Share

Bab 4 Mulai Goyah

Penulis: Rein Azahra
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-27 09:46:56

Rega tersenyum tipis, matanya tertuju pada wajah Lilyan yang merona merah.

"Aku bisa memberikan apapun yang kau mau jika kau mau melepaskan Vano dan menjadi kekasihku Ly. " Goda Rega lagi.

Lilyan memejamkan matanya sesaat. Siapa yang tidak tertarik dengan pria setampan Rega. Spec Rega jauh melebihi Vano. Namun dia bukan wanita yang silau akan semua itu. Dia sudah bertunangan dengan Vano dan apa jadinya jika ia malah berselingkuh dengan Rega.

"Pak Rega tolong hentikan. Sekali lagi saya bilang, saya tidak mungkin mengkhianati Vano dan kami akan menikah," tegas Lilyan.

"Tapi jangan lupa Ly, kita sudah menghabiskan malam bersama dan itu akan menjadi kenangan tak terlupakan di antara kita." Tangan Rega terangkat dan dengan lembut menyentuh pipi kemerahan Lilyan.

DEG.

Jantung Lilyan berdebar kencang. Seluruh tubuhnya meremang. Lilyan tidak mengerti kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini. Sebelumnya dia tidak merasakan apapun tapi kenapa sekarang...

"Cukup Pak. Jangan pernah sentuh saya lagi, malam itu adalah sebuah kesalahan, tidak berarti apapun bagi saya. Saya harap Pak Rega mengerti." Lilyan menepis pelan tangan Rega dari pipinya lalu berbalik pergi meninggalkan Rega yang masih terpaku.

Rega tersenyum samar. Cukup kuat juga Lilyan bertahan, namun ia tidak akan menyerah. Apapun yang terjadi ia harus mendapatkan Lilyan.

"Aku tidak akan melepaskanmu, Ly."

***

Satu bulan berlalu.

Seperti biasa, pagi itu Lilyan kembali harus menyediakan semua kebutuhan Rega. Dari mulai kopi, teh, dan air putih harus tersedia di mejanya sebelum Rega datang.

Celakanya, Rega tidak mau kopi buatan orang lain dan hanya akan meminum kopi buatannya. Lilyan sudah hafal dengan kebiasaan Rega yang satu ini, dan meskipun ia sering kesal, ia tetap menjalankan tugasnya sebagai sekretaris pribadi pria itu.

Lilyan baru saja menyelesaikan pekerjaannya menaruh segelas kopi di atas meja Rega. Dia mengingat-ingat lagi hal lainnya, takut jika ada yang terlewat dan membuat Rega kesal.

Namun tak lama Rega masuk ke dalam ruangannya. Pria itu tampak segar dan tampan seperti biasa dengan setelan jas mahalnya. Jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya dan aroma parfum segar menguar di udara saat Rega mendekati mejanya.

"Selamat Pagi Pak!" sapa Lilyan sedikit membungkuk sebagai tanda hormat.

"Pagi Lilyan," Jawab Rega dengan wajah datar seperti biasa. Namun saat melihat penampilan Lilyan yang begitu cantik pagi ini seulas senyum samar tersemat di bibirnya.

Rega meletakkan tas kerjanya di atas mejanya. Dia duduk dan mengambil segelas kopi yang sudah disiapkan oleh Lilyan sebelumnya. Pria itu menyesapnya perlahan. Merasakan nikmat kopi bikinan wanita itu.

"Enak sekali. Satu bulan kau bekerja sebagai sekretarisku dan kau sudah tahu sekali kebiasaanku. Kau benar-benar hebat," puji Rega tanpa ragu.

Lilyan tersipu, tanpa sadar bibirnya tersenyum tipis. Mulut Rega memang manis dan kalau ia tidak kuat mungkin sudah dari dulu dia jatuh ke pelukan Rega.

Liliyan menghela napasnya. Berusaha untuk tidak berpikir macam-macam. Ia harus berjuang keras untuk tidak terpengaruh oleh pesona pria itu.

"Saya akan bacakan jadwal kerja Bapak untuk hari ini." Lilyan membuka tabletnya yang sejak tadi ia pegang.

"Pukul sepuluh Bapak ada rapat dengan tim keuangan, kemudian makan siang dengan klien dari Singapura, lalu pukul tiga sore ada pertemuan dengan investor baru."

Namun bukannya mendengarkan Rega justru fokus menatap wajah cantik Lilyan. Pria itu menyandarkan tubuhnya di kursi, kedua tangan bertaut di depan dagu. Tatapannya begitu hangat dan mampu membuat jantung Lilyan berdebar kencang dan semakin canggung.

Lilyan berusaha tetap fokus pada catatannya. Dia melanjutkannya lagi.

"Setelah rapat dengan investor Anda juga dijadwalkan bertemu dengan tim pemasaran—"

"Oke aku mengerti, namun sekarang izinkan aku menikmati wajah cantikmu dulu, Ly." Rega berkata seolah tanpa beban. Dia terus menatap wajah Lilyan yang semakin kikuk.

Wajah Lilyan semakin merona. Ia menghembus napas panjang, berusaha mengabaikan detak jantungnya yang semakin cepat.

"Saya sudah menyiapkan semuanya sesuai permintaan Anda. Kalau tidak ada yang perlu ditambahkan, saya akan kembali ke meja saya." Lilyan tak ingin menggubris.

"Kenapa buru-buru, kau takut aku makan?" Rega tersenyum tipis.

Lilyan memutar bola matanya. Dia memutar tubuhnya untuk pergi. Namun tangannya ditarik Rega dari belakang. Lilyan terkejut karena kini Rega sudah berdiri tepat di belakangnya.

"Tunggu Ly..." Rega menatap lembut.

"A—ada apa Pak?" tanya Lilyan sontak mundur ke belakang.

Namun sebelum bergerak tangan Rega dengan cepat menarik pinggang ramping, membawanya merapat ke arah tubuhnya.

"Pak Rega jangan kurang ajar ya." Lilyan menghujani dada bidang Rega dengan pukulan kecilnya. Namun Rega tetap bergeming malah semakin menarik Lilyan hingga benda kenyal itu menempel ketat pada tubuh Rega.

"Maafkan aku, Ly. Aku tidak bisa melupakan kejadian malam itu. Aku... masih saja ingat dengan setiap sentuhan tanganmu. Erangan penuh kenikmatan dari bibirmu, pelukan hangat tanganmu, aku masih mengingat semuanya dengan jelas, Ly."

Lilyan terdiam mendengarnya. Gerakan memukulnya langsung berhenti. Kedua pipinya menghangat. Rega terus menatapnya dengan lekat. Namun Lilyan justru tak ingin bertemu tatap dengannya. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Jangan bahas hal menjijikkan itu di depan saya," ketus Lilyan.

"Ini bukan hal menjijikkan Lilyan, ini hal yang indah bagiku. Tak akan bisa aku lupakan seumur hidup." Rega menarik pipi Lilyan pelan membuatnya kembali berpaling padanya.

"Aku menyukaimu Ly, tinggalkan Vano dan jadilah kekasihku." Sekali lagi Rega memohon.

Suasana hening sesaat, sebelum akhirnya Lilyan meronta ingin melepaskan diri dari Rega.

"Sadar Pak Rega, saya ini tunangan Vano, saudara Bapak sendiri." Lilyan kesal dan akhirnya bisa melepaskan diri dari penguasaan Rega.

Rega terpaku. Dia terpaksa melepaskan Lilyan untuk kembali ke mejanya.

Lilyan kembali duduk di kursi kerjanya. Ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari Vano muncul.

[Sayang, pulang kerja kita ada janji dengan pihak butik untuk fitting baju pengantin. Pulang kerja kita berangkat ke sana ya]

Lilyan menatap ponselnya cukup lama. Ada rasa bersalah dalam dadanya terhadap Vano. Namun ada satu lagi rasa yang terselip di hatinya. Ia mulai goyah. Ia mulai memperhatikan Rega.

"Oh, Tuhan kenapa semuanya bisa seperti ini?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 98

    Hari-hari selanjutnya diisi dengan langkah-langkah pemulihan. Rega tak hanya memimpin di ruang rapat, tapi juga berjalan menyapa para karyawan dari divisi ke divisi. Ia ingin semua orang tahu bahwa ia bukan hanya pewaris nama besar, tapi pemimpin sejati yang peduli akan orang-orang yang bekerja di bawahnya. Pak Ferdinan, meski belum pulih sepenuhnya, tersenyum bangga setiap kali melihat Rega duduk di ruang kerjanya, ruang yang dulu pernah ia huni. Kini, tongkat estafet benar-benar telah ia serahkan, bukan karena paksaan atau manipulasi, tapi karena keyakinan bahwa anaknya siap memikul beban besar ini. Dan Lilyan, wanita yang dengan sabar menanti dan menemani Rega melewati badai, kini berada di sampingnya. Ia tak meminta banyak. Cukup melihat Rega tenang dan bahagia, itu sudah menjadi kebahagiaan terbesar baginya. Angkasa Mining pun perlahan kembali bersinar. Bukan hanya sebagai simbol kejayaan, tapi sebagai lambang keteguhan, kebenaran, dan harapan baru. Rega tahu, jalan ini masih

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 97

    Suasana ruangan seketika hening. Beberapa pemegang saham saling berpandangan, sebagian menutup mulutnya, tak percaya dengan fakta-fakta mengerikan yang baru saja mereka saksikan dan dengar. Nama besar keluarga Angkasa, yang selama ini dipandang sebagai simbol kejayaan dan kehormatan, tercoreng dalam hitungan menit. Bu Fatma masih duduk kaku. Wajahnya memucat, sementara tangan Vano mulai gemetar. Ia mencoba bicara, “Itu... itu semua tidak benar. Itu rekayasa—!” “Rekayasa?” Rega menyela cepat. “Semua bukti ini telah diverifikasi oleh tim hukum dan kami siapkan untuk diserahkan ke penyidik. Bahkan beberapa saksi hidup juga bersedia memberikan kesaksian di pengadilan.” Salah satu pemegang saham senior, Pak Johan, berdiri. “Saya tidak percaya keluarga Angkasa bisa serendah ini. Kalau semua ini benar, maka orang-orang seperti Bu Fatma dan Vano tidak pantas memegang satu persen pun saham apalagi kendali perusahaan.” Disusul oleh suara-suara lain. Ada yang mengangguk. Ada pula yang m

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 96

    Di ruang rapat utama Angkasa Mining, suasana tegang menyelimuti. Para pemegang saham mulai berdatangan. Beberapa masih berdiskusi, mencoba memahami apa maksud sebenarnya dari rapat ini. Bu Fatma dan Vano duduk di kursi depan. Wajah Bu Fatma tegas, percaya diri. Sementara Vano tampak gugup, meski berusaha menyembunyikannya. Setelah pembukaan, Bu Fatma menyampaikan pidato singkat. Ia menjelaskan bahwa kondisi Pak Ferdinan sangat mengkhawatirkan, dan demi keberlangsungan perusahaan, perlu segera diambil langkah untuk memastikan adanya penerus sah yang akan menjaga kestabilan perusahaan. “Kondisi Pak Ferdinan saat ini sangat kritis,” ujar Bu Fatma membuka pertemuan, suaranya tenang namun menekan. “Demi kelangsungan perusahaan, kita harus segera menunjuk penerus sementara. Vano adalah pilihan terbaik. Dia telah mengenal sistem perusahaan sejak lama.” Beberapa direksi saling pandang. Pak Wiryo, salah satu pemegang saham senior mengangguk pelan. “Saya setuju. Kita tidak bisa membiarkan

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 95

    "Ma, kalau memang benar Papa sudah siuman, terus bagaimana kalau dia cerita semuanya? Tentang Mama yang berusaha membunuhnya? Kita harus segera bertindak Ma." Vano tampak gusar.“Tenang, Vano,” sahut Bu Fatma cepat. “Belum tentu dia benar-benar sadar. Mungkin ini hanya akal-akalan Rega saja untuk membuat kita takut.""Tapi kita tetap harus bersiap dengan segala kemungkinan Ma," sergah Vano“Kalau benar Papa sadar dan dia menyerahkan kekuasaan pada Rega, lalu bagaimana dengan nasib kita Ma?" Vano mulai terlihat gelisah.Untuk sesaat Bu Fatma terdiam. Wajahnya menegang, tapi kemudian ia menarik napas panjang, memaksa dirinya untuk tetap tenang."Mama akan pastikan semuanya dulu. Apakah Ferdinan benar-benar siuman atau itu hanya akal-akalan Rega saja. Mama akan suruh seseorang untuk memastikan kondisinya dan kalau Ferdinan benar-benar sudah sadar, maka satu-satunya cara adalah memastikan dia tidak bisa lagi menghirup udara lagi."Vano menoleh cepat, seolah tak percaya apa yang baru diden

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 94

    Bu Fatma duduk di dalam mobil mewahnya dengan senyum tipis yang tak bisa ia sembunyikan. Pikirannya dipenuhi dengan keyakinan bahwa rencananya sebentar lagi akan berhasil. Pak Ferdinan masih terbaring koma, dan Gina sudah dilaporkan tewas. Kini waktunya untuk mengamankan langkah berikutnya yaitu menguasai perusahaan milik keluarga Angkasa lewat tangan Vano. Hari itu, ia mengatur serangkaian pertemuan diam-diam dengan beberapa pemegang saham kecil hingga menengah PT Angkasa Raya. Dengan bahasa yang santun tapi tegas, Bu Fatma membungkus ambisinya dalam narasi “penyelamatan perusahaan". Ia memainkan peran sebagai istri yang setia dan ibu yang peduli, menggambarkan kondisi Ferdinan yang sudah tidak memungkinkan untuk kembali memimpin perusahaan dan mempromosikan Vano sebagai penerus mereka. “Saya yakin, Bapak Ferdinan pun jika dalam keadaan sadar, akan menunjuk Vano,” ujar Bu Fatma dalam salah satu pertemuan, suaranya tenang namun penuh tekanan. "Karena tak ada lagi yang lebih layak

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 93

    Beberapa jam setelah Bu Fatma meninggalkan rumah sakit, seorang staf medis berpakaian rapi menyerahkan salinan surat keterangan medis yang ia minta. Surat itu menyatakan secara formal bahwa Ferdinan Angkasa dinyatakan tidak dalam kondisi sadar baik fisik maupun psikis untuk menjalankan tugas-tugas profesional atau administratif dalam jangka waktu yang belum bisa ditentukan. Tertanda resmi dan distempel oleh direktur rumah sakit. Bu Fatma tersenyum puas. Ia langsung menaruh salinan itu dalam map coklat, lalu menghubungi pengacaranya untuk menyusun langkah berikutnya. Yaitu mengajukan permohonan pengalihan kekuasaan dalam perusahaan kepada dirinya dan Vano secara penuh. "Aku harus bertindak cepat sebelum semuanya terlambat," ucap Bu Fatma penuh semangat. Dia pergi ke kantor Vano dulu untuk memberitahukan hal ini pada anaknya itu. "Mama yakin Rega akan diam saja melihat tindakan kita?" Vano menyipitkan matanya. "Rega sedang fokus pada kesehatan Ferdinan. Mana sempat dia memikirkan h

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status