Home / Romansa / Gelora Berbahaya Dokter Tampan / Bab 26 Kecemasan Dokter Raditya

Share

Bab 26 Kecemasan Dokter Raditya

last update Last Updated: 2026-01-09 13:06:12

"Apa! Kamu ingin mencari Dokter baru lagi? Kenapa Rin. Padahal Dokter di rumah sakit Pramedika itu semua terbaik dan banyak pasien yang sembuh juga." Pekik Tasya sedikit terheran. Setelah mendengar Airin agar di bantu mencari kenalan Dokter lain.

Airin sempat terdiam sejenak, karena awalnya sedikit sulit menjawab, tapi ia berusaha mencari alasan yang tepat.

"Sya, aku tahu Dokter di sana cukup handal, tapi masalahnya yang nangani aku itu seorang Dokter pria, mas Adrian pasti tidak senang kalau tahu." Keluh Airin.

Tasya berpikir sejenak, dan mulai mengerti maksud dan kekhawatiran sahabat sekaligus bosnya itu. Dan dia akan berusaha membantu Airin mencari seorang kenal Dokter lain lagi.

Airin merasa senang, dia sangat berterima kasih pada Tasya, meskipun awalnya sempat di desak agar berterus terang tentang identitas Dokter konsultasinya saat ini. Sss

Suara panggilan kembali terdengar di ponsel Airin, terlihat id penghubung adalah ibu mertuanya membuat Airin tidak ingin membuang waktu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 27 Apa Maksudnya?

    "Bu, ini makanannya semoga suka." Airin menyiapkan beberapa menu yang telah di masak di meja makan. Nyonya Rosa yang sudah berpenampilan Hedon pun mulai duduk lalu menatap satu persatu dengan raut wajah yang sombong dan arogan. Lalu sedikit demi sedikit mulai mencicipinya. "Gimana rasanya ibu suka tidak?" Tanya Airin memastikan. Seraya mengulum senyum ramah. Bukannya mendapat respon baik, malah ibu mertuanya semakin mencibir dirinya. "Masakan mu tidak pernah istimewa, jangan mengalihkan pembicaraan, katakan gimana pengobatan mu berhasilkan?" Cecar Nyonya Rosa. Airin tersentak, wajahnya memucat bahkan bibirnya seolah terkunci ketika mendapatkan satu pertanyaan yang sulit di jawab. "Kenapa malah diam, jangan bilang pengobatan mu gagal lagi?" Sindir Rosa tersenyum sinis. "Tidak ko Bu, sekarang ada sudah cukup pilih ko," Tukas Airin, tidak mau jika sampai ibu mertuanya lebih membuat hubungannya dengan sang suami semakin buruk. Nyonya Rosa meminta Airin agar memegang kata-katanya, j

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 26 Kecemasan Dokter Raditya

    "Apa! Kamu ingin mencari Dokter baru lagi? Kenapa Rin. Padahal Dokter di rumah sakit Pramedika itu semua terbaik dan banyak pasien yang sembuh juga." Pekik Tasya sedikit terheran. Setelah mendengar Airin agar di bantu mencari kenalan Dokter lain. Airin sempat terdiam sejenak, karena awalnya sedikit sulit menjawab, tapi ia berusaha mencari alasan yang tepat. "Sya, aku tahu Dokter di sana cukup handal, tapi masalahnya yang nangani aku itu seorang Dokter pria, mas Adrian pasti tidak senang kalau tahu." Keluh Airin. Tasya berpikir sejenak, dan mulai mengerti maksud dan kekhawatiran sahabat sekaligus bosnya itu. Dan dia akan berusaha membantu Airin mencari seorang kenal Dokter lain lagi. Airin merasa senang, dia sangat berterima kasih pada Tasya, meskipun awalnya sempat di desak agar berterus terang tentang identitas Dokter konsultasinya saat ini. SssSuara panggilan kembali terdengar di ponsel Airin, terlihat id penghubung adalah ibu mertuanya membuat Airin tidak ingin membuang waktu

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 25 Harapan Airin

    Satu hari kemudian, Airin menghela nafas lega setelah ia selesai membantu sang ayah makan dan meminumkan obat. Mengingat besok Adrian akan pulang, dia memutuskan meminta ijin pada ibu tirinya untuk pulang ke rumah lebih dulu. "Bu, aku titip ayah dulu. Besok mas Adrian akan pulang jadi aku harus menyiapkan beberapa hal di rumah," Kata Airin menghampiri. Inge yang dari tadi sibuk pada layar ponselnya pun perlahan menutupnya, lalu beranjak dari tempat duduk. "Ingat Airin, kamu harus membuat Adrian senang, dan jangan lupa permintaan ibu kemarin, jika kamu masih ingin ayah mu sehat lagi," Bisiknya mewanti-wanti. Tak ingin banyak berdebat lagi, Airin mengangguk patuh dan ia berkata semuanya akan di usahakan. Inge menyeringai, ia cukup puas dengan jawaban putri tirinya. Tak lupa juga bertanya bagaimana tentang pengobatannya juga. Melihat ekspresi wajah Airin hanya diam membuat Inge tersulut emosi. "Airin! Kamu dengar pertanyaan ku? Jangan bilang nanti kalau Adrian pulang protes lagi pa

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 24 Pengusaha Curang

    "Dua hari lagi, aku akan pulang. Ingat Janji mu Airin." Satu pesan dari Adrian membuat Airin terkejut, karena baru ingat ia punya dua janji yang harus di tepati. "Mas Adrian!" Tangan Airin terlihat gemetar saat membalas chat sang suami. Yang bernada sedikit menekan. "I-iya mas, aku senang kamu cepat pulang sudah tak sabar nih," Balas Airin lembut. Pak Hadi pun mulai sadar, lalu perlahan jarinya meraih kepala putri semata wayangnya. "Airin.." Panggil pria itu terdengar lemah. Airin baru tersontak, ia mengulum senyum tipis saat ayah tersayang sudah mulai sadar. "Ayah, ayah akhirnya bangun gimana sekarang apa keadaan ayah sudah mendingan?" Pak Hadi mengagguk pelan, ia berusaha menyahut. Tapi Airin tidak ingin sang ayah banyak bergerak agar tidak mempengaruhi kesehatan lagi. Pria paruh baya itu sekuat tenaga, berusaha melontar satu pertanyaan karena merasa cemas. "Hu-hubungan mu dengan Adrian baik-baik saja kan?" Airin tertegun, dari dulu tidak pernah menyangka jika nalu

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 23 Tidak Ada Pilihan Lagi

    "Astaga! Kemana dia kenapa tidak mengangkat telepon ku?" Inge menggerutu kesal, saat nomor ponsel Airin begitu sulit untuk di hubungi. Pak Hadi yang masih terbaring di atas brankar pun menoleh dengan kening yang berkerut rapat. "Bu, mungkin Airin sibuk biarkan saja." Ucapnya mengingatkan. Inge mendelik, dan tentu saja dia sangat kesal dengan kata-kata sang suami karena bagaimana pun juga menurutnya saat ini panggilan dan chatnya sangat penting. Bahkan tak segan membentak agar pak Hadi tidak usah banyak bicara. Lelaki paruh baya itu termenung, rasanya ia sangat tidak tega jika setiap kali Airin selalu di libatkan dalam rumah tangganya dengan sang istri. Tak ingin menyerah, Inge pun berinisiatif menghubungi nomor rumah besannya dan sama sekali tidak ada jawaban. "Hah, sial. Orang-orang rumah itu pada ke mana sih!" Geram Inge. Tak ingin terganggu dengan ocehan sang suami, Inge akhirnya memutuskan keluar ruangan agar lebih leluasa lagi menghubungi Airin. Sementara Airin yang baru

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 22 Satu Syarat

    Suara lembut Airin membuyarkan Raditya, perlahan lelaki itu memutar badan. "Nona Airin, tidak di sangka ternyata anda datang ke sini juga."Airin menelan saliva, tubuhnya gemetar sampai kedua tangannya meremas ujung dress, lalu berusaha mengangkat wajah menatap Radit. "Iya, bisakah anda menepati janji akan mengembalikan jam itu?" Pinta Airin tanpa ragu, menatap penuh harap. Raditya menyeringai, dia berjalan mendekati Airin yang berdiri di depannya. Baru kali ini dia melihat seorang wanita begitu effort memohon demi jam tangan untuk suaminya. "Bagaimana kondisi kesehatan mu nona Airin? Kalau benar jam ini milik mu aku bisa kembalikan, tapi tentu saja ada saru syarat." Bisiknya menatap penuh arti, sembari mendengus harum tubuh Airin yang tak pernah berubah dari dulu. Kening Airin berkerut rapat, tubuhnya reflek menjaga jarak. Ia tidak mengerti apa yang di katakan oleh Raditya saat ini. "Maksud anda apa Dokter? Itu jam tangan saya hak saya kenapa harus ada syarat, dan tolong jangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status