تسجيل الدخولGelanggang raksasa bergetar saat gemuruh para penonton bersorak sorai setelah Poseidon mengumumkan pemenang dari duel dua kelompok, yakni Kahyangan Utara melawan Kahyangan Selatan.Pada akhirnya, Kahyangan Utara memilih untuk menyerah setelah Hong Xuan tewas di tangan Raksa Geni secara mengejutkan. Putra Batara Geni dari Ratu Ambarwati yang dianggap sebagai anggota terlemah oleh para dewa ternyata memiliki kemampuan diluar dugaan semua yang menyaksikan pertarungan tersebut. Bahkan tak ada yang menyangka, Hong Xuan akan berakhir secara mengenaskan.Kini, keberadaan Raksa Geni sudah mencuri perhatian semua orang. Dia pun menjadi salah satu dewa yang akan di perhitungkan oleh kelompok lainnya. Tak akan ada yang berani meremehkannya.Kahyangan Utara harus mengalami kerugian yang tidak sedikit. Sun Wukong yang terluka parah ditambah kematian Hong Xuan yang tak terduga sama sekali.Setelah dua kelompok itu mundur dari arena, Poseidon segera memanggil kelompok yang membawa plat Giok dengan
Semua Dewa yang menyaksikan keadaan Raja Kera Iblis nampak tercengang. Begitu juga dengan para dewa pelindung yang tak percaya, Bara bisa membuat Sun Wukong terluka separah itu."Aku sendiri tidak yakin bisa mengalahkan Wukong dengan telak seperti itu karena Tubuh Dewa miliknya ini sangat keras. Tapi, bocah bernama Bara Sena ini, dia cukup mengejutkan diriku..." gumam Nezha."Kemampuan yang dia miliki memang tak terduga sama sekali. Kemenangannya di babak pertama sebenarnya adalah sebuah peringatan bahwa dialah Dewa yang terkuat di Turnamen Dewa saat ini," sahut Haechi."Sungguh beruntung Anoman memiliki petarung sehebat dirinya," ucap Nezha sambil melirik Anoman yang diam namun tersenyum. Dewi Hera pun hanya diam meski sebenarnya hati wanita itu merasa gelisah."Kemampuan Bara Sena, benar-benar diluar perkiraan semua orang termasuk diriku. Herakles dan yang lainnya bahkan bukan tandingannya di dalam Lubang Neraka. Apakah dia memang sekuat itu? Lalu, siapa yang bisa mengalahkan dirin
Dengan tongkat emas yang ada di tangannya, Sun Wukong menahan terjangan telapak tangan raksasa yang menurutnya sangat mirip dengan jurus Telapak Budha Penghancur Iblis. Satu jurus yang dahulu kala membuat dirinya tunduk dan akhirnya dikurung di dalam batu selama ratusan tahun.Meski waktu itu dia tidak mati, Sun Wukong masih teringat rasa sakit yang dia derita saat tubuhnya hancur oleh serangan tersebut. Dan kini, serangan yang serupa datang kepadanya mengingatkan kembali rasa takut di masa lalu. Dalam keadaan takut, dia berusaha mengerahkan segala yang dia miliki untuk bertahan."Hiaaaaaaaahhh!!!" teriaknya sambil mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menahan serangan dari Bara Sena. Tongkat emas miliknya mengayun dengan cepat menahan telapak raksasa.BLAAAAMMM!Telapak tangan raksasa itu tertahan oleh tongkat emas Sun Wukong. Tubuh Raja Kera Iblis itu terdorong beberapa langkah ke belakang. Namu dia masih bertahan mati-matian."Ughhh! Sangat berat!" batin Raja Kera Iblis tersebut.M
Di tengah arena pertarungan, Bara Sena dan Sun Wukong berdiri saling berhadapan. Mereka menatap satu sama lain. Dewa Cahaya tersenyum sedangkan Sun Wukong terlihat kesal."Cih, tak kusangka aku justru akan bertemu denganmu lagi. Ini berbeda dengan pertemuan pertama kali kita berdua...Kau sungguh makhluk di luar nalar, Bara Sena. Beberapa tahun yang lalu kau masih seorang manusia, dan sekarang kau sudah sama dengan diriku yang seorang dewa." kata Sun Wukong.Bara tersenyum kecil."Kenapa? Apa kau takut berhadapan denganku Wukong?" tanya Bara.Sun Wukong menyeringai mendengar hal itu. Dia paling tidak suka ada orang yang berbicara padanya dengan nada merendahkan."Takut? Perasaan seperti itu tak pernah sedikit pun tersirat di hatiku!" ucapnya kemudian melesat kearah Bara dengan cepat.Tinjunya yang menyala emas menghujam dengan kekuatan yang mampu menghancurkan gunung.Dum!Tinju Raja Kera Iblis itu menghantam perisai cahaya milik Bara Sena hingga terjadi Dentuman yang kuat. Sun Wukong
Bara Sena dan Pangeran Langit Tian Shan tampak bergerak dengan kecepatan yang sama, seolah-olah mereka menari dalam pertempuran yang menegangkan. Masing-masing melancarkan serangan dan pukulan dengan ketelitian tinggi, berusaha memaksimalkan setiap kesempatan yang ada. Berbeda sekali dengan pengalaman Bara sebelumnya saat berhadapan dengan Gong Yi dan Ning Yi di mana pertempuran terasa begitu mudah dan di bawah kendalinya. Kali ini, di hadapan calon Kaisar Muda Kahyangan Utara, Bara menghadapi perlawanan yang jauh lebih sengit, seolah bertemu lawan yang sebanding dengan dirinya. "Anak kaisar tentu berbeda," gumam Bara dalam hati, mencatat keunggulan yang nyata pada Tian Shan. "Dia mendapatkan perhatian khusus dan pelatihan dari ayahnya serta mendapatkan sumber daya yang seolah tak terbatas. Semua itu menjadikannya lawan yang sangat mematikan, sangat berbeda dibandingkan dengan dua lawanku sebelumnya," lanjut Bara dalam benaknya sambil lihai menghindari serangan kilat dari Tian Shan.
Tubuh Gong Yi sempat menempel pada penghalang raksasa Poseidon yang berdiri megah dan mendominasi pandangan semua orang di arena, sebelum akhirnya jatuh dengan keras ke lantai arena yang dingin dan keras. Dalam keberanian yang tersisa dalam dirinya, tangannya masih bergerak berusaha untuk bangkit dari posisi jatuhnya. Namun begitu, dia merasakan rasa sakit yang luar biasa di perutnya, seakan-akan bagian tubuh itu telah hancur berkeping-keping, membuat dirinya benar-benar tak berkutik dan lumpuh oleh rasa sakit yang menular sampai ke seluruh tubuhnya. Perasaan putus asa dan ketidakberdayaan menyelimuti dirinya, menyadari betapa sulitnya untuk bangkit kembali dari kondisinya yang parah tersebut.. Akhirnya dia memilih untuk menyerah karena dirinya tidak bisa bangkit untuk melanjutkan pertarungannya lagi. "Aku kalah hanya dengan satu pukulan saja... Apa-apaan orang ini..." batin Gong Yi. "Pemenang di pertarungan kedua babak satu lawan satu kembali di menangkan Bara Sena dari Kahyangan
Craassss!!!Kepala Ratih Kumala jatuh menggelinding diatas tanah setelah Pedang Guntur Saketi menebas nya dengan kuat. Aura petir masih tertinggal di luka bekas tebasan tersebut. Sesaat kemudian darah menyembur dari leher buntung Ratu Siluman Ular itu.Gandi menoleh ke belakang dan melihat tubuh Ra
Semua orang menatap marah ke arah Brama Geni dan Kamadewa. Bara dan dua anggota kelompoknya tak percaya, orang-orang tanpa kekuatan itu berniat menyerang Brama Geni dan Kamadewa yang jelas-jelas memiliki kekuatan."Apa semua manusia rusa ini sudah gila!? Menyerang tanpa pikir panjang siapa yang aka
Altar luas dan banyak pilar besar berdiri mengelilinginya menyambut kedatangan Bara Sena dan kelompoknya yang akhirnya berhasil masuk ke dalam Benteng Kerajaan Binatang Surgawi. Lagi-lagi mereka menggunakan penyamaran untuk bisa masuk kedalam Kerajaan tersebut.Karena semua penghuni Kerajaan itu me
Gandi Wiratama mengepalkan tinjunya dan menyalurkan kekuatan Batu Jiwa Naga ke dalam dua lengannya. Ditambah Seribu Sisik Naga dan Pedang Guntur Saketi, dia merasa percaya diri mampu mengalahkan Yao Ling yang saat itu berada dalam kekuasaan Ratih Kumala. bahkan hal mengejutkan terjadi pada tubuh Ya







