ke lingkaran inti.Stephan adalah guru yang keras. Dia tak pernah mengizinkanku menunjukkan kelemahan. "Emosi adalah belenggu bagi yang lemah. Akal adalah senjata bagi yang kuat." Itu

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status