Share

Bab 51 Orang Spesial

Penulis: Alina Evalinge
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-29 23:53:10

Tepat jam sepuluh malam, Airin dan Adrian akhirnya sampai di rumah, kedatangan mereka di sambut hangat oleh ibunya yang dari tadi menunggu.

"Adrian! Kamu sudah pulang nak? Gimana apa berhasil menjalin kerja sama dengan tuan Tama?" Cecar Nyonya Rosa sangat penasaran.

Adrian hanya menghela nafas kasar, dan memperlihatkan raut wajahnya yang tampak muram dan kesal.

Sontak wanita setengah baya itu menyergitkan dahinya penuh keheranan. "Adrian! Kenapa ibu merasa kamu terlihat tidak senang?"

Adrian
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuhan Terlarang Dokter Tampan    Bab 61 Harapan Airin

    Satu minggu kemudian, Airin terlihat begitu antusias saat mendengar desain namanya di panggil oleh manager penyelenggara acara itu. Tak ingin membuang waktu, kini dia pun segera menghampiri salah satu panitia penyelenggara acara itu. "Nyonya Airin kah?" Pria itu memastikan lebih dulu. Sebelum memberikan selembar brosur dan beberapa pemahaman. "Iya benar saya Airin." Sahut Airin menganggukkan kepala pelan. Pria itu pun memberikan berkas penerima Airin untuk ikut kompetisi yang ke depannya akan di laksanakan, bahkan di beri arahan agar desainnya nanti bisa di lirik dan lebih di perhatikan oleh juri internasional. Dengan begitu sigap Airin pun mencerna beberapa peraturan dalam kelas desain itu. "Terima kasih tuan, saya akan berusaha semaksimal mungkin," Ucap Airin terlihat begitu bersemangat. "Tidak usah sungkan Nona, mulai besok perhatikan saja sosmed resmi kami di sana ada kelas desain yang harus anda ikuti," Jelas pria itu mengingatkan. Airin paham, setelah selesai menerima bro

  • Sentuhan Terlarang Dokter Tampan    Bab 60 Merindukan Belaian Mu

    Airin tercengang, tatapannya berkaca-kaca kedua alisnya pun yang berkerut rapat. Sungguh perasaannya sangat kecewa dan sedih saat suaminya begitu perhitungan."Apa kau tuli Airin?" Bentak Adrian semakin meninggi. Airin terkesiap, meski berat sebisa kuat tenaga mengangkat kepala dan mengulum senyum tipis. "I-iya mas, aku akan mengganti semua uang bekas berobat aku," sahut Airin dengan nada lirih. "Bagus! dan itu harus memang harus," Adrian menegaskan lagi, sembari meminum secangkir kopi hangat dan beberapa camilan juga, lalu karena merasa lelah lebih dulu merebahkan diri di atas ranjang mewah berukuran king size itu. Airin masih mematung, berusaha fokus kembali menyelesaikan gambar desainnya yang masih belum selesai. Karena hanya itu satu-satunya harapan untuk membantu sang ayah, mengingat suaminya sudah enggan peduli lagi. "Aku pasti bisa," Airin menghela nafas berat, dan berusaha menyemangati diri sendiri. Terlebih lagi ada misi penting yang harus dia dapatkan. Waktu berjalan de

  • Sentuhan Terlarang Dokter Tampan    Bab 59 Diremehkan

    Siang berlalu dengan cepat, matahari pun terlihat sudah condong ke arah barat. Raditya sedang duduk santai di kamar hotel tempatnya menginap. Beberapa pesan masuk dari sahabat, dan juga suster pendampingnya mengabarkan jika tadi ada pasiennya bernama Airin datang mencarinya. Seketika ekspresi wajah Radit berubah menjadi serius, mengingat perdebatan mereka berdua beberapa waktu lalu. "Airin! Kamu akhirnya datang sendiri mencari ku," gumam Radit tersenyum getir. Jauh dalam lubuk hatinya, Radit sama sekali tidak ikhlas saat melihat mantan pacarnya itu menikahi pria lain. Padahal mereka dulu saling mencintai tapi tidak ada hujan atau angin tiba-tiba dia pergi begitu saja. Dimas penasaran sampai dia sengaja video call, karena sebagai sahabat Radit sangat paham dengan sikap rekannya sampai terpaksa mengangkat panggilan saat s aaa es"Ada apa?" Radit memulai topik pembicaraan. "CK, sepertinya Dokter Adrian terlihat sangat lelah, gimana penelitiannya apakah sukses?" Sahut Dimas, suarany

  • Sentuhan Terlarang Dokter Tampan    Bab 58 Tidak Ada Artinya

    "Tuan, ada Nyonya ingin menemui anda," Ujar asisten Adrian yang bernama Doni. Adrian pun mulai merapikan diri, setelah Susan sudah keluar dari ruangannya tadi. "Suruh dia masuk saja," Titahnya dengan nada ketus. Sebagai sang asisten pria itu hanya bisa mengangguk patuh, lalu segera undur diri saat akan melaksanakan perintah bosnya. Melihat pintu ruangan kebesaran suaminya terbuka, dan asistennya keluar Airin segera beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri. "Gimana mas Adrian ada kan?" tanya Airin begitu antusias. "Silahkan nyonya boleh masuk, tuan ada di dalam." Doni mempersilahkan sembari membukakan pintu. Airin terlihat begitu semangat dan tak sabaran, segera memasuki ruangan Adrian seraya membawa kotak makanan. "Mas Adrian!" Panggil Airin, suaranya terdengar sangat manja. Senyuman manis pun terlukis di wajahnya tanpa sungkan menyimpan kotak makanan lalu melingkarkan kedua tangannya di rahang kokoh suami yang sangat dia cintai. Suasana di sana terasa begitu

  • Sentuhan Terlarang Dokter Tampan    Bab 57 Sengaja Membuat Kejutan

    Sesampainya di rumah sakit, Airin seperti biasa ke bagian resepsionis terlebih dahulu untuk meminta jadwal ke ruangan Dokter Raditya. Namun salah satu dari wanita berseragam putih itu pun menjawab, jika saat ini Dokter Raditya sedang tidak ada di ruangannya, namun ada penawaran juga dengan Dokter pengganti sementara yaitu Dokter Dimas. Airin terdiam, tidak mungkin dia harus berkonsultasi lagi dengan Dokter baru mengingat sakit yang dia alami saat ini cukup privat juga."Gimana, apa Nona mau coba Konsul dengan Dokter Dimas?" Tanya sang suster memastikan lebih dulu. Airin reflek menatap lalu menggelengkan kepala, ia dengan tegas menolak dan lebih memilih bertanya kapan Dokter Raditya kembali. Sang suster pun mengatakan jika dinas Dokter Raditya keluar negeri tidak bisa di prediksi. Hal itu membuat Airin cemas sampai wajahnya pun memucat kenapa bisa tiba-tiba Raditya susah untuk di temui padahal kemarin mereka bertemu di pesta itu. "Tidak usah suster, nanti saja kalau Dokter Radity

  • Sentuhan Terlarang Dokter Tampan    Bab 56 Apa Dia Masih Marah?

    Sudah hampir jam dua belas malam, Airin sudah berpenampilan cantik dengan balutan kimononya. Wajahnya terlihat gelisah dan kecewa karena tidak ada tanda-tanda kehadiran Adrian yang dia tunggu. "Mas Adrian kenapa masih belum pulang juga ya?" Airin mendesah kecewa, ia kembali lagi mencoba mengirim pesan bahkan beberapa kali berusaha menelpon namun nihil tidak ada jawaban yang di dapat. Rasa cemas, sedih dan sedikit kesal bercampur aduk dalam benak Airin, tapi ia berusaha berpikiran positif jika suaminya mungkin masih sibuk dalam pekerjaannya. Rasa kantuk pun mulai menghampiri, Airin terlihat menguap meskipun berusaha membuka kedua pelupuk matanya hingga perlahan mulai tertidur dengan sangat lelap. Malam berganti matahari pun mulai terbit, cahayanya mulai masuk ke dalam celah-celah jendela. Suara langkah kaki terdengar jelas memantul di lantai marmer itu. Kedua bola mata Nyonya Rosa membeliak, saat melihat Airin masih tertidur pulas di meja makan. "Astaga! Airin, bangun..." Teriak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status