Share

Gelora Berbahaya Dokter Tampan
Gelora Berbahaya Dokter Tampan
Author: Alina Evalinge

Bab 1 Gagal Bercinta

last update Last Updated: 2025-12-16 23:21:34

"Uggh pelan, mas...”

Suara ringisan terlontar dari bibir merah wanita itu, terdengar menggema di kamar mewah dalam suasana temaram.

“Diamlah, aku baru saja mulai,” desis suaminya, kembali menghentakkan tubuhnya lebih keras di sela-sela erangan.

Sebagai seorang istri, Airin tahu jika ia tidak berhak menolak atau pun menghentikan suaminya saat ini. Namun, rasa sakit di bagian bawah sana tak bisa ditahan lagi.

Kedua jemari lentiknya reflek mendarat tepat di dada bidang Adrian, lalu perlahan mendorongnya.

“Ma–maafkan aku mas, aku ijin ke toilet dulu,” sesal Airin, lalu turun dari atas ranjang, dan terburu-buru ke kamar mandi.

Adrian mendengus kesal, raut wajahnya tampak muram, tangan besarnya meraih segelas air putih yang sudah tersedia di atas meja, lalu meneguknya penuh emosi.

Sementara Airin yang berada di kamar mandi, terlihat menahan sakit. Ia duduk di atas kloset yang tertutup dan meringis.

“Aakh, sakit sekali…,” keluh Airin sambil menggigit bibir, merasakan perih luar biasa di bagian intimnya.

Ini sudah berlangsung setengah tahun. Setiap kali bercinta dengan suaminya, ia merasakan sakit tak terkira.

Namun, Airin tidak ingin pernikahannya hancur karena masalah ini.

“Aku tidak boleh mengecewakan mas Adrian,” gumamnya. “Aku harus bisa menahannya.”

Setelah membulatkan tekad, Airin lalu meraih gagang pintu dan membukanya.

Wanita itu berjalan menuju ranjang yang kini terlihat sepi, tak ada tanda-tanda keberadaan Adrian.

Airin mengernyit bingung. “Mas Adrian?”

Beberapa kali Airin memanggil, tapi tidak ada jawaban. Ia lantas keluar dari kamar dan mencari suaminya ke ruangan lain.

Baru saja menuruni tangga, tak sengaja Airin berpapasan dengan sang ibu mertua.

“I–ibu, apa melihat mas Adrian?” Airin memberanikan diri bertanya meskipun rasa ragu menyelimuti hati.

Wanita setengah baya itu menatap nyalang penuh emosi. “Adrian sudah pergi! Kamu pasti membuatnya kecewa lagi kan?!” cecar Nyonya Rosa kesal. “Dasar istri tak berguna, memuaskan suamimu saja tak mampu apalagi memberikan keturunan!”

Airin mematung, lidahnya seolah kelu tak mampu membalas kata-kata. Karena ia tahu salah. “Bu, maafkan aku. Aku janji akan membahagiakan mas Adrian…,” katanya berusaha menenangkan.

“Cih, sudah berapa kali kau berkata seperti itu, tapi mana buktinya?! Hanya omong kosong saja! Lebih baik Adrian ganti istri saja jika kau begini terus!”

Kedua bola mata Airin berkaca-kaca mendengarnya, hatinya seperti ditusuk ribuan belati. Umpatan kasar ibu mertuanya sudah menjadi makanan sehari-hari dan biasanya ia telan sendiri. Namun, mengapa saat ini rasanya terlalu menyakitkan?

Tiba-tiba terdengar suara mesin mobil. Cemas, Airin meminta izin pada ibu mertuanya dan setengah berlari ke arah halaman rumah.

“Mas Adrian! Kamu mau ke mana mas?” panggil Airin, berusaha mengetuk jendela mobil Alphard hitam itu.

Adrian membuka kaca jendela sembari menatap tajam penuh amarah, “Minggir! Jangan halangi aku, dasar istri tak berguna!” hardik pria itu kesal.

Airin menghela nafas berat, ia berusaha membujuk agar Adrian tidak pergi. “Mas, kumohon maafkan aku. Bisakah kita bicara baik-baik?”

“Tidak perlu, aku sudah tidak berselera lagi!” decih Adrian, lalu kembali mengemudikan mobilnya, tidak peduli pada Airin yang tersentak hingga jatuh ke tanah.

Wanita itu duduk tak berdaya. Ia selalu saja tidak sengaja membuat suaminya marah karena kondisi kesehatan yang kurang bagus.

“Aku tidak bisa begini terus…,” gumamnya sedih.

Malam berganti pagi, Airin kini sudah berdandan cantik dan rapi.

Ia turun dari taksi setelah sampai di kantor suaminya. Mengingat Adrian tidak pulang semalaman, Airin semakin merasa bersalah lalu ingin menebus semuanya.

Airin sengaja mengambil inisiatif untuk mengantarkan makan siang, berharap permintaan maafnya membuat hati sang suami luluh kembali.

Beberapa karyawan melemparkan senyum tipis kepada dirinya yang sudah dikenal sebagai istri pemilik perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan itu.

Karena sudah cukup sering ke kantor, Airin tanpa ragu memasuki lift VIP yang sering digunakan oleh suaminya.

Tak lama, ia tiba di depan ruangan Adrian. Namun, orang kepercayaan suaminya berkata jika hari ini Adrian tidak menerima kunjungan dari siapapun.

Airin mendesah kecewa. Ia tahu Adrian masih marah. Airin pun menitipkan kotak makanan, lalu pergi tanpa bertemu dengan sang suami lebih dulu.

Baru ia berjalan keluar pintu utama, terlihat satu pesan masuk dari ibu tirinya, membuat keningnya berkerut heran.

“Pulang ke rumah! Ada hal penting ingin ibu bicarakan.”

Mengingat kondisi sang ayah beberapa bulan lalu kurang sehat, membuat Airin segera bergegas menghentikan taksi dan pergi ke rumah lamanya.

Tidak berselang lama, ia tiba dan ibu tirinya menyambutnya dengan ekspresi muram.

“Cepat masuk!” ujar wanita paruh baya itu dengan suara tinggi, seolah tak ingin dibantah.

Airin hanya mengangguk patuh, langkah kakinya mulai menginjak ruangan utama. Terlihat ayahnya masih terduduk di kursi roda.

“Ayah! Lama tidak bertemu, apakah ayah baik-baik saja?” Airin tersenyum bahagia, ia tak lupa memberikan kue yang sengaja dia beli dulu tadi.

Tapi tiba-tiba saja ibu tirinya mendekat dan menepis kue itu. “Ayahmu tidak butuh makanan seperti itu, Airin!”

Suara wanita itu menggema di sana, membuat Airin terhenyak kaget dan tak habis pikir bagaimana bisa ibunya berbicara seperti itu. “Apa maksud ibu?”

Wanita setengah baya itu menyeringai sinis. “Pagi ini ibu mertuamu menelpon jika kamu membuat Adrian marah lagi, dasar anak tak bisa diandalkan!” cacinya.

Belum sempat Airin merespon, sebuah tamparan keras lebih dulu mendarat tepat di wajahnya, membuat tubuhnya limbung ke sofa.

Airin terkejut, menatap nanar ibu tirinya seraya memegang pipinya yang terasa panas dan memerah.

“Kenapa ibu menamparku?”

“Masih bertanya?” balas wanita itu sengit. “Sudah berapa kali aku bilang jangan membuat Adrian dan Nyonya Rosa marah, apa kamu bodoh?!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sherly Monicamey
punya mertua toxic itu benar² menyebalkan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 18 Ciuman Panas Sang Mantan Part 2

    Airin sangat dilema, tapi karena sudah terlanjur hadir membuatnya terpaksa melanjutkan challenge itu, toh dalam pemikirannya mungkin hanya sekedar dansa biasa. "Kalian semua apa sudah siap?" Tanya sang MC, kembali memandu setelah semua orang mendapatkan pasangan masing-masing dalam permainan itu. Beberapa dari mereka pun menyahut antusias dan berkata siap, namun tidak dengan Airin masih terlihat bimbang. Tasya dan teman-temannya ikut cemas juga, karena sudah tahu Airin pasti tidak nyaman dengan itu. "Gimana dengan Airin, kenapa malah bersama tuan Radit lagi ya?" Bisik Monica. "Entahlah, aku juga merasa khawatir takutnya nanti ada yang menyalah pahami." Timpal Tasya, seraya menatap ke arah Airin yang berada cukup jauh darinya. Senyum miring terpancar di wajah Radit, sungguh ini kali pertama dia menatap mantan kekasihnya yang sudah lama tak jumpa begitu dekat. "Kenapa kau tegang seperti itu Airin? Keberatan?" Bisik Raditya, tepat di daun telinga wanita yang ada di depannya saat i

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 17 Ciuman Panas Sang Mantan Part 1

    Andre tanpa ragu menegaskan jika permainan tanya jawab untuk Airin itu sudah selesai. Tentu saja awalnya orang-orang di sana sempat protes karena merasa tidak puas dengan jawaban Airin. Sebagai seorang teman tentu saja Monica merasa sangat bersalah, karena pertanyaan malah menjadi sebuah kegaduhan. "Astaga sya, aku merasa bersalah sama Airin karena bertanya seperti itu," sesal Monica berbisik. "Aku ga bisa komentar lagi Monic." Balas Tasya sedikit kecewa. Melihat raut wajah tampan Raditya yang terlihat muram, dia juga menantang semua orang di sana yang ingin tidak patuh dalam aturan permainan itu boleh pergi dari sana. Sontak tidak ada satu orang pun yang berani menentang seorang Radit, karena dulu saat kuliah lelaki itu cukup populer dan punya pengaruh besar akan kharismanya yang membuat semua orang seolah tidak bisa membantahnya. "Okey, tidak ada yang protes lagi ya. Sekarang adalah acara paling special dari reuni ini, yaitu berdansa dan harus berciu-man dengan pasangan yang a

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 16 Apa Dia Masih Peduli?

    "Bagaimana Airin, kamu sudah siap menjawab pertanyaan dari kami?" Andre memastikan terlebih dahulu. Seketika Airin terkesiap, perasaannya cukup gelisah tapi dia tidak mau terlihat takut terlihat lagi jika sampai di cemooh para temannya. Raditya memancarkan senyum smrik sembari menghisap filter rokoknya, dia tidak yakin wanita yang berdiri tak jauh darinya itu mau mengikuti permainan itu. "Airin bagaimana siap tidak?" Andre memastikan untuk yang kedua kalinya. Airin menarik nafas dalam-dalam lalu perlahan mengeluarkannya pelan dan mengangkat wajahnya. "Oke, aku siap." Jawab Airin tegas. Semua orang menatap ke arahnya, dan Andre pun tanpa membuang waktu lagi mempersilahkan Airin duduk dengan tenang agar bisa menyiapkan jawaban yang harus dia berikan.Airin pun hanya bisa patuh, ia dan keempat temannya duduk bersama begitu juga yang lain. Berharap tidak ada pertanyaan yang sulit untuknya. "Gaes! Kalian siap memberikan satu pertanyaan pada Airin?" Seru Andre menggema di sana. "Siap

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 15 Permainan Panas

    Suara music mengalun menusuk gendang telinga, di iringi cahaya lampu disco terlihat kerlap-kerlip. Suasana dalam acara reuni itu semakin seru bahkan mereka pun ikut menari tidak terkecuali dengan Airin. Airin di buat bingung oleh Raditya, gimana bisa meminta barang miliknya malah di suruh pergi menemuinya besok. "Hay Rin, kenapa bengong ayo ikut gabung, jangan bilang karena ada Raditya kamu canggung seperti itu?" Seloroh Monica. Wajah Airin memerah, sampai dia terlihat begitu salah tingkah namun sebisa mungkin menepis pemikiran sahabat-sahabatnya."Ti-tidak juga, kalian terlalu banyak berpikir." Tegas Airin. Lalu tanpa sungkan ikut merayakan party, sejenak melupakan rasa takut akan semua rahasianya yang saat ini sudah Raditya ketahui. Tanpa Airin sadari, Raditya diam-diam menatapnya dari jauh. Lelaki itu terlihat masih sangat kesal ketika mengingat perkataan tadi. Terlihat begitu mencintai suaminya sampai marah padanya, dan begitu yakin jika jam tangan itu adalah milik nya. "CK

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 14 Cemburu

    Airin mengerjapkan kedua mata seraya mengigit bibir atasnya, lalu perlahan mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Raditya lalu menjawab. "Tentu saja aku akan menghadiri acara ini sampai selesai," ucapnya dengan kedua tangan terkepal, meskipun dalam hati sedikit meragu. "Bagus!" Raditya menyeringai penuh kemenangan. Tatapan mereka berdua saling bertemu, di selimuti rasa canggung. Airin tidak punya pilihan lain selain masih tetap tinggal karena masih penasaran dengan jam tangan itu. Kenapa bisa ada pada Raditya?Semua orang di sana seolah ikut larut dalam situasi mereka berdua, yang dulunya di kenal sebagai pasangan couple favorit namun sekarang yang ada menjadi dua orang asing terhalang oleh batasan status yang tidak bisa di pungkiri. "Karena acara sudah di mulai, sebelum kita memasuki sebuah challenge seru, semuanya Alumni Swiss German University mari kita semua ambil segelas anggur merah lalu bersulang bersama." Suara seorang MC menggema memecahkan keheningan. Mereka terlihat b

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 13 Mantan Best Couple

    “Wanita mana pun yang menyukai mas Raditya sudah bukan lagi urusan ku." Airin menepis rasa penasaran akan perasaan Carol, lalu berusaha bangun dan kembali menemui para temannya. Bahkan ia menegaskan pada diri sendiri niat menghadiri reuni ini, untuk mencari info kali ada teman lain berprofesi Dokter atau punya kenalan lebih bagus dari Raditya. Suara riuh terdengar menggema di ruangan besar Cafe bernuansa romantis itu, langkah Airin sempat terhenti saat tak sengaja melihat Raditya yang tengah duduk di sebrang sana tampak di kerumuni pada wanita-wanita di sana. Tasya dan ke tiga teman lainnya memanggil Airin yang baru saja kembali. "Rin, kamu kenapa lama sekali di dalam apa tidak apa-apa?"Perhatian Airin pun seketika teralihkan pada suara Tasya, perlahan berbalik dan menyahut. "A-aku tidak apa Sya, tadi di toiletnya hanya sempat antri saja," Jawab Airin terpaksa berbohong. "Syukurlah tadi aku sangat cemas dan mau menyusul mu, ayo kita ikutan challenge bersama teman lainnya." Ajak M

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status