Beranda / Romansa / Gelora Berbahaya sang CEO / Bab 5 Cinta yang Ternoda

Share

Bab 5 Cinta yang Ternoda

Penulis: Rein Azahra
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-27 09:48:06

“Cantik banget, Mbak Lilyan,” puji penjahit butik dengan senyum ramah saat sore itu LilyN mencoba memakai gaun pengantin yang pesan beberapa bulan lalu.

Lilyan menatap pantulan dirinya di cermin besar di depannya. Gaun itu memang indah, lembut, berkilau, dan sempurna untuk seorang pengantin. Tapi di balik kilau kain satin dan renda putih itu, hatinya terasa hancur.

Kini ia tak bisa lagi memberikan kesuciannya pada Vano seperti yang ia janjikan dulu pada pria itu. Kesuciannya telah direnggut oleh Rega, saudara angkat Vano sendiri.

Di belakangnya, suara langkah kaki mendekat. Vano melingkarkan tangannya pada perut rata calon istrinya itu.

"Kau akan jadi pengantin wanita paling cantik, Ly. Aku sudah tidak sabar lagi menunggu hari bahagia kita tiba. Kau akan jadi milikku seutuhnya." Vano mempererat pelukannya. Tak peduli pada sang pramuniaga yang masih berdiri tak jauh dari sana.

Lilyan menegakkan bahunya sedikit, mencoba tersenyum melalui bayangan wajahnya di cermin.

"Gaun ini memang cantik, gaun yang sudah lama aku impikan," Lilyan tersenyum getir mencoba menenangkan gemuruh di jantungnya.

"Tapi kenapa kau malah kelihatan sedih. Wajahmu murung Ly, apa kamu tidak bahagia dengan pernikahan kita?" Vano mengernyit, tatapannya tertuju pada refleksi cermin di hadapannya.

Lilyan mengerjapkan matanya. Ia angkat sudut bibirnya ke atas membentuk lengkungan tipis yang setengah dipaksakan.

"Aku... aku hanya lelah, Mas. Akhir-akhir ini pekerjaanku padat sekali." Lilyan memberi alasan.

"Yakin hanya karena lelah?" Mata Vano menyipit tak percaya.

"Yakin Mas." Lilyan hanya menunduk, menatap jemarinya yang gemetar halus. Ada rasa bersalah yang menyesakkan di dadanya. Tatapan Vano begitu tulus, terlalu murni untuk seseorang sepertinya yang telah ternoda oleh kesalahan yang bahkan belum sanggup ia ceritakan.

Ia mencoba menarik napas panjang, lalu memutar sedikit tubuhnya agar tidak bertemu pandang dengan Vano.

"Pernikahan kita tinggal hitungan bulan. Jangan sampai kau sakit karena kelelahan. Kalau perlu aku akan bilang pada Rega agar tidak terlalu sering membuatmu lembur."

"Jangan..." potong Lilyan cepat.

"Kenapa?"

"Tidak perlu Mas. Aku bisa mengatasinya sendiri." Lilyan menggeleng cepat.

Vano mengerutkan dahi. “Baiklah kalau begitu, aku cuma minta kau jaga kesehatan sampai hari pernikahan kita."

Lilyan hanya mengangguk. Hatinya mencelos sakit.

Andai Vano tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu, apakah ia masih bisa menerima dirinya seperti ini?

Lilyan menggigit bibir bawahnya. Di dalam cermin, ia melihat pantulan matanya sendiri yang kosong, sedikit berembun menyimpan kesedihan yang sekuat tenaga ia sembunyikan.

Vano memperhatikan perubahan ekspresinya. “Sayang?” panggilnya pelan. “Kau yakin tidak ada yang kau sembunyikan dariku?”

Pertanyaan itu seperti duri yang menancap langsung ke dadanya. Lilyan buru-buru menggeleng.

“Nggak, ada Mas. Aku hanya lelah saja.” Ia tersenyum memaksa, mencoba menutupi getar suaranya.

Vano tak bisa lagi memaksa Lilyan untuk jujur meski ia sedikit curiga pada Lilyan yabg tampak berbeda dari sebelumnya. Biasanya Lilyan akan selalu bersemangat mengurusi persiapan pernikahannya ini. Tapi sekarang gadis itu justru tampak tidak terlalu antusias.

"Habis ini kita makan malam ya, sayang," ajak Vano selepas Lilyan mencoba gaun terakhirnya.

"Ya, boleh," sahut Lilyan. Dia masuk ke dalam ruang ganti untuk melepas gaun pengantinnya dan berganti dengan baju kerjanya.

Lilyan menghela napasnya. Pantulan dirinya di cermin memang tampak menyedihkan. Pantas jika Vano curiga.

"Ayo bangkit Lilyan, kau pasti bisa melewati semua ini. Vano pasti akan mengerti walaupun aku sudah tidak suci lagi." Kedua tangan Lilyan terkepal kuat di samping tubuh. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya keluar dari kamar ganti.

Di luar Vano sudah menunggunya. Ia langsung tersenyum saat melihat wajah Lilyan yang begitu cantik.

"Ayo kita pergi. Aku tahu restoran romantis yang harus kita datangi malam ini." Vano terlihat bersemangat. Ia langsung menggandeng lengan Lilyan keluar dari butik ternama itu.

Lilyan menurut meski otaknya kosong. Vano membuka pintu mobilnya dan mempersilakan Lilyan untuk masuk ke dalamnya. Setelah itu, Vano masuk lewat pintu lainnya dan bersiap membawa Lilyan pergi ke restoran yang ia maksud.

Suasana di dalam kabin mobil terasa hening. Hanya ada suara musik lembut mengalun merdu. Sesekali Vano menoleh ke arah Lilyan yang masih membisu. Dia tidak tahu apa yang tengah dipikirkan wanita itu.

Suara dering ponsel terdengar. Bukan ponsel Vano, tapi ponsel milik Lilyan. Gadis itu mengambil benda pipih itu dari dalam tasnya.

Matanya sedikit membelalak saat tahu kalau ada pesan masuk dari Rega. Dengan tergesa ia membuka pesan tersebut dan di detik berikutnya tubuh Lilyan terasa lemas seketika.

Pesan itu berisi foto saat Lilyan dan Rega sedang berhubungan badan dengan pose yang begitu intim. Membuat Lilyan menahan napasnya karena malu.

Ting!

Satu pesan kembali muncul. Kali ini berisi beberapa kalimat yang membuat Lilyan geram.

"Temui aku sekarang juga. Kalau tidak maka foto ini akan sampai di galeri ponsel Vano."

"Ada apa?" tanya Vano yang heran dengan perubahan ekspresi Lilyan.

Lilyan kaget dan terperangah. Ia segera memasang senyum palsunya.

"Mas, sepertinya kita harus pulang. Ibuku menyuruh aku pulang sekarang juga." Lilyan berpikir keras agar Vano percaya.

"Ada masalah?" tanya Vano penasaran.

"Aku juga tidak tahu. Ibu hanya bilang kalau aku harus secepatnya pulang. Aku mohon Mas. Makan malamnya jangan sekarang ya." Lilyan menatap dengan perasaan bersalah.

Vano menghela napasnya. Sejujurnya ia kecewa. Tapi sepertinya ada masalah serius yang sedang Lilyan alami saat ini.

"Baiklah aku antar kamu pulang sekarang." Vano membanting setirnya kembali ke arah rumah Lilyan.

Tak lama mereka pun tiba di depan rumah sederhana milik keluarga Lilyan. Dengan tergesa-gesa Lilyan keluar dari dalam mobil.

"Terima kasih dan maaf karena telah mengecewakan." Lilyan menunduk penuh rasa bersalah.

"Tidak apa-apa Ly, makan malam bisa kita lakukan besok. Aku pulang dulu ya." Vano melambaikan tangannya dan menginjak pedal gas mobilnya.

Lilyan membalas lambaian tangan itu dengan senyuman tipis. Dia masih berdiri kaku di tepi jalan. Pintu rumahnya masih tertutup rapat. Pertanda ibunya belum tahu kalau ia sudah pulang.

Sebuah taksi lewat di depannya. Dengan cepat dia menghentikannya lalu masuk dengan ke dalam.

"Tolong antar saya ke gedung Angkasa Mining, Pak. Cepat!" pintanya dengan tergesa.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 76

    Vano berdiri di balik meja kerjanya yang luas, menatap pantulan dirinya di dinding kaca ruang direksi. Jas mahal itu terasa pas di tubuhnya, seolah kursi direktur utama memang sudah lama menunggunya. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya—senyum kemenangan yang selama ini ia impikan. Rapat dewan direksi baru saja usai. Tak satu pun dari mereka membantah keputusannya. Bahkan beberapa anggota dewan yang dulu terang-terangan mendukung Rega kini mulai condong padanya. Vano tahu, kepercayaan itu belum sepenuhnya tulus, tapi cukup untuk membuatnya berkuasa. “Keputusan yang berani, Pak Vano,” ujar salah satu direktur senior sebelum meninggalkan ruangan. “Perusahaan butuh pemimpin yang fokus, bukan yang sibuk dengan urusan pribadi.” Vano hanya mengangguk tenang, meski di dalam dadanya ada kepuasan yang membuncah. Nama Rega tak lagi disebut dengan hormat—melainkan sebagai contoh kegagalan. Dan itu membuatnya semakin percaya diri. Begitu pintu ruang rapat tertutup, Vano melonggarkan das

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 75

    Apartemen itu masih sama, megah dan dingin, tetapi bagi Lilyan rasanya begitu asing. Begitu pintu terbuka, langkahnya terhenti sejenak. Kenangan lama menyeruak. Dimana ia pernah menghabiskan waktunya bersama Rega di apartemen mewah itu. Dan kali ini dia kembali menjejakkan lagi kakinya di sana. Sebagai kekasih resmi Rega. "Masuklah dan tinggallah di sini, jangan pergi lagi." Rega membawa Lilyan masuk ke dalam. “Pelan,” ucap Rega lirih. “Dokter bilang kamu belum boleh banyak bergerak.” Lilyan mengangguk, meski sebenarnya ia ingin berkata bahwa ia baik-baik saja. Tapi kali ini ia tak boleh egois, mungkin ia kuat tapi bayi dalam kandungannya belum tentu. Bu Laras ikut masuk di belakang mereka. Matanya menyapu apartemen luas itu dengan perasaan campur aduk. Ia masih sulit mencerna kenyataan bahwa putrinya mengandung anaknya Rega. Sebuah kenyataan yang masih sulit ia terima. Saat Rega meminta dirinya ikut tinggal sementara, Bu Laras tak sanggup menolak—demi Lilyan, demi cucuny

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 74

    Sore itu, Gina duduk di salah satu sudut restoran favoritnya dengan Vano. Sore itu ia sengaja ingin bernegosiasi lagi dengan Vano. Tak lama kemudian, Vano datang dengan ekspresi datar. Ia melangkah menuju meja tempat Gina duduk dan langsung menjatuhkan diri ke kursi di depannya. Tatapannya dingin, tidak ada senyum, tidak ada sapaan hangat. “Ada apa?” tanya Vano sambil membuka jasnya. Gina menelan ludah. Ia mencoba tersenyum, meski gugup tak tertahankan. “Aku sebentar lagi mau melahirkan Mas,” ucapnya akhirnya, lirih tapi jelas. Ia menatap wajah Vano, mencoba menangkap reaksi yang akan keluar dari sana. Namun, bukannya terkejut atau bahagia, Vano malah mengernyit. Wajahnya berubah gelap, dan dagunya terangkat tinggi. "Terus, apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Vano dengan sikapnya yang masih dingin. Gina menahan napasnya sejenak. Melihat sikap Vano yang seperti ini ia ragu apakah ini saat yang tepat untuk meminta pertanggung jawaban atau bukan. Namun Gina masih ingin ber

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 73

    Mobil ambulans rumah sakit swasta itu melaju dengan pengawalan ketat. Rega duduk di samping ranjang dorong Lilyan, matanya tak lepas dari wajah pucat wanita yang selama berbulan-bulan ia cari tanpa henti. Tangannya menggenggam jemari Lilyan erat, seolah takut jika ia lengah sedikit saja, Lilyan akan kembali menghilang dari hidupnya. Begitu tiba, tim medis langsung bergerak cepat. Lilyan segera dipindahkan ke ruang perawatan intensif khusus ibu hamil berisiko tinggi. Rega terpaksa melepaskan genggaman tangannya ketika dokter meminta keluarga menunggu di luar. Langkah Lilyan menjauh di balik pintu kaca itu membuat dada Rega terasa seperti diremas kuat. Ia berdiri kaku di lorong rumah sakit yang dingin. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rega berdoa dengan sungguh-sungguh. Bukan untuk perusahaan, bukan untuk jabatannya, melainkan untuk dua nyawa yang kini menjadi segalanya baginya. Beberapa jam kemudian, dokter keluar dan menjelaskan kondisi Lilyan. Tubuhnya sangat kelelahan

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 72

    Tangannya menerima sebuah kartu identitas yang sedikit lecek. Rega hampir saja menyerahkannya kembali tanpa membaca, namun entah kenapa pandangannya tertahan pada satu foto. Foto Lilyan yang begitu jelas. Dunia seolah berhenti berputar. Jari-jarinya bergetar hebat saat membaca ulang nama itu, memastikan matanya tidak salah. Alamat kontrakan, usia, dan keterangan lain terasa kabur, seolah huruf-hurufnya menari di depan mata. Tapi satu hal tak terbantahkan—nama itu adalah nama yang selama berbulan-bulan ia cari sampai hampir kehilangan kewarasan. “Ini… pasiennya?” suaranya serak, nyaris tak keluar. Petugas mengangguk cepat. “Iya, Pak. Kondisinya lemah sekali. Hamil besar, kemungkinan dehidrasi dan kurang nutrisi. Kami sedang berusaha menstabilkan.” Kata hamil menghantam Rega tanpa ampun. Dadanya sesak, napasnya tercekat. Kakinya terasa lemas, namun ia memaksa bergerak. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Rega berlari menyusuri lorong rumah sakit, mengikuti arah tandu yang b

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 71

    Beberapa bulan kemudian. Hari itu udara terasa lebih berat dari biasanya ketika Lilyan melangkah keluar dari sebuah klinik kandungan sederhana di sudut kota. Bau obat-obatan masih menempel di hidungnya, bercampur dengan rasa sesak yang sejak tadi menekan dadanya. Tangannya menggenggam erat hasil pemeriksaan yang baru saja ia terima, kertas tipis yang seolah memiliki bobot jauh lebih berat dari seharusnya. Dokter tadi berbicara dengan nada hati-hati, namun setiap kata tetap terasa seperti pukulan. Bayinya kekurangan nutrisi. Kondisi tubuh Lilyan terlalu lelah, terlalu dipaksa bekerja, hingga berdampak pada kesehatan janin yang dikandungnya. Ia disarankan untuk banyak istirahat, memperbaiki asupan makanan, dan mengurangi aktivitas berat. Saran yang terdengar mustahil bagi Lilyan. Langkahnya terhenti di pinggir trotoar. Ia menunduk, satu tangannya perlahan menyentuh perutnya yang mulai membesar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, satu demi satu, tanpa suara.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status