Share

Bab 7 Reuni Panas

Author: Rein Azahra
last update Last Updated: 2025-11-04 02:51:52

Musik lembut dari band akustik mengalun di pojok ruangan. Lampu-lampu gantung berwarna keemasan menciptakan nuansa hangat di vila yang dipenuhi tawa dan percakapan ringan. Meski disebut “reuni kampus”, suasananya lebih seperti pesta eksklusif bagi kalangan terbatas. Sepertinya hanya teman-teman dekat Rega saja yang hadir di acara itu.

Lilyan duduk di salah satu meja, sementara Rega berbincang dengan beberapa pria di sisi lain ruangan. Ia menatap gelas jus di tangannya, berusaha menenangkan diri dari rasa canggung yang masih menghantuinya.

“Sendirian, ya?” Suara lembut seorang wanita memecah lamunannya.

Lilyan mendongak. Di hadapannya berdiri dua wanita cantik dengan senyum ramah. Yang satu berambut pendek bergelombang, yang lain berambut panjang dan mengenakan gaun satin berwarna gading.

“Boleh duduk?” tanya yang berambut pendek.

“Oh, tentu,” jawab Lilyan cepat, memberi isyarat agar mereka duduk.

“Aku Mira,” ucap si rambut pendek memperkenalkan diri.

“Dan ini Livia. Kami teman kuliahnya Rega dulu. Kamu Lilyan, kan?”

“Iya, benar. Senang bertemu kalian.” Lilyan mengangguk pelan.

"Akhirnya ada juga perempuan yang bisa menaklukkan Rega," celetuk Mira.

“Maksudnya?” Lilyan mengerjap, sedikit bingung.

"Rega itu dulu terkenal sekali di kampus. Pintar, tampan, sukses, tapi dingin. Tidak pernah mau dekat sama siapa pun. Banyak yang mencoba mendekati tapi semua ditolak mentah-mentah.” Livia menatapnya dengan senyum samar.

"Dan semua orang di sini kaget saat dia datang menggandengmu karena kami mengira dia akan menjomblo seumur hidup." Mira mengangguk membenarkan.

"Rega yang dulu bahkan malas datang ke acara seperti ini, sekarang sepertinya dia akan mulai rajin menggandengmu dan memamerkanmu pada orang lain," sambung Livia.

Lilyan terdiam. Jantungnya berdetak tak menentu. Ia tahu Rega pria yang kaku, tapi mendengar semua itu dari orang lain membuat hatinya berdesir aneh.

"Rega pasti sayang sekali padamu. Dia tidak pernah membawa perempuan ke lingkaran pertemanannya. Bahkan waktu dulu dia sempat dekat dengan salah satu dosen muda pun, dia tidak pernah memperkenalkannya pada siapapun," lanjut Mira.

Lilyan mengangkat wajah, terkejut. “Dosen muda?”

Livia tertawa kecil.

“Iya, itu cuma rumor kok. Rega memang punya daya tarik misterius. Semua perempuan waktu itu suka sama dia.”

Senyum Lilyan mengambang di bibirnya, tapi hatinya campur aduk. Ia merasa seperti sedang mendengarkan kisah tentang seseorang yang sama sekali berbeda dari pria yang mengancamnya dengan foto malam itu.

Entah kenapa Lilyan jadi terkesan saat mendengar segala sesuatu tentang Rega. Lilyan menatap Rega dari kejauhan. Ia sedang tertawa kecil bersama teman-temannya, ekspresinya santai, bahkan ramah. Sesuatu yang jarang sekali ia lihat.

Untuk sesaat, Lilyan merasa bingung apakah yang ia kenal selama ini benar-benar Rega yang sama?

“Kau kelihatan tegang sekali, santai saja ini kan pesta, bukan rapat kerja.” Mira berkata sambil tertawa

“Aku hanya tidak biasa di tempat seperti ini. Terlalu ramai.” Lilyan tersenyum tipis.

“Makanya, kau harus sedikit rileks,” sahut Livia, lalu menoleh ke arah pelayan yang lewat sambil membawa nampan berisi minuman.

“Mas, dua gelas mojito sama satu wine ya, sini taruh di meja.”

"Aku tidak minum." Lilyan buru-buru menggeleng.

“Ayolah, segelas aja. Ini cuma minuman ringan kok. Tidak bikin mabuk.” Livia menaikkan alis.

“Aku benar-benar—”

"Jangan menolak Ly, anggap saja ini minuman pertemanan kita. Hanya satu gelas dan itu tidak akan membuatmu mabuk." Mira menimpali cepat, suaranya lembut tapi sedikit memaksa.

“Cuma ini, janji. Kalau kau tidak suka, taruh saja.” Livia menyerahkan segelas minuman padanya. Cairannya bening dengan sedikit irisan lemon di dalamnya.

Lilyan menatap gelas itu ragu. Aroma alkoholnya samar, hampir tak tercium. Setelah beberapa detik, ia menarik napas pelan dan akhirnya menerima. “Baiklah. Tapi cuma satu gelas.”

Mira dan Livia bersorak kecil. “Gitu dong!”

Suara tawa mereka bercampur dengan musik. Lilyan meneguk sedikit. Rasanya manis di awal, lalu ada sensasi hangat yang menyebar di tenggorokannya. Ia pikir tak apa-apa. Tapi beberapa menit kemudian, kepalanya mulai terasa ringan.

Livia menuangkan lagi, kali ini tanpa bertanya.

Lilyan menolak halus. “Sudah, aku cukup—”

Namun Mira menyentuh lengannya. “Tidak apa-apa, sayang. Malam ini kita senang-senang.”

Gelas itu kembali di tangannya. Dan Lilyan, yang setengah bingung, akhirnya menyerah lagi.

Beberapa menit kemudian, dunia di sekitarnya mulai berputar pelan. Musik terdengar lebih keras, tawa-tawa di sekelilingnya terasa jauh, tapi wajah Rega yang tadi jauh kini muncul di benaknya, tajam, membuat jantungnya berdetak cepat tanpa sebab.

Lilyan menunduk, mencoba menstabilkan napas, tapi pandangannya mulai kabur. Suara-suara di sekitar terasa bergema. Tubuhnya terasa hangat.

Saat itu Rega kembali, matanya langsung mencari sosok Lilyan. Dan ketika ia melihat perempuan itu sedang bersama dengan Mira dan Livia, Rega pun segera menghampiri.

"Ly...!" panggilnya cemas. Ia menoleh tajam pada Mira dan Livia.

"Stop! Jangan cekoki Lilyan lagi, dia tidak tahan alkohol, toleransinya rendah," serunya tegas.

"Upps, sorry Ga, kita tidak tahu." Mira dan Livia saling melempar pandang.

Sementara itu Lilyan menatap Rega samar-samar, matanya setengah terbuka. “Rega…” suaranya nyaris tak terdengar sebelum tubuhnya goyah di sofa.

"Ly, kau mabuk, kita tidak bisa terus di sini. Ayo kita pulang saja." Rega merengkuh bahu Lilyan dan memapahnya keluar dari vila.

"Aku tidak mabuk, aku baik-baik saja. Aku masih ingin di sini." Lilyan meronta dan mulai meracau. Pipinya terlihat lebih merah.

Rega tak menggubrisnya. Dia membawa gadis itu masuk ke dalam mobil.

“Kenapa kau bawa aku pulang? Aku masih ingin di sini. Mana minumannya lagi?" suaranya serak.

"Kau mabuk Lilyan." Rega menarik napas panjang.

"Sok tahu! Aku benci sama pria yang selalu merasa benar seperti dirimu!" Lilyan mendengus pelan, lalu tertawa kecil.

Rega menoleh singkat, bibirnya menegang. “Benci?”

“Iya, benci,” Lilyan mengulang dengan suara berat lalu mencondongkan dirinya ke arah Rega.

“Kau menyebelkan. Seenaknya sendiri. Kau membuat semuanya jadi rumit, termasuk hatiku." Ia berhenti sejenak, menatap Rega dengan tatapan sayu.

"Kenapa wajahmu harus setampan ini?" Tangan Lilyan terulur dan membelai pipi Rega dengan lembut.

Lalu dengan gerakan spontan tiba-tiba saja Lilyan mencium bibir Rega.

Rega terdiam, tidak tahu harus menanggapi dengan cara apa. Namun parutan kecil yang dilakukan Lilyan pada bibirnya membuat gairah Rega terpantik. Dia membalasnya dengan lebih panas.

Napas mereka kian berat. Suasana yang semula dingin kini berubah panas. Lilyan tidak sadar kalau ia telah membangunkan singa yang sedang tidur. Berbahaya.

"Lilyan..." Rega terpaku saat Lilyan tiba-tiba naik ke atas pangkuannya.

"Ly... kau sadar dengan apa yang kau lakukan?" Rega terkejut dengan jantung berdebar.

"Kenapa kau terus muncul di pikiranku, hm?" Lilyan meracau lagi. Tangannya mulai membuka kancing kemeja Rega.

Rega semakin membelalak. Tak menyangka kalau Lilyan akan melakukan hal ini.

"Ly, kau sendiri yang memintanya. Aku hanya mengabulkan keinginanmu." Rega menyeringai tipis dan menurunkan jok mobilnya hingga lebih landai dari sebelumnya. Membuat pergerakan Lilyan menjadi lebih leluasa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 76

    Vano berdiri di balik meja kerjanya yang luas, menatap pantulan dirinya di dinding kaca ruang direksi. Jas mahal itu terasa pas di tubuhnya, seolah kursi direktur utama memang sudah lama menunggunya. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya—senyum kemenangan yang selama ini ia impikan. Rapat dewan direksi baru saja usai. Tak satu pun dari mereka membantah keputusannya. Bahkan beberapa anggota dewan yang dulu terang-terangan mendukung Rega kini mulai condong padanya. Vano tahu, kepercayaan itu belum sepenuhnya tulus, tapi cukup untuk membuatnya berkuasa. “Keputusan yang berani, Pak Vano,” ujar salah satu direktur senior sebelum meninggalkan ruangan. “Perusahaan butuh pemimpin yang fokus, bukan yang sibuk dengan urusan pribadi.” Vano hanya mengangguk tenang, meski di dalam dadanya ada kepuasan yang membuncah. Nama Rega tak lagi disebut dengan hormat—melainkan sebagai contoh kegagalan. Dan itu membuatnya semakin percaya diri. Begitu pintu ruang rapat tertutup, Vano melonggarkan das

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 75

    Apartemen itu masih sama, megah dan dingin, tetapi bagi Lilyan rasanya begitu asing. Begitu pintu terbuka, langkahnya terhenti sejenak. Kenangan lama menyeruak. Dimana ia pernah menghabiskan waktunya bersama Rega di apartemen mewah itu. Dan kali ini dia kembali menjejakkan lagi kakinya di sana. Sebagai kekasih resmi Rega. "Masuklah dan tinggallah di sini, jangan pergi lagi." Rega membawa Lilyan masuk ke dalam. “Pelan,” ucap Rega lirih. “Dokter bilang kamu belum boleh banyak bergerak.” Lilyan mengangguk, meski sebenarnya ia ingin berkata bahwa ia baik-baik saja. Tapi kali ini ia tak boleh egois, mungkin ia kuat tapi bayi dalam kandungannya belum tentu. Bu Laras ikut masuk di belakang mereka. Matanya menyapu apartemen luas itu dengan perasaan campur aduk. Ia masih sulit mencerna kenyataan bahwa putrinya mengandung anaknya Rega. Sebuah kenyataan yang masih sulit ia terima. Saat Rega meminta dirinya ikut tinggal sementara, Bu Laras tak sanggup menolak—demi Lilyan, demi cucuny

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 74

    Sore itu, Gina duduk di salah satu sudut restoran favoritnya dengan Vano. Sore itu ia sengaja ingin bernegosiasi lagi dengan Vano. Tak lama kemudian, Vano datang dengan ekspresi datar. Ia melangkah menuju meja tempat Gina duduk dan langsung menjatuhkan diri ke kursi di depannya. Tatapannya dingin, tidak ada senyum, tidak ada sapaan hangat. “Ada apa?” tanya Vano sambil membuka jasnya. Gina menelan ludah. Ia mencoba tersenyum, meski gugup tak tertahankan. “Aku sebentar lagi mau melahirkan Mas,” ucapnya akhirnya, lirih tapi jelas. Ia menatap wajah Vano, mencoba menangkap reaksi yang akan keluar dari sana. Namun, bukannya terkejut atau bahagia, Vano malah mengernyit. Wajahnya berubah gelap, dan dagunya terangkat tinggi. "Terus, apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Vano dengan sikapnya yang masih dingin. Gina menahan napasnya sejenak. Melihat sikap Vano yang seperti ini ia ragu apakah ini saat yang tepat untuk meminta pertanggung jawaban atau bukan. Namun Gina masih ingin ber

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 73

    Mobil ambulans rumah sakit swasta itu melaju dengan pengawalan ketat. Rega duduk di samping ranjang dorong Lilyan, matanya tak lepas dari wajah pucat wanita yang selama berbulan-bulan ia cari tanpa henti. Tangannya menggenggam jemari Lilyan erat, seolah takut jika ia lengah sedikit saja, Lilyan akan kembali menghilang dari hidupnya. Begitu tiba, tim medis langsung bergerak cepat. Lilyan segera dipindahkan ke ruang perawatan intensif khusus ibu hamil berisiko tinggi. Rega terpaksa melepaskan genggaman tangannya ketika dokter meminta keluarga menunggu di luar. Langkah Lilyan menjauh di balik pintu kaca itu membuat dada Rega terasa seperti diremas kuat. Ia berdiri kaku di lorong rumah sakit yang dingin. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rega berdoa dengan sungguh-sungguh. Bukan untuk perusahaan, bukan untuk jabatannya, melainkan untuk dua nyawa yang kini menjadi segalanya baginya. Beberapa jam kemudian, dokter keluar dan menjelaskan kondisi Lilyan. Tubuhnya sangat kelelahan

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 72

    Tangannya menerima sebuah kartu identitas yang sedikit lecek. Rega hampir saja menyerahkannya kembali tanpa membaca, namun entah kenapa pandangannya tertahan pada satu foto. Foto Lilyan yang begitu jelas. Dunia seolah berhenti berputar. Jari-jarinya bergetar hebat saat membaca ulang nama itu, memastikan matanya tidak salah. Alamat kontrakan, usia, dan keterangan lain terasa kabur, seolah huruf-hurufnya menari di depan mata. Tapi satu hal tak terbantahkan—nama itu adalah nama yang selama berbulan-bulan ia cari sampai hampir kehilangan kewarasan. “Ini… pasiennya?” suaranya serak, nyaris tak keluar. Petugas mengangguk cepat. “Iya, Pak. Kondisinya lemah sekali. Hamil besar, kemungkinan dehidrasi dan kurang nutrisi. Kami sedang berusaha menstabilkan.” Kata hamil menghantam Rega tanpa ampun. Dadanya sesak, napasnya tercekat. Kakinya terasa lemas, namun ia memaksa bergerak. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Rega berlari menyusuri lorong rumah sakit, mengikuti arah tandu yang b

  • Gelora Berbahaya sang CEO   Bab 71

    Beberapa bulan kemudian. Hari itu udara terasa lebih berat dari biasanya ketika Lilyan melangkah keluar dari sebuah klinik kandungan sederhana di sudut kota. Bau obat-obatan masih menempel di hidungnya, bercampur dengan rasa sesak yang sejak tadi menekan dadanya. Tangannya menggenggam erat hasil pemeriksaan yang baru saja ia terima, kertas tipis yang seolah memiliki bobot jauh lebih berat dari seharusnya. Dokter tadi berbicara dengan nada hati-hati, namun setiap kata tetap terasa seperti pukulan. Bayinya kekurangan nutrisi. Kondisi tubuh Lilyan terlalu lelah, terlalu dipaksa bekerja, hingga berdampak pada kesehatan janin yang dikandungnya. Ia disarankan untuk banyak istirahat, memperbaiki asupan makanan, dan mengurangi aktivitas berat. Saran yang terdengar mustahil bagi Lilyan. Langkahnya terhenti di pinggir trotoar. Ia menunduk, satu tangannya perlahan menyentuh perutnya yang mulai membesar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, satu demi satu, tanpa suara.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status